Langsung ke konten utama

Positivisme, Pengosongan Subyek, dan Patologi Ilmu Pengetahuan (Menyibak Kontroversi Metodologis Filsafat Positivisme) | Defri Ngo

 

           

ABSTRAKSI

Artikel ini fokus memperkenalkan konsep-konsep kunci dalam filsafat positivisme yang memperoleh tempat luas selama paruh abad ke-19. Filsafat positivisme muncul sebagai reaksi terhadap disiplin teologi dan metafisika. Tokoh utama yang berperan di sana adalah Auguste Comte (1798-1857), seorang sosiolog dan pemikir positivis terkenal kelahiran Prancis. Oleh sebagian pemikir sosial, keberadaan positivisme menjadi angin segar yang selain memberikan pendasaran normatif terkait legalitas ilmu pengetahuan, tetapi di pihak lain sedang membangun sebuah disiplin ilmu yang bersifat fondasional. Positivisme berambisi menjadi filsafat yang memberi pendasaran dogmatis (juga hegemonik) dalam usaha merumuskan suatu format terkait keabsahan metode ilmu-ilmu sosial. Fokus kajiannya adalah realitas empiris yang dianalisis menurut pendekatan ilmu-ilmu alam. Ambisi positivisme sesungguhnya sedang mengakibatkan pengosongan entitas subyek yang otonom. Subyek, pada giliran berikut hanya menjadi person yang pasif di hadapan sebuah tatanan realitas. Paradoks positivisme yang ditandai dengan pengosongan subyek justru membuka kemungkinan bagi terciptanya patologi ilmu pengetahuan.

            Kata kunci: Positivisme, subyek otonom, patologi ilmu pengetahuan

 

I.                   PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang

Filsafat positivisme berkembang luas sejak abad ke-19 dalam sebuah fragmen sejarah runtuhnya teologi dan metafisika. Titik berangkat positivisme berawal dari kritikan kaum positivis terhadap tendensi berpikir teologi dan metafisika yang dianggap masih bersifat “infantil”. Bagi kaum positivis, teologi justru terbelenggu pada imperatif ilmiah untuk membuktikan keabsahan konsep mengenai kekuatan-kekuatan supranatural (transendental). Pertanyaan yang sering diajukan adalah, bagaimana membuktikan kebenaran iman akan realitas transenden? Apakah konsep-konsep transendental dapat dibuktikan dalam metode ilmiah yang jelas? Dua bentuk pertanyaan ini memiliki bobot yang sama-sama sulit untuk dijawab. Sementara itu, metafisika alih-alih berusaha merumuskan sebuah metode berpikir yang bersifat rasional-sistematik, tetapi justru terperosok pada konsep-konsep filsafat yang abstrak-universal.[1] Ideal yang dirumuskan dalam sistem berpikir rasional tampaknya masih jauh panggang dari api. Idealisme dianggap belum mampu menjadi jawaban final untuk menyibak status question dan nilai-nilai dalam tatanan realitas. Meminjam ungkapan Richard Rorty dalam kritikannya terhadap tendensi pemikiran Barat modern, model pergulatan teologi dan metafisika dapat juga disebut sebagai sebuah pseudo-problem yaitu filsafat yang hanya berusaha menyibak persoalan-persoalan palsu.[2] Bertolak dari dua kelemahan mendasar dalam teologi dan metafisika, kaum positivis mulai berusaha membangun sebuah disiplin ilmu yang lebih pasti, tepat sasar, dan eviden. Menurut Auguste Comte, dalam keadaan positif, pikiran manusia [tambahan penulis: mulai] mengenali ketidakmungkinan mendapatkan kebenaran absolut [tambahan penulis: yang] menyerah mencari asal-usul dan penyebab tersembunyi dari alam semesta dan gumpalan penyebab akhir fenomena.[3] Pertanyaaan kita kemudian, bagaimana Comte dan kaum positivis melihat, menerangkan, berikut menempatkan subyek dalam wilayah kajian positivisme? Apakah subyek tetap memiliki posisi yang otonom sebagai “aku yang berpikir” (cogito)?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas menjadi sangat penting bukan dalam kaitannya dengan ambisi untuk membentuk superioritas subyek. Ia justru tampak penting ketika positivisme melakukan reduksi yang total terhadap posisi subyek otonom. Dengan kata lain, keberpalingan kaum positivis pada realitas empiris sesungguhnya berdampak pada pengosongan status subyek. Subyek sama sekali dilepaspisahkan, ditinggalkan, dan dikosongkan untuk mengangkat wibawa empirisme. Dalam bentuknya yang paling umum, pengosongan subyek akan berakibat pada sulitnya mencapai klaim rasionalitas sebuah metode penelitian. Konsekuensi lebih lanjut adalah terbentuk apa yang dinamakan dengan patologi ilmu pengetahuan. Dalam dunia modern, patologi ilmu pengetahuan berdampak pada ketidakmampuan untuk membuat diferensiasi terminologis antara kebenaran dan kekeliruan serta fakta dan opini. Bahasa manusia modern dibangun atas konjungsi yang kabur, abstrak, dan nir makna. Singkat kata, manusia modern sedang tumbuh di atas suatu bangunan epistemologis yang mengalami “pereduksian”. Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa ambisi positivisme yang ditandai dengan pengosongan status subyek secara in se justru bermasalah.

Artikel berikut adalah usaha penulis untuk menghadirkan kembali konsep-konsep penting dalam positivisme dan melihat sejauh mana ia memberi pengaruh pada posisi subyek. Oleh karena itu, bagian pertama artikel fokus menyelidiki bangunan filsafat positivisme dan status kontroversalnya terkait pengosongan subyek. Lebih lanjut, penulis berusaha menarik suatu konsesus terkait pengosongan subyek dalam gejala yang disebut pembalikan epistemologis. Selanjutnya, bagian kedua hendak menggali lebih jauh akibat yang ditimbulkan dari pengosongan subyek dan pembalikan epistemologis, yaitu terciptanya patologi ilmu pengetahuan. Sebagai penutup, bagian ketiga berisi kesimpulan yang merangkum keseluruhan materi.

Baca jugaAnalisis Kompetensi Interkultural Yesus Dalam Injil Markus 7:24-30 dan Relevansinya Bagi Dialog Toleransi | Telaah Biblis | Aris Kapu

II.                TELAAH TEORITIS FILSAFAT POSITIVISME

2.1              Konsep dan Cara Kerja Positivisme

Positivisme, positivis atau positif adalah sejumlah istilah yang dikenal luas dalam bidang kajian sosiologi klasik dan modern. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi III mendefenisikan istilah positivisme sebagai aliran filsafat yang beranggapan bahwa pengetahuan itu semata-mata berdasarkan pengalaman dan ilmu yang pasti.[4] Istilah positivisme sering digunakan sebagai perlawanan terhadap konsep dan prinsip “negatif”, yakni mengkritik dan menantang tatanan dunia lama.[5] Dalam penggunaannya, istilah positivisme sering disebut juga sebagai “fisika sosial” atau “sosiologi”. Fakta positivis menunjuk pada “fakta real” atau “yang nyata”. Hal positif (a positive fact) adalah sesuatu yang dapat diuji atau diverifikasi oleh setiap orang.[6] Berdasarkan tesis ini, maka positivisme berkaitan erat dengan empirisme. Positivisme menjadikan realitas faktual sebagai locus intellectus yang dapat memantik terbentuknya pengetahuan. Realitas adalah cermin yang merepresentasikan hakikat pengetahuan. Tesis ini secara eksplisit hendak memberi demarkasi yang tajam antara realitas empiris dan subyek sebagai cogito. Dalam realitas yang otonom, hakikat pengetahuan beroleh tempat yang jelas. Ia terpisah sama sekali dari subyek.

Sejak Auguste Comte, positivisme dikenal luas sebagai sebuah pendekatan dalam ilmu sosial yang menggunakan data yang luas, pengukuran kuantitatif, dan metode analisis yang ketat. Mengutip Neuman (2006), orientasi dasar positivisme terletak pada hal-hal instrumental yang dipengaruhi oleh perspektif teknokratis yang ada dalam ilmu pengetahuan.[7] Tujuannya adalah untuk menemukan hukum-hukum pada fenomena sosial. Positivisme sejak Comte mengakui bahwa ilmu-ilmu alam bekerja dalam keteraturan yang sama dengan ilmu-ilmu sosial. Cara yang ditempuh oleh kaum positivis adalah melakukan penelitian empiris-eksperimental yang terumus dalam tiga langkah penting, antara lain sebagai berikut.

Pertama, observasi, yaitu meneliti dan mencari hubungan antara fakta-fakta, lalu meninjaunya dari hukum statika dan dinamika.[8] Kedua, eksperimentasi, yaitu melakukan intervensi terhadap suatu fenomena sosial sehingga dapat menggali sebab-akibat yang timbul dalam fenomena tersebut. Ketiga, perbandingan (komparasi), yaitu melakukan perbandingan antara dua masyarakat atau kebudayaan (studi antropologi) atau antar periode dalam masyarakat tertentu (studi historis).[9] Tujuannya adalah menemukan nilai-nilai ultim yang dapat dijadikan pegangan untuk mendukung kemajuan hidup suatu masyarakat. Ketiga tahap tersebut sesungguhnya menunjukkan bahwa positivisme hendak membangun sebuah metode ilmu sosial yang berlaku universal. Titik tolak yang dijadikan pegangan utama adalah metode penelitian ilmu-ilmu alam. Kaum positivis mengandaikan keadaan alam sebagai sebuah universum yang memiliki keserupaan dengan phenomen sosial masyarakat. Pertanyaannya kemudian, apakah metode yang dipakai kaum positivis adalah sebuah langkah ilmiah yang tepat? Apa konsekuensi langsung dari pola kerja positivisme? Bagaimana positivisme mempengaruhi kedudukan subyek?

2.2              Pengosongan Subyek

Salah satu konsekuensi dari pola kerja positivisme berdampak pada pengosongan subyek. Penekanan pada aspek metodologis dalam observasi, eksperimentasi, dan komparasi mengakibatkan keterlepasan pada subyek. Status subyek yang dalam cakrawala pemikiran Barat modern merupakan cogito menjadi ruang kosong yang sulit diberi makna. Positivisme begitu yakni bahwa realitas empiris dapat menjadi medan bagi pembentukan ilmu-ilmu sosial yang bebas nilai (free-value). Oleh karena itu, hal yang dibutuhkan di sana adalah aktivitas mengobservasi, melakukan eksperimentasi, dan membuat komparasi terhadap tatanan realitas. Hanya dengan cara demikian, entitas-entitas obyekif dalam realitas empiris dapat ditangkap secara murni.

Pengosongan subyek dalam filsafat positivisme disebabkan karena pemahaman yang keliru tentang status subyek. Kaum positivis berpandangan bahwa keabsahan ilmu pengetahuan hanya bisa diperoleh jika realitas menampakkan diri apa adanya tanpa campur tangan subyek. Langkah untuk menyelidiki realitas sebagaimana adanya merupakan usaha untuk menetralisasi status ilmu pengetahuan. Sebab, bagi kaum positivis, tujuan setiap ilmu pengetahuan adalah mendefenisikan realitas sebagaimana adanya, tanpa ikhtiar untuk mengubah tatanan yang sudah ada. Kebenaran terbentuk karena defenisi yang akurat pada realitas dan bukan pada status subyek sebagai “aku yang berpikir”. Tepat pada titik ini, positivisme justru melakukan reduksi total terhadap status subyek. Pengaruh subyek diabaikan karena justru berdampak mengganggu tatanan sosial masyarakat yang telah, sedang dan akan berkembang. Model pengosongan subyek dalam filsafat positivisme tentu menjadi persoalan epistemologis yang serius. Pengosongan subyek sama artinya dengan sikap pembiaran; suatu sikap “mengizinkan” dan menyuburkan status quo serta hegemoni kekuasaan yang sedang berlangsung.

Baca jugaCovid-19, Krisis Agama dan Urgensi Sains (Mempertimbangkan Eksistensi Agama dan Sains di Tengah Pandemi Covid-19) | Opini | Oleh Defry Ngo*

2.3       Pembalikan Epistemologis

Sejalan dengan fakta mengenai pengosongan subyek, filsafat positivisme, pada bagian ini justru menjadi suatu bentuk pembalikan epistemologis. Maksudnya bahwa kerja subyek sebagai suatu elemen penting dalam merumuskan bangunan teoritis mengenai ilmu pengetahuan justru ditiadakan. Sebagai pengganti, positivisme meletakkan kredibilitas pada metode observasi dan penelitian sosial. Pembalikan epistemologis yang demikian justru berdampak besar bagi usaha membangun sebuah sistem teori yang kredibel. Sebuah teori hanya dapat disebut benar jika ia dielaborasi dalam faktum teoritis-rasional dengan data-data yang diperoleh dalam realitas. Model elaborasi teori-obyek pernah dibuat oleh Immanuel Kant dalam sebuah diktum terkenal yaitu sintesis a priori. Menurut Kant, sintesis apriori itu mungkin karena adanya kategori-kategori apriori dalam akal budi (Verstand) yang mendapat bahan pengetahuan dari pengalaman atau pengetahuan inderawi (Anschauung).[10] Tesis Kant hendak mengungkap pentingnya model elaborasi faktum teoritis dan realitas empiris. Dengan kata lain, realitas empiris tanpa faktum teoritis adalah buta. Sementara faktum teoritis tanpa pendasaran empiris yang jelas adalah kosong. Hal itu berarti, geliat positivisme dalam membangun teori berdasar observasi pada konteks realitas akan berdampak lebih lanjut pada pembentukan status quo yang memelihara dan menyuburkan tatanan sosial lama. Dalam bahasa Sindhunata, usaha positivisme (juga neo-positivisme) yang demikian justru gagal menjadi obat mujarab bagi situasi zaman, tetapi sebaliknya kejeblos menjadi alat untuk melestarikan zaman ini.[11] Dengan begitu, pembalikan epistemologis dalam corak berpikir kaum positivis, sejak semula menjadi persoalan serius yang menggagalkan seluruh bangunan filsafat positivisme.

2.3              Entitas-entitas Palsu

Kita telah melihat secara umum gambaran tentang subyek sebagai wilayah yang kosong dan tak bermakna. Semua bermula dari proses reduksi terhadap kedudukan subyek. Proses “pereduksian” subyek berakibat pada pasivitasnya sebagai struktur penting dalam membangun ketepatan ilmu pengetahuan. Bahwasannya, ilmu pengetahuan hanya sanggup mengungkap kebenaran justru ketika terjadi dialektika antara subyek dan obyek. Proses dialektika antara subyek dan obyek akan terarah pada pembentukan ilmu pengetahuan yang bersifat emansipatoris. Hal itu berarti, pengosongan status subyek sama halnya dengan menerima kekeliruan realitas sebagai suatu kebenaran. Kita katakan sebagai kekeliruan karena realitas sosial seringkali menyajikan gambaran yang bertentangan dengan nilai-nilai yang diusung akal budi, seperti kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan hidup. Juga seterusnya, jika positivisme menerima kebenaran, maka kebenaran tersebut hanya diterjemahkan sebagai sebuah pemberian. Kesulitan membuat diferensiasi terminologis mengenai kebenaran dan kekeliruan serta fakta dan opini menghantar positivisme pada jurang kegagalan. Secara lebih parsial, kita dapat menyebut kegagalan positivisme sebagai ulah menerima entitas-entitas palsu.

Hal utama yang kita maksudkan dengan entitas palsu adalah penemuan-penemuan yang keliru dalam positivisme. Dengan menggunakan metode observasi dan penelitian sosial, kaum positivistik sesungguhnya sedang meneruskan (tanpa berdaya mengubah) realitas sosial yang sedang berlangsung. Positivisme mengurung fakta sosial pada suatu realitas yang tampak (phenomen) dan bukan pada relitas sebagaimana adanya (noumenon). Hal itu berarti, positivisme bertindak mereduksi realitas pada lapisan terdalam, yaitu realitas dalam seluruh keberadaannya. Konsekuensinya, positivisme justru melanggengkan terciptanya entitas-entitas palsu. Penemuan-penemuan yang dihasilkan tetap menjadi seperangkat “bahan mentah” yang sulit memberi terobosan positif bagi tatanan realitas, tetapi sebaliknya justru menyuburkan status quo yang sedang berlangsung.

Baca jugaMENGUNGKAP PERAN GANDA FILSAFAT DI TENGAH BENCANA KEMANUSIAAN (Sebuah Tinjauan Pragmatis Filosofis Menurut Richard Rorty) | Oleh Defri Ngo

III.             PENGOSONGAN SUBYEK DAN PATOLOGI ILMU PENGETAHUAN

Positivisme dan seperangkat metode yang dianut menghantar kita pada sebuah kenyataan mengenai pengosongan subyek sekaligus pembentukan patologi ilmu pengetahuan. Pengosongan subyek serempak berarti pendewaan fakta empiris (obyek) melalui kerja-kerja metodologi. Namun demikian, pergeseran ke pihak obyek ini sekarang bukanlah sekedar pergeseran tekanan yang masih menerima peranan subyek, melainkan justru menghapus subyek dan pada akhirnya menyudahi epistemologi sendiri.[12] Tepat pada titik ini, positivisme justru mengakibatkan patologi ilmu pengetahuan.

Dalam positivisme, patologi pengetahuan terjadi karena adanya kekeliruan pada metodologi yang dipakai sebagai bangunan ilmu-ilmu sosial. Kekeliruan terbesar yang dibuat oleh positivisme adalah melakukan dua reduski sekaligus, yakni reduksi atas posisi subyek dan reduksi atas realitas empiris. Pertama, pada subyek. Positivisme gagal melihat subyek sebagai elemen penting yang sanggup memberi bentuk bagi keabsahan ilmu pengetahuan. Proses rasionalisasi dan interpretasi yang dilakukan subyek atas suatu kenyataan empiris sesungguhnya menjadi sumbangsih penting untuk memperkuat metode penelitian yang dibuat kaum positivis. Dengan kata lain, bahan-bahan yang diperoleh melalui metode observasi dan penelitian dapat menjadi pegangan penting jika ia terlebih dahulu dipelajari, diolah dalam rasionalitas subyek, berikut disesuaikan dengan konteks hidup sosial masyarakat. Reduksi status subyek yang dibuat kaum positivis justru lebih berdampak pada pembiaran dan pelestarian status quo dan hegemoni kekuasaan yang sedang berlangsung dalam masyarakat.

Kedua, reduksi terhadap tatanan sosial. Pada kenyataannya, tatanan sosial adalah suatu realitas yang kaya. Tatanan sosial tidak semata-mata apa yang ditangkap oleh mata dan didengar oleh telinga kaum positivis. Kant sejak dahulu telah menyatakan bahwa realitas adalah das Ding an sich. Di dalam realitas yang kaya, manusia hanya mampu menangkap phenomen yang bersifat partikular. Ia tidak dapat menjangkau keseluruhan realitas sebagai sebuah noumenon. Oleh karena itu, usaha kaum positivis untuk “menjinakan” tatanan sosial dalam metode observasi dan penelitian sesungguhnya belum sampai menjangkau kedalaman makna realitas. Sebab, pergeseran tempat pengetahuan oleh metodologi dalam positivisme adalah suatu penyempitan atau reduksi pengetahuan.[13] Positivisme hanya menangkap kenyataan yang tertera pada perifer realitas dan bukan pada keseluruhan realitas sebagaimana adanya.

IV.             SIMPULAN

Positivisme yang digagas Auguste Comte sejak abad ke-19 adalah sebuah pencarian struktural dan metodologis untuk ilmu-ilmu sosial. Positivisme berusaha membangun struktur yang tepat, guna mencapai keabsahan dalam merumuskan prinsip-prinsip ilmu sosial. Dengan menggunakan metode observasi, eksperimentasi dan komparasi, kaum positivis optimis membentuk struktur ilmu sosial yang berlaku universal. Ambisi kaum positivis sejak Comte berdampak lebih lanjut pada status subyek sebagai cogito. Pendewaaan pada metodologi ilmu-ilmu sosial tanpa disadari telah membawah pengaruh signifikan bagi kedudukan subyek. Positivisme melakukan redukasi dan pengosongan status subyek. Model ini dianggap sebagai bentuk pembalikan epistemologis karena positivisme justru membuat demarkrasi status subyek dan obyek. Bagi positivisme, pengetahuan hanya beroleh keabsahan jika ia dilepaspisahkan dari intervensi akal budi manusia. Realitas seharusnya dibiarkan apa adanya untuk seterusnya diobservasi menggunakan metode penelitian sosial. Kelak, pemisahan kutub subyek-obyek dalam positivisme mengakibatkan terciptanya patologi ilmu pengetahuan.

Sejauh ini terdapat dua kekeliruan mendasar yang dibuat positivisme dalam merumuskan bangunan ilmu-ilmu sosial, yakni reduksi status subyek dan reduksi atas tatanan sosial. Positivisme mereduksi subyek sebagai elemen yang pasif, kosong dan tak bermakna. Sementara itu, terhadap tatanan sosial, positivisme melakukan reduksi pada aspek noumenon. Metodologi yang digunakan kaum positivis hanya menelusuri aspek-aspek yang terlihat pada perifer phenomen, yaitu gambaran yang terlihat dengan mata dan bunyi yang ditangkap oleh telinga kaum positivis. Dua model reduksi yang dibuat kaum positivis menjadi patologi yang berdampak pada keroposnya seluruh bangunan filsafat positivisme. Namun demikian, semua kekurangan sebagaimana disebut tentu tidak dapat mengurangi sumbangan positivisme bagi pembentukan lanksap ilmu-ilmu sosial yang lebih metodologis. Sekarang, kita memiliki tanggung jawab epistemologis untuk membentuk posisi intelektual yang tepat berhadapan dengan diskursus positivisme agar kelak kita pun dapat mengambil peran bagi terwujudnya suatu tatanan masyarakat yang lebih maju; suatu masyarakat yang berkembang menuju tatanan hidup yang lebih beradab.*

Baca jugaMoralitas Kant dalam Pendidikan Formal | Opini Raldi Sastra


 

DAFTAR PUSTAKA

KAMUS

Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III. Jakarta: Balai Pustaka, 2008.

 

BUKU

Benton, Ted dan Craib, Ian. Filsafat Ilmu Sosial. Maumere: Penerbit Ledalero, 2009.

Ferre, Frederick (ed.). Dalam Comte, Auguste. Introduction to Positive Philosophy. US America: Hakett Publising Company, 1998.

Hardiman, F. Budi. Melampaui Modernitas dan Positivisme. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2003.

Lubis, Akhyar Yusuf. Filsafat Ilmu Klasik hingga Kontemporer. Jakarta: Rajawali Press, 2016.

Neuman, W. Lawrence. Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches. London: Pearson Education, 2006.

Rorty, Richard. Philosophy and the Mirror of Nature. Amerika: Pricenton University Press, 1979.

Sindhunata. Dilema Usaha Manusia Rasional Teori Kritis Sekolah Frankfurt Max Horkheimer dan Teodor Adorno. Jakarta: Penerbit Gramedia, 2019.

 

 



[1]Akhyar Yusuf Lubis, Filsafat Ilmu Klasik hingga Kontemporer (Jakarta: Rajawali Press, 2016), hlm. 144.

[2] Richard Rorty, Philosophy and the Mirror of Nature (Amerika: Pricenton University Press, 1979), hlm. 240.

[3]  Frederick Ferre (ed.), dalam Auguste Comte, Introduction to Positive Philosophy (US America: Hakett Publising Company, 1998), hlm. 2

[4] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III (Jakarta: Balai Pustaka, 2008), hlm. 890.

[5]Ted Benton dan Ian Craib, Filsafat Ilmu Sosial (Maumere: Penerbit Ledalero, 2009), hlm. 34.

[6] Akhyar Yusuf Lubis, op.cit.,hlm. 142.  

[7] W. Lawrence Neuman, Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches (London: Pearson Education, 2006), hlm. 87.

[8] Akhyar Yusuf Lubis, loc.cit. 

[9]Ibid.

[10]Sindhunata, Dilema Usaha Manusia Rasional Teori Kritis Sekolah Frankfurt Max Horkheimer dan Teodor Adorno (Jakarta: Penerbit Gramedia, 2019), hlm. 48.

[11] Ibid., hlm. 166.

[12] F. Budi Hardiman, Melampaui Modernitas dan Positivisme (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2003), hlm. 53.

[13]. Ibid., hlm. 55.


Defri Ngo, mahasiswa tingkat IV Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero. Sekarang tinggal di Unit Efrata-Gere, Ledalero. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...