Langsung ke konten utama

Moralitas Kant dalam Pendidikan Formal | Opini Raldi Sastra


 

            Pendidikan merupakan suatu metode pembelajaran yang penting diterima semua orang agar kehidupan seseorang dapat terarah ke suatu tujuan yang jelas. Tujuan itu bisa saja menuju ke arah yang baik atau buruk, bergantung pada apa yang diajarkan kepada seseorang. Ada tiga jenis ruang lingkup pendidikan yang kita semua peroleh yaitu pendidikan informal (pendidikan ini didapatkan dari lingkungan keluarga), pendidikan formal (pendidikan ini didapatkan dari organisasi tertentu, seperti sekolah atau universitas), dan pendidikan non-formal (pendidikan ini didapatkan dari berbagai usaha khusus di luar sekolah, seperti di kelompok masyarakat).[1] Ketiga jenis ruang lingkup pendidikan itu menjadi suatu hal yang penting dipelajari oleh seseorang dalam menjalani kehidupan setiap hari.

            Dari ketiga jenis ruang lingkup di atas, pendidikan informal menjadi faktor kunci dalam membentuk kepribadian sesorang. Hal itu disebabkan oleh karena pendidikan yang didapatkan di dalam keluarga merupakan suatu pembelajaran pertama seseorang ketika ia pertama kali merasakan kehidupan. Apa yang ditanamkan oleh keluarga ke dalam seseorang secara perlahan direkam baik  dan akan dilakukan terus-menerus olehnya dalam menjalani kehidupan setiap hari. Dengan demikian, pendidikan informal menjadi dasar bagi kegiatan pembelajaran seseorang baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

            Situasi keluarga yang kurang kondusif bagi penanaman nilai moral mengganggu proses pembentukan karakter seorang anak. Akibatnya anak mudah terpengaruh oleh nilai-nilai yang buruk dan cenderung melakukan hal yang tidak sesuai dengan norma umum. Kasus semacam itu sering kali terjadi di tengah kehidupan bermasyarakat. Untuk mengatasi persoalan itu dibutuhkan sebuah terobosan baru dalam proses pendidikan dalam keluarga. Lalu, terobosan baru seperti apa yang kita butuhkan agar pendidikan di dalam keluarga dapat berjalan efektif sehingga seorang anak dapat menjalankan kehidupannya secara baik?

Baca juga: MENGUNGKAP PERAN GANDA FILSAFAT DI TENGAH BENCANA KEMANUSIAAN (Sebuah Tinjauan Pragmatis Filosofis Menurut Richard Rorty) | Oleh Defri Ngo

Belajar dari Kant

            Ketika belajar filsafat, kita hampir pasti mengetahui dan mengenal para filsuf yang ada dan ajaran yang mereka anuti. Salah satunya adalah Immanuel Kant. Ia dikenal dengan ajarannya tentang hukum moral (etika dan imperatif kategoris). Inti ajarannya adalah kita disebut bermoral bila menaati hukum lahiriah bukan lantaran hal itu membawa akibat yang menguntungkan kita atau lantaran takut pada kuasa sang pemberi hukum, melainkan kita sendiri menyadari bahwa hukum itu merupakan kewajiban kita.[2] Dengan memiliki kesadaran itu, ia membuka pikiran kita untuk tidak melakukan sesuatu atas suatu paksaan atau dengan mempertimbangkan akibat yang menguntungkan saja. Ia hanya mengajak kita untuk melakukan sesuatu karena memiliki kesadaran bahwa hal itu merupakan kewajiban kita. Tanpa hal itu, ia menganggap kita tidak bermoral sesuai dengan ajarannya. Ajarannya ini dinilai sangat efektif karena mengandalkan kesadaran moral kita untuk melakukan sesuatu hal karena hal itu dianggap suatu kewajiban dari kita. Hal itu membuat kita dapat menjalankan sesuatu dengan tulus hati dengan pemberian diri yang total. Lebih lanjut, hal ini juga berdampak pada sikap kita yang menjalankan sesuatu dengan sungguh-sungguh bukan setengah hati.

Baca juga: Membenci Tuhan: Suatu Bentuk Pendalaman Kepribadian Manusia Sebagai Makhluk Emosional | Refleksi Kritis | Robby Poco*

Relevansinya bagi Pendidikan Informal

            Dalam pendidikan informal (keluarga), kita memperoleh dan mendapatkan nilai-nilai dasar budi pekerti. Hal ini terjadi secara alami dan dapat membentuk karakter kita menuju ke arah yang baik dan yang buruk. Nilai-nilai yang diajarkan di sini berguna sebagai fondasi dasar dalam berinteraksi dengan dunia luar. Nilai-nilai itu antara lain kerukunan, ketakwaan dan keimanan, dan toleransi.[3] Ketiga nilai itu mesti ditanamkan secara baik oleh keluarga agar dapat dipahami dan dilaksanakan secara terus-menerus oleh seorang anak dalam keseharian.

            Moralitas yang ditawarkan oleh Kant dinilai sangat cocok bila dipraktikkan dalam pendidikan informal. Hal ini berguna untuk memperbaharui cara pendidikan yang diberikan oleh kedua orang tua dan keluarga kepada anak agar berjalan secara efektif. Cara mendidik seorang anak yang sering kali dilakukan oleh mereka itu keliru karena lebih banyak menuntut seorang anak untuk bertingkah laku baik sehingga anak cenderung merasa takut apabila bertingkah laku kurang baik. Hal itu memang terlihat baik, tetapi tidak berjalan efektif seperti yang mereka inginkan. Menurut Kant, hal itu disebabkan oleh karena dapat saja anak itu bertingkah laku kurang baik seperti tidak mengikuti apa yang mereka inginkan jika berada di luar lingkungan keluarga. Menurutnya, pendidikan yang harus dilakukan oleh kedua orang tua dan keluarga terhadap seorang anak adalah dengan membantunya menyadari bahwa nilai-nilai yang diberikan oleh mereka (terutama nilai yang baik) merupakan suatu kewajiban yang mesti dilakukannya. Hal itu pun membuatnya merasa bebas dan dapat menerapkan nilai yang diajarkan itu dengan sungguh-sungguh tanpa adanya rasa takut terhadap mereka bila tidak melakukan nilai itu dan tanpa mempertimbangkan akibat yang menguntungkan bila melakukan nilai itu. Lebih lanjut, perbuatan yang dilakukan anak itu membuatnya memiliki moral yang baik, seturut apa yang Kant ajarkan. Dengan demikian, anak itu pun dapat menyerapi nilai-nilai yang diajarkan dalam keluarga dengan baik dan dapat mempertahankan nilai itu bila berada di luar lingkungan keluarga sehingga dapat membentuk karakter yang baik pada dirinya.

            Pendidikan budi pekerti dalam lingkungan keluarga merupakan fondasi dasar bagi pertumbuhan karakter seorang anak. Fondasi itu akan bertumbuh ke arah yang baik bila nilai yang ditanamkan bersifat baik. Begitu pun sebaliknya. Tentu saja, keluarga, terutama kedua orang tua menginginkan masa depan yang baik bagi anaknya. Untuk mewujudkan impian itu, seorang anak pun perlu dididik sedemikian rupa agar bertumbuh ke arah yang baik. Kant dan ajarannya mengenai moralitas pun datang untuk membaharui cara mendidik seorang anak agar berjalan efektif. Dengan mengikuti panduannya, seorang anak pun dapat bertumbuh ke arah yang lebih baik di masa yang akan datang.

Baca juga: Analisis Kompetensi Interkultural Yesus Dalam Injil Markus 7:24-30 dan Relevansinya Bagi Dialog Toleransi | Telaah Biblis | Aris Kapu

[1] Cholisatul Istiqomah, PENDIDIKAN BUDI PEKERTI (Jakarta: Multi Kreasi Satudelapan, 2011), hlm. 18.

[2] S.P. Lili Tjahjadi, Hukum Moral: AJARAN IMMANUEL KANT TENTANG ETIKA DAN IMPERATIF KATEGORIS (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1991), hlm. 47.

[3] Cholisatul Istiqomah, op. cit., hlm. 32-33.


Raldi Sastra (Kraeng Raldi), penghuni Unit Efrata-Gere yang saat ini sedang tekun menggeluti filsafat, salah satu pengamat sepak bola terbaik asal Ruteng-Manggarai. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...