“Hari minggu, hari Tuhan. Juga hari raya menunggu usai peraya a n rindu di tiap hari rabu itu. Lalu siapa yang menunggu dan ditunggu? Barangkali Tuhan juga menunggu?” gumam Lita, sambil menyiapkan sarapan untuk suaminya, Gabi. Entahlah, namun hari-hari lain selain hari Minggu, Gabi selalu terjaga saat jago berkokok memanggil pagi dari pintu subuh lalu menyiapkan diri untuk pergi bekerja. Tak jarang juga Gabi terlebih dahulu berada di mej a makan berukuran sedang itu, menunggu Lita menyiapkan makanan. Sedangkan Lita selalu setia menemaninya saat sarapan pagi dan sama-sama sarapan atau acap kali hanya sekedar mengobrol bersama. Sebab semenjak keduanya menjadi suami-istri, meja makan di dekat dapur itu menjadi tempat, selain makanan, juga segala ide, cerita, dan asa-asa disajikan untuk dinikmati bersama. Sampai pada keduanya yang sering juga beradu mulut, di setiap sisi meja itu segla...