Langsung ke konten utama

Covid-19, Krisis Agama dan Urgensi Sains (Mempertimbangkan Eksistensi Agama dan Sains di Tengah Pandemi Covid-19) | Opini | Oleh Defry Ngo*

 


Covid-19 adalah pandemi yang menyita perhatian semua masyarakat dunia. Aspek ekonomi, sosial dan politik telah mengalami reduksionasi yang total, baik dalam bentuk maupun nilai yang termuat di dalamnya. Keadaan ini diperparah dengan lemahnya komunikasi dan kerja sama antar negara dalam memerangi geliat pandemi. Setelah Amerika Serikat menutup diri terhadap World Health Organization (WHO) pada 07 April 2020, negara-negara dunia tampak kehilangan pemimpin yang sanggup mengkoordinasi persoalan pandemi Covid-19. Trumph selaku pemimpin tertinggi Amerika Serikat telah menghentikan pendanaan (funding) karena kecurigaan negatif bahwa WHO telah menjadi ‘dalang’ di balik tersebarnya pandemi Covid-19.


Baca juga: Analisis Kompetensi Interkultural Yesus Dalam Injil Markus 7:24-30 dan Relevansinya Bagi Dialog Toleransi | Telaah Biblis | Aris Kapu


Selain faktor ekonomi, sosial dan politik yang menjadi diskursus global akibat pandemi Covid-19, lahir pula perdebatan sengit mengenai peran agama dan sains. Perdebatan antara agama dan sains sesungguhnya telah memiliki historisitas yang panjang sejak dimulainya zaman pencerahan (aufklarung). Pada abad ke-18, diskursus mengenai agama dan teologi perlahan-lahan ditinggalkan.

 

Manusia abad modern meletakan kepercayaannya pada dominasi akal budi (antroposentris), dibanding absuriditas agama dan teologi (teosentris). Sebab, menimbang pendapat Bambang Sugharto dan Agus Rachmat “agama atau beragama seringkali melahirkan perasaan was-was (dread); sebuah perasaan yang mengandung di dalamnya sikap simpati antipatetik serentak antipasti simpatetik yang muncul secara bersamaan.[1]Agama dalam pandangan keduanya telah masuk ke dalam suatu paradoks yang di satu sisi bersifat solutif, tetapi sekaligus memuat ciri yang kontradiktoris. Pertanyaannya, bagiamana kita sudah seharusnya berbicara tentang dua entitas yang berbeda (agama dan sains) di tengah geliat Covid-19? Apakah agama masih tampak relevan? Atau, apakah sains justru menjadi lebih penting?

 

Kita akan memulai penjelasan berikut dengan pertama-tama menjelaskan persoalan pandemi Covid-19. Lokus penjelasan pada bagian iniakan mencakup sejarah singkat lahirnya pandemi Covid-19, jumlah korban dan dampak yang ditimbulkan. Sebagai lanjutan, kita akan mengungkapkan posisi agama di tengah pandemi Covid-19. Penjelasan tentang posisi agama merangkum defenisi kata, fakor pembentuk, konsep-konsep penting dan keberadaannya di masa pandemi. Sebagai langkah komparatif, penulis juga menghadirkan paradigma sainsyang dianggap penting dalam menutup ‘kekurangan’ yang dibawah oleh agama. Keseluruhan tulisan ini akan ditutup dengan mengungkapkan sejumlah langkah dalam menghadapi geliat sains sambil mencoba kemungkinan dari pengaruh yang ditawarkan oleh agama.

 

Covid-19 Sebagai Bencana Global


Covid-19 adalah kepanjangan dari Corona Virus Disease. Penambahan angka 19 hendak menunjukan bahwa penyebaran virus ini sesungguhnya telah dimulai sejak tahun 2019.Dalam penelusuran tim The Guardian, Covid-19 memiliki dua versi sejarah lahir yang berbeda. Versi pertama menyebutkan bahwa Covid-19 muncul pertama kali di salah satu laboratorium di kota Wuhan, Provinsi Hubei, China dan berasal dari kelelawar.[2] Karena kontak langsung dengan manusia, kelelawar tersebut membawa serta gen berbahaya dari Covid-19 yang dapat menginfeksi manusia.

 

Sementara itu, versi kedua menyebut Covid-19 muncul karena kecerobohan biosekuritas staf laboratorium dan dalam prosedur.[3] Selain dua versi yang memberitakan sejarah lahirnya Covid-19, terdapat pula dugaan bahwa virus ini merupakan bagian dari agenda sekelompok orang yang berusaha menguasai perpolitikan global. Mereka adalah elit global yang tersebar di berbagai negara dan memiliki keinginan untuk menguasai dunia. Versi ini dinamakan dengan teori konspirasi.[4]Dengan melihat ketigaversi sejarah lahir Covid-19, maka dapat dikatakan bahwa hingga saat ini belum ada kepastian mengenai sumber virus mematikan ini. Para ilmuwan dan ahli virologi sedang berusaha merumuskan secara tepat asal muasal lahirnya pandemi Covid-19.

 

Melansir data dari laman Worldmeters, hingga Kamis, 27 Agustus 2020, total kasus Covid-19 di dunia terkonfirmasi sebanyak 24.332.275 (24 juta) kasus dengan kematian sebanyak 829.666 orang dan pasien yang sembuh sebanyak 16.873.305.[5]Dalam skala nasional, korban yang terjangkit Covid-19 berjumlah 160.165 dengan jumlah pasien sembuh sebanyak 115.409 orang dan yang meninggal sebanyak 6.944 orang.[6] Data tersebut sewaktu-waktu akan berubah mengingat masifnya persebaran pandemi Covid-19.


Baca juga: DINAMIKA RADIKALISME, EMOSIONALITAS MASSA DAN ETIKA KOMUNIKASI | Fr. DEFRY NGO, SVD


Besarnya angka kematian akibat pandemi Covid-19 menekan pemerintah untuk memikirkan strategi terbaik agar mampu melindungi masyarakatnya dari persebaran virus mematikan ini. Strategi protektif yang dirancang oleh pemerintah telah menyedot banyak anggaran yang seharusnya digunakan untuk aspek ekonomi, sosial, politik dan pendidikan yang menunjang kemajuan negara. Sejauh ini, upaya menangani Covid-19 telah mengangkat peranan sains dan teknologi yang dianggap mampu melindungi dan mencegah bahaya pandemi. Menurut Global Data Disruptor Intelligence Center, ada lima teknologi yang bisa digunakan untuk mengantisipasi penyebaran virus corona. Di antaranya analitik wabah, robot sterilisasi, pemrosesan klaim, pengiriman lewat udara, dan robot percakapan (chatbot).[7] Penggunaan teknologi-teknologi ini menjadi jalan dalam mengidentifikasi dan meretas penyebaran pandemi Covid-19.

 

Agama di Tengah Covid- 19


Secara etimologis, seperti dikatakan Taylor, agama berakar dalam kata bahasa Latin religare, yang berarti ‘mengikat kembali’ atauto bind back (re-, “back,” plus ligare-, “to bind”).[8]Sebagai sesuatu yang berkekuatan mengikat, setiap agama mengandung di dalamnya ciri-ciri umum seperti masyarakat penganut, kepercayaan, ritus, simbol, dan pengalaman keagamaan.[9] Ciri-ciri umum tersebut saling berpengaruh satu terhadap yang lain dan memberi bentuk terhadap kedudukan sebuah agama. Oleh karena itu, agama dapat diartikan sebagai sarana yang mengikat manusia dengan kekuatan yang dipercaya.Manusia meletakan kepercayaannya atas kekuatan-kekuatan tersebut dan berharap agar kehidupannya beroleh keselamatan.

 

Pada titik ini, beragama adalah sikap batin manusia berhadapan dengan realitas ‘di luar’ dirinya. Manusia mempercayai realitas transendental dan mengharapkan agar hidupnya beroleh kebahagiaan, penghiburan dan keselamatan. Kekuatan transendental dalam agama mengikat manusia sedemikian erat karena menyentuh sisi sentimentalitas dan nurani kemanusiaan. Konsekuensi logisnya, manusia dapat melakukan tindakan apa saja demi mengukuhkan kepercayaan imannya kepada Wujud Tertinggi. Pada titik ini, terdapat dua sisi yang saling bertentangan. 


Pada sisi yang positif, agama membentuk karakter manusia untuk peka, solider dan berbagi cinta dengan sesama di sekitar. Nurani manusia selalu terpanggil untuk menolong sesama di sekitar. Namun, sisi positif dalam agama tidak dapat menutup adanya pengaruh negatif yang timbul karena sikap radikalisme dalam beragama. Manusia yang beragama secara radikal cenderung menolak semua ideologi, ajaran dan pengaruh yang berasal dari luar diri. Segala sesuatu yang dianggap melawan agama akan ditanggapi secara destruktif, misalnya melalui perselisihan, pertikian dan peperangan yang mengakibatkan kematian.

 

Di tengah pandemi Covid-19, agama atau beragama mendapat tantangan yang serius. Agama atau beragama di tengah pandemi Covid-19 dibatasi karena mengakibatkan terciptanya perkumpulan dalam jumlah yang besar. Di Indonesia, pemerintah melalui protokol Covid-19 sejak awal telah menetapkan kebijakan untuk menghentikan kegiatan bersama dalam jumlah yang besar. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kontak langsung dengan orang lain yang boleh jadi telah membawah gen Covid-19. Agama atau beragama sebagai sebagai sarana pengungkapan iman kembali dipertanyakan. Agama memperoleh tantangan serius untuk menjawab setiap keresahan manusia yang mengharapkan adanya pertolongan. 


Kenyataan yang kemudian terjadi adalah bahwa agama tidak memiliki kekuatan yang sanggup menyelamatkan manusia dari serangan pandemi Covid-19. Kebersamaan di rumah-rumah ibadat justru berdampak besar bagi keselamatan hidup manusia. Dengan adanya pembatasan dalam kegiatan beragama, penghayatan iman manusia kepada Wujud Tertinggi turut mendapat ujian. Pribadi dituntut menahan keinginan untuk beribadah dan menjalankan ritual beragama secara bersama. Sebaliknya, ia secara mandiri perlu mengembangkan imannya kepada Wujud Tertinggi.

 

Oleh karena itu,tepat apa yang dikatakan Max Regus bahwa agama di massa pandemi Covid-19 tampaknya sedang ‘mati gaya.’[10] Agama kehilangan pisaunya untuk menolong manusia dari serangan pandemi Covid-19. Pertanyaannya, apa langkah yang tepat untuk dilakukan oleh orang-orang beriman agar beroleh perlindungan di tengah penyebaran Covid-19?

 

 

Urgensi Sains dan Posisi Eksistensial Manusia


Perkembangan pesat sains dimulai dengan penemuan mutakhir oleh Nicolas Copernicus (1473-1549) yang menggeser paham Geosentris dan menggantikannya dengan Heleosentris. Copernicus sampai pada suatu asumsi bahwa matahari adalah pusat dan bumi berputar mengelilinginya. Rentetan penemuan serupa pada akhirnya menempatkan sains sebagai domain utama yang menguasai alam berpikir manusia. Sains telah menawarkan kepastian, ketepatan dan jangkauan penemuan yang dapat dibuktikan secara logis dan jelas.

 

Sains yang dimaksud dalam tulisan ini adalah semua jenis ilmu pengetahuan yang dapat diketahui manusia. Tentang hal ini penulis mengikuti pembedaan yang dibuatoleh Dilthey (1833-1911), seorang filsuf Jerman, yang membagi ilmu pengetahuan dalam dua kelompok besar yang disebutnya Naturwissen schaften (Natural Sciences, Ilmu Pengetahuan Alam)dan Geisteswissen schaften (Human Sciences, Humaniora).[11] Pembedaan ini dimaksud agar sains dapat dibedakan secara tegas dari saintisme (scientism) yang sifatnya ideologis dan cenderung hegemonik.[12] Seperti dikatakan Habermas, saintisme adalah science’s belief in itself, yang memahami dirinya bukan sebagai salah satu pengetahuan yang dapat diketahui manusia melainkan lebih dari itu menyamakan pengetahuan dengan ilmu pengetahuan.[13] Dengan mengikuti uraian ini, sains pada dasarnya bersifat obyektif dan positivistik. Sains bukanlah sebuah ide yang mengambang, abstrak dan sulit dibuktikan kelogisannya. Sebaliknya, ia selalu berangkat dari realitas empiris untuk selanjutnya dikaji dan diuji dalam suatu sistem berpikir yang tepat.

 

Mengikuti defenisi sains baru, sains dalam penjelasan ini berarti suatu upaya merekonstruksi posisi sains modern yang telah ditelurkan oleh Copernicus. Sebagai rekonstruksi atas sains modern, sains baru adalah penerjemahan atas realitas empiris kedalam paradigma holisme-dialogis dan paradigma digitalis-informatisme.[14]Dalam paradigma holisme-dialogis, sains mengandalkan dialog yang menyeluruh berkaitan dengan data yang diperoleh dalam sebuah observasi. Sedangkan paradigma digitalis-informatisme mengungkapkan peran serta informasi yang diperoleh media digital untuk mendukung observasi. Peran media digital dalam menciptakan datadan algoritma sangat membantu manusia dalam usahanya untuk membangun inovasi dan kreativitas. Rujukan yang ditawarkan oleh sains telah menempatkan informasi dan dialog sebagai bagian integral yang bekerja secara berkelindan dan interdependensi.

 

Dengan memahami kedudukan sains, maka manusia dapat melihat perkembangan dunia secara terbuka. Segala pengaruh yang ditawarkan oleh era post-modern dapat dibaca dalam paradigma sains. Hal ini disebabkan karena manusia post-modern adalah pribadi yang sangat dekat dengan teknologi. Ia adalah homo digitalis. Ia terikat dengan teknologi yang sanggup membantu pencarian makna otentik dan masa depan hidupnya.

 

Geliat pandemi Covid-19 telah memberikan semacam gambaran bahwa sains telah memiliki pengaruh yang besar terhadap eksistensi hidup manusia. Teknologi yang dihasilkan oleh sains berperan membantu manusia untuk mempermudah pekerjaan sekaligus menghindarinya dari serangan pandemi Covid-19.Manusia dituntut untuk secara mandiri mengakses teknologi dan melakukan segala pekerjaan dari rumah (work from home). Kemandirian dalam mengakses teknologi menuntut kecakapan dan pengetahuan yang cukup dari manusia. Persentuhan yang intim dengan teknologi menghendaki manusia untuk mencari sedemikian mungkin akses yang membantu kelancaran dan mempermudah pekerjaan yang ia lakukan. Di pihak lain, dengan adanya kemandirian dalam mengakses teknologi, manusia telah berusaha melindungi dirinya dari pengaruh Covid-19. Sains, pada titik ini telah memberikan kontribusi yang besar bagi manusia dalam menghadapi pandemi Covid-19.


Sains Sebagai Alternatif, Sikap Etis Sebagai Keharusan


Penjelasan-penjelasan sebelumnya telah memperlihatkan secara terbuka bahwa sains memiliki pernanan yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Kedekatan manusia dengan teknologi yang merupakan buah kandung dari sains memampukannya dalam mencari alternatif lain yang sanggup membantu pekerjaan dan melindungi diri dari serangan pandemi Covid-19. Berjauhan dengan maksud sains, agama di massa pandemi Covid-19 sedang mencapai kedurjanaan. Kebersamaan di rumah-rumah ibadat bukannya menyelamatkan manusia dari keterasingan dan malapetaka dalam kehidupannya, tetapi sebaliknya menjadi persoalan yang mendatangan kemantian.

 

Oleh karena itu, berhadapan dengan pandemi Covid-19, manusia didesak untuk selalu membuka diri terhadap perkembangan dalam sains. Keterbukaan terhadap sains menunjukan kepercayaan atas kerja teknologi yang mencakup di dalamnya akses terhadap data dan algoritma. Benyamin Netanyahu selaku Perdana Menteri Israel misalnya, baru-baru ini telah mengelurakan perintah untuk menggunakan teknologi pelacakan antiteror dalam memerangi pandemi Covid-19. Sistem ini diyakini mampu melindungi masyarakat dari serangan pandemi. Kebijakan tersebut perlu dipelajari secara tepat oleh negara-negara dunia, khususnya Indonesia dalam usahanya memerangi pandemi. Semua hanya bisa dilakukan jika ada kerja sama yang kohesif dari pemerintah dan masyarakat untuk secara terbuka meletakan kepercayaan atas kerja sains dan teknologi.

 

Berkaitan dengan aktus kerja sama, setidaknya terdapat dua hal utama yang perlu mendapat perhatian serius, yakni pertama membangun komunikasi yang dialogis antar negara. Komunikasi yang dialogis adalah salah satu bentuk kemajuan peradaban hidup manusia. Dalam komunikasi yang dialogis, kedua belah pihak selalu terbuka untuk menerima kekurangan masing-masing sekaligus mencari jalan keluar yang memungkinkan tercapainya keputusan bersama. Komunikasi yang dialogis membuka jalan menuju pembentukan watak emansipatoris yang berdampak pada kemajuan hidup bersama. Dengan adanya komunikasi yang dialogis, negara-negara dunia dapat mencari upaya yang tepat dalam memerangi laju penyebaran pandemi Covid-19.

 

Kedua, sebagai lanjutan dari komunikasi yang dialogis, diperlukan kerelaan sikap untuk saling menolong dan melengkapi dalam membangun sebuah negara. Kerelaan untuk saling menolong dan melengkapi hanya dapat dibentuk dari sikap menerima diri dengan segala kualitas yang terkandung sembari membuka diri terhadap kehadiran orang lain. Sikap menerima diri berarti bahwa pribadi dan negara sanggup menerima segala kompleksitas dirinya dan mengakui bahwa ia hanya mampu menjadi berarti apabila terbuka untuk diisi oleh orang lain di luar dirinya. Dirinya hanya menjadi penuh di dalam kehadiran orang lain.Dengan menghayati kedua poin di atas, sains sesungguhnya telah menebarkan nilai-nilai yang terkandung di dalam agama. Sains telah menjadikan agama sebagai bagian yang tak terpisahkan dari dirinya. Ian G. Barbour menyebut korelasi antar agama dan sains ini dalam model integrasi (integration).

 

Model ini rupanya dianggap sebagai model yang lebih menjanjikan dalam memahami hubungan agama dan sains.[15]Untuk berdialog dengan sains seperti dirumuskan oleh Habermas agama mesti menerjemahkan diri dalam bahasa ‘nalar publik’.[16] Dalam pengertian ini, agama harus bias melepaskan kecenderungan berlebihan pada konsep-konsep teologis dan metafisis yang tidak mampu dipahami oleh dunia sains tanpa harus kehilangan integritasnya. Begitupun sains dalam dialognya dengan agama harus mampu melepaskan kecenderungan untuk terlalu bersikap objektivistik dan positivistik tanpa harus melanggar integritasnya sendiri.[17]

 

Pada akhirnya, kita dapat mengatakan bahwa krisis yang telah menimpah agama di massa pandemi Covid-19 sesungguhnya adalah bagian dari tanggung jawab sains.Mengutip Frans Dahler, sains sebagaimana “ilmu pengetahuan akan lebih nyata kalau ia mengarah kembali ke penggalian kebenaran yang berkaitan dengan agama, etika dan kesenian.”[18] Sebab, sains tanpa agama adalah kehampaan dan agama tanpa sains adalah kerancuan.*

Baca juga: Dunia dan Politik Otentik Hannah Arendt | Fr. Roby Poco, SVD 


DAFTAR PUSTAKA:

Buku                           :

Sugiharto, I. BambangdanRachmat, Agus.WajahBaruEtikadan Agama. Yogyakarta: Kanisius, 2000.

 

Taylor, Mark C. After God. New York: The University of Chicago Press, 2007.

 

Raho, Bernard. Agama dalam Perspektif Sosiologi. Jakarta: Obor, 2013.

Hardiman, F. Budi. Kritik Ideologi. Yogyakarta: Kanisius, 2009.

Madung, Otto Gusti.Post-Sekularisme, Toleransi, dan Demokrasi. Maumere: Ledalero, 2017.

Dahler, Frans.Teori Evolusi. Jogjakarta: Kanisius, 2011.

Makow, Henry. Iluminati-Dunia Dalam Genggaman Perkumpulan Setan. Surabaya: Ufuk Publishing House, 2012.

Skripsi                                    :

Wada, Elton Dialektika Hubungan Agama dan Sains: Ikhtiar Filosofis Yuval Noah Harari Menemukan Ideal Hidup yang Baik. Skripsi. Maumere: Ledalero, 2020.

 

Artikel dari Internet             :

 

https://www.theguardian.com/world/2020/may/01/could-covid-19-be-manmade-what-we-know-about-origins-trump-chinese-lab-coronavirus, diakses pada Rabu 26 Agustus 2020.

 

https://tirto.id/alasan-mengapa-seseorang-cenderung-percaya-pada-teori-konspirasi-fqns, diakses pada Kamis, 27 Agustus 2020.

 

https://www.worldometers.info/coronavirus/, diakses pada Rabu 26 Agustus 2020.

 

https://katadata.co.id/sorot/detail/26/krisis-virus-corona, diakses pada Rabu 26 Agustus 2020.

https://www.academia.edu/7212268/Sains_Modern_versus_Sains_Baru, diakses 09 April 2020.

 

Annur, Cindy Mutia https://katadata.co.id/desysetyowati/digital/5e9a4215906ab/lima-macam-teknologi-dinilai-bisa-tangani-wabah-virus-corona, diakses pada Kamis, 27 Agustus 2020.

 

Regus, Max “Agama Mati Gaya”, dalam https://m.mediaindonesia.com/read/detail/302486-agama-mati-gaya, diakses 9 April 2020.

 

 



[1] Bdk., I. Bambang Sugiharto dan Agus Rachmat, Wajah Baru Etika dan Agama (Yogyakarta: Kanisius, 2000), hlm. 100.

[3]Ibid.

[4]Mengikuti defenisi yang dipaparkan oleh Goertzel (1994), teori konspirasi sesungguhnya adalah penjelasan yang merujuk pada kelompok tersembunyi yang bekerja secara rahasia untuk mencapai tujuan jahat. Teori konspirasi merupakan upaya untuk menjelaskan peristiwa yang berbahaya atau tragis sebagai hasil dari tindakan kelompok kecil yang kuat. Bdk, https://tirto.id/alasan-mengapa-seseorang-cenderung-percaya-pada-teori-konspirasi-fqns. Untuk rujukan yang lain bisa menggunakan buku Henry Makow, Buku Iluminati-Dunia Dalam Genggaman Perkumpulan Setan (Surabaya: Ufuk Publishing House, 2012).

[5]https://www.worldometers.info/coronavirus/, diakses pada Rabu 26 Agustus 2020.

[8]Sebenarnya ada dua istilah turunan dari bahasa Latin yang dipakai Taylor untuk menjelaskan pengertian agama termasuk di dalamnya kata Leig yang berasal dari kata ‘ligament’, ‘ligature’, dan ‘obligation’. Kata ini tidak dipakai di sini karena istilah leig dipakai Taylor untuk melawan defenisi agama dari Cicero yang juga memahami agama sebagai leig. Taylor pun memahami agama sebagai ligare. Jika leig dipakai untuk melawan Cicero maka ligare dipakai untuk menentang Smith yang defenisinya ditampung dan dipakai dalam kamus Oxford English Dictionary yang disebut Taylor memiliki pengertian yang sangat terbatas karena masih terdapat bias kultural, khususnya bias agama Katolik Roma. Bdk. Mark C. Taylor, After God (New York: The University of Chicago Press, 2007), hlm. 5.

[9]Bernard Raho, Agama dalam Perspektif Sosiologi (Jakarta: Obor, 2013), hlm. 11-18.

[10]Max Regus, “Agama Mati Gaya”, dalam https://m.mediaindonesia.com/read/detail/302486-agama-mati-gaya, diakses 9 April 2020.

[11]Elton Wada, Dialektika Hubungan Agama dan Sains: Ikhtiar Filosofis Yuval Noah Harari Menemukan Ideal Hidup yang Baik (Skripsi) (Maumere: Ledalero, 2020), hlm. 7.

[12]Ibid.

[13]F. Budi Hardiman, Kritik Ideologi (Yogyakarta: Kanisius, 2009), hlm. 28.

[15]Elton Wada, op.,cit, hlm. 9. Seperti dikatakan Barbour, “to be sure, religion must never be identified too closely with a metaphysical system or forced to fit into a neat and final synthesis that claims to encompass all reality. Scientists, for their part, legitimately resist any imposition of alien metaphysical systems imported from outside their own work. But both scientist and theologian inevitably use metaphysical categories whether they intend to or not; and each can contribute to tentative attempts at a coherent view of reality, without any violation of his own integrity”.

[16]Ibid.

[17]Bdk. Otto Gusti Madung, Post-Sekularisme, Toleransi, dan Demokrasi (Maumere: Ledalero, 2017), hlm. 38- 44.

[18]Frans Dahler, Teori Evolusi (Jogjakarta: Kanisius, 2011), hlm. 169.


 


  *Defry Ngo Mahasiswa STFK Ledalero Semester VI, Tinggal di Efrata-Gere

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...