Covid-19, Krisis Agama dan Urgensi Sains (Mempertimbangkan Eksistensi Agama dan Sains di Tengah Pandemi Covid-19) | Opini | Oleh Defry Ngo*
Covid-19
adalah pandemi yang menyita perhatian semua masyarakat dunia. Aspek ekonomi,
sosial dan politik telah
mengalami reduksionasi yang total, baik dalam bentuk maupun nilai yang
termuat di dalamnya. Keadaan ini diperparah dengan lemahnya komunikasi dan kerja
sama antar negara dalam
memerangi geliat pandemi. Setelah Amerika Serikat menutup diri terhadap World Health Organization (WHO) pada 07
April 2020, negara-negara
dunia tampak kehilangan pemimpin yang sanggup mengkoordinasi persoalan pandemi
Covid-19. Trumph selaku pemimpin tertinggi Amerika Serikat telah menghentikan
pendanaan (funding) karena kecurigaan
negatif bahwa WHO telah menjadi ‘dalang’ di balik tersebarnya pandemi Covid-19.
Selain faktor ekonomi, sosial dan politik yang menjadi diskursus global akibat pandemi Covid-19, lahir pula perdebatan sengit mengenai peran agama dan sains. Perdebatan antara agama dan sains sesungguhnya telah memiliki historisitas yang panjang sejak dimulainya zaman pencerahan (aufklarung). Pada abad ke-18, diskursus mengenai agama dan teologi perlahan-lahan ditinggalkan.
Manusia
abad modern meletakan kepercayaannya pada dominasi akal budi (antroposentris), dibanding absuriditas
agama dan teologi (teosentris). Sebab,
menimbang pendapat Bambang Sugharto dan Agus Rachmat “agama atau beragama seringkali melahirkan perasaan was-was (dread); sebuah perasaan yang mengandung
di dalamnya
sikap simpati antipatetik serentak antipasti simpatetik yang muncul secara bersamaan.”[1]Agama
dalam pandangan keduanya telah masuk ke dalam suatu paradoks yang di satu sisi
bersifat solutif, tetapi sekaligus memuat ciri yang kontradiktoris. Pertanyaannya,
bagiamana kita sudah seharusnya berbicara tentang dua entitas yang berbeda
(agama dan sains) di tengah geliat Covid-19? Apakah agama masih tampak relevan?
Atau, apakah sains justru menjadi lebih penting?
Kita
akan memulai penjelasan berikut dengan pertama-tama menjelaskan persoalan
pandemi Covid-19. Lokus penjelasan pada bagian iniakan mencakup sejarah singkat
lahirnya pandemi Covid-19, jumlah korban dan dampak yang ditimbulkan. Sebagai
lanjutan, kita akan mengungkapkan posisi agama di tengah pandemi Covid-19. Penjelasan
tentang posisi agama merangkum defenisi kata, fakor pembentuk, konsep-konsep
penting dan keberadaannya di masa
pandemi. Sebagai langkah komparatif, penulis juga menghadirkan paradigma sainsyang
dianggap penting dalam menutup ‘kekurangan’ yang dibawah oleh agama. Keseluruhan
tulisan ini akan ditutup dengan mengungkapkan sejumlah langkah dalam menghadapi geliat
sains sambil mencoba kemungkinan dari pengaruh yang ditawarkan oleh agama.
Covid-19 Sebagai Bencana
Global
Covid-19
adalah kepanjangan dari Corona Virus Disease.
Penambahan angka 19 hendak menunjukan bahwa penyebaran virus ini
sesungguhnya telah dimulai sejak tahun 2019.Dalam penelusuran tim The Guardian, Covid-19 memiliki dua
versi sejarah lahir yang berbeda. Versi pertama menyebutkan bahwa Covid-19
muncul pertama kali di salah satu laboratorium di kota Wuhan, Provinsi Hubei,
China dan berasal dari kelelawar.[2] Karena kontak langsung
dengan manusia, kelelawar tersebut membawa serta gen berbahaya dari Covid-19
yang dapat menginfeksi manusia.
Sementara
itu, versi kedua menyebut Covid-19 muncul karena kecerobohan biosekuritas staf
laboratorium dan dalam prosedur.[3]
Selain dua versi yang memberitakan sejarah lahirnya Covid-19, terdapat pula
dugaan bahwa virus ini merupakan bagian dari agenda sekelompok orang yang
berusaha menguasai perpolitikan global. Mereka adalah elit global yang tersebar
di berbagai negara dan memiliki keinginan untuk menguasai dunia. Versi ini
dinamakan dengan teori konspirasi.[4]Dengan
melihat ketigaversi sejarah lahir Covid-19, maka dapat dikatakan bahwa hingga
saat ini belum ada kepastian mengenai sumber virus mematikan ini. Para ilmuwan
dan ahli virologi sedang berusaha merumuskan secara tepat asal muasal lahirnya
pandemi Covid-19.
Melansir
data dari laman Worldmeters, hingga
Kamis, 27 Agustus 2020, total kasus Covid-19 di dunia terkonfirmasi sebanyak
24.332.275 (24 juta) kasus dengan kematian sebanyak 829.666 orang dan pasien
yang sembuh sebanyak 16.873.305.[5]Dalam
skala nasional, korban yang terjangkit Covid-19 berjumlah 160.165 dengan jumlah
pasien sembuh sebanyak 115.409 orang dan yang meninggal sebanyak 6.944 orang.[6]
Data tersebut sewaktu-waktu akan berubah mengingat masifnya persebaran pandemi
Covid-19.
Baca juga: DINAMIKA RADIKALISME, EMOSIONALITAS MASSA DAN ETIKA KOMUNIKASI | Fr. DEFRY NGO, SVD
Besarnya
angka kematian akibat pandemi Covid-19 menekan pemerintah untuk memikirkan
strategi terbaik agar mampu melindungi masyarakatnya dari persebaran virus mematikan
ini. Strategi protektif yang dirancang oleh pemerintah telah menyedot banyak
anggaran yang seharusnya digunakan untuk aspek ekonomi, sosial, politik
dan pendidikan yang menunjang kemajuan negara. Sejauh ini, upaya menangani Covid-19
telah mengangkat peranan sains dan teknologi yang dianggap mampu melindungi dan
mencegah bahaya pandemi. Menurut Global Data Disruptor
Intelligence Center, ada lima teknologi yang bisa digunakan untuk
mengantisipasi penyebaran virus corona. Di antaranya analitik wabah, robot
sterilisasi, pemrosesan klaim, pengiriman lewat udara, dan robot percakapan
(chatbot).[7] Penggunaan teknologi-teknologi ini menjadi jalan dalam mengidentifikasi dan
meretas penyebaran pandemi Covid-19.
Agama di Tengah Covid- 19
Secara etimologis,
seperti dikatakan Taylor, agama berakar dalam kata bahasa Latin religare, yang berarti ‘mengikat kembali’
atauto bind back (re-, “back,” plus ligare-, “to bind”).[8]Sebagai
sesuatu yang berkekuatan mengikat, setiap agama mengandung di dalamnya ciri-ciri umum seperti masyarakat penganut,
kepercayaan, ritus, simbol, dan pengalaman keagamaan.[9] Ciri-ciri
umum tersebut saling berpengaruh satu terhadap yang lain dan memberi bentuk
terhadap kedudukan sebuah agama. Oleh karena itu, agama dapat diartikan sebagai
sarana yang mengikat manusia dengan kekuatan yang dipercaya.Manusia meletakan
kepercayaannya atas kekuatan-kekuatan tersebut dan berharap agar kehidupannya beroleh
keselamatan.
Pada titik ini, beragama adalah sikap batin manusia berhadapan dengan realitas ‘di luar’ dirinya. Manusia mempercayai realitas transendental dan mengharapkan agar hidupnya beroleh kebahagiaan, penghiburan dan keselamatan. Kekuatan transendental dalam agama mengikat manusia sedemikian erat karena menyentuh sisi sentimentalitas dan nurani kemanusiaan. Konsekuensi logisnya, manusia dapat melakukan tindakan apa saja demi mengukuhkan kepercayaan imannya kepada Wujud Tertinggi. Pada titik ini, terdapat dua sisi yang saling bertentangan.
Pada sisi yang positif, agama membentuk karakter manusia untuk peka, solider dan berbagi cinta dengan sesama di sekitar. Nurani manusia selalu terpanggil untuk menolong sesama di sekitar. Namun, sisi positif dalam agama tidak dapat menutup adanya pengaruh negatif yang timbul karena sikap radikalisme dalam beragama. Manusia yang beragama secara radikal cenderung menolak semua ideologi, ajaran dan pengaruh yang berasal dari luar diri. Segala sesuatu yang dianggap melawan agama akan ditanggapi secara destruktif, misalnya melalui perselisihan, pertikian dan peperangan yang mengakibatkan kematian.
Di tengah pandemi Covid-19, agama atau beragama mendapat tantangan yang serius. Agama atau beragama di tengah pandemi Covid-19 dibatasi karena mengakibatkan terciptanya perkumpulan dalam jumlah yang besar. Di Indonesia, pemerintah melalui protokol Covid-19 sejak awal telah menetapkan kebijakan untuk menghentikan kegiatan bersama dalam jumlah yang besar. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kontak langsung dengan orang lain yang boleh jadi telah membawah gen Covid-19. Agama atau beragama sebagai sebagai sarana pengungkapan iman kembali dipertanyakan. Agama memperoleh tantangan serius untuk menjawab setiap keresahan manusia yang mengharapkan adanya pertolongan.
Kenyataan yang kemudian terjadi adalah bahwa agama tidak memiliki
kekuatan yang sanggup menyelamatkan manusia dari serangan pandemi Covid-19. Kebersamaan
di rumah-rumah ibadat justru berdampak besar bagi keselamatan hidup
manusia. Dengan adanya pembatasan dalam kegiatan beragama, penghayatan iman
manusia kepada Wujud Tertinggi turut mendapat ujian. Pribadi dituntut menahan
keinginan untuk beribadah dan menjalankan ritual beragama secara bersama.
Sebaliknya, ia secara mandiri perlu mengembangkan imannya kepada Wujud
Tertinggi.
Oleh karena itu,tepat apa yang dikatakan Max
Regus bahwa agama di massa pandemi Covid-19 tampaknya sedang ‘mati gaya.’[10]
Agama kehilangan pisaunya untuk menolong manusia dari serangan pandemi Covid-19.
Pertanyaannya, apa langkah yang tepat untuk dilakukan oleh orang-orang beriman agar
beroleh perlindungan di tengah penyebaran Covid-19?
Urgensi Sains dan Posisi
Eksistensial Manusia
Perkembangan
pesat sains dimulai dengan penemuan mutakhir oleh Nicolas Copernicus
(1473-1549) yang menggeser paham Geosentris dan menggantikannya dengan
Heleosentris. Copernicus sampai pada suatu asumsi bahwa matahari adalah pusat
dan bumi berputar mengelilinginya. Rentetan penemuan serupa pada akhirnya
menempatkan sains sebagai domain utama yang menguasai alam berpikir manusia.
Sains telah menawarkan kepastian, ketepatan dan jangkauan penemuan yang dapat
dibuktikan secara logis dan jelas.
Sains yang dimaksud dalam tulisan ini adalah semua jenis
ilmu pengetahuan yang dapat diketahui manusia. Tentang hal ini penulis mengikuti
pembedaan yang dibuatoleh Dilthey (1833-1911),
seorang filsuf Jerman, yang
membagi ilmu pengetahuan dalam dua kelompok besar yang disebutnya Naturwissen schaften (Natural
Sciences, Ilmu Pengetahuan Alam)dan Geisteswissen schaften (Human Sciences,
Humaniora).[11] Pembedaan ini dimaksud agar sains dapat dibedakan secara
tegas dari saintisme (scientism) yang sifatnya ideologis dan cenderung hegemonik.[12]
Seperti dikatakan Habermas, saintisme adalah science’s belief in itself, yang
memahami dirinya bukan sebagai salah satu pengetahuan yang dapat diketahui manusia
melainkan lebih dari itu menyamakan pengetahuan dengan ilmu pengetahuan.[13] Dengan mengikuti uraian ini, sains pada dasarnya
bersifat obyektif dan positivistik. Sains bukanlah sebuah ide yang mengambang,
abstrak dan sulit dibuktikan kelogisannya. Sebaliknya, ia selalu berangkat dari
realitas empiris untuk selanjutnya dikaji dan diuji dalam suatu sistem berpikir
yang tepat.
Mengikuti defenisi sains baru, sains dalam
penjelasan ini berarti suatu upaya merekonstruksi posisi sains modern yang
telah ditelurkan oleh Copernicus. Sebagai rekonstruksi atas sains modern, sains
baru adalah penerjemahan atas realitas empiris kedalam paradigma holisme-dialogis
dan paradigma digitalis-informatisme.[14]Dalam
paradigma holisme-dialogis, sains mengandalkan dialog yang menyeluruh berkaitan
dengan data yang diperoleh dalam sebuah observasi. Sedangkan paradigma
digitalis-informatisme mengungkapkan peran serta informasi yang diperoleh media
digital untuk mendukung observasi. Peran media digital dalam menciptakan datadan
algoritma sangat membantu manusia dalam usahanya untuk membangun inovasi dan
kreativitas. Rujukan yang ditawarkan oleh sains telah menempatkan informasi dan
dialog sebagai bagian integral yang bekerja secara berkelindan dan interdependensi.
Dengan memahami kedudukan sains, maka
manusia dapat melihat perkembangan dunia secara terbuka. Segala pengaruh yang ditawarkan
oleh era post-modern dapat dibaca dalam paradigma sains. Hal ini disebabkan
karena manusia post-modern adalah pribadi yang sangat dekat dengan teknologi.
Ia adalah homo digitalis. Ia terikat
dengan teknologi yang sanggup membantu pencarian makna otentik dan masa depan
hidupnya.
Geliat
pandemi Covid-19 telah memberikan semacam gambaran bahwa sains telah memiliki
pengaruh yang besar terhadap eksistensi hidup manusia. Teknologi yang dihasilkan
oleh sains berperan membantu manusia untuk mempermudah pekerjaan sekaligus
menghindarinya dari serangan pandemi Covid-19.Manusia dituntut untuk secara
mandiri mengakses teknologi dan melakukan segala pekerjaan dari rumah (work from home). Kemandirian dalam
mengakses teknologi menuntut kecakapan dan pengetahuan yang cukup dari manusia.
Persentuhan yang intim dengan teknologi menghendaki manusia untuk mencari
sedemikian mungkin akses yang membantu kelancaran dan mempermudah pekerjaan
yang ia lakukan. Di pihak lain, dengan adanya kemandirian dalam mengakses
teknologi, manusia telah berusaha melindungi dirinya dari pengaruh Covid-19. Sains,
pada titik ini telah memberikan kontribusi yang besar bagi manusia dalam
menghadapi pandemi Covid-19.
Sains Sebagai Alternatif,
Sikap Etis Sebagai Keharusan
Penjelasan-penjelasan
sebelumnya telah memperlihatkan secara terbuka bahwa sains memiliki pernanan
yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Kedekatan manusia dengan teknologi
yang merupakan buah kandung dari sains memampukannya dalam mencari alternatif
lain yang sanggup membantu pekerjaan dan melindungi diri dari serangan pandemi
Covid-19. Berjauhan dengan maksud sains, agama di massa pandemi Covid-19 sedang
mencapai kedurjanaan. Kebersamaan di rumah-rumah ibadat bukannya menyelamatkan
manusia dari keterasingan dan malapetaka dalam kehidupannya, tetapi sebaliknya
menjadi persoalan yang mendatangan kemantian.
Oleh
karena itu, berhadapan dengan pandemi Covid-19, manusia didesak untuk selalu
membuka diri terhadap perkembangan dalam sains. Keterbukaan terhadap sains menunjukan
kepercayaan atas kerja teknologi yang mencakup di dalamnya akses terhadap data
dan algoritma. Benyamin Netanyahu selaku Perdana Menteri Israel misalnya,
baru-baru ini telah mengelurakan perintah untuk menggunakan teknologi pelacakan
antiteror dalam memerangi pandemi Covid-19. Sistem ini diyakini mampu melindungi
masyarakat dari serangan pandemi. Kebijakan tersebut perlu dipelajari secara
tepat oleh negara-negara dunia, khususnya Indonesia dalam usahanya memerangi
pandemi. Semua hanya bisa dilakukan jika ada kerja sama yang kohesif dari
pemerintah dan masyarakat untuk secara terbuka meletakan kepercayaan atas kerja
sains dan teknologi.
Berkaitan
dengan aktus kerja sama, setidaknya terdapat dua hal utama yang perlu mendapat
perhatian serius, yakni pertama membangun
komunikasi yang dialogis antar negara. Komunikasi yang dialogis adalah salah
satu bentuk kemajuan peradaban hidup manusia. Dalam komunikasi yang dialogis, kedua
belah pihak selalu terbuka untuk menerima kekurangan masing-masing sekaligus
mencari jalan keluar yang memungkinkan tercapainya keputusan bersama. Komunikasi
yang dialogis membuka jalan menuju pembentukan watak emansipatoris yang
berdampak pada kemajuan hidup bersama. Dengan adanya komunikasi yang dialogis,
negara-negara dunia dapat mencari upaya yang tepat dalam memerangi laju penyebaran
pandemi Covid-19.
Kedua,
sebagai lanjutan dari komunikasi yang dialogis, diperlukan
kerelaan sikap untuk saling menolong dan melengkapi dalam membangun sebuah
negara. Kerelaan untuk saling menolong dan melengkapi hanya dapat dibentuk dari
sikap menerima diri dengan segala kualitas yang terkandung sembari membuka diri
terhadap kehadiran orang lain. Sikap menerima diri berarti bahwa pribadi dan
negara sanggup menerima segala kompleksitas dirinya dan mengakui bahwa ia hanya
mampu menjadi berarti apabila terbuka untuk diisi oleh orang lain di luar
dirinya. Dirinya hanya menjadi penuh di dalam kehadiran orang lain.Dengan
menghayati kedua poin di atas, sains sesungguhnya telah menebarkan nilai-nilai
yang terkandung di dalam agama. Sains telah menjadikan agama sebagai bagian
yang tak terpisahkan dari dirinya. Ian G. Barbour menyebut korelasi antar agama
dan sains ini dalam model integrasi
(integration).
Model ini
rupanya
dianggap
sebagai model yang lebih
menjanjikan
dalam memahami hubungan agama dan sains.[15]Untuk
berdialog
dengan sains seperti dirumuskan oleh Habermas agama mesti menerjemahkan diri dalam bahasa ‘nalar publik’.[16] Dalam
pengertian
ini, agama harus
bias melepaskan kecenderungan berlebihan pada konsep-konsep teologis dan metafisis yang tidak mampu dipahami oleh dunia sains tanpa harus kehilangan integritasnya. Begitupun sains dalam dialognya dengan agama harus mampu melepaskan kecenderungan untuk terlalu bersikap objektivistik dan positivistik tanpa harus melanggar integritasnya sendiri.[17]
Pada akhirnya, kita dapat mengatakan bahwa krisis yang telah menimpah agama di massa pandemi Covid-19 sesungguhnya adalah bagian dari tanggung jawab sains.Mengutip Frans Dahler, sains sebagaimana “ilmu pengetahuan akan lebih nyata kalau ia mengarah kembali ke penggalian kebenaran yang berkaitan dengan agama, etika dan kesenian.”[18] Sebab, sains tanpa agama adalah kehampaan dan agama tanpa sains adalah kerancuan.*
Baca juga: Dunia dan Politik Otentik Hannah Arendt | Fr. Roby Poco, SVD
DAFTAR PUSTAKA:
Buku :
Sugiharto, I. BambangdanRachmat, Agus.WajahBaruEtikadan
Agama. Yogyakarta:
Kanisius, 2000.
Taylor,
Mark C. After God. New York: The
University of Chicago Press, 2007.
Raho, Bernard. Agama dalam Perspektif Sosiologi. Jakarta: Obor, 2013.
Hardiman,
F. Budi. Kritik Ideologi. Yogyakarta:
Kanisius, 2009.
Madung,
Otto Gusti.Post-Sekularisme, Toleransi,
dan Demokrasi. Maumere: Ledalero, 2017.
Dahler,
Frans.Teori Evolusi. Jogjakarta:
Kanisius, 2011.
Makow,
Henry. Iluminati-Dunia Dalam Genggaman
Perkumpulan Setan. Surabaya: Ufuk Publishing House, 2012.
Skripsi :
Wada,
Elton “Dialektika Hubungan Agama dan Sains: Ikhtiar
Filosofis Yuval Noah Harari Menemukan Ideal Hidup yang Baik”.
Skripsi. Maumere: Ledalero, 2020.
Artikel dari Internet :
https://www.theguardian.com/world/2020/may/01/could-covid-19-be-manmade-what-we-know-about-origins-trump-chinese-lab-coronavirus,
diakses pada Rabu 26 Agustus 2020.
https://tirto.id/alasan-mengapa-seseorang-cenderung-percaya-pada-teori-konspirasi-fqns,
diakses pada Kamis, 27 Agustus 2020.
https://www.worldometers.info/coronavirus/,
diakses pada Rabu 26 Agustus 2020.
https://katadata.co.id/sorot/detail/26/krisis-virus-corona,
diakses pada Rabu 26 Agustus 2020.
https://www.academia.edu/7212268/Sains_Modern_versus_Sains_Baru, diakses 09 April 2020.
Annur,
Cindy Mutia https://katadata.co.id/desysetyowati/digital/5e9a4215906ab/lima-macam-teknologi-dinilai-bisa-tangani-wabah-virus-corona,
diakses pada Kamis, 27 Agustus 2020.
Regus,
Max “Agama Mati Gaya”, dalam https://m.mediaindonesia.com/read/detail/302486-agama-mati-gaya,
diakses 9 April 2020.
[1] Bdk., I.
Bambang Sugiharto dan Agus Rachmat, Wajah
Baru Etika dan Agama (Yogyakarta: Kanisius, 2000), hlm. 100.
[2]https://www.theguardian.com/world/2020/may/01/could-covid-19-be-manmade-what-we-know-about-origins-trump-chinese-lab-coronavirus, diakses pada Rabu 26
Agustus 2020.
[3]Ibid.
[4]Mengikuti defenisi yang
dipaparkan oleh Goertzel (1994), teori konspirasi sesungguhnya adalah penjelasan yang
merujuk pada kelompok tersembunyi yang bekerja secara rahasia untuk mencapai tujuan
jahat. Teori konspirasi merupakan upaya untuk menjelaskan peristiwa yang
berbahaya atau tragis sebagai hasil dari tindakan kelompok kecil yang kuat.
Bdk, https://tirto.id/alasan-mengapa-seseorang-cenderung-percaya-pada-teori-konspirasi-fqns. Untuk rujukan yang lain
bisa menggunakan buku Henry Makow, Buku
Iluminati-Dunia Dalam Genggaman Perkumpulan Setan (Surabaya: Ufuk
Publishing House, 2012).
[5]https://www.worldometers.info/coronavirus/, diakses pada Rabu 26
Agustus 2020.
[6]https://katadata.co.id/sorot/detail/26/krisis-virus-corona, diakses pada Rabu 26
Agustus 2020.
[7]Cindy Mutia Annur, https://katadata.co.id/desysetyowati/digital/5e9a4215906ab/lima-macam-teknologi-dinilai-bisa-tangani-wabah-virus-corona, diakses pada Kamis, 27
Agustus 2020.
[8]Sebenarnya ada dua istilah
turunan dari bahasa Latin yang dipakai Taylor untuk menjelaskan pengertian
agama termasuk di dalamnya kata Leig yang
berasal dari kata ‘ligament’, ‘ligature’, dan ‘obligation’. Kata ini tidak
dipakai di sini karena istilah leig dipakai
Taylor untuk melawan defenisi agama dari Cicero yang juga memahami agama
sebagai leig. Taylor pun memahami
agama sebagai ligare. Jika leig dipakai untuk melawan Cicero maka ligare dipakai untuk menentang Smith
yang defenisinya ditampung dan dipakai dalam kamus Oxford English Dictionary yang disebut Taylor memiliki pengertian
yang sangat terbatas karena masih terdapat bias kultural, khususnya bias agama
Katolik Roma. Bdk. Mark C. Taylor, After
God (New York: The University of Chicago Press, 2007), hlm. 5.
[9]Bernard
Raho, Agama dalam Perspektif Sosiologi (Jakarta:
Obor, 2013), hlm. 11-18.
[10]Max Regus, “Agama Mati
Gaya”, dalam https://m.mediaindonesia.com/read/detail/302486-agama-mati-gaya, diakses 9 April 2020.
[11]Elton Wada, “Dialektika Hubungan Agama dan Sains: Ikhtiar
Filosofis Yuval Noah Harari Menemukan Ideal Hidup yang Baik” (Skripsi) (Maumere:
Ledalero, 2020), hlm. 7.
[12]Ibid.
[13]F. Budi Hardiman, Kritik Ideologi (Yogyakarta: Kanisius,
2009), hlm. 28.
[14]https://www.academia.edu/7212268/Sains_Modern_versus_Sains_Baru,
diakses 09 April 2020.
[15]Elton Wada, op.,cit, hlm. 9. Seperti dikatakan
Barbour, “to be sure, religion must never
be identified too closely with a metaphysical system or forced to fit into a neat
and final synthesis that claims to encompass all reality. Scientists, for their
part, legitimately resist any imposition of alien metaphysical systems imported
from outside their own work. But both scientist and theologian inevitably use
metaphysical categories whether they intend to or not; and each can contribute
to tentative attempts at a coherent view of reality, without any violation of
his own integrity”.
[16]Ibid.
[17]Bdk. Otto Gusti Madung, Post-Sekularisme, Toleransi, dan Demokrasi (Maumere:
Ledalero, 2017), hlm. 38- 44.
[18]Frans Dahler, Teori Evolusi (Jogjakarta: Kanisius,
2011), hlm. 169.

Komentar
Posting Komentar