Langsung ke konten utama

MENGUNGKAP PERAN GANDA FILSAFAT DI TENGAH BENCANA KEMANUSIAAN (Sebuah Tinjauan Pragmatis Filosofis Menurut Richard Rorty) | Oleh Defri Ngo


ABSTRAKSI


Artikel ini bertujuan mengungkap kedudukan dan peran ganda filsafat berhadapan dengan bencana kemanusiaan. Peran ganda yang dimaksud dalam artikel adalah usaha mendamaikan proyek filsafat dalam kerangka teoritis sekaligus praksis. Filsafat, selain menyajikan refleksi teoretis tentang suatu persoalan, tetapi di pihak lain diharapkan dapat menggerakan praksis. Filsafat harus mampu melihat realitas sosial sebagai medan magnetik yang memantik terbentuknya praksis. Persis pada titik ini, kritik Richard Rorty terhadap tendensi berpikir filsafat Barat modern beroleh tempat yang jelas. Rorty mengajukan kritik radikal terhadap posisi filsafat Barat modern karena bersifat dogmatis, hegemonik dan hendak membangun teori yang berlaku absolut. Maksud filsafat pragmatis menurut Richard Rorty yaitu berusaha membangunkan tidur panjang subyektivitas yang terlena oleh diskursus teoritis seputar kebenaran. Sebuah persoalan yang aktual hanya mungkin diselesaikan dengan praksis nyata dan bukan larut dalam konsep teoritis sistematik yang kaku. Dengan demikian, maka tinjauan pragmatis filosofis Richard Rorty dapat menjadi senjata yang akurat untuk menyadarkan filsafat akan peran ganda yang harus dikerjakan, terkhusus berhadapan dengan sejumlah bencana kemanusiaan.


Kata Kunci

Bencana kemanusiaan, peran ganda filsafat, pragmatisme.


I.    PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang


CARE Internasional, sebuah lembaga kemanusiaan yang bergerak di bidang bantuan darurat dan proyek pembangunan internasional, pada Selasa, 12 Januari 2021 memuat laporan tahunan terkait bencana kemanusiaan. Laporan yang diberi judul “Suffering in Silence” (menderita dalam senyap) melampirkan daftar sepuluh bencana kemanusiaan terparah selama tahun 2020. Dari kesepuluh negara yang masuk dalam daftar bencana kemanusiaan, terdapat tujuh negara di Afrika dengan perincian: 2,5 juta penduduk Barundi yang membutuhkan bantuan kemanusiaan mendesak; 10 juta penduduk Guatemala yang hidup di bawah garis kemiskinan dan terancam kelaparan; konflik politik yang melibatkan kelompok-kelompok bersenjata di Republik Afrika Tengah; 50 persen anak di Madagaskar yang menderita kekurangan gizi dan gangguan pertumbuhan; 2,6 juta penduduk di Malawi yang hidup bergantung pada bantuan; 1,3 juta orang yang menjadi pengungsi domestik dan menderita kelaparan; 2,56 juta penduduk dari total 17 juta penduduk Zambia membutuhkan bantuan pangan.[1] Sementara itu, terdapat tiga negara non-Afrika, antara lain Ukraina, Pakistan dan Papua-Nugini yang dilanda krisis rawan pangan, kelaparan, konflik antar kelompok bersenjata, dan perubahan iklim dan biodiversitas.[2]


Bencana kemanusiaan sebagaimana dimaksud CARE Internasional terlebih dahulu perlu dipahami sebagai krisis yang menimpah kehidupan manusia secara langsung, baik disebabkan oleh faktor alam, konflik antar kelompok (complex emergencies) dan masalah kesehatan, industri dan finansial. Lebih lanjut, daftar sepuluh bencana kemanusiaan sebagaimana dilaporkan CARE Internasional diperparah oleh meluasnya penyebaran pandemi Covid-19. Konsekuensinya, masyarakat global digiring ke dalam suatu narasi tunggal pandemi Covid-19 dan mengabaikan bencana kemanusiaan lain yang sama besar akibatnya bagi kehidupan. Rentetan bencana kemanusiaan yang sedang dialami agaknya membenarkan ramalan Arthur Schopenhauer (1788-1860), seorang filsuf pesimistis yang menyebut tidak adanya kemungkinan perubahan dalam masyarakat.[3] Eksistensi manusia adalah penderitaan dan kesia-siaan. Kebahagiaan sejati itu omong kosong.[4]


Berhadapan dengan semua bencana kemanusiaan, filsafat sebagai disiplin ilmu yang otonom mempunyai suatu tanggungjawab “epistemologis-etis” untuk menggali dasar persoalan, menghadirkan konsep dan memberi solusi preventif yang dianggap mampu membawah masyarakat keluar dari jerat persoalan. Pertanyaannya kemudian, apakah peran filsafat semata-mata berhenti pada kajian teoritis sistematik terkait bencana kemanusiaan? Bukankah hanya dengan terlibat dalam konsep-konsep teoritis, bencana kemanusiaan akan tetap menjadi “persoalan yang abadi”? Jika demikian, apakah filsafat masih sanggup memberikan sumbangsih positif bagi konstruksi tatanan hidup masyarakat?


Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas sesungguhnya menyembunyikan suatu kontradiksi terkait peran filsafat. Dengan meminjam pemikiran Richard Rorty, seorang filsuf pragmatis berkebangsaan Amerika, artikel ini akan mengungkap sekaligus mempertegas peran ganda yang harus dikerjakan filsafat. Peran ganda filsafat yang dimaksud Rorty merupakan suatu upaya membangun dialektika yang seimbang antara aspek teoritis dan praksis. Untuk memperjelas maksud tersebut, maka bagian pertama artikel fokus mengungkap inti pragmatisme Richard Rorty, berikut melihat peran ganda dalam filsafat. Sebagai lanjutan, penulis akan membuat suatu model dialektika untuk mendamaikan kontradiksi teori-praksis. Pokok-pokok tersebut akan dibaca dalam kaitan dengan usaha menangani bencana kemanusiaan. Artikel akan ditutup dengan kesimpulan yang berisi rangkuman terkait keseluruhan materi.


II. KONSEP FILSAFAT PRAGMATIS RICHARD RORTY


2.1 Biografi Singkat dan Karir Intelektual Richard Rorty


Richard Rorty atau Richard McKay Rorty lahir di Amerika Serikat pada 04 Oktober 1931 sebagai anak tunggal dari pasangan James dan Winifred Rorty. Sejak kecil, Rorty telah menaruh minat yang besar pada dunia filsafat. Dalam autobiografi intelektualnya, Rorty mengisahkan bahwa sejak berusia tiga belas tahun, ia telah membaca teks Plato dan Nietzsche. Baginya, kedua orang ini (Plato dan Nietzsche) tidak mungkin benar, tetapi pasti ada cara untuk melihatnya sebagai pelengkap, bukan hanya saling bertentangan.[5]


Setelah menematkan pendidikan di SMA Hutchins, Rorty muda kemudian menempuh jenjang pendidikan tinggi di Universitas Chicago. Selanjutnya, karir doktoral ditempuhnya di Universitas Yale dengan disertasi tentang filsuf Hegelian berkebangsaan Amerika Serikat, Alfred North Whitehead yang terpandang karena konsepnya tentang filsafat proses. Dari Universitas Yale, Rorty kemudian mengabdikan diri sebagai profesor perbandingan literatur di Universitas Stanford. Selama masa hidupnya, Rorty menulis banyak karya terkenal, antara lain Philosophy and the Mirror of Nature (1979), Consequences of Pragmatism (1982), Contingency, Irony and Solidarity (1989), Achieving Our Country: Leftist Thought in Twentieth Century America (1998), tiga volume Philosophical Paper (1991-1998), dan Philosophy and Social Hope (1999).[6] Rorty meninggal pada tanggal 08 Juni 2007 di Palo Alto, California.


2.2  Filsafat Pragmatis Richard Rorty

Secara leksikel, istilah pragmatis merujuk pada upaya pemecahan persoalan dalam sebuah jalan praktis dan bijaksana.[7] Bertolak dari defenisi tersebut, John Dewey kemudian mengartikan filsafat pragmatis sebagai disiplin ilmu yang mengacu kepada segala bentuk pemikiran, segala pertimbangan reflektif hanya kepada konsekuensi sebagai makna dan pengujian final.[8] Pendapat Dewey, setidaknya memiliki dua fokus penting, yakni pertama penekanan pada teori (pemikiran) dan kedua konsekuensi. Sebuah pemikiran hanya dapat dikatakan berguna jika ia memiliki konsekuensi langsung bagi pencapaian kebaikan bersama.


Secara historis, filsafat pragmatis berkembang dengan pesat di Amerika sejak abad ke-19.[9] Rorty membangun filsafat pragmatis dengan mempelajari model pragmatisme para filsuf terdahulu, seperti Charles Sanders Peirce, William James dan John Dewey. Baginya, para filsuf pragmatis telah memberikan sumbangan konstruktif bagi pembentukan lanksap filosofis yang lebih terbuka terhadap tuntutan zaman. Mereka telah berhasil membebaskan filsafat dari dogmatisme corak pemikiran filsafat Barat modern sejak abad ke-17 dan 18 yang mengklaim adanya kebenaran tunggal. Bagi Rorty, di sana tidak ada kebenaran.[10] Sebab, realitas obyektif selalu menampakkan diri sebagai das Ding an sich atau reality as it is in itself. Realitas adalah realitas di dalam dirinya sendiri. Ia mengandung muatan keberanan yang otentik. Dengan pemahaman demikian, maka subyek harus menghentikan egoisme intelektual untuk mencapai proyek kebenaran, berikut mengupayakan konstruksi terhadap tatatan realitas.


Untuk memperjelas pemikiran Richard Rorty, maka bagian berikut berisi rangkuman tentang inti filsafat pragmatis yang digagasnya. Perlu ditekankan sekali lagi bahwa filsafat pragmatis Richard Rorty harus dibaca dalam horison kritiknya terhadap dominasi filsafat Barat modern.

2.2.

Anti     Anti Epistemologi


Bagi Rorty, filsafat sebagai epistemologi merupakan pencarian struktur yang tetap sebagai fondasi yang mendasari pengetahuan, budaya dan kehidupan; suatu struktur yang diletakan secara apriori oleh pikiran subyek atas dayanya yang istimewa dalam merepresentasikan realitas.[11] Penolakan Rorty terhadap epistemologi Barat, dengan demikian berarti suatu sikap anti-metode dan usaha menyingkirkan norma-norma yang berlaku secara dogmatis. Sebab, epistemologi, bagaimana pun juga merupakan usaha untuk menempatkan kebenaran sebagai fokus utama dari sebuah disiplin filsafat.

2.2.2        

Ko         Kontiunitas dan Falibilitas Kebenaran


Ambisi filsafat Barat dalam mencapai kebenaran, secara eksplisit telah melupakan adanya unsur keterbatasan (kontiunitas) ilmu pengetahahuan. Bahwasannya ilmu pengetahuan yang tumbuh dalam kemajemukan realitas selalu mengandung keterbatasan tertentu. Filsafat Barat sama sekali melupakan sifat kontiunitas ilmu pengetahuan dan bertolak lebih jauh untuk menetapkan suatu standar normatif terkait kebenaran. Selain itu, menurut Rorty, sifat kontiunitas selalu terarah pada falibilitas (falibility). Filsafat yang mengandung aspek kontiunitas in se dapat salah dan benar. Demikian aspek falibilitas yang berlaku dalam sebuah proyek ilmu pengetahuan, termasuk filsafat.

2.2.3        

            Berfokus pada Dimensi Konkret-Praktis


Ciri terakhir dari pragmatisme Richard Rorty adalah keterarahan pada dimensi konkret-praktis hidup manusia. Dengan menolak epistemologi dan menampilkan sifat kontiunitas dan falibilitas kebenaran, maka Rorty di pihak lain sedang menggagas suatu model filsafat yang terbuka terhadap realitas. Bagi Rorty, filsafat sejak Descartes, Kant dan Locke lebih banyak bergelut pada persoalan-persoalan abadi yang sesungguhnya merupakan pseudo problem- suatu bentuk persoalan yang palsu.[12] Berdasar pada konsep ini, Rorty mendesak untuk mengganti dimensi teori (theory) dengan dimensi perbuatan (phronesis).[13] Penakanan pada dimensi perbuatan (phronesis) akan menjadi tema umum yang akan kita temukan dalam seluruh horison pemikiran Rorty.


III. PERAN GANDA FILSAFAT


Perbenturan epistemologis antara filsafat Barat modern pada abad ke-17 dan 18 dan filsafat pragmatisme pada abad ke-20 perlu dilihat sebagai suatu pelajaran untuk menyingkap kedudukan dan peran filsafat. Bertolak dari pemikiran pragmatis Richard Rorty, setidaknya terdapat dua peran utama filsafat yang dapat dijadikan sebagai kerangka acuan dalam mencermati bencana kemanusiaan.


3.1 Filsafat Menyajikan Kerangka Teoritis

Kerangka teoritis dapat diartikan sebagai “pola main” agar filsafat dapat menyajikan konsep yang tegas dalam membaca suatu persoalan. Dalam menyajikan kerangka teoritis, filsafat perlu melihat obyek sebagai ruang yang harus diberi bahasa untuk dimaknai, berikut sanggup menggerakan actus indivudu. Ketika berhadapan dengan krisis pangan dan bencana alam, filsafat misalnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang “mengapa”, tetapi lebih jauh dapat mengajukan pertanyaan terkait “bagaimana” krisis-krisis tersebut dapat diselesaikan. Dengan kata lain, filsafat bertolak dari suatu format imperatif terkait usaha mencari sebab persoalan kepada dimensi phronesis tentang cara-cara praktis dalam menangani persoalan.


3.2  Filsafat Membentuk Praksis

Kerangka teoritis yang disusun filsafat akan menjadi lebih sempurna kalau ia dapat menggerakan individu untuk terlibat dalam praksis. Filsafat tidak boleh diam dalam menara gading teori, tetapi tergerak untuk bertindak secara nyata. Misalnya, ketika berhadapan dengan masalah kelaparan dan konflik antar kelompok, individu harus tergerak hatinya untuk bertindak solider dan toleran. Kedua sikap ini harus dilandaskan pada pemahaman tentang “kekitaan” yang sama di hadapan persoalan. Konsekuensinya, individu harus membebaskan diri dari watak “ke-aku-an” dan memilih masuk ke dalam realitas hidup “yang lain” (the other).  Tepat pada titik ini, filsafat secara eksplisit justru menjadi suatu bentuk panggilan moral. Filsafat “tidak cerewet” dengan sejumlah pertanyaan teoritis, tetapi dengan spontan menggerakan laku individu untuk terlibat dalam menangani persoalan. Panggilan filsafat harus menyentuh praksis jika ia ingin terlihat kontekstual. Sebaliknya, filsafat akan menjadi sangat dogmatik jika ia hanya berdiam dalam kontemplasi teoritis yang kaku.


IV       DIALEKTIKA TEORI DAN PRAKSIS SEBAGAI UPAYA MENANGANI BENCANA KEMANUSIAAN


Dialektika perlu didefenisikan sebagai sebuah metode berpikir dalam kesatuan teori dan praksis. Pemikiran dialektis tidak mengandaikan adanya kesenjangan antara teori dan praksis yang harus dijembatani, melainkan bagaimana suatu teori dapat membuahkan hasil.[14] Kedudukan teori dan praksis dilihat memiliki muatan kebenaran tertentu. Oleh karena itu, dalam sebuah dialektika, teori dan praksis perlu menampilkan diri secara otonom untuk selanjutnya dibiarkan “bertarung”. Proses dialektis tidak mengarah pada sintesis dalam arti perpaduan, melainkan mengarah pada tujuan baru sama sekali, yakni “rekonsiliasi” (Aufhebung), di mana tercakup pengertian “pembaharuan”, “penguatan”, dan “perdamaian”.[15] Metode dialektis, dengan demikian berarti berpikir dalam perspektif yang emansipatoris-historis. Pertanyaannya, bagaimana proses dialektika antara teori dan praksis di hadapan bencana kemanusiaan? Sebagai seorang pemikir pragmatis, apa sumbangan terbesar Richard Rorty dalam usaha menangani bencana kemanusiaan?


Upaya mendamaikan kontroversi teori-praksis dalam disiplin filsafat pernah dibuat oleh Immanuel Kant (1724-1804) dengan sebuah metode khusus yang diberi nama sintesis apriori. Menurut Kant, sintesis apriori itu mungkin karena adanya kategori-kategori apriori dalam akal budi (Verstand) yang mendapat bahan pengetahuan dari pengalaman atau pengetahuan inderawi (Anschauung).[16] Namun, sintesis apriori yang dibangun Kant belum mampu memberi jawaban final terkait kontroversi teori-praksis karena Kant justru bertendensi mereduksi obyek hanya pada kedudukan subyek ontologis sebagai aku yang berpikir (cogito). Kekurangan epistemologis Kant digenapi oleh para filsuf postmodern, salah satunya Richard Rorty.


Dalam pragmatismenya, Rorty telah menyatakkan penolakkan terhadap diskursus tentang kebenaran (koresponden). Kebenaran bagi Rorty selalu bersifat transenden dan jauh dari kehidupan manusia. Namun, Rorty tidak sepenuhnya menolak teori. Bagi Rorty, teori dapat berguna sejauh ia memberi konstruksi positif bagi pembangunan hidup bersama.[17] Hal itu berarti, dialektika antara teori dan praksis dapat dilakukan dengan mengungkap dasar-dasar teoritis sejauhmana ia bersifat applicable (dapat diaplikasikan/diterapkan) dalam hidup bersama. Dengan pemahaman demikian, maka Rorty juga hendak mendamiakan atau “merekonsiliasi” kedudukan teori-praksis. Nilai-nilai dalam teori digunakan sebagai senjata dalam menerangkan, mengungkap dan memproduksi praksis individu. Yuventia Prisca Kalumbang menulis:

Yang pokok bagi kaum pragmatis, menurut Rorty bahwa manusia mesti memiliki loyalitas terhadap sesama, membangun kebersamaan dalam komunitas sosial, mengembangkan solidaritas dengan rekan-rekan untuk menghadapi tantangan dunia di tengah kemajemukan  tradisi  dan  warisan  ajaran  intelektual  yang  sarat dengan keterbatasan, dan tidak lagi berhasrat memastikan dan menyelidiki  bobot  kebenaran  pengetahuan  atau  nilai-nilai kepercayaan sebagai suatu kajian akademik teoritis.[18] 


Dialektika teori-praksis dalam pragmatisme Rorty, dengan demikian dapat dilihat sebagai irisan metodologis-pragmatis yang bersifat linear. Maksudnya, Rorty hendak memberi kekuatan pada teori dengan menambahkan dimensi praksis. Keduanya bersifat linear karena berproses dalam arus waktu yang “naik turun”, “tegang lembut” dan kemudian kembali pada otonominya masing-masing. Selanjutnya, untuk mempertegas konsep tentang pragmatisme, Rorty menekankan pentingnya menghadirkan diri sebagai sosok manusia ironis-liberal. Sikap ironis, menurut Rorty adalah suatu jalan introspeksi diri dan bagaimana individu mampu membangun sikap yang tepat terhadap suatu realitas. Seorang individu yang bersikap ironis menyadari bahwa pandangan dunia, sistem nilai atau keyakinan-keyakinannya yang paling mendasar pun bersifat kebetulan.[19] Karena ia bersifat kebetulan, maka kosakata terakhir tentang kebenaran pun dapat berubah-ubah.


Sementara itu, sikap liberal dipahami sebagai suatu cara pandang untuk menghargai eksistensi individu lain dengan segala kompleksitas yang dimiliki. Sikap liberal memancarkan kebajikan untuk menghargai, menolong dan mengangkat individu lain guna keluar dari jerat persoalan. Bagi Rorty, sikap liberal harus sampai pada keyakinan bahwa kekejaman adalah perbuatan yang paling buruk. Kita hanya dapat merasakan penderitaan orang lain atau tidak berlaku kejam terhadapnya kalau kita berani meragukan pandangan kita sendiri (ironis) serentak menghormati orang lain dengan pandangan, keyakinan atau sejarahnya (liberal).[20] Aktualisasi sikap ironis liberal dapat terwujud dalam tindakan solider, toleran dan membantu mereka yang sedang berada dalam bencana kemanusiaan. Sampai pada titik ini, dialektika teori praksis, sekali lagi merupakan wujud nyata moralitas individu dan bagaimana individu mampu membangun “kekitaan” yang sama dengan mereka yang sedang berada dalam bencana kemanusiaan.


Baca juga: Membenci Tuhan: Suatu Bentuk Pendalaman Kepribadian Manusia Sebagai Makhluk Emosional | Refleksi Kritis | Robby Poco*


4.1  SIMPULAN


Richard Rorty telah membangun sebuah diskursus yang berarti untuk mengungkap kedudukan dan peran filsafat. Dengan menggunakan paradigma filsafat pragmatis, Rorty sesungguhnya sedang menyadarkan filsafat terkait peran ganda yang dimiliki. Di satu sisi, filsafat berperan menyusun kerangka teoritis dalam merefleksikan dan mencari dasar-dasar persoalan, namun di sisi lain filsafat perlu menggerakan praksis. Tepat pada titik ini, maka diperlukan dialektika yang bersifat emansipatoris-historis antara teori dan praksis. Filsafat perlu melihat relitas obyektif sebagai penanda (signifiant) yang membunyikan alarm kesadaran (signifie) subyek untuk terlibat dalam praksis guna menolong mereka yang terjebak bencana kemanusiaan. Sebagai aplikasi nyata dari dialektika teori-praksis, maka individu dapat membentuk sikap ironis-liberal. Sikap ironis memuat semangat kontrol diri dan bagaimana individu dapat membawah peran positif bagi keberadaan orang lain. Sementara sikap liberal berdampak pada semangat menghargai kebebasan orang lain, sembari terus memupuk sikap kritis guna membangun peradaban hidup bersama. Sikap ironis liberal mengandung semangat solider dan toleran, berikut sanggup menggerakan individu untuk terlibat dalam usaha untuk menolong mereka yang sedang menderita; mereka yang sedang mendera dalam tangis akibat bencana kemanusiaan.*

 

KAMUS DAN BUKU

 

Oxford Dictionary Learner’s Pocket- Fourth Edition. Oxford: Oxford University Press, 2008.

 

Auxier, Randal E. dan Hahn, Lewis Edwin (eds.). The Philosophy of Richard Rorty.   Chicago: Southern Illionis University, 2007.

 

Copleston, Frederick. Arthur Scopenhauer, Philosopher of Pessimsm. New York: Barnes & Noble Book, 1975.

 

Jackson, Philip W. “Jhon Dewey” dalam John R. Shook & Joseph Margolis (ed.), A Companion to Pragmatism. Australia: Blackwell Publishing, 2006.

 

Mendieta, Eduardo (ed.). Take Care of Freedom and Truth Will Take Care of Itself: Interview With Richard Rorty. California: Stanford University Press, 2006.

 

Rorty, Richard. Philosophy and Social Hope. London: Penguin Books, 1999.

 

............Philosophy and The Mirror of Nature. New Jersey: Princenton University Press, 1979.

 

...........“Pragmatism, Relativism and Irrationalism”  dalam Paul  K. Moser dan Arnold Vander (ed.), Human Knowledge Classical and Contemoprary Approaches Third Edition (Oxford: Oxford University Press, 1980.

 

...........Truth and Progress. United Kingdom: Cambridge University Press, 1998.

 

Sindhunata. Dilema Usaha Manusia Rasional Teori Kritis Sekolah Frankfurt Max Horkheimer & Theodor Adorno. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2019.

 

Suseno, Frans Magnis. Etika Abad Ke-20. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2006.

 

JURNAL DAN INTERNET

 

Kalumbang, Yufentia Prisca. “Kritik Pragmatisme Richard Rorty terhadap Epistemologi Barat Modern” dalam Jurnal Filsafat, Vol. 28, No. 2 (2018).

 

Tan, Peter. “Richard Rorty: Liberalisme Ironis dan Demokrasi” dalam https://nttprogresif.com/2021/02/05/richard-rorty-liberalisme-ironis-dan-demokrasi/, diakses pada Jumad, 26 Maret 2021.

 

CARE International, “Suffering in Silence The 10 Most Under Reported Humanitarian Crisis of 2020,” dalam https://www.care-international.org/files/files/SufferingInSilence_Endnotes.pdf, diakses pada Rabu, 24 Maret 2021.



[1]CARE International, “Suffering in Silence The 10 Most Under Reported Humanitarian Crisis of 2020”, dalam https://www.care-international.org/files/files/SufferingInSilence_Endnotes.pdf, diakses pada Rabu, 24 Maret 2021.

[2]Ibid.

[3]Frederick Copleston, SJ, Arthur Scopenhauer, Philosopher of Pessimsm (New York: Barnes & Noble Book, 1975), hlm. 44-104.

[4]Sindhunata, Dilema Usaha Manusia Rasional- Teori Kritis Sekolah Frankfurt Max Horkheimer & Theodor Adorno (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2019), hlm. 99.

[5]Randal E. Auxier and Lewis Edwin Hahn (eds.), The Philosophy of Richard Rorty (Chicago: Southern Illionis University, 2007), hlm. 4-5.

[6]Eduardo Mendieta (ed.), Take Care of Freedom and Truth Will Take Care of Itself: Interview With Richard Rorty (California: Stanford University Press, 2006), hlm. Cover belakang.

[7]Oxford Dictionary Learner’s Pocket- Fourth Edition (Oxford: Oxford University Press, 2008), hlm. 344.

 

[8]Philip W. Jackson, “Jhon Dewey” dalam John R. Shook & Joseph Margolis (ed.), A Companion to Pragmatism ( Australia: Blackwell Publishing, 2006), hlm. 60.

[9]Para pemikir seperti Charles Sanders Peirce, William James dan John Dewey merupakan filsuf gelombang pertama yang telah memperkenalkan pragmatisme. Mereka adalah bapak pendiri pragmatisme yang pemikirannya dapat diidentifikasi sebagai pragmatisme klasik dan menandai fase pertama perkembangan pragmatisme di Amerika. Bdk. Ibid., hlm. 4.

[10]Richard Rorty, Truth and Progress (United Kingdom: Cambridge University Press, 1998), hlm. 1.

[11]Richard Rorty, Philosophy and The Mirror of Nature (New Jersey: Princenton University Press, 1979), hlm. 163.

[12]Ibid.,hlm. 240.

[13]Richard Rorty, “Pragmatism, Relativism and Irrationalism”  dalam Paul  K. Moser dan Arnold Vander (ed.), Human Knowledge Classical and Contemoprary Approaches Third Edition (Oxford: Oxford University Press, 1980), hlm. 296.

[14]Sindhunata, op.cit.,hlm. 59.

[15]Ibid.,hlm. 53.

[16]Ibid.,hlm. 48.

[17]Richard Rorty, Philosophy and Social Hope (London: Penguin Books, 1999), hlm. xxv.

[18]Yufentia Prisca Kalumbang, “Kritik Pragmatisme Richard Rorty terhadap Epistemologi Barat Modern” dalam Jurnal Filsafat, Vol. 28, No. 2 (2018), hlm. 273-274.

[19]Frans Magnis Suseno, Etika Abad Ke-20 (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2006), hlm. 244.

[20]Peter Tan, “Richard Rorty: Liberalisme Ironis dan Demokrasi” dalam https://nttprogresif.com/2021/02/05/richard-rorty-liberalisme-ironis-dan-demokrasi/, diakses pada Jumad, 26 Maret 2021.



 Defri Ngo Mahasiswa Semester VI STFK Ledalero



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...