Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2021

Pelabuhan Kepastian Selain Halte | Cerpen Ventus Wedjo

  Hujan mulai mereda pertanda hujan sore ini akan usai. Mataku tertuju tenang melihat rintik-rintik hujan yang jatuh pada genangan air di pinggir halte tempat aku berteduh. Aku sendiri ditemani hembusan angin yang mencumbu kulitku. Cumbuan angin yang cukup liar membuat tubuhku sedikit bergetar. Hujan awal Oktober sering membuat aku terpaku berjam-jam di halte ini setiap kali aku pulang dari tempat kerjaku yang jaraknya cukup dekat. Dan hiburanku saat menyendiri di sini hanyalah menikmati butir-butir air yang jatuh dari langit pada genangan air di pinggir halte. Butir-butir air itu menemani lamunanku tentang seorang perempuan yang sebelumnya selalu bersamaku berteduh di halte ini. Namun, sudah beberapa hari ini ia tidak muncul mengusik sepi saat hujan awal Oktober ini. Kami sempat berkenalan dan bisa jadi kami saling suka. Senyuman yang menawan mengisyaratkan cinta pada pandangan pertama pada hujan awal Oktober. Kami berkenalan dan selalu bersama di halte itu. Nama perempuan ber...

Menimbang Peran Agama dalam Ruang Publik Menurut Jurgen Habermas | Ondik Darman

  Prolog Kedudukan agama dalam ruang publik saat ini terus mengalami pergeseran. Kenyataan modernitas di abad ini bukan lagi memperlihatkan dogma agama sebagai acuan dasar melainkan tindakan komunikatif serta konsensus-konsensus bersama dalam negara hukum demokratis. Apabila merujuk kembali pada sejarah masyarakat tradisional, seperti Gereja Abad Pertengahan di Eropa, agama secara memonopoli dalam kegiatan menafsir Lebenswelt atau dunia kehidupan dengan menggunakan dogmanya sebagai acuan utama. Teologi abad pertengahan percaya bahwa sumber kebenaran itu ada dalam agama. Namun, dalam konteks modernisasi saat ini dogma agama tidak harus diterima sebagai satu-satunya referensi hukum negara demokrasi karena yang telah terjadi ialah proses rasionalisasi kehidupan masyarakat. Relasi agama dan negara memang tidak sungguh radikal, karena masih ada distansi antara yang profan dan sakral. Namun demikian, yang profan tidak memiliki otonomi di hadapan yang sakral. Secara ketat, masyarakat ...

Puisi-puisi Rommy Sogen

  Tuhan di Suatu Malam Minggu   Selepas hujan di antara genang air dan remang Tuhan baru saja pamit pulang membawa remah-remah debu   Mujur saja, gerimis patah-patah sore tadi Ia sempat berteduh sejenak menyeruput kopi yang sudah kuteguk “Ini saja Tuan, yang kupunya,” kataku dengan lugu.   MataNya tertuju pada jendela kamarku lalu berbisik lirih “Bolehkah debu ini kubawa pulang?” tanpa malu aku menjawab “Silakan Tuan, biar kamarku tak sekelam kemarin.”   Di luar gerimis semakin lancing Ia pamit, pergi tanpa mengenakan baju menggigil dingin di kejauhan sambil melempar senyum.   Aku baru sadar ternyata dengan bajuNya, ia membungkus debu dari jendela kamarku.                                (Efrata, 20 November 2021)   Perihal Pulang Pulanglah! Rumah paling teduh adal...