Langsung ke konten utama

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya







Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya


"Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni 'House' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan 'Home' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan home sweet home, suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'. 

Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman rumah yang tertata rapi dan baik.

Refleksinya, sebuah rumah yang tertata baik secara fisik dan jiwa, tidak serta merta bertolak dari titik kesempurnaan. Ingat tentang pembentukan kosmik? keteraturan mula-mula dari keadaan 'chaos' (kekacauan),  keadaan gelap menuju pada tata harmonis. 

Oleh karena itu, Efrata sebagai rumah merupakan wadah atau tempat menuju pada tata harmonis di dalam diri. Efrata adalah rumah proses dan transformasi, jika rumah transformasi ini tidak dimanfaatkan secara baik, maka pemenuhan pada tata keharmonisan menjadi tidak lengkap dalam diri.

Gunakan rumah ini sebagai tempat pembentukan menuju pada tata keharmonisan, rumah ini sebagai pembenahan chaos-chaos dalam diri menuju tataran kebaikan. Chaos-chaos tersebut berwujud emosi, temperamen, kecenderungan atau kebiasaan dan lain-lain yang berwujud dangkal. Tataran keharmonisan diawali dengan benturan-benturan. Keindahannya adalah belajar dari proses benturan-benturan yang terjadi, sehingga benturan-benturan itu bukan sekadar fenomena tetapi proses memaknai. Pemaknaan atas proses tersebut dapat berbuah keteraturan (kosmos) dalam diri. Sehingga di satu sisi benturan dikategorikan sebagai yang positif.

Pengalaman-pengalaman dalam rumah Efrata adalah peristiwa menarik yang dapat membentuk jiwa seseorang, dari pengalaman-pengalaman tersebut seseorang memiliki legasi bagi dirinya. Manfaatkanlah pengalaman-pengalaman benturan di rumah Efrata sehingga ketika pada waktunya rumah ini (Efrata) mengutus seseorang ke tempat lain (misi), setidaknya dia memiliki pengalaman dari proses belajar di rumah ini. Sehingga pada saat dia berada di tempat lain (misi), dia tidak membawa chaos-chaos (kekacauan) yang baru di tengah masyarakat (umat). Tetapi dia sendirilah yang akan menjadi rumah (home) pembenahan chaos-chaos dalam diri masyarakat (umat) yang dijumpai.


Refleksi ini terinspirasi dari dua sahabat yang berpolemik secara gurau tentang hal pemotongan tanaman keladi di kebun Efrata.

Penulis: Ois Narang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...