Langsung ke konten utama

Ada Cinta di Balik Pilu | Cerpen Orlis Asang


Ini tentang luka yang kupendam sendiri dalam pelukan hati dan tumbuh di tempat baru tanpa mengingat lagi di mana semuanya itu bisa terjadi. Bertahun-tahun lamanya aku menanti, di mana hariku bisa menjadi suatu kebencian dan sudah saatnya kuputuskan untuk mengakhiri kesenangan semata yang kau ciptakan.

***

Pagi ini cuaca tidak begitu cerah. Langit tertutup mendung walaupun tidak terlihat tanda-tanda akan turunnya hujan. Aku mengarahkan tanganku dan membelai lembut butiran embun yang menempel pada kaca kabin pesawat. Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kota kelahiran ayah yaitu Makassar. Tujuh belas tahun sudah aku hidup sendiri tanpa merasakan kehangatan cinta kedua orangtuaku. Kini aku kembali untuk mendapatkan apa yang tak pernah kurasakan. Bermodalkan alamat rumah dan foto bangunan rumah akhirnya aku bisa menemukan di mana kedua orangtuaku tinggal.

Dari depan gerbang, kulihat sosok anak kecil, kira-kira berusia enam tahun sedang asyik memainkan mobil mainannya. Aku membuka pintu gerbang dan mendekati anak kecil itu. Dari tatapan matanya sepertinya sudah tidak asing lagi bagiku dengan anak kecil itu.

“Kok mirip ya,” aku sedikit berceloteh dalam hati sambil mengingat kembali foto masa kecilku.

“Apakah itu adikku?”

Aku dikagetkan dari lamunanku dengan ucapan salam yang dilontarkan anak kecil itu.

“Selamat siang Om, mau perlu dengan siapa?”

Aku tidak mempedulikan lagi pertanyaan yang ia lontarkan. Segera kubawa tas yang berisi pakaian dan langsung masuk ke rumah. Saat sedang beristirahat aku mendengar percakapan singkat anak kecil itu dan ibunya via telepon.

“Bu, cepat pulang, ada orang gila masuk rumah sembarangan,” kata anak kecil.

“Siapa, Nak? Dia dari mana? Baiklah, kamu tunggu ibu yah, jangan ke mana-mana,” kata suara dari seberang.

Tak berapa lama, aku mendengar suara deru motor di depan halaman rumah. Dengan sigap wanita paruh baya itu masuk dan menghampiri anaknya.

“Di mana orangnya, Nak?”

“Di dalam kamar, Bu,” katanya sambil menunjuk ke arah kamar tamu.

Wanita paruh baya itu segera beranjak ke kamar tamu dan membuka pintu kamar. Ia menatapku dengan wajah yang sedang kebingungan. Ia memperhatikanku seolah-olah ia sedang menginterogasiku. Aku berdiri di hadapan wanita itu dengan wajah sedih.

“Bu, kok anak sendiri sudah lupa.”

Wajah ibu tiba-tiba memerah diiringi linangan air mata bahagia.  Ibu mendekatiku dan memelukku erat-erat. Kilat dan cepat, tak sampai satu detik kami melepaskan pelukan itu. Aku diam. Dia diam. Yang berbicara hanyalah sentuhan, ribuan rona, dan jutaan rasa dalam tatapan mata. Kami saling mencinta. Benarlah cinta itu sederhana, tetapi manusialah yang memperumitnya.


Baca juga: Antara Eros dengan Agape | Riko Lengi


***

Sudah seminggu aku meluangkan waktu bersama kedua orangtuaku serta adik-adikku. Esok aku akan kembali ke Flores untuk melanjutkan pendidikanku. Ada satu hal yang sangat berat untuk kukatakan kepada kedua orangtuaku bahwa aku sudah pindah agama. Kecemasan yang kurasa seolah-olah seperti puluhan anak panah yang menancap di tubuhku. Tapi aku tahu, satu-satunya jalan terbaik yaitu memberitahukan hal ini kepada kedua orangtuaku.

Tepat pukul 19:00 WITA, suara adzan terdengar memekik di telingku. Ya, sudah saatnya bagi ayah dan ibu serta adik-adikku untuk menunaikan ibadat solat berjamaah. Aku hanya duduk terdiam memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan maksud kedatangaku selain untuk bertemu ayah dan ibu.

Setelah menunaikan ibadah solat berjamaah, semuanya berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama. Tiba-tiba kulihat ayah mengarahkan pandangannya ke arahku sambil menganggukkan kepala. Ya, aku tahu bahwa ayah sedang menyuruhku untuk memimpin doa makan. Sempat aku ingin menolaknya, tapi apa daya aku tidak ingin menghancurkan acara makan malam ini. Kumulai dengan membacakan bismillah dan kulanjutkan dengan doa makan menurut ajaran muslim. Ketika selesai berdoa, ayah melayangkan pandangannya ke arahku.

“Nak, kok kaku sekali membacakan doa makan.”

Aku hanya diam sambil melahap makanan yang ada di piringku.

“Ya ayah, aku kan sudah pindah agama,” aku sedikit berceloteh dalam hati.

Makanan yang dihidangkan sudah habis pertanda makan malam telah usai dan ini merupakan momen yang paling berat untukku. Aku harus mengatakan hal yang sebenarnya tentang diriku.

“Ayah, saya mau bicara dengan ayah dan ibu.”

“Memangnya mau bicara apa, Nak? Kok tegang begitu,” ucap ayah.

“Sebenarnya saya sudah pindah agama. Saya bukan lagi muslim. Sekarang saya sudah Kristen.”

“Apa yang kamu bicarakan itu? Kamu jangan asal bicara ya,” kata ayahku dengan nada serius dan raut wajahnnya yang mulai kemerahan.

“Pokoknya ayah tidak mau tahu. Sekarang juga kamu harus kembali menjadi muslim!”

“Tidak, ayah. Saya sudah konsisten dengan apa yang saya pilih.”

Tiba-tiba ayah bangkit berdiri sambil melayangkan tangannya ke arah meja. Prakk! Sebuah piring yang tak bersalah kini menjadi korban kemarahan ayah. Seketika itu suasana menjadi sepi. Kulihat wajah ayah mulai memerah dan tatapan matanya begitu tajam ke arahku. Ibu hanya terdiam sambil melinangkan air mata. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.

“Sejak kapan kamu mengenal Kristen?”

“Sejak kelas empat SD,” jawabku singkat.

“Saya tidak mau tahu. Kamu harus kembali menjadi muslim! Jika kamu membantah, saya tidak akan menganggap kamu sebagai anak saya,” ucap ayahku dengan nada tegas.

Wajahku juga ikut memerah. Aku menangis sejadi-jadinya. Kenapa ayah sampai melontarkan kata itu kepada anaknya sendiri? Apakah karena aku pindah agama sehingga ayah tidak mau menggagap aku sebagai anak? Marahku kepada ayah seketika itu memuncak.

“Baiklah, ayah. Saya terima apa yang ayah katakana. Tujuh belas tahun sudah saya tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayah dan ibu, setetes air susu ibu pun tidak pernah saya rasakan, dan sekarang ayah tidak mau menganggap saya sebagai anak. Saya terima,” kataku sambil menangis berusaha menahan tangis.

Kuusap air mata yang membasahi pipiku dan berjalan menuju kamar tanpa menghiraukan ayah dan ibu. Saat hendak membuka pintu kamar, ayah menarik lengan bajuku diiringi bongkahan kepalan tangan yang tepat mendarat di pipiku. Seketika itu juga mulutku mengeluarkan darah. Aku terdiam sambil menatap tajam k earah ayah.

“Kamu jangan jadi anak durhaka ya,” kata ayahku.

Tanpa mempedulikan omongan ayah, aku membuka pintu kamar. Prakk! Aku membanting pintu dengan kesal lalu berjalan menuju tempat tidur sembari merebahkan badan yang mulai layu. Apakah ini sebuah pertanda bahwa Tuhanmu memberikan belaian hangat melalui dirimu karena aku telah berselingkuh dari-Nya? Aku tidak berselingkuh, aku tahu bahwa Tuhanku dan Tuhanmu sama  hanya cara kita menyembahnya berbeda.

Waktu sudah menunjukkan pukul 02:00 subuh WITA. Aku belum mau tidur, pikiranku masih terarah pada kejadian itu. Krekkk! Pintu kamarku terbuka dan sosok wanita paruh bayah datang menghampiriku. Ya, itu ibuku. Ia duduk di sampingku dan membelai lembut rambutku. Aku bangun dari tidurku dan duduk di samping ibu.

“Bu, apakah ibu juga marah padaku?”

“Siapa yang mau memarahimu, Nak? Kamu sudah besar dan keputusan yang kamu ambil itu baik. Mungkin ayahmu saja yang terlalu fanatik dengan agamanya.”

“Jadi ibu tidak marah kalau aku sudah pindah agama?”

Ibuku menganggukkan kepala sambil memberikan senyuman hangat kepadaku. Kami saling berpelukan. Aku merasakan lagi belaian hangat dari ibuku untuk kedua kalinya. Setelah berpelukan, ibu menyuruhku untuk mengemas barang-barangku karena besok aku harus kembali ke Flores. Kemudian ibu segera beranjak pergi dari kamarku untuk beristirahat.


Baca juga: Senja di Samping Gereja | Cerpen Ventus Wedjo


***

Semuanya sudah siap. Kini aku hanya berpamitan dengan kedua orangtuaku. Aku menghampiri ibu dan mengucapkan salam perpisahan sambil memeluk ibu. Kemudian aku beranjak menghampiri ayah. Wajahnya masih kusut ketika melihatku. Ya, aku tahu ayah masih membenciku. Ketika hendak bersalaman, ayah membuang muka dan tidak mau bersalaman denganku.

“Ayah, saya pamit pulang,” kataku singkat sambil membalikkan badan dan beranjak ke arah pintu depan. Tiba-tiba aku mendengar suara terikan keras. Suara itu datangnya dari ayahku.

“Kamu keluar dari rumah ini, saya tidak akan menganggap kamu sebagai anak!

“Kamu anak durhaka,” kata ayahku.

Aku berjalan terus dan keluar dari rumah itu. “Sudahlah. Jika ayah tidak menganggapku sebagai anak, aku terima. Sudah belasan tahun aku hidup tidak bersama ayah. Sekarang aku sudah besar dan yang menentukkan nasibku bukanlah ayah, tapi diriku sendiri,” kataku dalam hati.

Aku sudah biasa menjalani hidup yang datar dengan seluruh rasa yang hambar. Seperti pelangi kehilangan warna. Seperti bejana kosong isinya. Dulu tanpamu aku biasa saja. Saat bertemu denganmu bukanlah kebahagiaan melainkan suatu ketakberdayaan. Waktu bersamamu telah mengubah cara hidupku walaupun itu singkat. Mungkin hadirmu membuatku menjadi manusia. Bertahun-tahun aku menjalani hidup tak sesuai rencana, terbebani target dan ambisi yang tak terkendali sehingga tak sempat bahagia. Namun, sekarang bahagia itu telah usai. Dulu aku membara, penuh dengan cita-cita, tapi tanpa cinta. Sekarang aku ingin cinta tapi kehilangan cita-cita.

Aku tahu, ambisi memang percuma dan tidak bisa untuk memiliki semua. Dulu dan sekarang, pagi, siang, dan malam, semua waktuku berada dan beradu dalam pilu karenamu. Rasa sendu, sayu, melebur menjadi satu. Aku tahu aku tidak hancur, hanya kehilangan sebagian diri dalam meraih mimpi. Aku yakin, aku dan Tuhanku tahu bahwa di hati kecilmu masih ada namaku yang terlukis rapi hingga suatu saat engkau sadar bahwa aku adalah anakmu.


Baca juga: Lelaki Sunyi Sepi | Cerpen Valen Ukat

  


Orlis Asang, tinggal di Unit Efrata-Gere, Ledalero. Penulis berasal dari Riung, Ngada dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero. 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...