Lantunan
lagu Veni Creator Spiritus menggema
meriah menyambut matahari yang sebentar lagi terbit. Beberapa pasang kepala
tertunduk pertanda rapuh di hadapan sebuah kayu salib tempat bergantung Sang
Penebus dosa manusia, sebelum dimulainya misa pagi. Bunyi desiran ombak di samping
gereja sederhana ini menambah syahdunya suasana untuk memuji Allah di pagi
hari. Aku menatap jauh melalui jendela kecil gereja dan menaruh perhatian pada
ujung garis lautan yang jauh di sana. Ada bayang sebuah wajah di ujung langit
yang mulai memerah itu.
“Bro,
kamu kenapa?” Suara sahabatku memecah lamunanku.
“Tidak
apa-apa,” kataku sambil melempar senyum kepada sahabatku Poli. Tampaknya dia
sedari tadi memperhatikan aku.
Aku
dan Poli sedang menjalani praktik pastoral di sebuah paroki. Tinggal beberapa
minggu lagi masa praktik kami selesai dan akan kembali ke biara yang mengutus
kami. Ya, langkah kami selanjutnya akan membawa kami pergi dari paroki ini,
tetapi tidak dengan kenangan-kenangan yang sudah terukir di tempat ini.
Bulan
November tahun lalu, aku dan Poli sampai di tempat ini setelah sebelumnya
mendapat utusan dari biara untuk menjalani masa praktik pastoral. Kami berdua
berusaha untuk mengakrabi diri dengan situasi dan umat di paroki ini. Letaknya
tidak cukup jauh dari perkotaan dan gereja paroki berdiri tepat di pesisir
pantai utara Laut Flores. Dalam proses perjalanan praktik kami, aku mengenal
dan dekat dengan sebuah keluarga sederhana. Keluarga yang bisa aku katakan
sebagai tempat melepas rindu dan bernostalgia karena situasi dalam rumah itu
hampir sama dengan situasi di keluargaku. Sederhana, tapi kaya akan cinta.
Dalam
keluarga itu tidak ada anak laki-laki sehingga kedua orangtua dalam rumah itu
sangat senang jika kami berkunjung ke rumah mereka. Saking seringnya kami
berkunjung, walau hanya sekedar menikmati kopi sore ditemani pisang goreng
hangat, kami merasa seperti berada di rumah sendiri. Tanpa aku sadari aku jatuh
cinta pada anak pertama dalam keluarga itu, namanya Alia yang juga seumuran
denganku dan Poli. Karena sifatku yang sering bicara ceplas-ceplos, suatu sore
saat sedang menikmati angin laut sore hari, aku keceplosan mengatakan kepada
Poli kalau aku menyukai dan jatuh cinta kepada Alia. Poli marah besar, katanya
aku tidak punya malu karena keluarga itu sudah menganggap kami seperti anak
mereka sendiri. Namun, aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku sudah
jatuh cinta kepada Alia. Parasnya tidak hanya cantik, tetapi sikap dan sifatnya
mampu memikat hati siapa saja yang mengenalnya. Bahkan banyak kali aku
mendengar dari suara-suara anak OMK kalau banyak yang menyukai Alia.
Suatu
ketika saat menjelang senja di samping gereja, aku dan Alia duduk bersama tanpa
ada orang lain. Hanya kami berdua, seraya menikmati angin pantai dan bunyi
deburan ombak yang menggulung indah.
“Alia,
ada sesuatu yang mau saya katakan kepadamu. Sebenarnya selama ini saya
menyukaimu, sejak sering kita bertemu di rumahmu. Saya salah dan tidak
sepantasnya rasa ini demikian menguasai diri saya yang adalah calon imam.”
“Frater,
tidak ada rasa yang salah jika sedang jatuh cinta. Saya juga berdosa karena
mencintai milik Tuhan yang saya imani. Saya juga mecintai Frater, tapi saya
tidak ingin manjadi lawan dan musuh kehendak Tuhan untuk jalan yang sedang
Frater jalani.”
Kami
saling diam, merenung, dan aku mendengar isak tangis yang halus dan tersembunyi
oleh perempuan di sampingku. Sampai hampir malam, kami duduk tanpa ada sebuah
keputusan tentang harus diapakan rasa kami yang baru saja kami sampaikan dari
kejujuran hati masing-masing. Sejak saat
itu aku jarang ke rumah Alia yang sebelumnya sering aku kunjungi.
Beberapa
minggu kemudian, masa praktik pastoral kami selesai dan akan diadakan
perpisahan dengan umat paroki. Hanya beberapa perwakilan dari setiap stasi
setelah sebelumnya aku dan Poli sudah terlebih dahulu mengucapkan salam perpisahan
pada akhir perayaan Ekaristi hari Minggu. Malam perpisahan aku melihat kedua
orangtua Alia dan saudarinya datang ke aula paroki. Dengan rasa penasaran, aku
menanyakan alasan Alia tidak datang ke acara itu kepada adiknya. Kata adiknya
Alia tiba-tiba saja merasa tidak enak badan. Aku berpikir mungkin itulah alasan
terbaiknya untuk tidak mengucapkan salam perpisahan kepadaku. Malam perpisahan
itu aku lalui tanpa adanya sosok yang tidak mau berpisah, tetapi tetap akan
terpisahkan.
Baca
juga: Lelaki Sunyi Sepi | Cerpen Valen Ukat
***
Di
biara, aku merasakan bahwa hatiku seolah tertinggal di tempat praktikku. Tempat
penuh kenangan dan rasa sesal yang mendalam, sebab aku pergi tanpa satu
keberanian untuk mengucapkan selamat tinggal kepada orang yang aku cintai.
Namun, aku kembali berpikir bahwa tidak semua cinta harus dimiliki dan tidak
semua rasa harus meninggalkan cerita indah. Sebentar lagi hari Valentine. Entah apa yang mau aku maknai, sebab hari kemarin adalah
kisah cinta yang tidak lengkap karena tak ada lanjutan ceritanya.
Seperti
biasa, menjelang hari Valentine semua
anggota komunitas biara menyiapkan kado untuk diberikan kepada orang-orang yang
mereka kasihi. Namun, tidak denganku. Aku tidak punya kado juga tidak punya
orang yang aku kasihi, pikirku. Jika kisah bersama Alia berlanjut sampai hari
ini, mungkin kado yang aku siapkan adalah hadiah terindah untuk orang yang
spesial itu.
Empat
belas Februari, saat semua orang sibuk menyusun kata-kata indah sebagai
pendukung isi kado pada hari Valentine,
aku terdiam di kamar dan merasa menjadi manusia paling bodoh. Betapa tidak, aku
memikirkan hari Valentine yang tidak
harus ada bagiku hanya karena kegagalan percintaanku dengan Alia, di saat yang
sama aku mengabaikan kasih dan cinta kepada sama saudaraku yang ada bersamaku
tiap saat di biara. Aku menyesal karena tidak ada kado untuk sesamaku di biara
ini karena belum aku siapkan. Sementara aku menyesali kebodohanku, nada dering
pesan WhatsUp mengagetkanku. Aku buka
pesan itu dan tidak ada nama pengirimnya, yang tertera hanyalah rentetan nomor
kontak.
Frater, selamat hari Valentine ya.
Semoga sehat selalu. Semoga di hari Valentine ini ada banyak refleksi tentang
cinta. Saya juga mau berterima kasih kepada Frater karena tidak membiarkan saya
mencintai Frater terlalu dalam dengan cara Frater yang mendiamkan rasa kita.
Saya tidak mau menjadi musuh Tuhan karena merebut orang pilihanNya. Yang saya
mau, suatu saat nanti orang yang pernah membuat saya jatuh cinta, memberkati cnicin
pernikahan saya dan pasangan yang ditentukan Tuhan.
Selamat Hari Valentine Frater.
Salam.
Alia.
Aku
tercengang melihat nama singkat yang tertera di akhir pesan itu. Aku tidak tahu
harus membalas pesannya dengan kalimat seperti apa. Perasaanku berkecamuk dan
dengan segera aku kembali ke kapela, tempat aku mengadu jika punya salah dan
masalah kepada Dia yang telah menawarkan jalan ini untuk saya. Mungkin bagi
mereka yang tak berjubah, momen ini adalah momen indah untuk menciptakan kisah
indah dengan sedikit—bisa banyak—sentuhan. Bagi kami kaum berjubah, Valentine adalah kesempatan
merefleksikan pengalaman dan kisah mencintai tanpa harus memiliki, menyayangi
tanpa harus bersentuhan. Valentine di
biara menjadi kesempatan untuk menambah kecintaan kepada Dia yang tidak
terlihat, tetapi nyata dalam jalan panggilan ini.
Baca
juga: Pelabuhan Kepastian Selain Halte | Cerpen Ventus Wedjo
Komentar
Posting Komentar