Valentine?
Penting sekalikah valentine sehingga
harus selalu dirayakan setiap tahun? Aku heran kenapa banyak sekali orang yang
mendewa-dewakan hari valentine.
Memangnya cinta hanya dibagikan pada tanggal 14 Februari? Atau mungkin valentine adalah puncak dari cinta itu
sendiri? Kalau memang demikian aku tidak heran lagi kalau setelah ini akan
banyak bermunculan berita tentang aborsi, karena puncak dari ini semua tidak
terlepas dari hubungan terlarang.
Arghhh,
bulshit!
Makna
valentine sekarang tidak lagi sama. Eros
telah menguasai hati banyak pasangan muda-mudi saat ini. Keindahan
yang ditawarkan oleh eros membutakan mata hati manusia sehingga aborsi
menjadi solusi paling logis untuk lari dari kenyataan. Aku hanya bisa tertawa
miris melihat realitas yang ada saat ini. Hati menjadi arena pertempuran yang
tiada habisnya antara eros dengan agape. Entah apa gerangan
peperangan ini hampir pasti selalu dimenangkan oleh eros. Aku hanya bisa
tertawa miris melihat realitas yang ada saat ini.
“Hahahahaha,
inilah manusia generasi milenial, generasi penerus bangsa.”
Sebagian
kecil saja orang yang mampu memenangkan agape dalam pertarungan ini sedangkan
yang lainnya terlampau asyik menghayati eros yang ada di dalam dirinya.
***
Teng teng teng teng
Bunyi
lonceng menggema di luar kamarku. “Teman-teman yang masih ada di dalam kamar harap
segera keluar. Pater sudah tunggu di kamar makan dan acara segera dimulai,”
terdengar teriakan seseorang yang memanggil kami semua untuk segera bergabung
di kamar makan.
“Agape
memanggil,” pikirku sembari tersenyum kecil di dalam kamar tidurku. Aku sadar kalau
sampai saat ini peperangan dalam hati ini masih terus berlanjut. Entah sampai
kapan, aku pun tak tau. Namun, yang pastinya untuk saat ini agape berada
di atas eros sehingga aku pun mulai beranjak dari kamarku menuju ke
kamar makan. Karena di sanalah agape mendapatkan tempat yang layak serta
dukungan dari mereka yang selama ini aku sebut sebagai konfrater.
***
Di
dalam kamar makan ini kami duduk melingkari meja makan kami masing-masing. Satu
meja terdiri atas lima sampai enam orang. Melingkar di sini bukan berarti “ada
botol aqua dia pu gelas sa su lipat” seperti dalam lirik lagu yang tengah
viral saat ini (walaupun pada akhirnya itu juga termasuk dalam bagian penutup,
hehehe), melainkan duduk melingkar sembari saling membagi kasih melalui
percakan dan cerita-cerita dari masing-masing orang, serta diselingi oleh
beberapa acara yang dibawakan oleh konfrater yang memiliki bakat di bidang tarik
suara, stand up, dan lain sebagainya.
“Ahhhh,
sungguh nikmat keindahan yang ditawarkan oleh agape,” pikirku sembari
tersenyum kecil. “Tuhan, kalau boleh, aku mau suasana ini tetap seperti ini
saja. Suasana ketika agape mendapatkan tempat dan dukungan yang pantas,”
aku sedikit memohon, walaupun aku tahu kalau setelah ini episode peperangan
antara eros dengan agape akan berlanjut menuju babak yang baru.
Babak di mana eros akan mendapatkan dukungan yang jauh lebih kuat lagi
di luar sana. Namun, satu hal yang aku yakini ialah bersama orang-orang ini,
aku dapat melewati semuanya dengan baik.
Catatan
1. Eros:
cinta yang didasarkan pada nafsu/birahi.
2. Agape:
cinta yang tertinggi; cinta yang tidak memandang orang lain berdasarkan
kekhasannya, tetapi lebih dari itu yakni melihat orang lain sebagai diri
sendiri.
Baca
juga: Senja di Samping Gereja | Cerpen Ventus Wedjo
Komentar
Posting Komentar