Ini
malam yang mati, malam yang membuat bunyi menjadi suatu hal asing nan aneh
untuk ditangkap telinga. Sesekali angin malam yang sepoi memaksa dahan-dahan
angsana yang kurus untuk sedikit bergoyang, memberikan sedikit kesan kehidupan
yang ditutupi sunyi. Matahari sudah terbenam sejak 14.400 detik yang lalu dan
meninggalkan gelap serta dingin yang merambat perlahan di tubuhmu. Di jam ini,
seperti biasa, kau sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Kakimu bergerak
dalam ketukan yang teratur dihiasi dengan asap rokok yang kau hembuskan perlahan dan
nikmat. Sesekali kau berpaling ke sudut-sudut yang gelap dan meskipun matamu
tidak menangkap apa-apa selain kegelapan di sana, kau tahu ada orang di sana.
Namun, seperti yang sudah-sudah, kau tidak mau bersusah-susah memikirkan
apalagi mengintip apa yang orang-orang itu lakukan di sana.
Kakimu sampai di halaman rumahmu. Sama
seperti malam yang mati ini, rumahmu punya situasi yang senada. Meskipun
begitu, kau tahu ada orang di rumahmu itu, setidaknya dua. Kau melonggarkan
dasi di lehermu dengan tangan yang tidak memegang rokok dan memperlambat
langkahmu. Ketika kau sampai di teras rumahmu, kau ulangi lagi ritual itu: kau
lepas sepatumu dan membuang rokok yang sudah hampir habis serta menggantinya
dengan batang rokok yang baru. Kau duduk di teras rumah sambil
mengisap-hembuskan asap rokok yang sudah menemanimu sejak awal ritual itu kau
ciptakan. Telingamu menangkap bunyi-bunyi aneh seperti desahan bercampur
rintihan dari dalam rumahmu tapi kau tetap duduk diam sebab kau selalu mengerti
arti bunyi itu. Kau menunggu. Ketika rokok yang kau pegang mulai sampai pada
penghabisannya, bunyi-bunyi aneh tadi telah hilang dan kau tahu bahwa sudah
saatnya mengakhiri ritualmu. Kau hendak membuang puntung rokokmu ketika tiba-tiba
pintu rumahmu terbuka dan seorang pria keluar dengan bertelanjang dada dan
bermandi keringat. Meskipun gelap dan kau tidak berbalik untuk melihat orang
itu, kau tahu itu siapa dan apa yang dia lakukan di rumahmu. Dengan santai, dia
menghampirimu.
“Oh, Rey. Kau sudah pulang,”
sapanya. Kau hanya diam dan menunggu.
“Punya rokok?” Tanyanya segera
setelah dia sampai di hadapanmu. Kau memberinya semua rokok yang kau punya dan
dia tampak tersenyum bahagia.
“Anak baik,” katanya lirih. Dia
mengambil sebatang rokok dan menyalakannya lalu menghisapnya nikmat. Dia
sengaja menahan asapnya agak lama dalam mulutnya dan kemudian menghembuskannya
ke mukamu. Dan kau tetap saja diam.
“Dilla sedang tidur. Dia lelah.
Jangan kau bangunkan dia. Biarkan dia beristirahat,” katanya kepadamu kendati
kau tidak menjawabnya sepatah kata pun. Untuk beberapa saat, hanya hening dan
asap rokok yang ada di antara kalian berdua.
“Aku pulang ya,” akhirnya dia
berbicara lagi. “Besok aku datang lagi. Kalau Dilla bangun dan menanyakanku,
katakan padanya semuanya baik-baik saja.”
Sebelum
kau menjawabnya—dan kau memang tidak akan menjawabnya—dia pun membalikkan
badannya dan pergi dari hadapanmu. Kau tetap diam di tempatmu dan menatap
punggungnya yang mulai keluar dari halaman rumahmu. Ketika punggung itu hilang
di balik pagar tetangga rumahmu, kau pun menarik napas dalam-dalam dan
menghembuskannya. Selesai sudah untuk yang kali ini.
***
Namamu
Rey, Rey saja. Sejak awal, hanya nama kecil itu yang kau temui ketika kau mulai
sadar akan kehidupanmu sendiri. Kau dibesarkan di sebuah panti asuhan dan
menurut orang-orang yang merawatmu di sana, kau dibawa ke panti asuhan 29 tahun
lalu oleh seorang perempuan yang tidak dikenal. Mereka bilang mereka tidak
sempat menanyakan namamu apalagi tanggal kelahiranmu kepada perempuan itu
karena dia lebih cepat ditelan gelap sedangkan orang-orang panti asuhan yang
menerimamu saat
itu terlambat keluar dari kekagetan mereka. Akhirnya, mereka pun memberimu nama
Rey, Rey saja, dan menetapkan hari lahirmu pada hari itu, hari di mana mereka
menerimamu di panti asuhan.
Ini
bukan cerita tentangmu saja. Ada orang lain yang harus diceritakan di sini.
Namanya Roy, Roy saja. Dia adalah saudara kembarmu. Kau dan Roy sama-sama
dibawa ke panti asuhan pada malam yang konon sunyi sepi itu. Karena orang-orang
panti asuhan tidak tahu siapa yang lahir lebih dahulu di antara kalian berdua,
mereka akhirnya hanya menduga-duga dan menentukan Roy sebagai anak yang lahir lebih dahulu. Maka, sejak saat itu, Roy menjadi kakak kembarmu.
Mungkin
menurut orang banyak kisah hidupmu dan kakak kembarmu adalah kisah hidup yang
tidak biasa. Namun, sepertinya kau tidak terlalu peduli dengan hal itu. Kau
menjalani hidupmu seperti orang biasa walaupun kau harus hidup di panti asuhan.
Kau dan kakakmu memutuskan untuk keluar dari panti asuhan di hari ulang
tahun kalian yang kesembilan
belas.
Pada saat itu, kau baru saja tamat SMA sedangkan kakakmu tidak punya keinginan
untuk serius bersekolah sejak awal; dia hanya punya ijazah SD. Empat tahun
kemudian, kau mulai bekerja di sebuah perusahaan minuman beralkohol yang tidak
terlalu membutuhkan tenaga kerja bertitel sarjana. Akhirnya kau mendapatkan
pekerjaan yang cukup menjamin hidupmu setelah sekian lama luntang lantang
melakukan pekerjaan-pekerjaan aneh yang tidak mau kau ceritakan di sini.
Setidaknya sampai di sini, kau masih jauh lebih baik dibanding kakakmu yang
sampai pada titik di mana kau sudah mendapat pekerjaan bagus, dia malah
tenggelam jauh dalam kehidupan yang parah. Dia sering mabuk-mabukan, berjudi,
berkelahi,
dan tidak jarang dia terlibat masalah dengan polisi. Seringkali juga kau yang
harus menyelesaikan masalah kakakmu itu, juga termasuk membayar semua utangnya.
Tapi kau selalu diam.
“Anak
baik. Tidak sia-sia kamu jadi adik kembarku,” kata kakakmu setiap kali kau
membantunya dalam setiap masalahnya.
Pada
usiamu yang keduapuluh enam,
tiga tahun yang lalu, kau pun menikahi seorang gadis yang kau cintai, Dilla
namanya, Dilla Delila. Kakakmu menjadi satu-satunya keluarga yang mendampingimu
saat itu. Saat itu kau sangat bahagia dan memang kau tidak pernah merasa
sebahagia itu sepanjang hidupmu. Pikirmu semuanya akan baik-baik saja setelah
itu, tapi nyatanya kau
malah semakin tidak paham dengan hidupmu bahkan hingga sekarang ini.
Baca juga: Doa dan Kertas-Kertas Lusuh | (ketika rindu perlu dibungkus) | Cerpen Paskal Kedang
***
Setelah
punggung orang itu hilang dari pandanganmu seperti asap rokok yang sudah hilang
seutuhnya sejak tadi, kau pun menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya
kuat sekali seakan-akan kau hendak membunuh dirimu sendiri dengan cara
bernapas. Perlahan kau bangun dari dudukmu dan dengan enggan masuk ke rumahmu.
Kau lewati ruang tamu yang gelap seperti biasanya dan mulai menyusuri ruang
tengah, satu-satunya ruang yang lampunya dibiarkan menyala. Ketika kau sampai
di kamarmu—kamar milikmu dan Dilla, istrimu—kau tahu kalau pintunya
sedikit terbuka. Dengan perlahan, kau dorong pintu itu dan ketika pintunya
terbuka bagimu, dengan serta merta aroma asin dan amis keringat bercampur mani
yang menjijikkan langsung menyerbumu. Kau paham sekali apa yang baru saja
terjadi di kamar itu.
Dalam
keremangan berkas-berkas cahaya lampu ruang tamu yang masuk ke kamarmu, kau
dapat melihat Dilla tertidur tanpa busana di kasurmu, kasur kalian. Dia
membelakangimu dan samar-samar kau dapat melihat butir-butir keringat yang
masih membanjiri separuh pinggangnya yang langsing. Tanpa mau membangunkannya
dari tidur, kau letakkan sepatumu perlahan-lahan di rak sepatu, berjuang agar
tidak menciptakan satu bunyi pun. Ketika sepatumu sudah berhasil kau letakkan
tanpa bunyi, tiba-tiba Dilla berbalik padamu. Dia masih dalam posisi tidur di
atas kasur,
tapi matanya tertuju padamu. Ini tidak biasa. Dia tidak seharusnya begini,
pikirmu. Untuk sesaat, kau hanya berdiri membatu di tempatmu. Dilla tidak
mengedipkan matanya dan kau tahu kalau dia sedang mengamatimu.
“Kakakmu
baru saja pulang,” katanya tiba-tiba. Sekali lagi, ini tidak biasa, pikirmu.
“Oh
iya, kau pasti bertemu dengan dia tadi,” sanggahnya untuk perkataanya sendiri.
Kau tetap diam membatu di tempatmu. Sungguh, ini tidak biasa. Dia seharusnya
tidak terjaga dan berbicara denganmu. Dia sebenarnya harus terus tidur sampai
pagi. Seharusnya, seperti biasa, kau akan keluar dari kamar itu setelah mengganti
pakaianmu dan tidur di sofa di kamar tamu. Tapi kali ini dia berbicara
denganmu.
“Kakakmu
itu semakin hari semakin membuatku bernafsu. Aku sebenarnya sedikit merasa
bersalah padamu dan berencana untuk berhenti bersetubuh dengannya, tapi tidak
bisa. Pikiranku menyuruhku untuk berhenti, tapi tubuhku menginginkan kakakmu,” dia berbicara lagi.
Dan kau tetap diam.
“Aku
tidak tahu alasannya,
tetapi yang jelas aku tidak merasakan hal yang sama jika ada bersamamu padahal
kalian punya wajah yang sama, mata yang sama, dan postur tubuh yang sama.
Mungkin saja karena kakakmu itu tahu bagaimana caranya memuaskan wanita,” lanjutnya.
Kau
tahu situasi ini tidak biasa dan sepertinya kau tidak suka. Maka kau pun
membalikkan badanmu hendak pergi dari kamar itu, kau membayangkan sofa yang
penuh diam yang sunyi yang sedang menantimu di ruang tamu. Namun, kau
terlambat. Sebelum tubuhmu berbalik seutuhnya, tangan istrimu sudah melingkari
pinggangmu dan memelukmu. Kau dapat merasakan seluruh lekuk tubuhnya yang
menempel di belakangmu. Samar-samar kau dapat mencium aroma tubuhnya yang
sebenarnya harum,
tapi tertelan aroma asin dan amis keringat bercampur mani yang menjijikkan
tadi.
“Kita
sudah menikah tiga tahun dan aku tidak pernah memahamimu. Kau selalu diam
padahal selama tiga tahun ini, aku selalu bersetubuh dengan kakakmu dan kau
tahu itu. Mengapa kau tidak marah? Mengapa kau diam? Apakah kau tidak cemburu?
Aku tidak paham itu,” katanya perlahan di telingamu. Untuk yang kesekian kalinya kau berpikir bahwa
ini tidak biasa. Tapi kau biarkan saja. Kau tetap diam tak bergerak.
Dilla
membelai-belai perutmu dan sepertinya kau tahu bahwa napasnya mulai memburu. Lalu,
tiba-tiba kau gemetar. Ada api membara yang tiba-tiba menyala besar di dalam
kepala dan dadamu. Kau tidak tahu itu apa,
tapi sebelum kau sadar akan hal itu, kau sudah berbalik menghadap Dilla dan
dengan sekuat tenaga, kau ayunkan tinjumu ke wajahnya. Dilla terhuyung ke
belakang. Darah segar mengalir keluar dari hidungnya. Sebelum dia sempat
berpikir tentang apa yang sedang terjadi, kau malah melompat menyerbu dia dan
membenturkannya dengan lantai kamar itu.
“Mengapa
kau tidak marah, tanyamu? Mengapa kau diam, itu yang kau tanyakan? Kau dan
kakakku telah menghancurkan hidupku, kalian mengambil semua kebahagiaan dariku
dan meninggalkan sunyi sepi yang mengerikan yang harus aku terima. Kalian
biadab! Biarkan kau kuhantar ke sunyi sepi yang mengerikan itu agar kau tahu
apa yang membuatku diam,” teriakmu dalam amarahmu yang menyala-nyala.
Setiap
kata yang kau muntahkan selalu dibarengi dengan tinju yang kau sarangkan ke
wajah istrimu. Kau pukul dia bertubi-tubi dengan tanganmu sampai wajahnya dan
tanganmu sama-sama hancur. Lantai kamar itu digenangi darahmu dan darah
istrimu. Istrimu pingsan,
tapi kau belum puas. Kau berlari menuju dapur dan kau temui di sana pisau karat
yang kau pungut di selokan depan rumah kemarin. Kau bawa pisau itu ke kamar di
mana istrimu tergeletak dan seperti binatang liar, kau hujani tubuh istrimu
dengan tikaman pisau berulang-ulang kali. Ketika kau merasa puas dengan itu,
istrimu sudah berubah menjadi jasad bermandi darah dan dagingnya sendiri. Kau
pun bangkit dan berlari sekuat tenaga keluar dari rumahmu dengan tangan masih
memegang pisau karat yang berlumuran darah. Dalam kepalamu hanya ada satu suara
di sana: semuanya harus selesai malam
ini.
Baca juga: Pelabuhan Kepastian Selain Halte | Cerpen Ventus Wedjo
***
Pagi
yang cerah.
Burung-burung
bersiul bersahut-sahutan dibarengi bunyi tiiiiittt
dari teko air panas yang menandakan bahwa air di dalamnya sudah mendidih 100
derajat. Aku sedang duduk di beranda rumah dan membaca surat kabar pagi ini
sambil menunggu kopi buatan istriku. Ketika kubuka halaman tiga surat kabar
itu, kutemukan di sana berita yang membuatku tertarik: “....seorang pria berusia 29 tahun berinisial R bunuh
diri setelah membunuh istrinya DD (27) di rumahnya di kawasan Perumahan Cempaka
dan juga saudara kembarnya R (29) di jalan Tulip. Polisi tengah menyelidiki
kasus tersebut dan mengatakan penyebabnya adalah perselingkuhan...”.
“Mas,
ini kopinya,” kata istriku tiba-tiba yang membuatku kaget.
“Oh,
terima kasih. Letakkan saja di atas meja,” jawabku padanya.
Istriku
meletakkan kopi itu di atas meja lalu berbalik pergi. Aku menurunkan koran yang
kubaca lalu memandang punggungnya yang berjalan menuju dapur. Setelah dia
menghilang di balik pintu, aku termenung sambil memandangi baris berita di
surat kabar halaman tiga yang tadi kubaca. Tiba-tiba pikiran itu muncul dalam
kepalaku. Ya, sudah kuputuskan.
“Oh,
kau memberiku ilham,” kataku lirih sambil memandangi surat kabar itu dan
mengeluarkan sebuah pisau karat dari saku celanaku.
(Ledalero,
Februari 2020)
Baca juga: Semacam deru air di tubuh batu-harus jatuh terus-menerus | Cerpen Bryan Lagaor
Valen Ukat, mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero yang saat ini tinggal di Unit Efrata-Gere, Ledalero. Penulis berasal dari Timor. Sedang tekun menyelesaikan skripsi, mencintai Karl Marx dan Manchester City sedalam-dalamnya.
Komentar
Posting Komentar