Langsung ke konten utama

Membenci Tuhan: Suatu Bentuk Pendalaman Kepribadian Manusia sebagai Makhluk Emosional | Refleksi Kritis | Robby Poco*

 “Dugaan, jawaban para korban badai Siklon Tropis yang mengguncang masyarakat NTT”

 

Membenci Tuhan”, menjadi suatu bentuk perasaan baru yang muncul dari wajah masyarakat Nusa Tenggara Timur saat ini. Betapa tidak, akhir-akhir ini masyarakat Nusa Tenggara Timur diguncangkan oleh badai Siklon Tropis yang memporakporandakan sebagian infrastruktur masyarakat dan menelan ratusan korban jiwa. Bencana kemanusiaan ini menjadi persoalan yang memprihatinkan kehidupan masyarakat NTT pada umumnya.


Selama manusia masih hidup masalah akan selalu ada. Bagi manusia yang penuh dengan keterbatasan, kebaikan selalu dialami beriring dengan keburukan. Tidak ada manusia yang sejak kelahiran sampai kematianya selalu mengalami kebaikan, demikianpun sebaliknya. Pada suatu saat dimana kebaikan itu seharusnya ada, tetapi nyatanya tidak ada, manusia mengalami keburukkan. Keburukan itulah yang sering disebut sebagai derita. Derita sering membuat manusia merasa cemas, gelisah, tidak aman dalam hidup, putus asa dan bahkan tak jarang manusia merasa hidupnya tidak berarti dan merasa Tuhan yang dianggapnya sebagai pencipta tidak ada dan tidak berguna. Ini “problem” dalam hidup manusia.

Baca juga: Cinta, Kasih Sayang dan Tanggung Jawab | "Sebuah Peta Pemikiran Emmanuel Levinas dalam Cara Pandang yang Lain Sebagai yang Tak Terbatas | Opini | Roby Poco* 

Namun, bagaimanapun manusia harus menghadapi segala bentuk persoalan itu, karena selama manusia masih hidup, pengalaman semacam itu akan selalu ada. Oleh karena itu berhadapan dengan situasi yang menimpa masyarakat NTT saat ini, tidak ada pilihan yang lebih bijak selain pasrah pada keadaan.


Di belahan dunia manapun manusia tetap selalu ingin sehat dan senantiasa memiliki keinginan untuk tenang dan nyaman dalam aktivitas hidupnya. Dan bahkan yang paling asasi, manusia sama-sama memiliki perasaan dan daya batin yang sangat dalam akan kelemahan dan keterbatasan yang dimilikinya. Namun bagi masyarakat NTT yang sedang dalam situasi gawat darurat karena badai Siklon Tropis merasa bahwa saat ini perasaan nyaman itu seakan-akan berubah menjadi ketakutan dan kecemasan. Akibatnya ekspresi yang timbul dalam kehidupan masyarakat NTT pada umumnya dan para korban badai Siklon Tropis pada khususnya semakin menunjukan sikap ketakutan dan kecemasan yang sangat kuat.

 

Di samping itu, dampak lain dari badai Siklon Tropis yang mengguncang NTT  bukan hanya kesedihan dan duka yang mendalam tetapi juga kematian iman akan Tuhan. Bahwasanya ekspresi iman masyarakat NTT para korban badai Siklon Tropis pada khususnya yang cukup kuat untuk menampilkan diri secara terbuka sebagai masyarakat atau sebagai manusia yang sepenuhnya percaya akan Tuhan seketika dibungkam dan mulai mempertanyakan eksistensi Tuhan. Orang-orang mulai mempersoalkan tentang Tuhan. Dimanakah Engkau Tuhan saat kami mengalami kesusahan? Dimanakah Engkau saat ratusan nyawa hilang begitu saja? Dimanakah Engkau? Sejenak pertanyaan ini menjadi suatu bentuk respon kepada yang kuasa bahwa masyarakat Nusa Tenggara Timur para korban badai Siklon Tropis pada khususnya merindukan kehadiran-Nya. Tetapi serentak pula Tuhan “dicurigai”, bahkan dituduh sebagai musuh yang harus dijauhi karena dianggap sebagai dalang dari semua persoalan dan situasi yang terjadi. Sekali lagi di sini manusia hadir dan mendakwa Tuhan sebagai yang bersalah. Pertanyaan tentang eksistensi Tuhan menjadi bahan kajian bagi kita untuk merefleksi diri sejauh mana kita memahami Tuhan.

Baca juga: Membangun Iman di Era Internet | Sebuah Tinjauan Reflektif | Oleh Vinsensius Laka* |

Pertanyaan tentang eksistensi Tuhan seperti ini bisa juga hadir untuk membenarkan pernyataan dan merespons tesis Richard Dawkins dan Christopher Hitchens yang mengklaim bahwa “Allah tidak baik dan dunia ini akan menjadi lebih baik hanya jika tanpa iman dan tanpa Allah  atau klaim Dean Hamer bahwa kecenderungan menjadi religius termasuk kisah perjumpaan Musa dengan Allah bukan suatu kebetulan tetapi secara meyakinkan disebabkan “gen Tuhan” yang membuat otak manusia siap menerima “kekuatan yang lebih tinggi”. Jika hal ini menjadi benar, maka pada saat yang sama kita mengklaim Tuhan sebagai yang maha baik, mahapengampun, mahaadil, pembela orang tertindas-lemah-miskin, pemimpin yang bijaksana, dan lain-lain. Realitas yang terjadi menjadi objek refleksi teologis  untuk melihat dan membahasakan Allah sesuai dengan situasi yang terjadi. Tuhan model inilah yang justru ditemukan pada wajah-wajah korban badai Siklon Tropis yang sedang mengguncang masyarakat Nusa Tenggara Timur saat ini. Tuhan divonis sebagai “yang tidak baik”.


Layakkah masyarakat Nusa Tenggara Timur marah kepada Tuhan? Tentu saja kita memiliki refleksi yang berbeda. Refleksi atas apa yang diimani seseorang selalu menghasilkan pilihan atau sikap dalam menghadapi realitas yang terjadi. Kompeleksitas realitas masyarakat NTT yang terjadi berhadapan dengan badai Siklon Tropis menunjukan komleks hidupnya sebagai  manusia NTT.

Dalam situasi NTT saat ini, saya kira masyarakat NTT layak untuk marah. Marah karena dalam situasi seperti itu, mereka tidak melihat sidik jari dan jejak kaki Tuhan untuk menolong mereka. Pengalaman hidup yang terjadi pada masyarakat NTT berhadapan dengan situasi sekarang ini, justru mempersulit mereka untuk menghubungkan realitas yang sedang terjadi lebih dalam, mengarah ke Yang Maha Tinggi atau Allah yang mereka imani. Mereka justru percaya akan ketidakadilan Tuhan. Hal ini bukan suatu kebetulan, melaikan sebagai suatu opsi yang lahir dari suatu refleksi yang sedang menimpa mereka sekarang ini. Hal ini menarik karena mereka mencoba mendefinisikan Tuhan dengan realitas yang terjadi.


Karena itu pergulatan iman dan hidup reel yang terjadi pada masyarakat NTT dapat merupakan pergulatan tentang eksistensi Allah. Pergulatan iman dan realitas hidup reel yang terjadi pada masyarakat NTT saat ini, sebagai pergulatan tentang Tuhan, yaitu Tuhan sejauh dialami dalam pengalaman serentak pula tetap tersembunyi di baliknya.


Tuhan Macam Mana?


            Tuhan yang diimani. Dalam menghadapi badai Siklon Tropis, masyarakat NTT hanyalah orang-orang yang lemah tak berdaya. Pada saat yang sama para korban badai Siklon Tropis tidak mempunyai kemampuan yang cukup untuk membahasakan macam manakah Tuhan tampil dalam situasi seperti itu. Bagi para korban badai Siklon Tropis, apa yang terbaik yang dapat mereka perbuat dalam kehidupan, dan dalam situasi-situasi hidup seperti itu, itu sudah cukup bagi mereka sebagai bukti bahwa mereka berbuat sesuatu bagi Tuhan. Demikian halnya dalam situasi sulit yang menimpa mereka, mereka masih diberikan kesempatan untuk hidup, masih ada orang lain yang mau menolong mereka, bagi mereka, semua itu adalah rahmat yang diberikan oleh Tuhan. Tuhan yang tergambar dalam wajah mereka adalah Tuhan yang mengajarkan ketabahan serta pengorbanan.

            Baca juga: Dunia dan Politik Otentik Hannah Arendt | Fr. Roby Poco, SVD

            Tuhan yang berpihak pada para korban badai Siklon Tropis. Keberpihakan Allah kepada para korban badai Siklon Tropis yang mengguncang daerah Nusa Tenggara Timur, menuntut suatu sikap khusus yang membawa keberpihakan Allah kepada suatu kenyataan yang bisa dirasakan, dinikmati dan dihidupi. Keberpihakan Allah bukan hanya sebuah keyakinan yang berhenti pada batas diyakini saja, melainkan diupayakan untuk dirasakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

                                

            *Robby Poco Mahasiswa STFK Ledalero Semester VIII, Tinggal di Wisma Efrata-Gere

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...