Membenci Tuhan: Suatu Bentuk Pendalaman Kepribadian Manusia sebagai Makhluk Emosional | Refleksi Kritis | Robby Poco*
“Dugaan, jawaban para korban badai Siklon Tropis yang mengguncang masyarakat NTT”
“Membenci Tuhan”, menjadi suatu bentuk
perasaan baru yang muncul dari wajah masyarakat Nusa Tenggara Timur saat ini.
Betapa tidak, akhir-akhir ini masyarakat Nusa Tenggara Timur diguncangkan oleh
badai Siklon Tropis yang memporakporandakan sebagian infrastruktur masyarakat
dan menelan ratusan korban jiwa. Bencana kemanusiaan ini menjadi persoalan yang
memprihatinkan kehidupan masyarakat NTT pada umumnya.
Selama manusia masih hidup masalah akan selalu ada. Bagi manusia yang penuh dengan keterbatasan, kebaikan selalu dialami beriring dengan keburukan. Tidak ada manusia yang sejak kelahiran sampai kematianya selalu mengalami kebaikan, demikianpun sebaliknya. Pada suatu saat dimana kebaikan itu seharusnya ada, tetapi nyatanya tidak ada, manusia mengalami keburukkan. Keburukan itulah yang sering disebut sebagai derita. Derita sering membuat manusia merasa cemas, gelisah, tidak aman dalam hidup, putus asa dan bahkan tak jarang manusia merasa hidupnya tidak berarti dan merasa Tuhan yang dianggapnya sebagai pencipta tidak ada dan tidak berguna. Ini “problem” dalam hidup manusia.
Namun, bagaimanapun manusia harus menghadapi segala bentuk persoalan itu,
karena selama manusia masih hidup, pengalaman semacam itu akan selalu ada. Oleh
karena itu berhadapan dengan situasi yang menimpa masyarakat NTT saat ini, tidak
ada pilihan yang lebih bijak selain pasrah pada keadaan.
Di belahan dunia manapun manusia tetap selalu ingin sehat dan senantiasa memiliki keinginan untuk tenang dan nyaman dalam aktivitas hidupnya. Dan bahkan yang paling asasi, manusia sama-sama memiliki perasaan dan daya batin yang sangat dalam akan kelemahan dan keterbatasan yang dimilikinya. Namun bagi masyarakat NTT yang sedang dalam situasi gawat darurat karena badai Siklon Tropis merasa bahwa saat ini perasaan nyaman itu seakan-akan berubah menjadi ketakutan dan kecemasan. Akibatnya ekspresi yang timbul dalam kehidupan masyarakat NTT pada umumnya dan para korban badai Siklon Tropis pada khususnya semakin menunjukan sikap ketakutan dan kecemasan yang sangat kuat.
Di samping itu, dampak lain dari badai Siklon Tropis yang mengguncang NTT bukan hanya kesedihan dan duka yang mendalam tetapi juga kematian iman akan Tuhan. Bahwasanya ekspresi iman masyarakat NTT para korban badai Siklon Tropis pada khususnya yang cukup kuat untuk menampilkan diri secara terbuka sebagai masyarakat atau sebagai manusia yang sepenuhnya percaya akan Tuhan seketika dibungkam dan mulai mempertanyakan eksistensi Tuhan. Orang-orang mulai mempersoalkan tentang Tuhan. Dimanakah Engkau Tuhan saat kami mengalami kesusahan? Dimanakah Engkau saat ratusan nyawa hilang begitu saja? Dimanakah Engkau? Sejenak pertanyaan ini menjadi suatu bentuk respon kepada yang kuasa bahwa masyarakat Nusa Tenggara Timur para korban badai Siklon Tropis pada khususnya merindukan kehadiran-Nya. Tetapi serentak pula Tuhan “dicurigai”, bahkan dituduh sebagai musuh yang harus dijauhi karena dianggap sebagai dalang dari semua persoalan dan situasi yang terjadi. Sekali lagi di sini manusia hadir dan mendakwa Tuhan sebagai yang bersalah. Pertanyaan tentang eksistensi Tuhan menjadi bahan kajian bagi kita untuk merefleksi diri sejauh mana kita memahami Tuhan.
Baca juga: Membangun Iman di Era Internet | Sebuah Tinjauan Reflektif | Oleh Vinsensius Laka* |
Pertanyaan tentang eksistensi Tuhan seperti ini bisa juga hadir untuk membenarkan
pernyataan dan merespons tesis Richard Dawkins dan Christopher Hitchens yang
mengklaim bahwa “Allah tidak baik dan dunia ini akan menjadi lebih baik hanya
jika tanpa iman dan tanpa Allah atau
klaim Dean Hamer bahwa kecenderungan menjadi religius termasuk kisah perjumpaan
Musa dengan Allah bukan suatu kebetulan tetapi secara meyakinkan disebabkan
“gen Tuhan” yang membuat otak manusia siap menerima “kekuatan yang lebih
tinggi”. Jika hal ini menjadi benar, maka pada saat yang sama kita mengklaim
Tuhan sebagai yang maha baik, mahapengampun, mahaadil, pembela orang
tertindas-lemah-miskin, pemimpin yang bijaksana, dan lain-lain. Realitas yang
terjadi menjadi objek refleksi teologis
untuk melihat dan membahasakan Allah sesuai dengan situasi yang terjadi.
Tuhan model inilah yang justru ditemukan pada wajah-wajah korban badai Siklon
Tropis yang sedang mengguncang masyarakat Nusa Tenggara Timur saat ini. Tuhan
divonis sebagai “yang tidak baik”.
Layakkah
masyarakat Nusa Tenggara Timur marah kepada Tuhan? Tentu saja kita memiliki
refleksi yang berbeda. Refleksi atas apa yang diimani seseorang selalu
menghasilkan pilihan atau sikap dalam menghadapi realitas yang terjadi.
Kompeleksitas realitas masyarakat NTT yang terjadi berhadapan dengan badai
Siklon Tropis menunjukan komleks hidupnya sebagai manusia NTT.
Dalam situasi NTT saat ini, saya kira masyarakat NTT layak untuk marah. Marah karena dalam situasi seperti itu, mereka tidak melihat sidik jari dan jejak kaki Tuhan untuk menolong mereka. Pengalaman hidup yang terjadi pada masyarakat NTT berhadapan dengan situasi sekarang ini, justru mempersulit mereka untuk menghubungkan realitas yang sedang terjadi lebih dalam, mengarah ke Yang Maha Tinggi atau Allah yang mereka imani. Mereka justru percaya akan ketidakadilan Tuhan. Hal ini bukan suatu kebetulan, melaikan sebagai suatu opsi yang lahir dari suatu refleksi yang sedang menimpa mereka sekarang ini. Hal ini menarik karena mereka mencoba mendefinisikan Tuhan dengan realitas yang terjadi.
Karena itu pergulatan iman
dan hidup reel yang terjadi pada masyarakat NTT dapat merupakan pergulatan
tentang eksistensi Allah. Pergulatan iman dan realitas hidup reel yang terjadi
pada masyarakat NTT saat ini, sebagai pergulatan tentang Tuhan, yaitu Tuhan
sejauh dialami dalam pengalaman serentak pula tetap tersembunyi di baliknya.
Tuhan Macam Mana?
Tuhan yang diimani.
Dalam menghadapi badai Siklon Tropis, masyarakat NTT hanyalah orang-orang yang
lemah tak berdaya. Pada saat yang sama para korban badai Siklon Tropis tidak
mempunyai kemampuan yang cukup untuk membahasakan macam manakah Tuhan tampil
dalam situasi seperti itu. Bagi para korban badai Siklon Tropis, apa yang
terbaik yang dapat mereka perbuat dalam kehidupan, dan dalam situasi-situasi
hidup seperti itu, itu sudah cukup bagi mereka sebagai bukti bahwa mereka
berbuat sesuatu bagi Tuhan. Demikian halnya dalam situasi sulit yang menimpa
mereka, mereka masih diberikan kesempatan untuk hidup, masih ada orang lain
yang mau menolong mereka, bagi mereka, semua itu adalah rahmat yang diberikan
oleh Tuhan. Tuhan yang tergambar dalam wajah mereka adalah Tuhan yang mengajarkan
ketabahan serta pengorbanan.
Baca juga: Dunia dan Politik Otentik Hannah Arendt | Fr. Roby Poco, SVD
Tuhan yang berpihak pada para korban badai Siklon Tropis. Keberpihakan Allah kepada para korban badai Siklon Tropis yang mengguncang daerah Nusa Tenggara Timur, menuntut suatu sikap khusus yang membawa keberpihakan Allah kepada suatu kenyataan yang bisa dirasakan, dinikmati dan dihidupi. Keberpihakan Allah bukan hanya sebuah keyakinan yang berhenti pada batas diyakini saja, melainkan diupayakan untuk dirasakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
*Robby Poco Mahasiswa STFK Ledalero Semester VIII, Tinggal di Wisma Efrata-Gere

Komentar
Posting Komentar