Pantun Berkait (Rommy Sogen)
Cinta Sebelah Tangan
Mendung tiba gugur gerimis
Pertanda kemarau pamit pergi
Kalaulah abang bermulut manis
Mengapa adinda tak angkat kaki
Mendung tiba gugur gerimis
Pertanda kemarau pamit pergi
Kalau adinda sisakan tangis
Masihkah abang ada di hati
Mendung tiba gugur gerimis
Pertanda kemarau pamit pergi
Jika cinta tak lagi pedis
Lalu mengapa kita tak sudi
Mendung tiba gugur gerimis
Pertanda kemarau pamit pergi
Sudahlah adinda cinta tak lagi praktis
Untuk rindu kita yang kian sepi tanpa sunyi
Teruntuk Saudariku
Gading panjang kemilau di atas bahu
Selendang rindang sudah teruntai
Perkara cinta sudah menyatu
Kini saatnya saudari pergi
Gading panjang kemilau di atas bahu
Selendang rindang sudah teruntai
Betapa berat berpisah denganmu
Apalah daya janji sudah terurai
Gading panjang kemilau di atas bahu
Selendang rindang sudah terurai
Hati kami gundah walau setuju
Merelakan dikau pergi bukan sehari
Gading panjang kemilau sudah dipangku
Selendang rindang sudah teruntai
Kini pergimu meninggalkan rindu
Kami hanya bisa memeluk gading ini
Baca juga: Puisi-Puisi Jepo Sulaona
Pantun-Pantun Andi Denatalis
Hari sabtu memetik kelapa
Airnya segar hilangkan dahaga
Hai anak-anak, hormatilah orang tua
Agar kelak masuk Surga
Anak domba jatuh di rawa
Ditolong pemburu rusa
Kasih sayang orang tua
Selalu ada sepanjang masa
Pantun-Pantun Tommi Santos
Senang benar punya penggemar
Bila jumpa disorak gempita
Romo berkhotbah di atas mimbar
Umat mendengar jangan bercerita
Jalan-jalan ke pantai
Jangan lupa naik perahu
Jika ingin menjadi pandai
Rajin-rajinlah membaca buku
Pergi ke toko membeli gergaji
Pulang membawa burung merpati
Kalau pernah membuat janji
Lekaslah untuk ditepati
Hujan menyapa di tengah jalan
Terasa dingin menusuk tulang
Ketika guru beri penjelasan
Mari dengarkan dengan tenang
Baca juga: Puisi-Puisi Ira Baran
Pantun-Pantun Bryan Lagaor
Rinai hujan jatuh gemercik
Kopi diteguk sekali nikmat terasa lama
Rindu membara ingin memeluk
Mengingat kekasih nun jauh apa daya sebatas di angan saja
Cerlang cahaya di pagi hari
Membuat mata tak lagi kantuk
Sejauh ingin meraih mimpi
Belajarlah banyak sembari berdoa dengan khusyuk
Pantun-Pantun Raldi Sastra
Dari rumah hendak ke sawah
Janganlah lupa mengajak Sakti
Bila ada kata yang salah
Janganlah simpan di dalam hati
Pergi ke pasar membeli sabit
Sabitnya habis dibeli Rama
Walaupun ilmu setinggi langit
Tetaplah hormat kepada sesama
Pantun-Pantun Ventus Wedjo
Burung elang terbang melayang
Induk ayam menatap cemas
Aku mau kau belah dada ini sayang
Agar kau tahu, namamu bertuliskan tinta emas
Sore-sore bakar daging tekukur
Taburi garam itu sudah wajib
Kalau nona minta hati, frater mundur
Kalau nona minta berkat, frater beri tanda salib
Jalan-jalan ke Kota Kudus
Jalan lupa membeli roti kukus
Dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus
Semoga kita diberkati Kristus
Baca juga: Doa dan Kertas-Kertas Lusuh | (ketika rindu perlu dibungkus) | Cerpen Paskal Kedang
Para penulis adalah frater-frater tingkat III Unit Efrata-Gere.
Komentar
Posting Komentar