Langsung ke konten utama

Puisi-puisi Ira Baran

 


Kamu

:maria helena bunga baran

 

:di tepi pantai

saat pengujung sore menuju malam--orang lebih akrab menamainya senja

 

senja hari ini sangat cantik

merah jingga yang cantik berpamitan padaku

aku teringat senja kala itu saat kau membisikkan di telingaku, "senyummu adalah favoritku"

 

senja waktu itu tak kalah cantik dengan senja hari ini

satu-satunya pembeda adalah kehadiranmu

 

kala itu aku bersamamu

sekarang aku hanya berdua bersama kenangan

 

setiap senja yang hadir dan pergi tak pernah kulewatkan tanpa teringat tentang kita, selalu

selalu begitu: sendiri mengukir kenangan, sendiri menguatkan hati, sendiri mengingatnya

 

senja hari ini, menurutku terlalu cantik

ada burung terbang dari kejauhan

ada sinar merah jingga yang merayu, memikat mata, meneduhkan hati

"ah, senja ini terlalu cantik untuk kutinggalkan lagi bersama kenangan buruk"

 

pada hampir pamitnya, kuputuskan untuk memikirkanmu

menuliskan kisah tentangmu untuk yang terakhir

 

:

“kamu, yang matamu selalu paling meneduhkan saat itu

yang tanganmu selalu hangat bahkan saat hujan turun

yang selalu membawa bahu bidang itu untuk kubersandar

yang punya tubuh jakung aneh, tapi jadi favoritku --sebab aku akan langsung menemukanmu dalam keramaian

yang punya telapak tangan besar dan berotot, selalu siap membawakan minuman untukku

pria yang bahkan lebih mempesona saat sedang berkeringat di lapangan basket

pria yang selalu paling kurindukan saat ada tingkah lucu dan menggemaskan

pria yang punggungnya paling dingin saat berbalik meninggalkan”

 

banyak yang kau tinggalkan

terlalu banyak hingga tak bisa kuungkap semua

 

hari ini, ketika melihat senja

aku merindumu dan ini akan jadi rindu yang terakhir untukmu

aku memutuskan meninggalkanmu di tepi pantai ini

agar dibawa terbang jauh oleh burung-burung yang melewatimu, dihapus ombak, diterpa angin dingin pantai lalu pergi

jauh

 

semoga dingin angin laut ini tak sedingin punggungmu yang berbalik dariku

semoga setelah kau terbang kau tidak dijatuhkan oleh apapun

 

aku kini telah melepasmu bersama semua memori

aku akan menikmati setiap senja yang datang tanpa bayang-bayangmu lagi

kamu tahu, bagian terbaik dari kehilanganmu adalah aku akhirnya bisa menguraikan benang-benang yang kusut

karena aku akan menjadi bintang di langit yang selalu dinantikan

 

selama ini aku takut kehilanganmu

terlalu takut sampai tak sadar kalau aku telah kehilangan diriku sendiri

jika kita bertemu lagi, abaikan saja

jangan menyapa dan berhenti

 

saat seseorang menghapus kenangan, ia juga menghapus orang dalam kenangan itu

 

kamu yang terlebih dahulu menghapus kenangan

 

Yogyakarta, 20 Februari 2020

01.07 (subuh )

Baca juga: Tunu | Defri Ngo

 

Belum Usai

:maria helena bunga baran

 

jalan panjang tak berujung

sore yang lengang

menyusuri setiap tapak, setiap belokan tanpa ada perhentian

udara yang lembab adalah temanku, batu dingin berdiam tanpa penantian

setiap yang lewat adalah pesan, setiap yang pergi adalah kisah

meninggalkan tanda pada setiap tempat

membawa setiap kisah dengan senyum dan amarah

mencari tujuan terakhir membawa setumpuk cerita

menunggu waktu melepaskan semua, pilu, cinta, air mata

jangan menunggu!

teruslah berjalan, fantasimu tentang pangeran berkuda tak akan terwujud

kicauan burung adalah pemandumu

jangan takut, jangan tenggelam!

malam selalu bertemu pagi, setiap kisah selalu memiliki akhir

kisahmu belum boleh berakhir

 

Yogyakarta

20 April 2020 (2:58 pm)

Baca juga: Doa dan Kertas-Kertas Lusuh | (ketika rindu perlu dibungkus) | Cerpen Paskal Kedang


Ira Baran, orang Lembata. Sedang kuliah di Yogyakarta sebagai salah satu mahasiswi di Universitas Mercu Buana jurusan Psikologi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...