Surat Rinduku
untuk Bangsa
(mengenang
hari pahlawan 10 November)
Pada deretan syair pujangga bangsa
aku titipkan surat rindu yang mengenang
kalbu
pada tangisan seru yang merenggut jiwa
dan raga
mengalir air mata berserakan darah pada
debu
jatuh, tersungkur, tergeletak hingga
bermandikan kuntum bunga
dan debu tanah sendiri
hari ini izinkanlah aku memeluk waktu, detik-detik proklamsi
bernarasi mimpiku menghitung jejak
pejuang tangguh
perihal tanah yang gagah pada lima butir
bhineka bernamakan
PANCASILA
dalam doa, lekas bangun sebelum fajar
dan pergi sebelum senja
mengasah senjata juang, membakar obor semangat
merah dan putih
bersatu melawan bangsa sendiri yang
masih ada diri dan duri tajam
menusuk diri orang lain
pada nusa dan bangsa yang terus direnggut
zaman
perihal rindu pun perlu dikenangkan
waktu
hingga mengenang hari bersejarah pun
perlu dicerita
tentang pahlawan kita yang bercinta
merah dan putih
hingga darah kering mengalir pada tanah
air sendiri
(Efrata, 9 Oktober 2021)
Baca juga: Surat dari Sumitro | Puisi Naldy Roo
Kamu Seperti Senja
aku belajar
seperti senja
menatapmu dari
kejahuan di balik bayangan perahu berlayar
mengikhlaskan penantianku pada
titik temu, walau
bersama hanya sesaat
dan melepaskanmu
pergi
bersama rindu
pelaut menyeberangi lautan
aku belajar
seperti senja
entah apa yang telah
merekam cerita, lalu larut menerkam sepi lautan
menggenggammu pada
hari yang bercerita
sementara
melukis kenangan
hari yang penuh ceriah mimpi
hingga terkekang,
hanyut pada perjumpaan
aku belajar seperti
senja
bukan menunggu untuk
merelakanmu pergi
namun aku ingin
mengecup keningmu dan membisik sepi yang
merayau:
“kawan, akankah
ada kamu, aku dan kita yang menulis bersama hinggap, singgah, walau sebentar dan menepi pada lembaran-lembaran goresan album kenangan?”
hanya sekuntum doa
dan salamku menitip mata pada hati, mengenangmu hingga harapan berlalu
seperti senja.
sekian ini dari
aku dengan rindu yang sekarat, menunggu kabarmu seperti senja
perihal
kamu seperti senja, kedatangan pun akan
ada waktu untuk kepergian: untuk setiap pertemuan kita
kamu seperti senja.
(Ledalero, 29 Oktober 2021)
Doa
Tuhan, terkadang waktu
terlampau menuntut
menjalaninya
pun aku tak sadar untuk menepi pada situasi mana
Tuhan
aku
terlalu sibuk hari ini hingga perlahan
berlari dari kenyataan
hingga
caraku manis merayu selalu berjalan berhati-hati
namun
tidak mendengarkan suara hati
Tuhan
barangkali jatuh pun aku takkan berpaling
doaku selalu penuh rayuan manis ketika tubuh tak sempat menunda aminku, pada tubuh yang lelah
Tuhan, hanya ini saja.
(Efrata, 21Oktober 2021)
Baca juga: Puisi-puisi | Bryan Lagaor | Tentang puisi yang menolak sang penyair
Jepo Sulaona, orang asli Lamalera-Lembata. Menulis puisi dan cerpen adalah bagian dari hidupnya, serupa orang-orangnya yang menjadikan "perburuan ikan paus" sebagai bagian dari hidup mereka. Penulis sekarang sedang tekun mendalami ilmu-ilmu filsafat di STFK Ledalero.
Semangat selalu kaka Frater Jepo
BalasHapus