Langsung ke konten utama

Doa dan Kertas-kertas Lusuh | (ketika rindu perlu dibungkus) | Cerpen Paskal Kedang

     




Ina, barangkali benar bahwa ketika rindu menjelma sebuah doa maka ia bukan lagi soal jarak dan waktu. Ia lebih kepada dua hati yang ingin menyatu. Dan saya berusaha untuk membungkus rindu itu serapi mungkin dalam doa-doa saya. Kepada Tuhan saya titipkan bungkus-bungkus rindu saya yang telah menjelma doa. Semoga saja bungkus-bungkus rindu itu sampai kepadamu, dengan rasa dan jumlah yang masih sama ketika saya mambungkusnya sedari awal. Saya yakin, Tuhan tak mungkin mengurangi rasa maupun jumlahnya.

Ina, ketika merindumu adalah juga doa maka biarkanlah saya terus dan tetap berdoa untukmu selagi saya masih kuat merindumu. Saya percaya, merindu adalah cara terjujur untuk berdamai dengan hati saat hati terlampau angkuh untuk sekedar mengungkap cinta. Sebab, hati terkadang membiarkan luka datang menghampirinya.

Ina, saya telah pernah membiarkan hati saya mendapatkan luka. Begitulah, saya terlampau angkuh untuk berdamai dengan hati. Dan engkau pasti tahu seperti apa keadaan sebuah hati ketika ia sedang terluka. Saya berusaha untuk menyembuhkan luka itu, dengan seluruh rindu yang saya miliki untukmu.

Ina, untuk yang kesekian kalinya saya tak bisa mengelak. Saya yakin dengan sungguh bahwa hati saya sudah ada di genggamanmu, menjadi hak milik untuk kau rawat, atau mungkin juga kau hancurkan. Namun, saya tak perlu berpikir terlalu jauh. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana saya harus berusaha supaya posisi kita berimbang. Saya juga harus bisa menggenggam hatimu: utuh. Karena, entah kau sejauh langit atau sedekat langit-langit, bagi saya kau adalah bintang yang selalu saya puja. Selamanya.

Baca juga: Semacam deru air di tubuh batu-harus jatuh terus-menerus | Cerpen Bryan Lagaor

***

Saya selalu mengalami situasi yang sama ketika harus berurusan dengan hati. Pada setiap apa saja yang saya alami, selalu saja saya membuat hati saya terlibat. Ini bukan kemauan saya. Hati saya memang terlalu kuat sampai-sampai saya selalu kalah ketika harus berhadapan dengannya. Sering saya diminta untuk berdamai. Namun begitulah, saya terlampau angkuh untuk berdamai dengan hati saya sendiri.

Benar bahwa soal rasa lidah tak bisa berbohong. Rasa selalu ada karena orang punya hati yang peka. Ketika hati peka dengan apa yang ada di sekitar di situlah rasa selalu ada dan muncul, dalam bentuk apa saja. Rasa-rasa semacam inilah yang selalu memaksa lidah untuk terus berbicara, mengungkapkan apa yang menjadi isi dari sebuah hati. Situasi seperti ini kerap menjengkelkan saya. Kadang saya harus menanggung malu ketika hati, rasa, dan lidah terlalu kuat untuk saya kalahkan. Saya bahkan sampai pada level membenci hati saya sendiri. Alasannya sederhana saja, hati saya tak bisa diajak bekerja sama. Sepertinya sekali waktu nanti entah kapan, kami—saya dan hati saya—harus bertukar posisi. Saya menjadi dia dan dia menjadi saya supaya dia juga tahu betapa tidak enaknya menjadi pihak yang selalu kalah.

***

            Pada kertas-kertas yang cukup lusuh juga, saya membungkus banyak rindu. Rindu yang lahir karena hati saya terlalu sering mempermainkan saya. Ketika ada kesempatan untuk bertemu, ingin sekali rasanya saya membiarkan engkau membaca dan menemukan langsung apa saja yang ada di dalam hati saya. Namun sayang, manusia tak akan pernah bisa membaca hati dan isinya bukan? Saya pun tak punya cukup keberanian untuk menyampaikan kepadamu secara langsung seluruh isi hati saya. Itulah sebabnya mengapa saya memilih untuk menyampaikannya di dalam kertas-kertas lusuh ini.

Dan di sinilah kita sekarang, duduk diam di beranda rumahmu sementara engkau sedang membaca isi hati saya di dalam kertas-kertas itu. Saya menunggu sambil berusaha berbicara dengan hati saya. Kali ini saya yang berusaha untuk mengajak hati saya berdamai karena bagaimana pun juga ia telah membuat saya berani melangkah sampai saat ini dan di sini.

“Perihal rasa yang kau bawa dalam kertas-kertas ini, saya berterima kasih. Ternyata engkau tak cukup berani seperti yang saya kira. Tapi tak apalah, sekarang engkau sudah berani meski dengan kertas-kertas.

“Jangan pernah takut mencintai. Adalah benar bahwa ketika kita sudah berani mencintai berarti kita juga sudah menciptakan luka untuk diri sendiri. Risikonya selalu seperti itu. Kalau pun tak berujung bahagia, pasti luka yang kita terima. Dengan mencintai, kita sebenarnya sedang berusaha untuk menghadapi dua kemungkinan tersebut. Namun, yakinlah bahwa tak ada yang lebih membahagiakan di dunia selain mencintai, meskipun dengan cara diam-diam.

“Saya sangat yakin bahwa engkau sedang menanti sebuah kepastian sebab saya terlalu buram untukmu selama ini. Bukankah abu-abu akan menjadi pilihan terbaik ketika hitam dan putih bahkan terlalu kabur untuk kita sendiri? Bertahanlah dengan apa yang ada sekarang. Nanti pasti ada jawab yang saya beri untukmu.”

Baca juga: Puisi-Puisi | Evans Kaha | Di bawah Nisan Ini Puisiku Duduk Menangis

***

Ketika rindu saya sudah sampai pada tahap akut dan tak bisa dibendung lagi, saya semakin tak karuan. Manusia pada umummnya juga begitu bukan? Kadang dengan sengaja membuat dirinya terluka. Dan ketika rindu sudah sangat menyiksa, saya pun harus dengan terpaksa mendengarkan hati saya.

“Berjuang mungkin akan membuatmu lelah. Namun tenang. Selama perjuangan itu benar-benar tulus dan bertujuan untuk membahagiakan maka tak ada yang namanya sia-sia.

“Jangan biarkan perjuanganmu selama ini hanya sampai pada tahap diam-diam. Tidak semua orang punya kemampuan untuk membaca dan memahami situasi semacam itu. Berjuanglah untuk bisa menyampaikan kepadanya dengan seluruh mampumu. Cukup mulai dengan cara paling sederhana dan kecil tapi punya banyak makna.”

Kali ini saya tak bisa membantah dan melawan. Benar yang disampaikan oleh hati saya. Saya tak boleh terus bertahan dengan situasi seperti ini. Saya tidak boleh memaksa dan menuntut orang lain untuk memahami keadaan saya dan mengerti apa yang saya rasakan.

“Beranikanlah dirimu.”

***

“Saya sangat yakin bahwa engkau sedang menanti sebuah kepastian sebab saya terlalu buram untukmu selama ini. Bukankah abu-abu akan menjadi pilihan terbaik ketika hitam dan putih bahkan terlalu kabur untuk kita sendiri? Bertahanlah dengan apa yang ada sekarang. Nanti pasti ada jawab yang saya beri untukmu.”

Kata-kata terakhir yang keluar dari mulutmu itu saya bawa pulang. Ya, engkau menyuruh saya untuk bertahan dengan janji bahwa akan ada jawab yang menyusul setelah saya menanti. Ini akan menjadi sebuah penantian yang penuh dengan kecemasan. Jika nanti jawabmu sesuai dengan harapan saya maka sudah tentu saya akan sangat bahagia, mungkin akan jadi orang yang paling bahagia di dunia. Namun, jika jawabmu nanti ternyata tak sesuai dengan harapan saya maka sudah pasti saya akan kalah lagi dengan hati saya.

Ina,

Mencintaimu adalah berdoa

Saat hati selalu sejalan dengan mulut

Untuk satu pinta yang paling tulus

Akankah kita dapat bersua pada amin yang sama?

Semoga.

Baca juga: Puisi-puisi Rommy Sogen


Paskal Kedang, tinggal di Unit Efrata-Gere, Ledalero.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...