Ina, barangkali benar bahwa ketika
rindu menjelma sebuah doa maka ia bukan lagi soal jarak dan waktu. Ia lebih
kepada dua hati yang ingin menyatu. Dan saya berusaha untuk membungkus rindu
itu serapi mungkin dalam doa-doa saya. Kepada Tuhan saya titipkan
bungkus-bungkus rindu saya yang telah menjelma doa. Semoga saja bungkus-bungkus
rindu itu sampai kepadamu, dengan rasa dan jumlah yang masih sama ketika saya
mambungkusnya sedari awal. Saya yakin, Tuhan tak mungkin mengurangi rasa maupun
jumlahnya.
Ina, ketika merindumu adalah juga
doa maka biarkanlah saya terus dan tetap berdoa untukmu selagi saya masih kuat
merindumu. Saya percaya, merindu adalah cara terjujur untuk berdamai dengan
hati saat hati terlampau angkuh untuk sekedar mengungkap cinta. Sebab, hati
terkadang membiarkan luka datang menghampirinya.
Ina, saya telah pernah membiarkan
hati saya mendapatkan luka. Begitulah, saya terlampau angkuh untuk berdamai
dengan hati. Dan engkau pasti tahu seperti apa keadaan sebuah hati ketika ia
sedang terluka. Saya berusaha untuk menyembuhkan luka itu, dengan seluruh rindu
yang saya miliki untukmu.
Ina, untuk yang kesekian kalinya saya tak bisa mengelak. Saya yakin dengan sungguh bahwa hati saya sudah ada di genggamanmu, menjadi hak milik untuk kau rawat, atau mungkin juga kau hancurkan. Namun, saya tak perlu berpikir terlalu jauh. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana saya harus berusaha supaya posisi kita berimbang. Saya juga harus bisa menggenggam hatimu: utuh. Karena, entah kau sejauh langit atau sedekat langit-langit, bagi saya kau adalah bintang yang selalu saya puja. Selamanya.
Baca juga: Semacam deru air di tubuh batu-harus jatuh terus-menerus | Cerpen Bryan Lagaor
***
Saya
selalu mengalami situasi yang sama ketika harus berurusan dengan hati. Pada
setiap apa saja yang saya alami, selalu saja saya membuat hati saya terlibat.
Ini bukan kemauan saya. Hati saya memang terlalu kuat sampai-sampai saya selalu
kalah ketika harus berhadapan dengannya. Sering saya diminta untuk berdamai.
Namun begitulah, saya terlampau angkuh untuk berdamai dengan hati saya sendiri.
Benar
bahwa soal rasa lidah tak bisa berbohong. Rasa selalu ada karena orang punya
hati yang peka. Ketika hati peka dengan apa yang ada di sekitar di situlah rasa
selalu ada dan muncul, dalam bentuk apa saja. Rasa-rasa semacam inilah yang
selalu memaksa lidah untuk terus berbicara, mengungkapkan apa yang menjadi isi
dari sebuah hati. Situasi seperti ini kerap menjengkelkan saya. Kadang saya
harus menanggung malu ketika hati, rasa, dan lidah terlalu kuat untuk saya
kalahkan. Saya bahkan sampai pada level membenci hati saya sendiri. Alasannya
sederhana saja, hati saya tak bisa diajak bekerja sama. Sepertinya sekali waktu
nanti entah kapan, kami—saya dan hati saya—harus bertukar posisi. Saya menjadi
dia dan dia menjadi saya supaya dia juga tahu betapa tidak enaknya menjadi
pihak yang selalu kalah.
***
Pada kertas-kertas yang cukup lusuh
juga, saya membungkus banyak rindu. Rindu yang lahir karena hati saya terlalu
sering mempermainkan saya. Ketika ada kesempatan untuk bertemu, ingin sekali rasanya
saya membiarkan engkau membaca dan menemukan langsung apa saja yang ada di
dalam hati saya. Namun sayang, manusia tak akan pernah bisa membaca hati dan
isinya bukan? Saya pun tak punya cukup keberanian untuk menyampaikan kepadamu
secara langsung seluruh isi hati saya. Itulah sebabnya mengapa saya memilih
untuk menyampaikannya di dalam kertas-kertas lusuh ini.
Dan
di sinilah kita sekarang, duduk diam di beranda rumahmu sementara engkau sedang
membaca isi hati saya di dalam kertas-kertas itu. Saya menunggu sambil berusaha
berbicara dengan hati saya. Kali ini saya yang berusaha untuk mengajak hati
saya berdamai karena bagaimana pun juga ia telah membuat saya berani melangkah
sampai saat ini dan di sini.
“Perihal
rasa yang kau bawa dalam kertas-kertas ini, saya berterima kasih. Ternyata
engkau tak cukup berani seperti yang saya kira. Tapi tak apalah, sekarang
engkau sudah berani meski dengan kertas-kertas.
“Jangan
pernah takut mencintai. Adalah benar bahwa ketika kita sudah berani mencintai
berarti kita juga sudah menciptakan luka untuk diri sendiri. Risikonya selalu
seperti itu. Kalau pun tak berujung bahagia, pasti luka yang kita terima.
Dengan mencintai, kita sebenarnya sedang berusaha untuk menghadapi dua
kemungkinan tersebut. Namun, yakinlah bahwa tak ada yang lebih membahagiakan di
dunia selain mencintai, meskipun dengan cara diam-diam.
“Saya
sangat yakin bahwa engkau sedang menanti sebuah kepastian sebab saya terlalu
buram untukmu selama ini. Bukankah abu-abu akan menjadi pilihan terbaik ketika
hitam dan putih bahkan terlalu kabur untuk kita sendiri? Bertahanlah dengan apa
yang ada sekarang. Nanti pasti ada jawab yang saya beri untukmu.”
Baca juga: Puisi-Puisi | Evans Kaha | Di bawah Nisan Ini Puisiku Duduk Menangis
***
Ketika
rindu saya sudah sampai pada tahap akut dan tak bisa dibendung lagi, saya
semakin tak karuan. Manusia pada umummnya juga begitu bukan? Kadang dengan
sengaja membuat dirinya terluka. Dan ketika rindu sudah sangat menyiksa, saya
pun harus dengan terpaksa mendengarkan hati saya.
“Berjuang
mungkin akan membuatmu lelah. Namun tenang. Selama perjuangan itu benar-benar
tulus dan bertujuan untuk membahagiakan maka tak ada yang namanya sia-sia.
“Jangan
biarkan perjuanganmu selama ini hanya sampai pada tahap diam-diam. Tidak semua
orang punya kemampuan untuk membaca dan memahami situasi semacam itu.
Berjuanglah untuk bisa menyampaikan kepadanya dengan seluruh mampumu. Cukup
mulai dengan cara paling sederhana dan kecil tapi punya banyak makna.”
Kali
ini saya tak bisa membantah dan melawan. Benar yang disampaikan oleh hati saya.
Saya tak boleh terus bertahan dengan situasi seperti ini. Saya tidak boleh
memaksa dan menuntut orang lain untuk memahami keadaan saya dan mengerti apa
yang saya rasakan.
“Beranikanlah
dirimu.”
***
“Saya
sangat yakin bahwa engkau sedang menanti sebuah kepastian sebab saya terlalu
buram untukmu selama ini. Bukankah abu-abu akan menjadi pilihan terbaik ketika
hitam dan putih bahkan terlalu kabur untuk kita sendiri? Bertahanlah dengan apa
yang ada sekarang. Nanti pasti ada jawab yang saya beri untukmu.”
Kata-kata
terakhir yang keluar dari mulutmu itu saya bawa pulang. Ya, engkau menyuruh
saya untuk bertahan dengan janji bahwa akan ada jawab yang menyusul setelah
saya menanti. Ini akan menjadi sebuah penantian yang penuh dengan kecemasan.
Jika nanti jawabmu sesuai dengan harapan saya maka sudah tentu saya akan sangat
bahagia, mungkin akan jadi orang yang paling bahagia di dunia. Namun, jika
jawabmu nanti ternyata tak sesuai dengan harapan saya maka sudah pasti saya
akan kalah lagi dengan hati saya.
Ina,
Mencintaimu
adalah berdoa
Saat hati selalu sejalan dengan
mulut
Untuk satu pinta yang paling tulus
Akankah kita dapat bersua pada amin
yang sama?
Semoga.
Baca juga: Puisi-puisi Rommy Sogen
Paskal Kedang, tinggal di Unit Efrata-Gere, Ledalero.

Komentar
Posting Komentar