1. Pengantar
Seorang
guru yang mengajar karena panggilan jiwa serta memiliki misi untuk mengantarkan
anak didiknya kepada kehidupan yang lebih baik dalam seluruh aspek akan mampu
mengalirkan energi positif kepada setiap muridnya. Kurang lebih, sosok guru
yang seperti ini sudah digambarkan dengan sangat jelas dalam diri seorang Mr.
Keating, salah satu tokoh sentral dalam film Dead Poets Society.
Film ini menyuguhkan sebuah tontonan yang sangat menarik tentang dunia
pendidikan (di sekolah dan di keluarga), tentang peran seorang guru yang sangat
urgen dalam membentuk kepribadian seorang murid. Mengusung misi carpe diem,
Mr. Keating dengan sangat berani mengambil langkah untuk sedikit berbelok dari
seluruh kebiasaan dan tradisi yang sudah lama dan kuat mengakar di Akademi
Welton, sebuah sekolah khusus laki-laki yang sangat terkenal pada masa itu. Carpe
diem yang dibawa oleh Mr. Keating itu ternyata berhasil mengantar para
muridnya untuk menemukan jati diri mereka yang sesungguhnya, kendatipun tak
dapat disangkal bahwa perjalanan menghayati carpe diem itu kadang
harus berlainan arah dengan aturan akademi. Betapapun demikian, tidak bisa juga
ditolak bahwa pemberian diri yang utuh sebagai seorang guru oleh Mr. Keating
telah menempatkannya sebagai seorang yang sangat berarti untuk para murid, ia
punya tempat yang istimewa di hati para muridnya.
Baca juga: Moralitas Kant dalam Pendidikan Formal | Opini Raldi Sastra
2. Isi
Ringkas Film
Film Dead Poets Society berlatarkan sebuah sekolah di Amerika, yaitu Akademi
Welton. Memasuki tahun ajaran baru, sekolah itu menerima seorang guru baru
untuk menggantikan salah satu guru yang harus menginjak masa pensiun. Dia
adalah John Keating. John Keating hadir sebagai seorang guru yang sangat dekat
dengan murid-muridnya, punya metode mengajar yang lain sama sekali bahkan
dianggap berlawanan dengan aturan sekolah. Ia memperkenalkan kepada para
muridnya filosofi carpe diem: para murid dituntun untuk punya
keberanian bermimpi dan berjuang untuk mendapatkan mimpi itu. Perjalanan
memaknai dan menghidupi carpe diem itu menemukan jati dirinya
yang utuh di dalam kelompok yang diberi nama Dead Poets Society.
Dead Poets Society menjadi rumah sekaligus sekolah yang
kedua bagi tujuh orang remaja Akademi Welton (Neil Perry, Todd Anderson, Knox
Overstreet, Charlie Dalton, Richard Cameron, Gerrard Pitts, dan Steven Meeks)
untuk saling berbagi ilmu, saling memberi dukungan, dan saling memotivasi
supaya mampu menemukan diri mereka yang sesungguhnya.
Persoalan timbul ketika orangtua Neil Perry
mempermasalahkan mimpi Neil untuk menjadi seorang pemain drama/aktor.
Masalahnya adalah mimpi dan cita-cita Neil tidak sejalan dengan keinginan
orangtuanya. Karena frustasi, Neil terpaksa harus mengakhiri hidupnya dengan
cara yang sangat tragis. Persoalan lain yang timbul (sesudah kematian Neil)
adalah Dead Poets Society dianggap menjadi sebuah kelompok
yang sesat karena dianggap membawa pengaruh buruk. Yang mendapat imbas
selanjutnya adalah John Keating. Ia disalahkan karena dianggap telah
mengajarkan sesuatu yang salah untuk para murid. Film diakhiri dengan pemecatan
John Keating dari Akademi Welton.
3. Analisis
dan Review
Film Dead Poets Society menampilkan kehidupan dalam dunia pendidikan dengan segala
warna yang diperlihatkannya. Film ini mempertontonkan dengan begitu menarik sistem
pembelajaran yang ada dan diterapkan di Akademi Welton. Tidak ada jarak yang
terlalu jauh antara guru dengan murid sehingga seluruh proses pendidikan yang
terjadi di akademi itu berlangsung dengan sangat baik. Memang sangat perlu
bahwa seluruh proses belajar itu harus punya metode-metode khusus agar
rangkaian sasaran yang menjadi tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan
efektif dan efisien. Pendidik dalam hal ini harus mengetahui dan mempelajari
metode-metode pengajaran yang ada supaya selanjutnya mampu menyalurkan materi
kepada para murid dengan baik. Metode pembelajaran yang digunakan harus
memperhatikan respon balik dari para murid supaya guru tidak hanya terkesan
memberikan ceramah satu arah. Perlu ada persamaan rasa antara guru dengan murid
sebagaimana diperlihatkan oleh Mr. Keating dan para murid yang diajarnya. Kedua
pihak mestinya memaknai pertemuan di (ruang) kelas tidak hanya sebagai sebuah
pertemuan fisik, tetapi juga sebagai sebuah realitas yang menampilkan hubungan
saling membutuhkan, bahwa guru membutuhkan murid dan murid membutuhkan guru.
Dengan begitu, pertemuan yang terjadi di (ruang) kelas tidak menjadi sebuah
beban untuk masing-masing pihak. Kesimpulannya menjadi jelas bahwa Mr. Keating
(pada khususnya) dan Akademi Welton (pada umumnya) yang menjadi bagian sentral
dalam film ini telah menampilkan metode pembelajaran yang sangat efektif
sehingga para murid dan Akademi Welton berkembang menjadi orang-orang dan
sekolah yang berkualitas.
Baca juga: Toleransi dan Persatuan Bangsa | Fr. Vinsensius Laka, SVD
4. Pelajaran Hidup
Film Dead Poets Society memberikan banyak hal yang dapat diambil sebagai nilai
tambah dalam seluruh proses memberikan dan menerima pendidikan. Proses yang ada
itu sebagaimana terdapat di dalam film ini lebih mengarah kepada para murid,
guru, dan orangtua. Para murid diberikan bekal untuk secara lebih berani punya
mimpi dan cita-cita sebab dengan demikian akan ada dorongan yang kuat dari
dalam diri untuk menggapai mimpi dan cita-cita itu. Lingkungan persahabatan dan
persaudaraan yang digambarkan di dalam film ini menjadi dorongan positif untuk
tidak menciptakan atmosfer persaingan yang tidak sehat. Para guru diarahkan untuk membangun mekanisme
pembelajaran yang tidak hanya menyentuh aspek intelektual murid, tetapi juga
memberikan pendidikan moral. Dengan begitu, menjadi seorang guru adalah
penghayatan akan sebuah panggilan yang mestinya moralistik-idealistik. Orangtua
diberikan awasan untuk tidak boleh terlalu mengekang keinginan anak. Orangtua
diperingati untuk terbuka hatinya mendengarkan keinginan anak supaya anak tidak
terjebak dalam dunia yang tidak sesuai dengan minatnya. Pelajaran-pelajaran
inilah yang diberikan oleh film Dead
Poets Society dilihat dari sudut pandang murid, guru, dan orangtua.
5. Penutup
Pendidikan pada hakikatnya selalu melibatkan dua
pihak, yang satu sebagai guru dan yang lain sebagai murid. Guru dan murid di
sini tidak melulu soal dua sosok yang lekat dengan dunia pendidikan di sekolah,
tetapi juga dalam lingkungan mana saja. Artinya pendidikan tidak hanya soal
pelajaran di kelas. Konsep tentang pendidikan harusnya tidak terbatas pada
ruang kelas dan sekolah, tetapi harus menyangkut suatu lingkungan yang lebih
luas. Dengan demikian, setiap orang mendapatkan kemungkinan untuk menjadi guru
serentak menjadi murid.
Berkaca pada film Dead Poets Society, guru (juga orangtua) dan murid mestinya membangun
sebuah relasi yang akrab, tidak boleh ada jarak yang terlalu jauh supaya proses
pendidikan tidak berlangsung dengan cara yang kaku. Komunikasi yang dibangun
juga tidak boleh hanya menguntungkan satu pihak saja, tetapi mesti ada upaya
agar setiap komunikasi selalu bermuara pada sebuah kesadaran akan realitas
saling membutuhkan.
Om Bozhan terbaik eee...Jadi terinspirasi untuk banyak membaca dan menulis...Terimaksih untuk perjalanan memetik dan memaknai Carpe Diem..
BalasHapusterima kasih banyak kka @puingpuingpuisi
Hapusthanks banyak bro
BalasHapus"Carpe diem, quam minimum credula postero" yang berarti: "petiklah hari dan percayalah sedikit mungkin akan hari esok." Sekarang saya mengerti! Frater menyuruh Horatius untuk "mengetuk kamar saya" lebih keras tadi pagi. Om Paskal terbaik su oo...
BalasHapuskomentar Eki Waka memang selalu menarik untuk dibaca. Sengit skali e komennya. Thanks bro
HapusTulisan frater sangat menarik dibaca sama halnya dengan kepribadian frater yang selalu bahagia disegala posisi ,,😂🙏🙏
BalasHapusAma, hahahahaha. Trmksh banyak sdh baca dan komen ee. Ko tau cukup bnyak ttg asal-usul jadi mngerti saja. hahahahah
Hapus