Cinta, Kasih Sayang dan Tanggung Jawab | "Sebuah Peta Pemikiran Emmanuel Levinas dalam Cara Pandang yang Lain Sebagai yang Tak Terbatas | Opini | Roby Poco*
"Apakah aku seorang penjaga?" Pertanyaan ini menjadi refleksi individu sebagai makhluk yang bermasyarakat yang setiap
hari bertemu dengan orang lain dalam keberlainannya. Pertanyaan ini juga menggugah nurani dan
bentuk perasaan setiap pribadi untuk mengambil sikap yang tepat saat berhadapan
dengan orang lain. Dan sikap yang dimaksud
di sini adalah cinta, kasih sayang dan tanggung jawab dalam konsep Levinas yang
berbeda dengan pemahaman sehari-hari. Pemikiran
ini kemudian coba dibenturkan dengan keberagaman dan pluralitas masyarakat kita
di Indonesia pada umumnya.
Momen bertemu pandang atau bertemu dengan yang lain harus benar-benar menjadi momen etis menuju perjumpaan, yang mana landasan dasarnya adalah sikap cinta, kasih sayang dan tanggung jawab itu sendiri. Toh manusia dalam keberadaanya dan dalam segala penghayatanya serta sikap-sikapnya selalu didorong oleh sebuah impuls etis yaitu cinta, kasih sayang dan tanggung jawab terhadap sesama. Di sini penulis mencoba menjabarkan sebuah refleksi tentang konsep cinta, kasih sayang dan tanggung jawab seturut pandangan Levinas sehingga pada akhirnya setiap perbedaan dapat dilihat sebagai anugerah dan kekayaan bersama.
Melalui refleksi atas konsep cinta, kasih sayang dan tanggung jawab Levinas yang unik ini, penulis meletakkannya sebagai pondasi bagi relasi kehidupan manusia dalam memaknai arti sebuah cinta dan tanggung jawab yang sebenarnya, yang mana cinta dan tanggung jawab itu sering kali mengalami suatu benturan oleh karena alasan-alasan kemajemukan dan pluralitas.
Baca juga: Dunia dan Politik Otentik Hannah Arendt | Fr. Roby Poco, SVD
Levinas menggambarkan sebuah bentuk cinta dan tanggung jawab yang primodial. Tanggung jawab ini membebani kita sebagai manusia dalam berhadapan dengan “orang lain atau sesama” tapi itulah posisi inti dari pemahamanya tentang cinta dan tanggung jawab dengan sebuah kenyataan yang paling mendasar yaitu peristiwa-peristiwa yang terjadi setiap hari. Saya bertemu dengan seseorang, begitu orang itu menatap saya, saya mau tak mau harus memberikan rasa kasih serta berani bertanggung jawab atasnya. Justru hal ini merupakan suatu gambaran, atau bentuk cinta dan tanggung jawab dalam sebuah keterikatan total terhadap sesama. Ini merupakan data paling pertama dalam segala orientasi manusia pada umumnya.
Sangat tepat, jika tanggung jawab ala Levinas diimplikasikan ke dalam kehidupan kita karena juga intisari pemikiran Levinas sebetulnya sudah mendapat dasar yang kuat dalam falsafah tentang kehidupan dalam masyarakat itu sendiri.
Tanggung
jawab cinta dan kasih sayang dalam pandangan Emannuel Levinas
Akar dari penindasan,
pemerkosaan, pembunuhan terhadap
sesama adalah kegagalan dalam
melihat orang lain sebagai yang lain, kegagalan melihat wajah
yang lain. Kisah
Auschwitz, genosida
Rwanda, pembantaian Nanking, konflik
Timur Tengah, tragedi
Holomodor, brutalisasi Khmer Merah,
tragedi Trisakti, Rohingnya,
dll., memperlihatkan krisis kemanusiaan sepanjang abad. Semua diskriminasi
itu menegaskan hilangnya rasa tanggung jawab, cinta dan kasih sayang manusia
terhadap orang lain. Suatu
faktisitas umum menyatakan
bahwa manusia tidak
bisa lepas dari yang
lain. Manusia menjadi
manusia sejauh dia
mengakui bahwa dirinya
selalu ada dalam
relasi dengan yang
lain.
Dalam relasi itu,
manusia harus menerima
orang lain dengan
baik bukan justru menguasai hidupnya,
menindas, menganiaya ataupun
membunuh, melainkan harus memelihara kehidupannya. Hilangnya tanggung
jawab, rasa cinta dan kasih sayang mengakibatkan orang
sulit melihat dan memaknai
keunikan yang ada pada
setiap pribadi sebagai
sebuah kekayaan bersama.
Keunikan atau keberlainan itu pada hakikatnya perlu dirawat (dijaga). Merawat atau menjaga merupakan salah satu
bentuk rasa tanggung jawab.
Baca juga: Membangun Iman di Era Internet | Sebuah Tinjauan Reflektif | Oleh Vinsensius Laka* |
Hanya saja, individualisme sering menjadi momok
pengagungan diri yang berujung
pada peniadaan martabat
kehidupan. Membatasi yang lain
itu hanya pada sesama
suku, agama, atau
golongan tertentu saja adalah
akar dari segala
bentuk penindasan. Konflik-konflik yang telah mengakar sepanjang peradaban manusia
hingga hari ini, mengajak
setiap pribadi untuk
merenung kembali dirinya di hadapan Tuhan dan sesama. Konflik yang telah mengakar kuat ini menggugah
berbagai refleksi kritis dan praksis dari beragam disiplin ilmu, pakar dan
masyarakat.
Emmanuel Levinas, salah satu dari sekian banyak pakar yang turut
menyuarakan nilai kemanusiaan,
berusaha mengayuh makna
yang lain (l’autrui atau the other). Bagi Levinas, orang lain adalah pembuka horizon keberadaan kita,
bahkan pendobrak menuju
ketransendenan kita. Bagi dia orang
lain itu ada dan indah. Bahwasanya,
manusia pada hakikatnya terasing atau alien
satu sama lain.
Maka untuk menjembatani
itu pertemuan atau perjumpaan
menjadi suatu momen
etis untuk saling melihat nilai
intrinsik masing-masing dan
keputusan yang diambil setelah perjumpaan
tersebut. Perjumpaan yang dimaksud
adalah perjumpaan dengan yang
lain dalam konteks
pluralitas masyarakat
Indonesia.
Berbasis pada pemikiran Emmanuel Levinas tentang orang lain,
tanggung jawab, cinta dan kasih sayang telah dijabarkan sebagai
refleksi eksistensialisme setiap
pribadi untuk lebih menyadari bahwa
setiap orang berada
dalam lingkaran
interdependensi. Konsep Levinas yang
melihat orang lain sebagai momen etis
(tanggung jawab, cinta dan kasih sayang)
ternyata masih
jauh panggang dari api dengan
kehidupan sehari-hari masyarakat kita.
Dalam hal ini, mengaktualisasikan cinta, kasih sayang dan tanggung jawab
Levinas ke dalam konteks
perjumpaan di dalam masyarakat kita, masih cenderung sebagai
basa-basi retoris ketimbang
menjadi adiksi praksis. Karena di sana-sini terjadi gesekan dan
konflik, yang mana sering disebabkan oleh beragam
pandang lalu konsekuensi selanjutnya manusia melihat itu sebagai sebuah
masalah dari pada sebagai sebuah anugerah.
Maka, persoalan yang mau digarisbawahi di sini adalah, bagaimana kita mengerti atau memahami ide
dasar arti dari sebuah cinta, kasih sayang dan tanggung jawab terhadap yang
lain dan merealisasikan pemikiran itu untuk
membangun suatu hubungan manusiawi
yang setara dengan
menghormati yang lain berdasarkan keberlainannya dalam masyarakat. Lebih spesifik, apakah kehadiran
orang lain bermakna dan menyokong keberadaan diri kita sebagai pribadi yang
sama atau justru menjadi ancaman? Jika
kehadiran mereka di sekeliling kita menjadi anugerah untuk berbagi pengalaman maka
saya siap bertanggung jawab, saya siap untuk mencintai, dan saya juga siap
untuk mengasihi dia sepenuh hati.

Komentar
Posting Komentar