Pendahuluan
Dunia dan politik
masing-masing relatif memiliki dasar filosofis dalam pemaknaan dan prakteknya.
Pada politik, sudah banyak para filsuf dan pemikir politik merumuskan dalam
beragam macam pengertianya. Beragam macam pemaknaan yang dilekatkan pada
dirinya, menjadikan politik semakin dinamis dalam praktek dan tujuanya.
Beberapa filsuf
dan pemikir politik, seperti Max Weber misalnya, merumuskan politik sebagai
metode untuk menguasai dan mengontrol orang lain. Di sini politik menjadi
semacam keterampilan koersif yang tujuanya untuk merealisasikan apa yang
menjadi kemauan sang penguasa atau pengontrol.
Di aras yang sama,
Jean-Jancques merumuskan politik (kekuasaan) sebagai identifikasi total antara
rakyat dan negara. Peleburan total antara rakyat dan raja. Meski demikian,
kehendak rakyat lebih terbatas dari pada kehendak negara atau dunia yang punya
wewenang tidak terbatas. Akibatnya, negara menjadi suatu kekuatan yang besar
terhadap rakyat.
Sebagaimana Thomas
Hobbes mendasari konsep serupa yang mencoba mendefinisikan dunia itu dalam
sebuah hipotesis imajiner tentang Leviathan. Ia beranggapan bahwa setiap
manusia adalah serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Dalam konteks ini
politik digunakan pada sebuah negara untuk mengendalikan kecendrungan tiap-tiap
manusia. Kewenangan melakukan kekerasan dan pemaksaan, menjadi semacam
kewajaran bagi negara terhadap warganya.
Dalam konteks peta
pemikiran politik dan dunia yang dihadirkan para filsuf dan pemikir politik di
atas, masih sanggupkah manusia hadir sebagai yang ada diantara dunia dan
politik? Untuk memahami refleksi ini, Arendt akan menghantar kita pada sebuah
pemahaman yang idealis tentang konsepsi politik yang relevan dengan situasi
dunia dan politik sebagaimana yang dipaparkan oleh para filsuf dan pemikir
sebelumnya.
Di sini Hannah
Arendt menghadirkan suatu identitas baru dalam tubuh politiknya yaitu identitas
politik otentik. Dengan mendasarkan pemikiranya dari Aristoteles, Arendt
mengindikasikan bahwa politik harus mendasari tindakan tiap manusia atau
individu untuk meraih apa yang Aristoteles sebut sebagai kebahagiaan bersama (eudaimonia) bagi zoion politikon (K
Bertens, 1999:193). Baginya politik harus dipahami di luar kategori
penguasaan, pemaksaan dan kekerasan.
Bertolak belakang
dengan tindakan koersifnya tersebut Arendt justru menyebutnya sebagai antitesis
dari politik yang otentik. visi politiknya adalah deliberatif, yakni
membebaskan individu dan masyarakat dari segala bentuk belenggu penguasaan
dalam berbagai aspek, seperti politik itu sendiri, ekonomi, religiusitas dan
kultural.
Jika demikian
adanya dunia dan politik, apakah manusia masih pada posisi ketakutan karena
ketakberdayaan yang dibuat oleh para Leviathan’s.
Saya kira tidak. Jika manusia pada dirinya berprinsip sebagaimana tesis
dasar Arendt dalam memahami politik, yaitu mengejar kebahagiaan. Tentu saja
politik autentik yang didaraskan oleh Arendt, harus mendorong warganya untuk
mengekspresikan secara aktif, kreatif tanpa tekanan.
Politik harus
mendorong warganya untuk keluar dari domain individualitasnya, keluarga maupun
kelompok. Politik harus mendorong mereka untuk kemudian berpartisipasi dalam
perdebatan tentang persoalan di luar dirinya, berempati pada situasi orang
lain. Hematnya politik itu harus secara esensial apa yang dikerjakan secara
bersama-sama secara argumentatif-diskursif sekaligus partisipatoris dalam ruang
kebersamaan.
Dunia dan politik menuju aktualisasi diri
Dunia dan politik
pada dasarnya adalah sebuah tubuh (zoma) yang memiliki jiwa yang selalu
bereksis dan memiliki nilai. Bisa juga dikatakan, dunia dan politik itu sebagai
sebuah mahkluk yang memiliki nilai karena yang berperan di dalamnya ada zoion politikon. Dunia dan politik juga
memiliki tujuan yang sama yaitu menekankan kesatuan manusia dan mahkluk hidup
lainya.
Dunia dan politik
itu dibentuk dengan tujuan menjalankan fungsi sebagai penyedia kebutuhan dan
kesejateraan bagi seluruh warganya. Pertimbangan tentang dunia adalah bahwa
dunia sebagai urusan manusia (Yosef Keladu Koten, 2018:84). Apabila telos atau
tujuan dari sebuah dunia terpenuhi maka dunia dan politik itu berhasil
mengaktualisasikan dirinya sebagai yang kekal dan tak dapat mati. Dalam hal ini
aktualisasi diri sebagai tujuan akhir. Namun patut dipahami bahwa tahapan
menuju tingkat menjadi dunia yang betul-betul mengaktualisasikan dirinya dengan
menampilkan suatu kesempurnaan diri adalah prihal yang rumit.
Dunia harus berani
melupakan masa lalunya dan juga dunia harus menyembuhkan masa lalunya dan
kembali kepada tahap yang baru. Dalam hal ini jika masa lalu dilihat sebagai
sebuah hambatan yang melumpuhkan jati diri dari sebuah dunia. Karena toh
hambatan-hambatan itulah yang memungkinkan sebuah dunia lalu berhenti dan
menghantarnya pada sesuatu yang bersifat parsial. Jika yang terjadi adalah
demikian maka selanjutnya dunia dan politik itu gagal memberikan makna pada
esensi dasar dari dunia dan politik itu sendiri.
Selanjutnya, dimensi itu gagal diraih, maka dunia dan politik mengambil suatu sikap kratein (menguasai) dan eyrannos (penguasa tunggal) yang melahirkan suatu adikia baru (ketidakadilan). Sebagaimana tanggung jawab negara versi Hobbes yang menjadi antitesis dari pandangan Marx bahwa negara adalah alat yang dipakai oleh kelas yang lebih tinggi untuk mengisap kelas yang lebih rendah dalam masyarakat.
Hambatan yang diperoleh dalam pencarian akan makna
dari sebuah dunia dan politik akan menjadi wabah baru bagi zoion politikon
(makluk hidup yang tinggal di dalam polis).
Penutup
Sebagai suatu
kesimpulan akhir dari refleksi ini penulis mencoba menghantar kita pada suatu
solusi baru akan kehidupan ideal dari sebuah dunia dan politik otentik Hannah
Arendt.
Pertama,
agar dunia dan politik bisa mengaktualisasikan dirinya maka para pemimpin meski
sekaligus mampu melegitimasi suatu struktur kekuasaan tertentu dan menciptakan
suatu keyakinan umum akan kemampuan bangsa untuk memenuhi kebutuhan dasar dari
manusia yang ada di antara dunia dan politik.
Kedua,
sebagaimana Hannah Arendt mencoba menghadirkan suatu identitas baru dalam tubuh
poitiknya yaitu identitas politik otentik. Dengan mendasarkan pemikiranya dari
Aristoteles, Arendt mengindikasikan bahwa politik harus mendasari tindakan tiap
manusia atau individu untuk meraih apa yang Aristoteles sebut sebagai
kebahagiaan bersama (eudaimonia) bagi
zoion politikon.
Memandang
kebenaran merupakan aktivitas manusia yang tertinggi, dengan demikian tujuan
dunia dan politik menjadi pasti yaitu memungkinkan hidup dengan baik dan benar.
- Puisi-puisi | Bryan Lagaor | Tentang puisi yang menolak sang penyair
- Tunu | Defri Ngo
- Toleransi dan Persatuan Bangsa | Fr. Vinsensius Laka, SVD

Terbaik.
BalasHapus