Langsung ke konten utama

Dunia dan Politik Otentik Hannah Arendt | Fr. Roby Poco, SVD

 


                                    (Fr. Roby Poco, SVD)


Pendahuluan

 

Dunia dan politik masing-masing relatif memiliki dasar filosofis dalam pemaknaan dan prakteknya. Pada politik, sudah banyak para filsuf dan pemikir politik merumuskan dalam beragam macam pengertianya. Beragam macam pemaknaan yang dilekatkan pada dirinya, menjadikan politik semakin dinamis dalam praktek dan tujuanya.

 

Beberapa filsuf dan pemikir politik, seperti Max Weber misalnya, merumuskan politik sebagai metode untuk menguasai dan mengontrol orang lain. Di sini politik menjadi semacam keterampilan koersif yang tujuanya untuk merealisasikan apa yang menjadi kemauan sang penguasa atau pengontrol.

 

Di aras yang sama, Jean-Jancques merumuskan politik (kekuasaan) sebagai identifikasi total antara rakyat dan negara. Peleburan total antara rakyat dan raja. Meski demikian, kehendak rakyat lebih terbatas dari pada kehendak negara atau dunia yang punya wewenang tidak terbatas. Akibatnya, negara menjadi suatu kekuatan yang besar terhadap rakyat.

 

Sebagaimana Thomas Hobbes mendasari konsep serupa yang mencoba mendefinisikan dunia itu dalam sebuah hipotesis imajiner tentang Leviathan. Ia beranggapan bahwa setiap manusia adalah serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Dalam konteks ini politik digunakan pada sebuah negara untuk mengendalikan kecendrungan tiap-tiap manusia. Kewenangan melakukan kekerasan dan pemaksaan, menjadi semacam kewajaran bagi negara terhadap warganya.

 

Dalam konteks peta pemikiran politik dan dunia yang dihadirkan para filsuf dan pemikir politik di atas, masih sanggupkah manusia hadir sebagai yang ada diantara dunia dan politik? Untuk memahami refleksi ini, Arendt akan menghantar kita pada sebuah pemahaman yang idealis tentang konsepsi politik yang relevan dengan situasi dunia dan politik sebagaimana yang dipaparkan oleh para filsuf dan pemikir sebelumnya.

 

Di sini Hannah Arendt menghadirkan suatu identitas baru dalam tubuh politiknya yaitu identitas politik otentik. Dengan mendasarkan pemikiranya dari Aristoteles, Arendt mengindikasikan bahwa politik harus mendasari tindakan tiap manusia atau individu untuk meraih apa yang Aristoteles sebut sebagai kebahagiaan bersama (eudaimonia) bagi zoion politikon (K Bertens, 1999:193). Baginya politik harus dipahami di luar kategori penguasaan, pemaksaan dan kekerasan.

 

Bertolak belakang dengan tindakan koersifnya tersebut Arendt justru menyebutnya sebagai antitesis dari politik yang otentik. visi politiknya adalah deliberatif, yakni membebaskan individu dan masyarakat dari segala bentuk belenggu penguasaan dalam berbagai aspek, seperti politik itu sendiri, ekonomi, religiusitas dan kultural.

 

Jika demikian adanya dunia dan politik, apakah manusia masih pada posisi ketakutan karena ketakberdayaan yang dibuat oleh para Leviathan’s. Saya kira tidak. Jika manusia pada dirinya berprinsip sebagaimana tesis dasar Arendt dalam memahami politik, yaitu mengejar kebahagiaan. Tentu saja politik autentik yang didaraskan oleh Arendt, harus mendorong warganya untuk mengekspresikan secara aktif, kreatif tanpa tekanan.

 

Politik harus mendorong warganya untuk keluar dari domain individualitasnya, keluarga maupun kelompok. Politik harus mendorong mereka untuk kemudian berpartisipasi dalam perdebatan tentang persoalan di luar dirinya, berempati pada situasi orang lain. Hematnya politik itu harus secara esensial apa yang dikerjakan secara bersama-sama secara argumentatif-diskursif sekaligus partisipatoris dalam ruang kebersamaan.


Dunia dan politik menuju aktualisasi diri

 

Dunia dan politik pada dasarnya adalah sebuah tubuh (zoma) yang memiliki jiwa yang selalu bereksis dan memiliki nilai. Bisa juga dikatakan, dunia dan politik itu sebagai sebuah mahkluk yang memiliki nilai karena yang berperan di dalamnya ada zoion politikon. Dunia dan politik juga memiliki tujuan yang sama yaitu menekankan kesatuan manusia dan mahkluk hidup lainya.

 

Dunia dan politik itu dibentuk dengan tujuan menjalankan fungsi sebagai penyedia kebutuhan dan kesejateraan bagi seluruh warganya. Pertimbangan tentang dunia adalah bahwa dunia sebagai urusan manusia (Yosef Keladu Koten, 2018:84). Apabila telos atau tujuan dari sebuah dunia terpenuhi maka dunia dan politik itu berhasil mengaktualisasikan dirinya sebagai yang kekal dan tak dapat mati. Dalam hal ini aktualisasi diri sebagai tujuan akhir. Namun patut dipahami bahwa tahapan menuju tingkat menjadi dunia yang betul-betul mengaktualisasikan dirinya dengan menampilkan suatu kesempurnaan diri adalah prihal yang rumit.

 

Dunia harus berani melupakan masa lalunya dan juga dunia harus menyembuhkan masa lalunya dan kembali kepada tahap yang baru. Dalam hal ini jika masa lalu dilihat sebagai sebuah hambatan yang melumpuhkan jati diri dari sebuah dunia. Karena toh hambatan-hambatan itulah yang memungkinkan sebuah dunia lalu berhenti dan menghantarnya pada sesuatu yang bersifat parsial. Jika yang terjadi adalah demikian maka selanjutnya dunia dan politik itu gagal memberikan makna pada esensi dasar dari dunia dan politik itu sendiri.

 

Selanjutnya, dimensi itu gagal diraih, maka dunia dan politik mengambil suatu sikap kratein (menguasai) dan eyrannos (penguasa tunggal) yang melahirkan suatu adikia baru (ketidakadilan). Sebagaimana tanggung jawab negara versi Hobbes yang menjadi antitesis dari pandangan Marx bahwa negara adalah alat yang dipakai oleh kelas yang lebih tinggi untuk mengisap kelas yang lebih rendah dalam masyarakat. 


Hambatan yang diperoleh dalam pencarian akan makna dari sebuah dunia dan politik akan menjadi wabah baru bagi zoion politikon (makluk hidup yang tinggal di dalam polis).

 

Penutup

 

Sebagai suatu kesimpulan akhir dari refleksi ini penulis mencoba menghantar kita pada suatu solusi baru akan kehidupan ideal dari sebuah dunia dan politik otentik Hannah Arendt.

 

Pertama, agar dunia dan politik bisa mengaktualisasikan dirinya maka para pemimpin meski sekaligus mampu melegitimasi suatu struktur kekuasaan tertentu dan menciptakan suatu keyakinan umum akan kemampuan bangsa untuk memenuhi kebutuhan dasar dari manusia yang ada di antara dunia dan politik.

 

Kedua, sebagaimana Hannah Arendt mencoba menghadirkan suatu identitas baru dalam tubuh poitiknya yaitu identitas politik otentik. Dengan mendasarkan pemikiranya dari Aristoteles, Arendt mengindikasikan bahwa politik harus mendasari tindakan tiap manusia atau individu untuk meraih apa yang Aristoteles sebut sebagai kebahagiaan bersama (eudaimonia) bagi zoion politikon.

 

Memandang kebenaran merupakan aktivitas manusia yang tertinggi, dengan demikian tujuan dunia dan politik menjadi pasti yaitu memungkinkan hidup dengan baik dan benar.

 

 Baca Juga:

Puisi-puisi | Bryan Lagaor | Tentang puisi yang menolak sang penyair
Tunu | Defri Ngo
Toleransi dan Persatuan Bangsa | Fr. Vinsensius Laka, SVD

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...