Dewasa ini manusia telah memasuki suatu
era baru dunia yang ditandai dengan hadirnya realitas virtual di samping
realitas riil. Era baru itu adalah era internet. Era ini telah melahirkan
realitas virtual tersebut. “Internet tidak hanya membawa kita menonton dunia
yang ditampilkan tetapi juga memungkinkan kita masuk, menghuni, dan bertindak
di dalamnya” (Agus Alfons Duka, 2017: 19). Hemat penulis inilah dasar yang
melahirkan realitas virtual. Realitas internet (baca: realitas virtual) tidak
lagi sekedar halusinasi atau kopian dari realitas riil, tetapi ia adalah
realitas otonom yang telah dan tengah mengubah cara pandang manusia secara
masif.
Oleh karena itu,
internet dengan realitas virtualnya mesti disatukan dengan visi iman. Iman itu
adalah jiwa yaitu sumber motivasi dan visi bagi para pengguna internet (F. Budi
Hardiman, 2018: 67-68). Di sini, iman membantu mentransformasi cara pandang netizen terhadap realitas virtual
tersebut. Sehingga internet itu bukan digunakan oleh robot, melainkan oleh
manusia-manusia yang berperasaan. Lebih lanjut, iman membimbing
perasaan-perasaan manusia sehingga tidak jatuh dalam sentimentalitas
sempit.
Tantangan
Dalam Komunikasi Pastoral Era Digital: Memaklumkan
Inji di Jagat Tak Berhingga (2017) Agus Alfons Duka menyebut tiga ciri khas
era internet yaitu gaya hidup serempakan dan nonsekuensial (tidak berurutan),
gaya sedenter (menetap), dan gaya hidup instan-sekejapan. Di era internet,
informasi mengalir dengan cepat dan mudah berubah. Suatu isu akan mudah
digantikan dengan isu yang lainnya. Atau suatu trend akan cepat diganti dengan trend
yang lainnya. Untuk berkomunikasi atau memenuhi kebutuhan lainnya, orang
tinggal menggunakan gawainya. Kemajuan itu semakin memudahkan manusia.
Ada beberapa implikasi dari gaya hidup virtual atau sistem saraf internet ini terhadap warga internet. Pertama, realitas virtual ini menghilangkan pluralitas, sebaliknya menuntut homogenitas. Situasi ini tentu memprihatinkan, sebab dalam situasi tersebut suara-suara profetis cenderung terbenam dalam hegemoni trend yang menuntut kesamaan.
Kedua, realitas
virtual menekankan tampilan diri yang menarik. Sesuatu yang ditampilkan dalam
realitas virtual haruslah menarik perhatian orang. Tampilan yang biasa-biasa
atau ‘datar-datar’ saja akan tidak dihiraukan orang. Keadaan ini membangkitkan
ego manusia untuk menampilkan diri sesempurna mungkin. Ketidaksempurnaan,
cacat, keterbatasan tidak memiliki tempat di dalamnya. Ini juga kadang menjadi
paradoks, sebab yang sempurna dalam realitas virtual kebanyakan adalah hal-hal
yang ‘konyol’ dan di luar rasionalitas manusia.
Ketiga, realitas
virtual sesungguhnya melahirkan ‘kesadaran ganda’ dalam diri warga internet
(Agus Alfons Duka, 2017: 82). Yang dimaksudkan dengan kesadaran ganda adalah
situasi berada di antara dua relitas yaitu realitas riil dan realitas virtual.
Saat seseorang berselancar di internet, secara imaginatif kesadarannya terarah
pada realitas virtual itu. Namun, secara fisik kesadarannya terarah pada
realitas riil. Hal ini dapat terjadi karena pada saat yang bersamaan ada dua
realitas yang mempengaruhinya. Jika telah masuk dalam kesadaran ganda ini, akan
sulit baginya untuk merefleksikan berbagai pengalaman hidup yang dialami.
Konteks yang telah
disebutkan di atas dapat menghantar orang pada nihilisme dan alienasi atau
keterasingan dari dunia. Hannah Arendt, seorang filsuf kontemporer berdarah
Yahudi menyebut modernitas sebagai faktum yang melahirkan nihilisme dan alienasi
dari dunia. Nihilisme adalah suatu situasi manusia kehilangan kepercayaan akan
nilai-nilai kehidupan yang ultim (Yosef Keladu Koten, 2018: 29).
Kehidupan terasa
kering dan hampa. Oleh karena itu, yang perlu dilakukan adalah mencari
kenikmatan dunia semata. Daya reflektif dikesampingkan. Orang akhirnya
kehilangan daya kritis terhadap berbagai preferensi dalam realitas virtual.
Manusia yang berada dalam situasi nihilisme dapat menjadi pelaku, tetapi
terutama korban. Realitas virtual di satu sisi banyak membantu manusia, tetapi
di sisi lain mengkonstruksi berdirinya nihilisme dalam diri individu-individu.
Individu-individu yang sudah terperangkap dalam konstruksi ini akan mengarah
pada perilaku dan cara pikir nihilistik serta mengalami kesulitan untuk keluar
dari konstelasi itu.
Sementara itu,
alienasi dari dunia berarti manusia kehilangan kepercayaan (trust) terhadap dunia bersama (Yosef
Keladu Koten, 2018: 37). Manusia menjadi asing dengan dunia dan mencari
sandaran yang berada di luar dunia atau yang berada dalam diri sendiri. Manusia
akhirnya jatuh ke dalam dua ekstrem yaitu individualisme dan idealisme. Kedua
ekstrem ini menegasi pluralitas. Ruang untuk berdialog sangat terbatas.
Masalah-masalah yang ada dalam dunia dilihat semata sebagai hal yang buruk.
Yang muncul adalah usaha pribadi untuk mempertahankan hidup semata dengan
menghalalkan segala cara.
Beriman
di Era Internet
Iman sesungguhnya
bukanlah ‘barang’ asing yang jatuh dari langit yang memiliki makna tentatif.
Namun, iman sesungguhnya lahir dari kesadaran diri manusia. Iman merupakan
suatu kenyataan manusiawi dan religius (Georg Kirchberger, 2007: 63). Di sini
penulis memakai definisi iman dalam perspektif Gereja Katolik. Menurut Konsili
Vatikan II khususnya Dei Verbum artikel
5 dan 6, iman merupakan sikap pribadi manusia yang tinggal dekat pada Tuhan yang ingin
menyertainya (Georg Kirchberger, 2007: 61). Di sini Allah dilihat sebagai
pribadi yang mau berkomunikasi dengan manusia. Iman manusia dimengerti dalam
konsep dialog. Allah yang mewahyukan diri bagi manusia membutuhkan tanggapan
bebas dari manusia.
Konsep iman yang
seperti ini menuntut manusia untuk menggunakan akal budinya dan kehendak
baiknya dalam berdialog dengan Allah. Allah itu hadir dalam yang lain. Emmanuel
Levinas seorang filuf kontemporer Perancis melihat dunia itu sebagai enigma (jejak) Allah. Baginya Allah itu
hanya bisa ditemukan dalam jejak-jejak. Jejak-jejak itu ada dalam realitas yang
oleh dia dinamai ‘wajah’. Oleh karena itu, beriman berarti mau berialog dengan
realitas. Realitas selalu mengganggu kita untuk bertindak terhadapnya (baca:
bertanggung jawab).
Era internet
dengan realitas virtualnya menghadirkan begitu banyak realitas. Realitas itu
adalah ladang hidup umat manusia. Realitas itu adalah sapaan. Ibarat seorang
teman yang sedang dan selalu menyapa. Realitas itu akan tetap tinggal realitas
tanpa daya transformasi jika tidak ditanggapi. Kita perlu meluangkan waktu
untuk menanggapi realitas itu. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan dalam
menanggapi realitas itu.
Pertama, meluangkan
waktu untuk merefleksikan setiap kejadian yang ada dalam pengalaman hidup.
Realitas virtual menyajikan aliran informasi yang cepat. Trend-trend yang muncul mengkonstelasi netizen dalam homogenitas masa (dapat mengarah pada masa
mengambang). Oleh karena itu, merefleksikan setiap peristiwa merupakan aktus
memaknai hidup dan memilah informasi yang baik demi perkembangan kepribadian.
Kedua, terjun langsung dalam sapaan itu. Sebagai contoh ketika terjadi bencana
alam di Palu dan Donggala, banyak kalangan yang dengan segera memberikan
bantuan, baik material maupun dukungan emosional berupa doa.
Inilah makna iman
yang perlu dihidupi di era internet ini. Beriman di era internet mambantu warga
dunia untuk mengatasi nihilisme dan alienasi dari dunia sekaligus membantu
menemukan makna hidup. Beriman di era internet menyadarkan manusia bahwa
pengguna internet yang bijaksana tidak sekedar mengklik like dan subscribe,
meninggalkan comment, dan menyalakan lonceng notifikasi, tetapi menggugah
manusia untuk lebih jauh menanggapi realitas yang dihadirkan dalam ruang
imajinatif. Sama seperti teori yang harus menjadi praksis, realitas imaginer
harus juga bersentuhan langsung dengan dunia kehidupan sehari-hari. Sebab iman
selalu merupakan tanggapan, jawaban, dan bukannya ilusif.

Komentar
Posting Komentar