Langsung ke konten utama

Membangun Iman di Era Internet | Sebuah Tinjauan Reflektif | Oleh Vinsensius Laka* |

 

            Dewasa ini manusia telah memasuki suatu era baru dunia yang ditandai dengan hadirnya realitas virtual di samping realitas riil. Era baru itu adalah era internet. Era ini telah melahirkan realitas virtual tersebut. “Internet tidak hanya membawa kita menonton dunia yang ditampilkan tetapi juga memungkinkan kita masuk, menghuni, dan bertindak di dalamnya” (Agus Alfons Duka, 2017: 19). Hemat penulis inilah dasar yang melahirkan realitas virtual. Realitas internet (baca: realitas virtual) tidak lagi sekedar halusinasi atau kopian dari realitas riil, tetapi ia adalah realitas otonom yang telah dan tengah mengubah cara pandang manusia secara masif.

 

Oleh karena itu, internet dengan realitas virtualnya mesti disatukan dengan visi iman. Iman itu adalah jiwa yaitu sumber motivasi dan visi bagi para pengguna internet (F. Budi Hardiman, 2018: 67-68). Di sini, iman membantu mentransformasi cara pandang netizen terhadap realitas virtual tersebut. Sehingga internet itu bukan digunakan oleh robot, melainkan oleh manusia-manusia yang berperasaan. Lebih lanjut, iman membimbing perasaan-perasaan manusia sehingga tidak jatuh dalam sentimentalitas sempit.  


Baca juga: Analisis Kompetensi Interkultural Yesus Dalam Injil Markus 7:24-30 dan Relevansinya Bagi Dialog Toleransi | Telaah Biblis | Aris Kapu 

Tantangan

Dalam Komunikasi Pastoral Era Digital: Memaklumkan Inji di Jagat Tak Berhingga (2017) Agus Alfons Duka menyebut tiga ciri khas era internet yaitu gaya hidup serempakan dan nonsekuensial (tidak berurutan), gaya sedenter (menetap), dan gaya hidup instan-sekejapan. Di era internet, informasi mengalir dengan cepat dan mudah berubah. Suatu isu akan mudah digantikan dengan isu yang lainnya. Atau suatu trend akan cepat diganti dengan trend yang lainnya. Untuk berkomunikasi atau memenuhi kebutuhan lainnya, orang tinggal menggunakan gawainya. Kemajuan itu semakin memudahkan manusia.    

 

Ada beberapa implikasi dari gaya hidup virtual atau sistem saraf internet ini terhadap warga internet. Pertama, realitas virtual ini menghilangkan pluralitas, sebaliknya menuntut homogenitas. Situasi ini tentu memprihatinkan, sebab dalam situasi tersebut suara-suara profetis cenderung terbenam dalam hegemoni trend yang menuntut kesamaan.

 

Kedua, realitas virtual menekankan tampilan diri yang menarik. Sesuatu yang ditampilkan dalam realitas virtual haruslah menarik perhatian orang. Tampilan yang biasa-biasa atau ‘datar-datar’ saja akan tidak dihiraukan orang. Keadaan ini membangkitkan ego manusia untuk menampilkan diri sesempurna mungkin. Ketidaksempurnaan, cacat, keterbatasan tidak memiliki tempat di dalamnya. Ini juga kadang menjadi paradoks, sebab yang sempurna dalam realitas virtual kebanyakan adalah hal-hal yang ‘konyol’ dan di luar rasionalitas manusia.

 

Ketiga, realitas virtual sesungguhnya melahirkan ‘kesadaran ganda’ dalam diri warga internet (Agus Alfons Duka, 2017: 82). Yang dimaksudkan dengan kesadaran ganda adalah situasi berada di antara dua relitas yaitu realitas riil dan realitas virtual. Saat seseorang berselancar di internet, secara imaginatif kesadarannya terarah pada realitas virtual itu. Namun, secara fisik kesadarannya terarah pada realitas riil. Hal ini dapat terjadi karena pada saat yang bersamaan ada dua realitas yang mempengaruhinya. Jika telah masuk dalam kesadaran ganda ini, akan sulit baginya untuk merefleksikan berbagai pengalaman hidup yang dialami.

 

Konteks yang telah disebutkan di atas dapat menghantar orang pada nihilisme dan alienasi atau keterasingan dari dunia. Hannah Arendt, seorang filsuf kontemporer berdarah Yahudi menyebut modernitas sebagai faktum yang melahirkan nihilisme dan alienasi dari dunia. Nihilisme adalah suatu situasi manusia kehilangan kepercayaan akan nilai-nilai kehidupan yang ultim (Yosef Keladu Koten, 2018: 29).

 

Kehidupan terasa kering dan hampa. Oleh karena itu, yang perlu dilakukan adalah mencari kenikmatan dunia semata. Daya reflektif dikesampingkan. Orang akhirnya kehilangan daya kritis terhadap berbagai preferensi dalam realitas virtual. Manusia yang berada dalam situasi nihilisme dapat menjadi pelaku, tetapi terutama korban. Realitas virtual di satu sisi banyak membantu manusia, tetapi di sisi lain mengkonstruksi berdirinya nihilisme dalam diri individu-individu. Individu-individu yang sudah terperangkap dalam konstruksi ini akan mengarah pada perilaku dan cara pikir nihilistik serta mengalami kesulitan untuk keluar dari konstelasi itu.

 

Sementara itu, alienasi dari dunia berarti manusia kehilangan kepercayaan (trust) terhadap dunia bersama (Yosef Keladu Koten, 2018: 37). Manusia menjadi asing dengan dunia dan mencari sandaran yang berada di luar dunia atau yang berada dalam diri sendiri. Manusia akhirnya jatuh ke dalam dua ekstrem yaitu individualisme dan idealisme. Kedua ekstrem ini menegasi pluralitas. Ruang untuk berdialog sangat terbatas. Masalah-masalah yang ada dalam dunia dilihat semata sebagai hal yang buruk. Yang muncul adalah usaha pribadi untuk mempertahankan hidup semata dengan menghalalkan segala cara.


Baca juga: Krisis Kebudayaan Dewasa Ini dan Jalan Keluarnya | Fr. Vinsensius Laka, SVD 

Beriman di Era Internet

Iman sesungguhnya bukanlah ‘barang’ asing yang jatuh dari langit yang memiliki makna tentatif. Namun, iman sesungguhnya lahir dari kesadaran diri manusia. Iman merupakan suatu kenyataan manusiawi dan religius (Georg Kirchberger, 2007: 63). Di sini penulis memakai definisi iman dalam perspektif Gereja Katolik. Menurut Konsili Vatikan II khususnya Dei Verbum artikel 5 dan 6, iman merupakan sikap pribadi manusia yang  tinggal dekat pada Tuhan yang ingin menyertainya (Georg Kirchberger, 2007: 61). Di sini Allah dilihat sebagai pribadi yang mau berkomunikasi dengan manusia. Iman manusia dimengerti dalam konsep dialog. Allah yang mewahyukan diri bagi manusia membutuhkan tanggapan bebas dari manusia.

 

Konsep iman yang seperti ini menuntut manusia untuk menggunakan akal budinya dan kehendak baiknya dalam berdialog dengan Allah. Allah itu hadir dalam yang lain. Emmanuel Levinas seorang filuf kontemporer Perancis melihat dunia itu sebagai enigma (jejak) Allah. Baginya Allah itu hanya bisa ditemukan dalam jejak-jejak. Jejak-jejak itu ada dalam realitas yang oleh dia dinamai ‘wajah’. Oleh karena itu, beriman berarti mau berialog dengan realitas. Realitas selalu mengganggu kita untuk bertindak terhadapnya (baca: bertanggung jawab).

 

Era internet dengan realitas virtualnya menghadirkan begitu banyak realitas. Realitas itu adalah ladang hidup umat manusia. Realitas itu adalah sapaan. Ibarat seorang teman yang sedang dan selalu menyapa. Realitas itu akan tetap tinggal realitas tanpa daya transformasi jika tidak ditanggapi. Kita perlu meluangkan waktu untuk menanggapi realitas itu. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan dalam menanggapi realitas itu.

 

Pertama, meluangkan waktu untuk merefleksikan setiap kejadian yang ada dalam pengalaman hidup. Realitas virtual menyajikan aliran informasi yang cepat. Trend-trend yang muncul mengkonstelasi netizen dalam homogenitas masa (dapat mengarah pada masa mengambang). Oleh karena itu, merefleksikan setiap peristiwa merupakan aktus memaknai hidup dan memilah informasi yang baik demi perkembangan kepribadian. Kedua, terjun langsung dalam sapaan itu. Sebagai contoh ketika terjadi bencana alam di Palu dan Donggala, banyak kalangan yang dengan segera memberikan bantuan, baik material maupun dukungan emosional berupa doa.

 

Inilah makna iman yang perlu dihidupi di era internet ini. Beriman di era internet mambantu warga dunia untuk mengatasi nihilisme dan alienasi dari dunia sekaligus membantu menemukan makna hidup. Beriman di era internet menyadarkan manusia bahwa pengguna internet yang bijaksana tidak sekedar mengklik like dan subscribe, meninggalkan comment, dan menyalakan lonceng notifikasi, tetapi menggugah manusia untuk lebih jauh menanggapi realitas yang dihadirkan dalam ruang imajinatif. Sama seperti teori yang harus menjadi praksis, realitas imaginer harus juga bersentuhan langsung dengan dunia kehidupan sehari-hari. Sebab iman selalu merupakan tanggapan, jawaban, dan bukannya ilusif.


Baca juga: Covid-19, Krisis Agama dan Urgensi Sains (Mempertimbangkan Eksistensi Agama dan Sains di Tengah Pandemi Covid-19) | Opini | Oleh Defry Ngo*


      *Vinsesnsius Laka, tinggal di Unit Efrata-Gere


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...