Langsung ke konten utama

Krisis Kebudayaan Dewasa Ini dan Jalan Keluarnya | Fr. Vinsensius Laka, SVD

 

                                 Fr. Vinsensius Laka, SVD



Pendahuluan

 

Akhir-akhir  ini ada geliat dalam usaha melestarikan dan menampilkan unsur-unsur khas kebudayaan daerah atau lokal. Dalam konteks Indonesia, geliat itu dapat kita saksikan dalam perkembangan dunia permusikan tanah air. Sekarang ini, produksi musik Indonesia Timur kian digandrungi oleh masyarakat Indonesia. Musisi-musisi lokal seperti Near, Dian Sorowea, Kaptenphurek, Mr. Dheval (almarhum), Romi Keo dan masih banyak lagi menyanyikan lagu-lagu yang khas Indonesia Timur. Syair lagu yang mereka nyanyikan mengandung perpaduan bahasa Indonesia yang berdialek ketimuran dan bahasa daerah yang khas dari masing-masing wilayah di Indonesia Timur, khususnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

 

Usaha para musisi itu berbuah manis, selain memperkenalkan kebudayaan Timur, mereka juga memperoleh berbagai apresiasi dan penghargaan. Adapun Penghargaan tertinggi yang diperoleh yaitu oleh Anugerah Musik Indonesia (AMI) Award 2019. Pada penyelenggaraan AMI ke-22 itu terdapat empat musisi asal NTT yang memperoleh penghargaan tersebut. Keempat musisi itu adalah Andmesh Kamaleng musisi asal Alor, Faisal Resi musisi asal Ende, Near dan Dian Sorowea musisi asal Maumere. Yang menarik, untuk nominasi Karya Produksi Lagu Berbahasa Daerah Terbaik disabet oleh musisi asal Maumere, Near dan Dian Sorowea  dengan judul lagu “Karna Su Sayang”.

 

Pencapaian ini tentu menjadi kebanggaan masyarakat NTT, sebab pada tahun-tahun terakhir ini banyak karya anak  NTT yang berhasil menembus kancah nasional, terkusus yang bertemakan budaya.

 

Selain dalam dunia permusikan, dalam dunia pariwisata juga wilayah NTT secara khusus mulai secara luas memperkenalkan wisata-wisata budaya beserta segala unsur kebudayaan yang ada seperti rumah adat, kain tenun, busana adat, dan lain-lain. Pada tahun 2017, mewakili Indonesia dalam ajang Festival Wonderful Indonesia di London, Bupati Sumba Barat, Drs. Agustinus Niga Dapawole memamerkan rumah adat Sumba berupa miniaturnya (Pos-Kupang.com, 8/11/2017).

 

Ini dapat dikatakan sebagai kamajuan dalam bidang kebudayaan. Namun, meminjam istilah new normal yang sekarang digunakan oleh pemerintah Indonesia dalam mengkonstruksi situasi krisis akibat pandemi COVID-19 dengan situasi normal baru, kemajuan kebudayaan itu bisa saja menyimpan suatu krisis dalam jargon kemajuan kebudayaan.

 

Kemajuan kebudayaan di sini oleh penulis diparalelkan dengan istilah new normal. Berdasarkan akar katanya, normal baru ini terdiri atas dua kata yaitu normal dan baru. Normal dalam KBBI berarti menurut aturan atau pola yang umum; sesuai dan tidak menyimpang dari suatu norma atau kaidah; sesuai dengan keadaan yang  biasa; tanpa cacat; tidak ada kelainan; bebas dari gangguan jiwa. Mengabaikan kata ‘baru’, normal dengan demikian menandakan suatu keadaan yang bebas dari krisis atau suatu proses yang memang seharusnya demikian. Namun, istilah new normal yang dipakai sekarang mengacu pada suatu krisis yaitu pandemi COVID-19. Maka, new normal dengan demikian dapat ditafsirkan secara baru.

 

Pertama, new normal berarti suatu situasi normal dalam arti orang tidak menyadari sama sekali krisis yang terjadi atau new normal itu telah mengkonstruksi kesadaran manusia sebagai kesadaran yang normal tanpa krisis. Kedua, new normal berarti suatu situasi krisis yang dianggap normal yang membuat orang tidak berusaha mempersoalkannya.

 

Perkembangan kebudayaan dewasa ini boleh jadi berada dalam situasi new normal. Di satu sisi, orang menganggap perkembangan kebudayaan itu sebagai proses yang normal di mana satu kebudayaan muncul lalu digantikan dengan kebudayaan yang lain. Namun, orang tidak menyadari bahwa ada krisis mendasar yang bergerak dalam berbagai hegemoni kebudayaan tersebut. Di sisi lain, boleh jadi orang menyadari adanya krisis-krisis dalam perkembangan kebudayaan, tetapi orang membiarkannya dan menganggapnya sebagai sesuatu yang normal.   

 

Dalam situasi sekarang ini, kebudayaan tidak bisa menutup mata terhadap berbagai krisis yang ditimbulkannya. Kebudayaan lokal sebagai kebudayaan ‘kita’, mesti melihat krisis-krisis yang ada dalam arus kebudayaan yang tengah dibawah oleh arus globalisasi, maupun krisis yang ada dalam kebudayaan lokal itu sendiri. Oleh karena itu, dalam tulisan ini penulis coba mengkritisi geliat kemajuan kebudayaan lokal itu dalam pertautan dengan arus globalisasi dewasa ini. Dengan ini, penulis berusaha menunjukkan bahwa ada krisis yang terjadi dalam pertautan kebudayaan itu. Krisis itu menjadi krisis kebudayaan dewasa ini yang perlu dicari jalan keluarnya.

 

Penelusuran itu dilakukan secara teoretis dengan menelusuri pemikiran kritis-emansipatoris Jurgen Habermas yang tidak melihat perkembangan kebudayaan dewasa ini sebagai suatu situasi new normal. Melainkan dengan daya kritisnya, ia berusaha menelusuri akar-akar modernitas yang melahirkan totalitarianisme dan fasisme yang terjadi hingga sekarang ini dalam bentuk rasionalitas instrumental atau rasionalitas teknologis.

 

Dengan ini Habermas menunjukkan bahwa krisis-krisis kebudayaan dewasa ini sesungguhnya terjadi karena pereduksian dalam unsur-unsur penggerak kebudayaan itu sendiri. Jika manusia dewasa ini menutup mata terhadap pereduksian tersebut, maka perkembangan kebudayan senantiasa berada dalam situasi patologis. Selain mendiagnosis patologis dalam perkembangan kebudayaan dewasa ini, Habermas juga memberi wejangan berupa refleksi yang emansipatoris. Menurutnya, hanya dengan memberi porsi yang seimbang terhadap rasionalitas komunikatif, maka patologis-patologis kebudayaan dewasa ini dapat diatasi.  

 

Dengan demikian, penulis memilih judul untuk tulisan ini, Krisis Kebudayaan Dewasa Ini dan Jalan Keluarnya: Telaah Kritis Atas Pemikiran Jurgen Habermas dalam Hubungan Dengan Eksistensi  Kebudayaan Lokal di Indonesia yang kiranya dapat menggambarkan maksud penulis di atas.

 

Modernitas dan Masalahnya  

 

Hemat penulis, pencapaian-pencapaian yang didapat kebudayaan lokal dalam pendahuluan di atas, tidak terlepas dari suatu arus global yang tengah mengalir ke berbagai pelosok dunia dengan nama globalisasi. Globalisasi ini merupakan produk dari suatu era yang disebut modernitas yang berkembang di Barat (Eropa dan sekitarnya) sejak sekitar akhir abad ke-14. Didahului dengan humanisme dan renesans (pembaruan), terjadi perubahan paradigma dalam kehidupan manusia khususnya manusia Barat. Paradigma yang kental pada abad pertengahan yaitu teosentris (pandangan dan pengagungan yang terpusat pada Allah, pada yang transenden) perlahan beralih kepada manusia itu sendiri yaitu antroposentris (pandangan yang terpusat pada manusia dan pengagungan akan martabat manusia).  

 

Dengan demikian rasionalisme dan subjektivisme yang berakar dalam dua filsuf besar Yunan klasik, Plato dan Aristoteles dihidupkan kembali secara meyakinkan. Rene Descartes yang sering disebut sebagai bapak filsafat modern, pada abad ke-15 mengukuhkan apa yang kemudian akan menjadi semangat pencerahan melalui adagiumnya cogito, ergo sum (aku berpikir, jadi aku ada). Semangat ini mencapai puncaknya pada abad-18 atau abad Pencerahan yang memiliki kepercayaan total pada cahaya akal budi dengan motonya sapere aude! (beranilah berpikir!). Dengan semboyan pencerahan ‘Sapere Aude!’ dimaksudkan bahwa setiap individu hendaknya berani berpikir sendiri tanpa bimbingan orang lain, baik bimbingan dari pemegang otoritas maupun dari tradisi (Fransisco Budi Hardiman, 1990:61).

 

Dengan semangat pencerahan ini, ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami perkembangan yang luar biasa. Ilmu pengetahuan terbagi dalam dua aliran besar yaitu rasionalisme dan empirisme. Pada rasionalisme, akal budi sangat diagungkan dan mengabaikan pengalaman. Sementara itu pada empirisme, pengalaman menjadi satu-satunya sumber pengetahuan. Kendatipun berbeda, dua aliran itu sesungguhnya bersumber pada rasionalitas yang sama yaitu rasio yang berpusat pada subjek atau filsafat kesadaran.

 

Dengan demikian, meskipun pangkal perolehan pengetahuan keduanya berbeda, keduanya sama-sama berkeyakinan bahwa suatu teori murni mungkin diperoleh dengan jalan membersihkan pengetahuan dari dorongan-dorongan dan kepentingan-kepentingan manusiawi (Fransisco Budi Harddiman, 1990:23).

 

Rasio yang berpusat pada subjek ini menjadikan segala sesuatu sebagai objek penelitiannya. Di sini rasio berpretensi untuk menguasai dan menjadikan yang lain sebagai objek. Dengan demikian teori murni yang diciptakan dapat digunakan secara teknis untuk berbagai kepentingan manusia. Teori kemudian menjadi suatu instrumen untuk memuaskan kepentingan manusia. Dengan ini, modernitas kembali menjadi suatu mitos baru yang membelenggu manusia. Dengan teknologi, kehancuran bumi dan kematian spesies tidak dapat dihindarkan dalam dua perang dunia, perang dunia I dan II. Maka, modernitas adalah suatu problem.

 

Globalisasi dan Modernitas

 

Dalam bukunya Teologi Terlibat: Politik dan Budaya dalam Terang Teologi, Paulus Budi Kleden, SVD mendefenisikan globalisasi sebagai proses terlepasnya sesuatu dari konteks tradisionalnya dan kehadirannya secara serentak di berbagai wilayah dunia (Paulus Budi Kleden, 2012:45). Globalisasi ini ditopang oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dalam era modernitas. Bahkan globalisasi itu sendiri ditopang oleh semangat modernitas. Hal-hal yang membuat globalisasi itu dapat berjalan, dalam dirinya mengalir darah modernitas.

 

 

Maka, sebagaimana definisi globalisasi di atas, kehadiran kebudayaan yang dikenal dengan modernitas dimulai dari Barat sebagai konteks dimana modernitas itu lahir dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah. Dewasa ini, memang penyebarannya berlangsung dua arah sebagaimana yang ditulis Paulus Budi Kleden, SVD:

 

Dia bukanlah sebuah proses satu arah, penyebarluasan satu ideologi atau satu gaya hidup dari utara ke selatan. Globalisasi terjadi juga sebaliknya! Globalisasi pun menjadi kenyataan di negara-negara barat/utara yang mesti mengalami kehidupan berdampingan secara dekat dengan orang-orang yang berbeda darinya ( Paulus Budi Kleden, 2012:45-46).

 

Namun, pengasuh globalisasi itu tidak pernah akan bisa dilupakan.

Di Eropa dengan modernitas, pada abad-18 terjadi revolusi industri di Inggris di mana mesin-mesin sudah mulai menggantikan tenaga manusia. Dengan munculnya industri-industri besar, semangat borjuasi digantikan dengan semangat kapitalisme atau kepemilikan modal. Maka, pada zaman Karl Marx (1818-1883) ia mengeritik kerja(industrialisasi) sebagai aktivitas dasar manusia yang mengalienasi dan menindas manusia. Namun sebagaimana kritik Habermas atas Marx, Marx menemui kebuntuan tatakala menggagaskan kosepnya tentang materialisme historis yang akan menuntun manusia kepada sosialisme yang paripurna.

 

Pada abad-21 ini, Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya sedang mengembangkan industrialisasi yang berbasis teknologi termutakhir. Dalam hal ini, kaum kapitalis mulai bermunculan di pelosok negeri. Di daerah-daerah yang kental budayanya dimana tanah-tanah dimiliki oleh suku-suku, kini diperebutkan untuk kemudian dijadikan hak milik, lalu di atasnya dibangun industri. Atau jika tidak dijadikan industri, tanah itu dijual kepada orang-orang yang sudah terlebih dahulu menjadi kapitalis, lalu di atas lahan itu dibangun tembok keliling dan didirikan industri. Sebagaimana yang diulas Budi Hardiman, politik Indonesia dewasa ini telah terjerumus dalam preferensi kapitalisme (Vinsensius Laka, 2018:74).


Preferensi kapitalisme mementingkan kewirausahaan, kebebasan konsumsi, kompetisi bebas, mengakui hak milik privat, dan peran pemerintah sangat dibatasi agar tidak mengintervensi kebebasan pasar. Preferensi ini baik bagi pertumbuhan ekonomi, tetapi sekaligus menciptakan marginalisasi karena yang kaya akan berusaha memperkaya dirinya sedangkan yang miskin akan semakin miskin (Vinsensius Laka, 2018:74-75).

 

 

Trend ini tidak hanya berlangsung dalam diri kaum kapitalis, tetapi dalam masyarakat biasa trend ini pun terjadi. Bukti nyata dari trend ini adalah kebergantungan manusia dewasa ini pada uang. Tanpa uang orang susah segala-galanya.

 

Dengan demikian globalisasi telah membawa bibit-bibit modernitas ke dalam berbagai kebudayaan dunia, tekusus dalam konteks Indoensia yaitu ke dalam kebudayaan-kebudayaan lokal. Pertanyaannya, bagaimana bisa hal itu terjadi?

 

Krisis Kebudayaan Dewasa Ini

 

Meskipun modernitas mengandung cacat-cacat yang substansial, dalam analisis Jurgen Habermas seorang filsuf Jerman terpenting abad ini, proyek modernitas sesungguhnya merupakan suatu proyek pencerahan yang berusaha membebaskan diri dari dogmatisme dan mitos yang melanggengkan status quo. Melalui modernitas, dengan kemampuan akalnya orang berjuang berpikir sendiri dan menjadi kritis terhadap berbagai bentuk penindasan yang tersembunyi dalam jargon-jargon dan kepercayaan yang dogmatis. Modernitas dengan demikian diyakini Habermas menjadi suatu gerakan yang emansipatoris. “Habermas menganggap teknik dan ilmu pengetahuan sebagai tenaga produktif terpenting dalam bagian kedua abad kedua puluh”, tulis Magnis Suseno dalam pengantar terhadap buku Kritik Ideologi: Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan oleh Budi Hardiman (Fransisco Budi Hardiman, 1990:11).

 

Lalu, mengapa modernitas menjadi persoalan? Di sinilah Habermas menelusuri jejak-jejak yang melahirkan pemikiran modern. Habermas bahkan menelusuri kembali mitos-mitos Yunani kuno yang menjadi inspirasi dari filsuf ‘akhir pencerahan’ seperti Nietzsche dan Heidegger. Habermas juga menelusuri pertautan hingga pemisahan antara teori dan praksis yang berakar dalam kebudayaan Yunani kuno yang kemudian melahirkan filsafat kesadaran pada abad Pencerahan.

 

Filsafat kesadaran sebagaimana telah disebutkan di atas, tidak kalah bengisnya dengan mitos dan dogmatisme abad pencerahan. Oleh karena itu, Auguste Comte (1798-1857) merintis lahirnya aliran filsafat baru yang disebut positivisme (Fransisco Budi Hardiman, 1990:23). Dengan positivisme dimaksudkan agar subjektivisme atau kepentingan-kepentingan disingkirkan sama sekali dan digantikan dengan teori yang bebas dari kepentingan. Dengan demikian diharapkan bahwa positivisme mampu melampaui filsafat kesadaran.

 

 

Sebaliknya, positivisme malah membangun dinding tebal di antara pengetahuan dan kehidupan praktis manusia (Fransisco Budi Hardiman, 1990:25). Dengan teori positivis dimaksudkan bahwa teori itu menjadi suatu yang universal yang bisa digunakan untuk berbagai kepentingan manusia. Namun sayangnya teori positivis itu menjadi alat untuk mengontrol dan menguasai manusia. Teori positivis diandaikan sebagai suatu sistem yang baku yang tinggal diterapkan dalam berbagai kebutuhan. Teori ini sama sekali tidak praktis karena teori sama sekali dipisahkan dari praxis. Teori digunakan hanya untuk kepentingan teknis semata.

 

Mengkritisi semua pemikiran itu, Jurgen Habermas dalam Teori Kritisnya membahas secara khusus teori tentang praxis kehidupan sosial manusia. “Praxis adalah konsep sentral bagi teori-teori yang mencari pertautannya dengan kehidupan sosial karena pemahaman tentang praxis menentukan bagaimana suatu teori dengan maksud praktis dilaksanakan (Fransisco Budi Hardiman, 1990:86). Praxis itu sendiri terdiri atas dua dimensi yaitu dimensi kerja dan dimensi interaksi atau komunikasi. Kedua dimensi itu merupakan dua tindakan dasar manusia. Meskipun demikian, Habermas tetap pada pendiriannya akan pencerahan yaitu bahwa kedua tindakan dasar manusia itu bersumber pada rasio.

 

Untuk kerja, Habermas menyebutnya sebagai ‘tindakan rasional bertujuan’ yang ditopang oleh rasionalitas tujuan atau rasionalitas instrumental (Fransisco Budi Hardiman, 1990:87). Fokus kerja adalah untuk menguasai objek yang dikerjakan. Di sana relasi subjek – objek terjadi. Subjek menerapkan aturan-aturan teknis bagi objek. Melalui aturan-aturan teknis itu juga, subjek nantinya juga akan menjadi objek. Ini kemudian akan dipahami dalam konsep tentang sistem.

 

Menurut Habermas, dimensi pertama ini berakar kuat dalam era pencerahan. Oleh karena itu, biarpun rasio berusaha membebaskan diri dari dogmatisme, tetap saja ia akan kembali lagi pada dogmatisme sebab rasio yang dominan bekerja di sana adalah rasionalitas tujuan atau rasio instrumental.

 

Dengan penelusuran Habermas ini, ia kemudian melahirkan suatu teori baru yang sangat orisinal yaitu teori komunikatif atau teori kritis. Teori komunikatif ini berlandaskan pada dimensi yang lain dari tindakan dasar manusia yaitu dimensi interaksi atau komunikasi. Dimensi ini ditopang oleh rasionalitas komunikatif. Rasio jenis ini bekerja bukan dengan cara menguasai tetapi dengan cara saling pemahaman. Rasio ini bekerja tidak dalam konstelasi subjek – objek tetapi dalam relasi intersubjektivitas. Oleh karena itu dalam rasio komunikatif, paradigma filsafat beralih dari paradigma filsafat subjek menuju filsafat intersubjektivitas.

 

Dengan penelusuran Habermas di atas, penulis membuat suatu kesimpulan kecil bahwa krisis kebudayaan dewasa ini yang dibawa globalisasi dalam diri modernitas hadir dalam bentuk rasionalitas instrumental yang sudah dibakukan dalam sistem kerja ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, sejauh ilmu pengetahuan dan teknologi itu belum dimasuki rasionalitas komunikatif. Dalam arti bahwa sistem itu masih dibiarkan tertutup.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, ras ionalitas instrumental itu mengakar tatkala orang asal menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada dalam relasi-relasi antar manusia, tanpa adanya sikap kritis atau tanpa berkomunikasi dengan yang lain (menganggap ilmu pengetahuan dan teknologi itu sebagai produk yang paling sempurna dan melupakan realitas yang lain, bahkan menganggap realitas yang lain inferior).

 

Sebagai contoh, berita yang sempat viral beberapa tahun yang lalu memberitakan seorang nenek mencuri ayam dan dipenjara dua tahun, sementara koruptor yang mencuri uang rakyat banyak kali hanya ditahan atau dipenjara beberapa bulan dengan fasilitas yang mewah, lalu dibebaskan. Atau contoh lainnya, persidangan untuk orang-orang kecil biasanya berlangsung cepat dan kadang berbelit-belit, sementara persidangan untuk elite-elite politik bahkan presiden akan berlangsung lama dan bertele-tele. Instrumentalisasi terjadi di sana.

 

Inilah krisis kebudayaan yang sedang terjadi dewasa ini. Krisis ini telah menjalar ke dalam kebudayaan-kebudayaan lokal di Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Timur. Geliat kebudayaan itu bisa berarti positif, tetapi bisa juga negatif. Tanpa disadari, bisa jadi geliat kebudayaan itu dikuasai oleh rasio instrumental. Kebudayaan dipakai untuk menumpuk modal dan melanggengkan semangat kapitalisme yang kemudian meminggirkan masyarakat-masyarakat lokal. Tetapi masyarakat-masyarakat lokal itu bisa juga oleh keindahan kapitalisme, terjebak dalam instrumentaslisasi kebudayaan sendiri.

 

Penutup

 

Sebagai unsur yang melekat dalam diri manusia, rasionalitas instrumental akan senantiasa menjadi tantangan bagi manusia dewasa ini. Terkusus bagi kebudayaan lokal yang masih memegang kuat rasionalitas komunikatif, rasio instrumental yang ada dalam modernitas akan selalu menjadi ancaman kehilangan makna kebudayaan yang menjadi sumber moralitas dan kerohanian masyarakat.

 

Habermas telah menunjukkan unsur hakiki yang menjadi sumber krisis kebudayaan universal dan kebudayaan-kebudayaan lokal. Ia juga menemukan rasionalitas komunikatif sebagai solusinya. Dalam pandangan penulis, rasio komunikatif ini sesungguhnya yang dihidupi dalam kebudayaan-kebudayaan lokal. Rata-rata kebudayaan yang ada di Nusa Tenggara Timur sangat menghargai sosialitas, aspek kebersamaan, dan keharmonisan. Penghargaan terhadap yang lain sangat tinggi. Martabat manusia sangat dijunjung tinggi, alam lingkungan dihargai sebagai pemberi kehidupan (ibu bumi), dan penghormatan akan wujud tertinggi. Situasi ini yang menjadi kekhasan kebudayaan-kebudayaan lokal dimana orang membina saling pemahaman dalam kebersamaan.

 

Inilah yang perlu diantisipasi secara kritis oleh masyarakat kebudayaan lokal. Bahaya instrumentalisasi itu akan mengikis kebudayaan yang dibangun di atas dasar komunikatif atau saling pemahaman. Namun, kebudayaan-kebudayaan lokal juga perlu mengembangkan komunikasi yang bebas represif agar kebudayaan-kebudayaan itu juga dapat mengatasi unsur-unsur dogmatis dan yang membelenggu dalam kebudayaan itu sendiri.  

 

Sumber Bacaan

Budi Hardiman, F., Kritik Ideologi: Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan, Yogyakarta, Kanisius, 1990.

.........................., Menuju Masyarakat Komunikatif: Ilmu, Masyarakat, Politik dan Postmodernisme Menurut Jurgen Habermas, Yogyakarta, Kanisius, 1993.

Bertens, K., Sejarah Filsafat Kontemporer Jerman dan Inggris (Jilid I), Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2014.

Budi Kleden, Paulus., Teologi Terlibat: Politik dan Budaya dalam Terang Teologi, Maumere, Penerbit Ledalero, 2012.

             

Baca juga;

Dunia dan Politik Otentik Hannah Arendt | Fr. Roby Poco, SVD

Puisi-puisi | Bryan Lagaor | Tentang puisi yang menolak sang penyair

Toleransi dan Persatuan Bangsa | Fr. Vinsensius Laka, SVD

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...