Langsung ke konten utama

Puisi-puisi | Evans Kaha | Di bawah Nisan Ini Puisiku Duduk Menangis

                             

                                    Evans Kaha

         



PERHENTIAN

“Hidup ibarat menyusun jeda di ujung waktu, merapal lelah di akhir usia”.

--------------------

Perempuan itu mengadu dengan sendu tapal-tapal doa yang ‘tak sempat tersamat ke surganya; tempat segala bibir keramat merapal doa.

--------------------

Pada perhentian jalan yang ke sekian kalinya, ia kemudian memakamkan doanya pada makam yang ‘tak bernisan dan menghembuskan sesalnya pada buku diarynya.

Yahh.......diary  adalah surga terakhir ia sematkan doanya.

Di sana, tidak ada sesal yang paling keji ia sisihkan. Tidak ada hati yang dengan getar-getir menggerutu.

-------------------

Pada perhentian terakhir perjalanannya, ia kembali ke rumah dan bertengkar dengan cermin; perihal siapa yang paling  jujur yang mesti dinobatkan atau sebaliknya, ditobatkan.

 

TIGA POTONG SAJAK BUAT KEKASIH

 

                                    (I)

Hari ini, kami memotong kenangan menjadi dua bagian yang sama besarnya.

Satu buatku dan satunya lagi buatnya.

Kami sepakat bahwa rindu adalah gabungan dari dua potong kenangan dan satu potong pertemuan.

                                    (II)

Sepulang dari pesta omong-omong via telephone, kami meninggalkan detak di sela-sela detik yang tersisa, yang menempatkan rindu di hati, melepaskan lelah di atas tempat tidur.

Tubuhku menjadi demam kedinginan. Ia meninggalkanku sendiri menggigilkan rindu di bawah selimut.

                                    (III)

kami menabung mimpi di botol waktu sambil melepas lelah di pundak masing-masing.

Cinta tidak seharusnya memiliki, memiliki tidak seharusnya mencintai. Tuhan, aku mencintainya sampai batas usiaku dan ingin hidup lebih lama lagi.

 

 

PERIHAL PERGI

 

perihal pergi itu, seperti menjaga nyala lilin di tengah badai,

menjaga hati di antara luka dan lekas.

Semoga saja, kita bertemu lagi di simpang rindu

Yang kelak ‘kan menjadikannya kenang-kenang.

 

Setelah melepas kenangan pada kening wanitanya, lelaki itu pergi meninggalkan wanita itu lalu membiarkannya sendiri membakar kemenyan dan menebarkan abu rindu di kepalanya.

Kini, isi kepala wanita itu tinggal sepenggal.

Yah......sepenggal janji yang teringkar.

 

DI BAWAH NISAN INI, PUISIKU DUDUK MENANGIS.

 

Sebelum aku mengakhiri cerita ini, aku hanya ingin kau tahu bahwa tidak ada makam yang teramat keramat dari hati seorang wanita yang gagal jatuh cinta. Yahh....gagal menempatkan kepala lelakinya di pundaknya.

---------------

Aku menghabiskan setengah dari satu cangkir kopi pahit yang sengaja aku hidangkan untuk diriku. Aku menciptakan alegori kesendirian dalam diriku lalu menghabiskan sebagian rinduku ke dalam cangkir. Sialan! Rindu tumpah ruah di lantai. Aku membiarkannya mengotori kamarku sampai pagi menjelang. Dan lihatlah, aku menemui pagiku dengan satu tiket kemenangan menuju masa depan yang lebih baik.

---------------

Adinda......

Sebelum aku mengakhiri ceritaku, aku hanya ingin kau tahu bahwa masa laluku jauh lebih buruk dari masa depanmu di kemudian hari. Bahagiakan lelakimu, atau pergi dari dunia ini......

--------------

Di bawah nisan itu, puisiku melepaskan lelahnya sebelum pada akhirnya ia menangis dan meratapi kepergianmu.

Adinda.......makamkanlah aku dalam puisimu

 

 

 

 

PERHENTIAN

 

Pada perhentian yang kesekian kalinya ini,

Telah ku bongkar suara yang berkoar di dalam sangkar mu.

Sesak dada. Dua suara terjepit antara rongga luka dan duka.

Tangis mengisyak semakin keras, air mata merembes dari mata para peratap.

Akh.......nisan telah ditetahkan. Mama pergi tak kenal pulang.

 

Sempat mengadu protes kepada Tuhan sang pemberi sekaligus pengambil.

Suara angin berdecit ketakutan, ranting-ranting rindu dipatahkan, kenangan pupus tertinggal genangan hujan. Kami sepasang kekasih yang memilih pisah, pergi tanpa kembali, bertemu di akhirat nanti. Barangkali..........

 

Jauh setelah ia pergi,

Kami mengais rezeki  dari kaki kami sendiri.

 

 Baca Juga:

DINAMIKA RADIKALISME, EMOSIONALITAS MASSA DAN ETIKA KOMUNIKASI | Fr.    DEFRY NGO, SVD

Puisi-puisi | Bryan Lagaor | Tentang puisi yang menolak sang penyair 

Krisis Kebudayaan Dewasa Ini dan Jalan Keluarnya | Fr. Vinsensius Laka, SVD

                                   

 

 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...