Bagaimana
Akan Kubayangkan Kalau Sampai ‘Puisi Ini Menolak Penyairnya?’
:kepada
Ketenggi
……..
Bahkan pernah
kutulis malas dengan tangan kanan
Beberapa kali
menukar dengan tangan kiri
Sayangnya, puisi
menjerit mau mati melihat kupaksa memakaikannya huruf buruk,
sampai diintip
sedikit maknanya saja tidak ada yang mau
Kumulai rusuh
resah entah menulis bagaimana
Setiap bait mau
kugantung rima jenis apa
Siapa yang mau
rela membacanya sampai tuntas
sedangkan bait
terakhir hanya itu-itu saja
Semua kata dalam kepalaku terus meminta untuk
dipulangkan
Mereka tidak tenteram. Selalu ribut merebut makanan
setiap kali kuhendak sajikan puisi dengan sungkan
…….
Akan kubayangkan
bagaimana kalau sampai ‘puisi ini menolak penyairnya?’
“Kalau tidak mau
menjadi penyair, buang saja pulpen dan kertas sekaligus”
katamu
mengingatkanku.
“Tulis puisi dan
tidurlah” kumenjawab pertanyaanmu bagaimana tidur dengan dengkur
Selalu begitu
puisi dan penyairnya
Kau akhirnya merepotkanku
dengan judul puisimu itu
saat kumau
menangkap maknanya usai kau lempar ke saku bajuku
Sejauh ini aku
cukup mengekalkannya dengan segala risauku
sebab ‘ku tidak
tahu
Entah tafsir tidak
hanya kadang (selalu) melumpuhkan nanti
kita mesti semakin
siap mati kerap kali
KEMARAU YANG LAIN
Sepanjang tapak
ditakar mata kaki
kepingan kenangan
menumpuk pada lumbung ingatan
Menjelang akhir
musim semi
mulai bergulir
giliran gelisah daun-daun
Kali ini tiba
musim kemarau
Datang membawa
gerah menghujam hati
Terik membakar
rindu tanah lapang yang pecah merekah
Gusar mendekati
ubun -ubun melewati ‘lapang dada’
Membaca kerap
puisi jauh dalam ceruk mata kekasih
tetapi bukan.
Tidak karuan.
Sedang terdengar
sungai-sungai mengaduh kehilangan derau air
Air mata lebih
deras dari mata air.
Semua ujud doa
bertelut ‘tak henti
Menyembah penuh
harap
Menanti berkah
dalam rintik hujan nanti
Ledalero,
Agustus 2020
MATA BUKU
Di
atas meja belajar dengan keempat kakinya adalah sunyi
mata
buku menawar judul: mata luka, mata puisi, mata jendela
Melirik
ketangkasan pada sandaran kursi dan uji sabar sepanjang sisi meja
Akan kau eja
matanya yang tabah menunggu pada selaput sampul paling luar:
“gerangan
siapa yang tidak takut mencungkil mataku melihat dunia?”,
Biji
matanya merah menantang
Lebih
jauh menyibak selaput jala matanya
sebaris
kata membuatmu angguk-angguk tanpa harus memahami penuh
bahkan
sampai lupa pualang
Sebelum
akhirnya kau akan sepakati janji untuk tidak jemu membaca matanya
kau
akan menangisi air mata yang lama tergenang di sudut matanya
lantaran
sering menemukan mata bocah pada layar kaca
EFRATA ‘20
Baca
Juga:
- Toleransi dan Persatuan Bangsa | Fr. Vinsensius Laka, SVD

Salam untuk Penulis(Fr.)
BalasHapusKusuka
BalasHapusSuka✌
BalasHapusPanutanku semngt abang
BalasHapus