Langsung ke konten utama

Puisi-puisi | Bryan Lagaor | Tentang Puisi yang Menolak Sang Penyair

 

                                                                            

                                                                   *) Bryan Lagaor                     

                                                                


Bagaimana Akan Kubayangkan Kalau Sampai ‘Puisi Ini Menolak Penyairnya?’

:kepada Ketenggi



……..

Bahkan pernah kutulis malas dengan tangan kanan

Beberapa kali menukar dengan tangan kiri

Sayangnya, puisi menjerit mau mati melihat kupaksa memakaikannya huruf buruk,

sampai diintip sedikit maknanya saja tidak ada yang mau

 

Kumulai rusuh resah entah menulis bagaimana

Setiap bait mau kugantung rima jenis apa

Siapa yang mau rela membacanya sampai tuntas

sedangkan bait terakhir hanya itu-itu saja

 

Semua kata dalam kepalaku terus meminta untuk dipulangkan

Mereka tidak tenteram. Selalu ribut merebut makanan

setiap kali kuhendak sajikan puisi dengan sungkan

 

…….

 

Akan kubayangkan bagaimana kalau sampai ‘puisi ini menolak penyairnya?’

“Kalau tidak mau menjadi penyair, buang saja pulpen dan kertas sekaligus”

katamu mengingatkanku.

“Tulis puisi dan tidurlah” kumenjawab pertanyaanmu bagaimana tidur dengan dengkur

Selalu begitu puisi dan penyairnya

 

Kau akhirnya merepotkanku dengan judul puisimu itu

saat kumau menangkap maknanya usai kau lempar ke saku bajuku

Sejauh ini aku cukup mengekalkannya dengan segala risauku

sebab ‘ku tidak tahu

 

Entah tafsir tidak hanya kadang (selalu) melumpuhkan nanti

kita mesti semakin siap mati kerap kali

                                                                 


 

KEMARAU YANG LAIN

Sepanjang tapak ditakar mata kaki

kepingan kenangan menumpuk pada lumbung ingatan

Menjelang akhir musim semi

mulai bergulir giliran gelisah daun-daun

 

Kali ini tiba musim kemarau

Datang membawa gerah menghujam hati

Terik membakar rindu tanah lapang yang pecah merekah

Gusar mendekati ubun -ubun melewati ‘lapang dada’

 

Membaca kerap puisi jauh dalam ceruk mata kekasih

tetapi bukan. Tidak karuan.

Sedang terdengar sungai-sungai mengaduh kehilangan derau air

Air mata lebih deras dari mata air.

 

Semua ujud doa bertelut ‘tak henti

Menyembah penuh harap

Menanti berkah dalam rintik hujan nanti

 

 

Ledalero, Agustus 2020


MATA BUKU

Di atas meja belajar dengan keempat kakinya adalah sunyi

mata buku menawar judul: mata luka, mata puisi, mata jendela

Melirik ketangkasan pada sandaran kursi dan uji sabar sepanjang sisi meja

 

Akan kau eja matanya yang tabah menunggu pada selaput sampul paling luar:

“gerangan siapa yang tidak takut mencungkil mataku melihat dunia?”,

Biji matanya merah menantang

 

Lebih jauh menyibak selaput jala matanya

sebaris kata membuatmu angguk-angguk tanpa harus memahami penuh

bahkan sampai lupa pualang

 

Sebelum akhirnya kau akan sepakati janji untuk tidak jemu membaca matanya

kau akan menangisi air mata yang lama tergenang di sudut matanya

lantaran sering menemukan mata bocah pada layar kaca


EFRATA ‘20



Baca Juga:

Tunu | Defri Ngo

Puisi-puisi Rommy Sogen

Toleransi dan Persatuan Bangsa | Fr. Vinsensius Laka, SVD



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...