Anton Nahak memang
sosok pembunuh berdarah dingin. Senja kala, ketika matahari sudah jatuh di
bukit Fulan Fehan, ia keluar dari rumahnya. Sebatang belati disimpan dengan
rapi pada bagian belakang celana. Ia membungkus belati tersebut dengan sepotong
tais yang dijahit oleh istri
tercinta. Sebelum keluar dari rumah, Anton Nahak sempat mengumpulkan istri dan
anak-anaknya.
“Kalau nanti ada
yang mencari Ama, katakan kepada
mereka kalau Ama sedang ke puncak
Fehan,” ungkap Anton Nahak menyembunyikan sesuatu.
“Ama mau buat apa di Fehan?” Istrinya
balik bertanya. Wajahnya tampak menegang. Dua orang anaknya hanya membisu.
Suasana rumah tampak tidak baik-baik saja.
“Jangan cemas, Ina. Esok pagi, saat matahari terbit, Ama sudah kembali ke rumah.” Anton Nahak
berusaha memberi kekuatan. Setelah berucap demikian, ia mengusap kepala istri
dan anak-anaknya. Raut kesedihan tampak menggantung di wajah mereka. Perpisahan
itu tampak singkat, tetapi menyimpan rasa piluh yang mendalam.
Matahari di bukit
Fulan Fehan sungguh-sungguh menghilang. Dalam gelap malam, Anton Nahak
menyusuri jalan setapak menuju arah Selatan. Ia akan mendatangi Markus Halek,
sosok yang telah merebut tanah di perkebunannya. Rencana untuk membunuh Markus
Halek memang telah lama dipikirkan Anton Nahak. Setelah persoalan perebutan
tanah di kebunnya, Anton Nahak menganggap Markus Halek sebagai musuh yang harus
dibinaskan.
Di depan rumah Markus Halek, ia kembali memeriksa belati yang
dililitnya dengan sepotong tais.
Suasana sekitar tampak hening. Hanya suara jangkrik yang mendengkur berbalasan.
Pembunuhan yang dilakukan Anton Nahak berlangsung sangat rapi. Ia mendobrak
pintu rumah Markus Halek. Dengan satu gerakan tangkas, Anton Nahak menggorok
leher Markus Halek yang kaget mendapati kehadirannya. Istri dan anak-anak
berteriak histeris dan berlari meninggalkan rumah. Belum puas melihat sosok
Markus Halek yang telah terbaring lemas, Anton Nahak memotong bagian-bagian
tubuhnya dan mengiris telinga, mulut serta kelamin.
Sebagai tambahan, ia
menusuk perut Markus Halek dan mengambil semua isi di dalam perut itu. Darah
yang mengalir diusapnya pada permukaan wajah. Anton Nahak melakukan aksinya
dengan tenang layaknya penjahat yang telah membunuh banyak orang. Ia membuka
baju dan membungkus bagian-bagian tubuh yang telah dipotongnya.
Dengan segera,
Anton Nahak berlari meninggalkan rumah Markus Halek menuju puncak Fehan. Rencana
pembunuhan itu berhasil. Di puncak Fehan, Anton Nahak menancapkan kepala dan
bagian tubuh Markus Halek pada batang pohon kesambi. Isi perutnya digantung
menyerupai lampu natal. Berjejer dan mengalirkan tetes-tetes darah penghabisan.
Ia menatap tubuh miris itu dan mendesah puas layaknya singa yang baru selesai menghabiskan
seekor banteng raksasa. Baru pada saat matahari kembali terbit, ia turun dari
puncak Fehan dan berjalan menuju rumahnya.
_____
Telah lewat tiga
hari setelah tragedi pembunuhan di rumah Markus Halek, suasana desa Lasiolat
dirundung bencana. Angin bertiup kencang. Hujan turun tiada henti. Sapi,
kambing dan ayam yang dipelihara masyarakat mati mengenaskan. Hasil panen gagal
total. Sebagian masyarakat mulai mencari sebab di balik bencana tersebut. Mereka
mendatangi Gab Seran selaku ketua adat di desa Lasiolat. Dari Gab Seran, mereka
akhirnya beroleh jawaban bahwa salah seorang masyarakat telah melakukan kejahatan
besar. Para leluhur yang telah meninggal marah dan melimpahkan bencana atas
desa mereka.
“Salah seorang
dari masyarakat di desa kita telah melakukan suatu kejahatan besar,” ungkap Gab
Seran sambil membetulkan tais mane yang
dipakainya.
“Telah terjadi
pembunuhan dan leluhur kita sedang melimpahkan kemarahannya,” lanjut Gab Seran.
Tatapannya berwibawa. Tuturnya tegas. Walau sudah berusia lanjut, Gab Seran
sangat dijunjung dalam kehidupan masyarakat di desa Lasiolat.
“Lalu, apa yang
harus kita lakukan, Tuan?” tanya salah seorang warga.
“Hal terpenting
adalah keterbukaan dari pihak yang telah melakukan kesalahan. Dia harus
mengakuinya secara jujur dan bersiap memohon pertobatan.”
“Puncak dari
semuanya, kita harus segera melakukan tunu.
Pribadi yang telah berbuat kesalahan dan sukunya harus mempersembahkan kurban
sebagai bukti permohonan maaf kepada para leluhur.” Gab Seran menambahkan.
Hadirin yang berkumpul menunduk diam.
“Tidak hanya itu,
sebagai bagian dari satu masyarakat, kita tentu diharapkan untuk sama-sama
hadir dan menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan sesama warga.” Pertemuan
selesai dan mereka pulang dalam sungut-sungut dan kekecewaan besar. Informasi
yang diperoleh dari Gab Seran selaku ketua adat lekas menyebar ke pelosok desa
Lasiolat. Pun akhirnya sampai ke telinga Anton Nahak. Ia mendengarnya dan
menjadi takut. Sejak semula, hanya satu hal yang ditakutinya dalam hidup, yaitu
kemarahan dari para leluhur. Ia menganggap kemarahan para leluhur sebagai malapetaka
besar yang akan berlangsung selamanya dalam hidup.
“Jangan takut
kepada sesama manusia. Takutilah leluhurmu. Merekalah yang menentukan kemanakah
kepalamu akan dicampakan.” Demikian pesan ayahnya sebelum meninggal dunia. Ia
merekam pesan tersebut sebagai nasihat yang harus dipatuhi dalam keseharian
hidup.
Diam-diam, Anton
Nahak menghadap Gab Seran dan menceritakan segala peristiwa yang telah terjadi.
Ia memohon ampun atas kesalahannya dan berjanji tidak melakukannya untuk kedua
kali.
“Kita semua pasti
pernah berdosa.” Gab Seran membuka pembicaraannya. Ia kemudian melanjutkan, “Kamu
hanya perlu bertobat dari kesalahan yang telah kamu lakukan.”
“Apa yang harus
saya buat, tuan?”
“Kamu harus segera
melakukan tunu dan menyampaikan
permohonan maaf kepada para leluhur. Kesalahan
ini harus dipulihkan.”
Setelah perjumpaan
bersama Gab Seran, rencana pelaksanaan tunu
akhirnya dilangsungkan. Mula-mula, semua anggota keluarga dan suku
berkumpul melakukan musyawarah. Mereka membicarakan berbagai persiapan penting
sebelum melakukan tunu. Tempat, waktu
dan korban persembahan pun akhirnya ditentukan. Anton Nahak bersama seluruh
anggota sukunya bertanggung jawab menanggung tiga ekor babi dan seekor ayam
berwarna putih sebagai korban penyilih dosa. Sedangkan suku-suku lain mempunyai
tanggung jawab sosial untuk membawa bahan persembahan seperti beras, uang, tais dan hanek matan.
Di bawah sebatang pohon kesambi di bukit Fehan, tunu akhirnya dilangsungkan. Beginilah
cara mereka memulainya: Anton Nahak bersama masyarakat membersihkan foho sebagai tempat persembahan korban. Ketua
adat menyembelih ayam dan babi, lalu meletakannya di atas foho. Darah dari hewan korban disiram mengelilingi foho. Lalu, dalam bahasa Tetun, ketua adat mulai memanggil arwah
leluhur yang telah meninggal dan mengajak mereka untuk hadir bersama dalam ritual
tersebut. Tanda-tanda alam mulai tampak. Angin berhembus kencang. Burung bersiul
panjang seperti meratap. Semua peserta diam sambil merasakan situasi mistis di sekitar.
Selang beberapa menit, Gab Seran kembali berbicara.
“Leluhur kita
telah datang dan hadir di sini. Mereka telah menerima korban yang telah kita
persembahkan.”
Anton Nahak
menunduk sedih. Semua masyarakat yang hadir ikut terharu. Mereka saling
berpelukan satu sama lain. Kaum perempuan mempersiapkan makanan pada hanek matan yang telah disusun berdasarkan
urutan tertentu. Setiap urutan dalam hanek
matan menentukan tingkat penghargaan masyarakat atas sosok-sosok yang
mempunyai peranan penting dalam kehidupan mereka. Sosok paling tinggi dalam
kehidupan masyarakat Lasiolat adalah nai manas waik nai luli waik sebagai Wujud yang diimani. Tunu ditutup
dengan sebuah berkat dari ketua adat selaku perpanjangan tangan dari roh
leluhur. Ia mengolesi dahi semua peserta dengan ludah bekas siri pinang yang
dikunyahnya.
“Pergi dan jangan
berbuat dosa lagi, saudaraku,” ucapnya kepada Anton Nahak dan semua peserta.
Dari kedua ceruk mata Anton Nahak, menguar sebuah tangis kesedihan. Ia menyesali
kesalahannya dan berjanji tidak berbuat kesalahan yang sama. Sebelum kembali ke
rumah masing-masing, Anton Nahak bersama anggota sukunya membersihkan foho dan memagarinya.*
Maumere, 2020.
Keterangan istilah
Tunu : Ritual bersama untuk memohon
ampun kepada leluhur
Tais : Kain adat dalam kebudayaan Tetun
Ama :
Sebutan untuk seorang pria (ayah)
Ina : Sebutan untuk seorang
wanita (ibu)
Tais
Mane : Tais untuk lelaki
Tetun :
Salah satu suku di Timor, NTT
Hanek Matan : Tempat meletakan sesajian
Foho : Batu ceper yang digunakan untuk
meletakan hewan korban
Nai manas waik Nnai
luli waik : Sebutan
untuk Tuhan sebagai Wujud Tertinggi.
*) Defri Ngo,
tinggal di Maumere. Jendela Sunyi (2016)
adalah buku pertamanya.

Mantap tem
BalasHapus