Langsung ke konten utama

Puisi-puisi Rommy Sogen

 


Ingatan

 

Adakah yang bisa kau lupa?

Janji dan tetek-bengeknya

Atau rindu dan rupa-rupanya?

 

Ia tetap hidup

Janji, rindu, dan luka, lupa lalu ingat

Sampai matikah?

 

                                                                                                (Efrata, 06/02/22)

 

Berapa Lama Lagi?

 

Berapa lama lagi?
Sementara di kolong jembatan
rindu seorang anak pada sesuap nasi tiada usai
walau bapaknya pulang dengan mimpi

 

Berapa lama lagi?
sementara letupan senapan masih riuh di bumi Cendrawasi
air mata seorang ibu gugur di sana
meratapi kepergian putri satu-satunya

 

Berapa lama lagi?
barangkali selama-lamanya
kita hidup begini, seada-adanya saja
asalkan Senayan tetap merawat emasnya


(Efrata, 07/02/22)

 

Ke mana?

 

Tiada yang lebih setia
selain oase di padang gurun
mengalir tiada purna

 

Lalu setiamu seperti apa?
ke mana lagi, kalau bukan pergi
memburu inginmu yang buas dan binal itu?

 

Tidak dengan Dia
Seperti mana di padang gurun
RahmatNya luruh, jatuh tanpa memilah

 

Lalu setelah kau kecap mana itu
Engkau ke mana?

 

(Efrata, 08/02/22)

  

Baca juga: Puisi-puisi Antoni Kaka


Jalan

 

Jalan panjang tiada ujung
peluh di setiap sepinya

Apalah arti hidup ini kalau tidak untuk pergi?
pergilah saja tanpa lupa untuk pulang
pulang ke dalam dirimu

 

Entahlah sekuat apa engkau menjejakinya
jangan lupa, jalan adalah hidupmu.

 

(Efrata, 09/02/22)

 

Imam Tuhan

 

Gunjingan di setiap tingkahnya
adalah sarapan yang tak pernah lekang
laku di mulut orang-orang kesayangannya

 

Semuanya ia simpan rapi di kamarnya
dengan air mata yang ia sendiri tak tahu
mengapa harus gugur sederas itu

 

Di kamarnya ia berdoa
“Tuhan, masih kuatkah hambaMu ini?
apakah waktuMu masih terus mengizinkan daku
untuk mendoakan mereka?”

 

“Percayalah Tuhan
dari AltarMu, akan kubawa mereka
ke SurgaMu. Amin.

 

(Efrata, 10/02/22)

 

Baca juga: Puisi-puisi Rommy Sogen


 

Malam Minggu

 

Malam minggu

Dingin di Kapel, panas di kepala
kegagalan seperti tumpukan salah

 

Tuhan bisa datangkah?
Tapi aku tak semiskin Lazarus.

 

(Efrata, 11/02/22)

 

 

Hati dan Sakitnya

 

Hati dan sakitnya

Adalah sebab dari kepedulianmu pada mereka
yang tak pernah mempedulikanmu

 

Hati dan sakitnya

Adalah ikatan yang kau rekatkan
tanpa memperhitungkan jauhnya jarak
rasa mereka terhadapmu

 

Hati dan sakitnya
adalah perhatian yang kau beri untuk mereka
yang tak punya hati untukmu

 

Hati dan sakitnya adalah sakit hati
maafkan mereka dan dirimu

 

Usaikanlah semuanya, lepas lalu kau bebas


(Efrata, 12/02/22)

 

 

Luka

 

Menganga
perih, tiada kata laku
bagi yang lalu

 

Luka, kau sendiri
jatuh bangun
mendampar tanya

Masih adakah api di lengan ini?
Untung saja belum padam

 

(Eftara, 13/02/22)

 

 

Kasih
Kepada kekasih

 

Kasih ibarat kisah

aku adalah kisah
dikau adalah kasih

 

Kita jadi kisah kasih
yang tersirat tanpa makna
yang tersurat tanpa kata

 

Barangkali kita cukup berdoa
agar kelak, kasihmu terkabul dalam kisahku,
ini mimpikah ?


(Efrata, 14/02/22)


Baca juga: Puisi-puisi Paskal Kedang



 

Rommy Sogen, tinggal di Unit Efrata-Gere, Ledalero. Penulis berasal dari Tenawahang, Flores Timur. Saat ini sedang menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero. 

 

 

 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...