Pendahuluan
Negara Indonesia dipayungi
oleh ideologi Pancasila yang melandasi segala realitas perbedaan sembari
merangkul pluralitas dan kemajemukan dalam satu kesatuan. Pancasila menjadi
lokomotif yang memboncengi pluralitas yang multietnis, multireligius, dan multiras
menuju persatuan Indonesia. Salah satu kemajemukan yang sampai sekarang menjadi
diskursus hangat ialah soal kebebasan beragama atau berkeyakinan. Namun, wacana
kebebasan beragama atau berkeyakinan di Indonesia belum sepenuhnya terwujud dan
teraktualisasi. Sebab masih ada sikap intoleran antaragama yang berusaha
menyingkirkan kelompok agama atau keyakinan lain. Ironisnya, negara turut ikut
campur membela pihak tertentu dalam mengakomodasi penyingkiran tersebut. Itu
berarti, netralitas dan proporsionalitas negara terhadap isu-isu keagamaan
masih condong pada pembelaan kelompok tertentu dan terlihat sangat lemah
menegakkan posisinya sebagai pihak sentral. Hal ini serentak menjadi suatu
polemik yang mewarnai pluralitas keagamaan di Indonesia.
Kendatipun demikian halnya bahwa bingkai pluralitas agama atau kepercayaan di Indonesia hari-hari ini kerap menjadi suatu permasalahan lantaran adanya sikap intoleran dan klaim kebenaran yang mengatasnamakan agama, di sisi lain masyarakat Indonesia di beberapa wilayah mempunyai caranya tersendiri untuk merawat kerukunan antarumat beragama. Hal tersebut dapat dilihat selama perayaan-perayaan besar yang dirayakan oleh umat Kristiani, seperti perayaan natal, Paskah maupun perayaan-perayaan umat Katolik lainnya. Baru-baru ini terdapat banyak informasi yang beredar terkait keterlibatan umat Islam yang turut mengambil bagian untuk menjaga keamanan selama Pekan Suci dan perayaan Paskah yang dirayakan oleh umat Kristiani, dan di lain tempat hal yang sama juga dilakukakan oleh kalangan Muslim. Mereka terlibat dan bekerja sama membersihkan lingkungan Gereja, menjaga ketertiban selama perayaan berlangsung, dan lain sebagainya. Kehadiran mereka adalah sebuah bentuk dukungan terhadap umat Katolik yang merayakan sukacita Paskah atau kebangkitan Kristus. Hal ini serentak memberikan suatu tanggapan positif di tengah aktivitas keagamaan yang beberapa waktu terakhir menjadi isu karena adanya kekerasan yang mengatasnamakan agama. Iklim toleransi seperti ini sudah sepatutnya perlu dihidupi di tengah pluralitas agama atau kepercayaan di Indonesia. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi perpecahan atau perselisihan antarumat beragama.
Misteri Paskah
Paskah
merupakan perayaan penting bagi umat Kristiani di seluruh dunia. Paskah adalah
kemenangan Yesus Kristus atas kematian.
Sebelum mengetahui makna Paskah
hingga tujuannya, penting bagi umat Nasrani untuk memahami sejarah lahirnya
hari Paskah. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, Paskah diketahui merupakan
perayaan orang-orang Israel saat memperingati kemunculan bulan purnama. Perayaan
tersebut juga dikenal dengan istilah Passover yang berarti 'melewati'.[1] Dalam tradisi Yahudi, hal
tersebut juga diartikan sebagai perayaan pada saat peristiwa pembebasan
orang-orang Yahudi dari perbudakan di negeri Mesir. Sementara itu, dalam Kitab
Suci Perjanjian Baru, hari Paskah juga erat kaitannya dengan bukti kekuasaan
Allah atas kasih dan anugerah. Karena Allah, umat-Nya senantiasa akan
mendapatkan cinta dan kasih serta menjauhkannya dari maut.[2]
Selain
itu, di dalam Paskah, Yesus dianggap telah memberikan jalan baru dan terang
bagi umat manusia. Dalam artian bahwa manusia mencapai pemenuhan atau peralihan
dalam hidup untuk memperoleh pertobatan,
dari kehidupan lama ke kehidupan baru bersama Kristus. Hal itu tak lain melalui
peristiwa kebangkitan Yesus yang wafat di salib. Bukan hanya itu, makna hari
Paskah juga erat kaitannya dengan bukti cinta kasih. Terdapat kasih sayang,
anugerah, serta kekuatan cinta Allah yang senantiasa menjauhkan umat-Nya dari
segala perbudakan dosa sebagai jaminan Yesus atas kehidupan kekal bagi umat
yang mempercayai-Nya.
Konsep Toleransi
Toleransi
adalah sikap manusia untuk saling menghormati dan menghargai perbedaan, baik
antarindividu maupun kelompok. Secara
etimologi, toleransi berasal dari bahasa Latin, tolerare, yang artinya sabar dan menahan diri. Sedangkan secara
terminologi, toleransi adalah sikap saling menghargai, menghormati,
menyampaikan pendapat, pandangan, kepercayaan kepada antarsesama manusia yang
bertentangan dengan diri sendiri.[3] Jadi toleransi merupakan
suatu sikap atau perilaku manusia yang mengikuti aturan, di mana seseorang
dapat menghargai, menghormati perilaku orang lain. Sedangkan dalam konteks
sosial budaya dan agama, toleransi dapat dipahami sebagai sikap dan perbuatan
yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok atau golongan yang berbeda
dalam suatu masyarakat, seperti toleransi dalam beragama, di mana kelompok
agama yang mayoritas dalam suatu masyarakat, memberikan tempat bagi kelompok
agama lain untuk hidup di lingkungannya.[4]
Prisipnya
bahwa dengan adanya sikap toleransi, konflik dan perpecahan antarindividu
maupun kelompok tidak akan terjadi. Banyak orang menyebut toleransi sebagai
kunci utama perdamaian yang patut dijaga. Dalam konteks Indonesia, hal ini
perlu diperhatikan secara serius mengingat bangsa Indonesia ditandai dengan
beragam pluralitas. Sejatinya bahwa prinsip toleransi sudah tertanam dalam diri
bangsa Indonesia sejak bangsa ini didirikan. Hal itu terungkap dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika yang mengungkapkan pesan
toleransi sebagai salah satu pilar penyanggah kehidupan bersama bangsa
Indonesia.[5]
Misteri Paskah dan Upaya untuk Merawat Kerukunan
Antarumat Beragama
Dalam
perayaan Paskah umat Kristen sejagat mengenang peristiwa penderitaan, wafat,
dan kebangkitan Yesus Kristus guna membebaskan umat manusia dari belenggu
penderitaan dan dosa. Inti dari perayaan Paskah ialah cinta.[6] Paskah yang dilambangkan
dengan wafat dan kebangkitan Yesus Kristus merupakan jawaban dan tindakan nyata
dari Allah kepada umat-Nya. Kematian di salib adalah bentuk kecintaan Allah
kepada manusia sebagai ciptaan-Nya yang paling sempurna. Permenungan tentang
kematian, semestinya membuat kita semua sebagai umat yang beriman semakin
menyadari kebergantungan kita kepada Tuhan dan belas kasih-Nya. Kematian
merupakan sebuah misteri yang mana setiap manusia akan mengalami dan tidak ada
manusia yang tahu kapan akan mengalami kematian. Kematian juga dapat diartikan
mati secara rohani karena dosa yang diperbuat oleh manusia. Dalam kebangkitan
dari kematian, Allah mempunyai sebuah rencana yaitu menanggung dan membebaskan
segala dosa yang diperbuat oleh manusia. Hal ini merupakan kasih dan puncak
kecintaan Allah kepada manusia.
Dalam
cakupan yang lebih luas, penyaliban dan kematian Yesus merupakan konsekuensi
logis dari cara hidup dan keberpihakan-Nya (compassio)
yang radikal kepada orang-orang miskin dan para korban ketidakadillan.
Pewartaan dan praksis hidup Yesus adalah ancaman besar bagi para pemimpin agama
dan politisi masa itu. Untuk konteks masyarakat Indonesia yang plural,
pewartaan dan sikap Yesus yang berpihak pada para korban ketidakadilan dan
orang-orang miskin seharusnya menjadi basis etika hidup bersama. Penderitaan
merupakan locus yang mempertemukan pelbagai etnik, ideologi, agama, dan
kepentingan yang menempati rumah Indonesia.
Di
tengah kondisi bangsa yang kian jauh dari toleransi dan rentan akan kekerasan
yang mengatasnamakan agama, narasi penderitaan Yesus menjadi titik pijak semua
agama atau kepercayaan untuk bersama mencari dan mengatasi akar segala
permasalahan dan persoalan intoleran yang tengah merebak dalam diri bangsa kita
akhir-akhir ini. Kenyataan ini rupanya mampu ditepis oleh sebagian kecil
masyarakat atau umat Islam di beberapa wilayah yang turut terlibat atau
mengambil bagian dalam menjaga keamanan atau ketertiban selama Pekan Suci dan
perayaan Paskah yang dirayakan oleh orang-orang Kristiani. Pada tempat yang
lain aksi yang sama juga dilakukan oleh umat Islam. Mereka membangun kerja sama
dalam kerja persiapan menjelang perayaan Paskah mulai dari pembersihan lingkungan
Gereja, membantu menjaga keamanan di luar Gereja selama perayaan berlangsung,
dan sebagainya. Hal ini serentak memberi suatu nuansa tersendiri dan sinyal
positif di tengah gempuran atau isu intoleran antarumat beragama. Kerja sama
antarumat beragama semacam ini sudah sepatutnya mendapatkan tempat yang lebih,
dalam artian bahwa tetap terus dihidupi dan diwariskan dalam lingkungan sosial
masyarakat agar dapat tercapai suatu kerukunan dan keharmonisan dalam
pluralitas keagamaan maupun dimensi sosial lainnya. Dengan demikian praksis
hidup Yesus dalam penderitan sampai pada wafat-Nya di kayu salib mampu
memperoleh pemenuhan bagi umat-Nya dalam konteks membangun iklim toleransi atau
saling menghargai antarumat beragama di dunia.
Penutup
Dalam
kematian dan kebangkitan Yesus terkandung arti betapa besarnya cinta kasih
Allah kepada umat manusia yang sekaligus dibebaskan dari belenggu dosa. Hal ini
merupakan kasih dan puncak kecintaan Allah kepada manusia. Penderitaan dan kebangkitan Yesus sebetulnya
terarah pada pembebasan umat manusia dari belenggu dosa. Peristiwa ini menjadi
basis etika hidup bersama, secara khusus dalam konteks pluralitas agama agar
tidak terciptanya sikap intoleren dan perpecahan antarumat beragama.
[1] Luis M. Bermejo Misteri dan Makna Kebangkitan Yesus Makam
Yesus, (Kanisius: Yogyakarta, 2009), p. 41.
[2]
Ibid., P. 46.
[3] Abu Bakkar, Konsep Toleransi Dan
Kebebasan Beragama (Media Komunikasi Umat Bergama, Vol.7, No.2 Juli-Desember
2015)
[4] Otto Gusti Madung, Post-Sekularisme, Toleransi dan Demokrasi
(Maumere: Ledalero, 2017). P. 41.
[5] Ibid., P. 45.
[6] https://mediaindonesia.com/opini/151970/paskah-dan-compassio.
Baca juga: Gereja dan Ketidakadilan | Menghadapai Ketidakadilan dengan Kasih Tuhan | Selfy Correia

Komentar
Posting Komentar