Langsung ke konten utama

Gereja dan Ketidakadilan | Menghadapai Ketidakadilan dengan Kasih Tuhan | Selfy Correia

 




Pendahuluan

            Masyarakat dewasa ini ditandai oleh “dosa besar ketidakadilan”. Menghadapi situasi ini, keadilan menuntut nilai dan peran yang menentukan dalam kebaikan bersama. Istilah “keadilan sosial” muncul dengan kekuatan besar yang mengungkapkan kepedulian terhadap masalah sosial baru. Pada dasarnya keadilan sosial memiliki objek kebaikan bersama; subjek hak adalah masyarakat dan subjek kewajiban adalah anggota masyarakat. Ini adalah jawaban yang ditunggu oleh orang-orang yang merasa diperlakukan secara tidak adil dan hidup dalam situasi yang tidak kondusif. Gereja pun memiliki kewajiban untuk memperhatikan masalah-masalah sosial yang mengarah pada tuntutan kesetaraan, penghormatan terhadap martabat manusia, hak-hak dasar, solidaritas, pembangunan, perdamaian, dan lain sebagainya

 

Bertindak dan Menghadapi Ketidakadilan

            Berbicara tentang keadilan tidak hanya mengacu pada pembagian hak milik secara adil dan seimbang, tetapi juga menghormati setiap orang sesuai dengan martabat dan nilai sucinya. Masyarakat menjamin keadilan sosial ketika memenuhi kondisi yang memungkinkan asosiasi dan setiap orang untuk mencapai apa yang menjadi hak mereka sesuai dengan sifat dan panggilan mereka. Keadilan sosial terkait dengan kebaikan dan otoritas bersama.[1] Ajaran Kristen mengajarkan kita bahwa hukum lahir yang berdasarkan ciptaan Tuhan, setiap makhluk (manusia) masing-masing telah menerima harkatnya sebagai ciptaan yang sempurna dan sesuai dengna citra Allah. Selain menciptakan manusia Tuhan juga memberikan segala sesuatu yang menjadi keperluan dan tugas manusia adalah untuk menjaga, menghormati, dan melestarikan apa yang sudah menjadi sebuah titipan.

Gereja juga memiliki peran penting untuk memberikan kontribusi positif dan menggerakkan umat manusia  dalam sebuah pembangunan hidup yang lebih baik sesuai dengan ajaran Kristen.  Sebagai umat beriman, sudah sepantasnya kita menjalankan tugas kita sebagai makhluk sosial yang memihak pada kemanusiaan. Kita harus punya inisiatif untuk membuat pengakuan akan martabat setiap pribadi manusia dan hak-hak fundamental, tuntutan kesetaraan, tanggung jawab untuk pembangunan dan pembebasan, serta pembangunan perdamaian dalam gereja maupun di luar Gereja. Ini berarti semuanya itu memiliki pengaruh yang positif terhadap lingkungan ataupun masyarakat setempat, sesuai dengan doktrin Gereja yang sudah diajarkan. Salah satu contohnya adalah membuat jemaat menjadi peduli terhadap ketimpangan sosial, ketidakadilan, kemiskinan, dan lain sebagainya.


Baca juga: Membaca Tragedi Kemanusiaan G30SPKI dalam Terang Worldlessness dan Kejahatan Melawan Kemanusiaan Hannah Arendt | Andi Denatalis


 

Melawan Dosa dengan Kasih akan Keadilan

            Dalam  dokumen Puebla, dari dosalah “semua perbudakan muncul”, menjadi “akar dan sumber dari semua penindasan, ketidakadilan dan diskriminasi”.[2] Dosa terhadap keadilan adalah semua jenis korupsi, penggelapan uang publik , penghinaan terhadap martabat pribadi manusia, akumulasi barang yang berlebihan. Pertobatan dan pengakuan saja tidak cukup, jika kita menyakiti sesama kita dengan mengambil darinya aset materi miliknya atau bahkan melukai martabatnya. Maka kita harus melakukan yang terbaik untuk mengembalikan kebaikan itu, untuk memulihkan keadilan dan martabat yang dilukai oleh tindakan kita.

Dalam doktrin Kristiani, Gereja mengajarkan kita bagaimana kita menunjukkan keadilan yang sesungguhnya akan mencapai kepenuhan batin hanya dalam kasih. Tindakan cinta kasih terhadap sesama dan keadilan mencerminkan kebaikan Tuhan. Karena cinta kepada Tuhan diteruskan melalui sesama merupakan syarat untuk tetap tinggal bersama kasih Tuhan.  Dalam pengertian ini, kita akan mengerti, menghayati dan mampu mewartakan pesan-pesan Yesus sebagai berikut: barangsiapa tinggal di dalam kasih, ia tinggal di dalam Allah dan Allah tinggal di dalam dia (lih. 1 Yoh 4:16). Mereka yang mengasihi sesamanya mengasihi Allah (lih. Yoh, 15).  Karena amal membutuhkan praktik keadilan, berbagi, dan solidaritas sebagai jaminan untuk mempromosikan kebaikan orang lain. Untuk itu, sikap keadilan secara individual diperlukan untuk melawan segala bentuk ketidakadilan yang melanggar harkat dan martabat begitu banyak orang yang kurang disukai.

 

 

Penutup

            Dalam ajaran Kristen perpecahan yang diawali dengan dosa dan ketidakadilan ada pada hubungan Allah dan manusia (Allah, Adam, dan Hawa). Keretakan pada tingkat antarpribadi ini dinyatakan masih memiliki hubungan dengan dunia saat ini yang penuh dengan keegoisan, korupsi, hedonisme, eksploitasi, perdagangan manusia, kesombongan, ambisi, ketidakpedulian, kedangkalan dominasi dan kekerasan. Sifat ini merupakan stratifikasi sosial dan budaya manusia yang sulit untuk terobati. Untuk mengatasi persoalan ini salah satu perjuangan untuk melawan segala bentuk ketidakadilan ini berlangsung demi terlaksananya prinsip kesetaraan, kejujuran, solidaritas dan persaudaraan. Oleh karena itu, melalui belas kasihan, seperti yang dikatakan St. Thomas: “Rahmat tanpa keadilan adalah sumber kehancuran; tetapi keadilan tanpa belas kasihan adalah kekejaman.”[3] Ketidakadilan dapat diatasi dengan kemurahan hati, yaitu bahwa manusia bersedia memberikan hal-hal yang tidak wajib baginya. Pengembalian (pembentukan kembali, penetapan kembali, penyerahan kembali) juga penting, yaitu tindakan mengembalikan hak milik orang lain dan memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan secara tidak adil. Gereja juga sebagai benteng terakhir dan agen kerajaan Allah di dunia ini tidak bisa menghindar dan lari dari masalah sosial, ekonomi, politik, agama, budaya, dan pelanggaran HAM. Gereja harus tampil sebagai terang dan garam. “kamu adalah garam dunia, kamu adalah terang dunia” (Baca Matius 5:13-14).


        Baca juga: Yang Satu Diperhatikan dan yang Lain Jangan Diabaikan



[1]  KATEKISME GEREJA KATOLIK (Catechismus Catholicae Ecclesiae). 7ed., Petropolis: Vozes,  1997, n. 1927. 

[2] CELAM – Dewan Episkopal Amerika Latin. Evangelisasi di Masa Kini dan Masa Depan Amerika Latin  , Kesimpulan Konferensi Umum III Keuskupan Amerika Latin. 3ed., Puebla de Los  Angeles, Meksiko, Paulinas, São Paulo 1979, n.186 dan 517.

[3] Mingdry Habnafi T, “Belas Kasih Dan Keadilan”, Betang Filsafat (TRI: April 2020), hlm 1.


Selfy Correia, salah satu pebghuni Unit Efrata-Gere, Ledalero. Penulis berasal dari Timor Leste dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...