Gereja dan Dehumanisasi Ekologis (Kesadaran sebagai Jalan Tengah: Mendongkrak Kesederajatan Manusia dan Lingkungan) | Tommy Santos
Pendahuluan
Dunia
pada saat ini sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Populasi manusia
salalu bertambah dari tahun ke tahun di mana perkembangan manusia itu akan
terus meningkat secara kuantitas. Pertumbuhan populasi yang bertambah itu akan
menimbulkan masalah di mana lingkungan semakin sempit karena dipenuhi oleh populasi
penduduk. Kebutuhan manusia akan sandang,
pangan, dan papan akan meningkat sehingga memberikan efek negatif terhadap
manusia dan lingkungan sekitar. Semakin banyak kehidupan maka semakin banyak
kebutuhan yang dipenuhi. Pada kenyataannya hutan dieskploitasi untuk keperluan
manusia artinya manusia membangun infrastruktur dengan menyampingkan kehidupan
ekologis. Ekosentrisme dimengerti sebagai bagaimana memandang dunia sebagai
pusat kehidupan dan antroposentrimse di mana pembangunan itu demi kesejahteraan
manusia dan mengabaikan komponen biotik dalam lingkungan. Green politics dibagi
dalam dua komponen besar yakni green politics secara normatif yang mencakup
nilai keadilan, hak asasi, demokrasi, kewarganegaraan, dan lingkungan serta
cabang yang kedua yaitu berhubungan dengan kehidupan ekonomi yang mencakup
hubungan antarmanusia dan lingkungan. Lahirnya green politics dan kesadaran diri merupakan sebuah bentuk penolakan
terhadap konsep antropesentrisme yang memusatkan nilai moral pada manusia dan
manusia mengintimidasi serta bertindak secara tidak wajar kepada ekosistem dan
seluruh isinya. Hal inilah yang menyebabkan krisis ekonomi lingkungan karena
manusia cenderung memanfaatkan hasil alam secara tidak bertanggung jawab.
Eksistensi dari green politics dan
kesadaran diri sebagai landasan utama untuk menciptakan nilai egaliterian
terhadap lingkungan dan manusia.
Kesadaran sebagai Jalan
Tengah: Mendongkrak Kesederajatan Manusia Dan Lingkungan
Sejatinya kesadaran
diri merupakan kepastian yang berada di dalam diri dan menjadikannya sebagai relasi
yang memberi efek bagi diri itu sendiri. Dengan kepastian setiap individu mampu
menemukan diri dalam kesadaran diri yang absolut. Kesadaran diri ditafsir
sebagai enigma dari kebenaran. Kebenaran dihubungkan dengan integritas yang
tidak dapat terlepas dari kesadaran, sebab tanpa kesadaran kerinduan tidak
terpenuhi dalam kesadaran diri. Dasarnya adalah kehidupan dan kerinduan
membentuk justifikasi yang mewujudkan pengakuan diri. Setiap individu mempunyai
kehendak untuk menjustifikasikan dirinya sebagai instrumen kesadaran diri. Pengakuan akan diri subjektivitas diuji
dengan metode keluar dari cangkang kehidupan diri sendiri dan meleburkan diri
dengan pribadi-pribadi yang lain. Di dalam kesadaran diri setiap individu
mengungkapkan dirinya sebagai suatu kerinduan yang mampu dimengerti sebagai
fenomena nyata karena berkaitan erat dengan kesadaran diri. Prinsipnya manusia kaya
akan kesadaran diri dan menghendaki dirinya sampai pada kerinduan untuk kembali
pada mahkota kesadaran diri yang berada dalam dirinya.
Kesimpulan
Gereja sedianya membangun
konsep kesedaran diri sebagai upaya untuk mengatasi persoalaan pendiskriminasian
terhadap lingkungan. Kesadaran diri menemukan dirinya dalam kehendak, karena
kehendek merupakan afirmasi dari alienasi diri untuk mencapai kemajuan dalam
diri. Kerinduan mencapai kemajuan dalam diri ditunjukkan melalui kehendak
pribadi. Perluasan kehendak kesadaran diri dengan cara keluar dari dirinya dan
berjumpa dengan yang lain, ia keluar tetap sebagai si aku dengan mengembangkan
konsep sebagai dirinya sendiri dan tidak terkontaminasi dengan diri-diri yang
lain. Alienasi itu berakar dari diri yang sama dan ia keluar dari dirinya
dengan penuh keyakinan bahwa ia akan kembali menjadi dirinya sendiri. Diri yang
keluar dari dirinya akan mengalami kemajuan dari tahap ke tahap dan diperkaya
dengan berbagai pengalaman hidup yang diperoleh sebagai kekayaan bagi diri
sendiri. Penemuan diri itu dijumpai melalui ekspansi diri untuk berelasi dengan
diri yang lain dalam komunitas lingkungan kehidupan sehingga terjadi pengakuan
dalam kehidupan bersama.
Baca juga: Gereja dan Ketidakadilan | Menghadapai Ketidakadilan dengan Kasih Tuhan | Selfy Correia

Komentar
Posting Komentar