Langsung ke konten utama

Yang Satu Diperhatikan dan yang Lain Jangan Diabaikan | Pius Ngey

 

Secara langsung judul di atas hendak mengajak kita untuk melihat apa arti dari keadilan yang sejati. Injil Lukas melalui pernyataan di atas mau membuka mata dan pikiran kita untuk secara sederhana melihat dan memahami bagaimana keadilan sejati itu seharusnya diperhatikan dan dijalankan dalam hidup kita tanpa harus menyebabkan adanya suatu dampak atau akibat yang tidak semestinya terjadi. Ketika kita mampu melaksanakan apa yang menjadi kewajiban dan tugas kita dengan penuh tanggung jawab tanpa harus cuek terhadap hal yang lain, maka di situ kita telah menghayati dan menghidupi esensi keadilan. Namun, akan menjadi sebuah akibat yang melahirkan adanya sikap ketidakadilan ketika kita hanya memprioritaskan atau mengerjakan hal yang satu, dan lebih memilih untuk meniadakan hal yang lain yang juga memiliki esensi potensial bagi kelangsungan hidup kita. Pertanyaan fundamental bagi kita ialah apakah keadilan dan ketidakadilan merupakan sebuah pilihan yang sejatinya menuntut kita untuk terlebih dahulu melihat sejauh mana kedua sikap itu memberi hasil yang berguna bagi kita? Ataukah kedua sikap itu merupakan tindakan yang murni lahir dari diri kita tanpa melewati sebuah proses berpikir tentang akibat atau dampak yang akan ditimbulkan? Secara pribadi saya melihat bahwa keadilan dan ketidakadilan merupakan dua sikap yang sejatinya dilahirkan karena adanya sikap yang murni lahir dari dalam diri kita dan mengarah pada sebuah tujuan yang hendak diwujudkan.

Berhadapan dengan realitas ketidakadilan yang terjadi dalam hidup kita, Lukas hendak menghantar kita pada sebuah kesadaran bahwa konsep yang kita bangun tentang mendahulukan yang satu dan meniadakan yang lain, sesungguhnya merupakan latar belakang utama terbentuknya sikap ketidakadilan dalam diri kita. Adanya sikap ketidakadilan sesungguhnya mengakibatkan banyak dampak destruktif bagi perkembangan dan kemajuan hidup kita. Kita harus menyadari bahwa ketidakadilan adalah jalan utama menuju penderitaan; penderitaan yang bukan hanya menyerang pada bagian fisik kita, melainkan pada jiwa spiritual kita. Jika kita tidak adil terhadap sesama kita yang kekurangan misalnya, secara tidak langsung kita telah menambah penderitaan dan memperlebar luka yang bukan hanya ada pada bagian fisik mereka, tetapi juga pada jiwa spiritual mereka. Tindakan konkret kita seperti menyia-nyiakan makanan dan membuang pakaian-pakaian yang sebenarnya masih baik dan bisa didonasikan kepada mereka merupakan tindakan yang sekiranya sangat tidak menunjukkan keadilan terhadap mereka.

Selain penderitaan, tindakan ketidakadilan bisa menghantar kita pada keadaan rusaknya perdamaian dalam kehidupan bersama. Bagaimana hal itu dapat terjadi? Kita dapat melihat dan menjadi sadar bahwa ketidakadilan memicu rasa ketidakpuasan dari pihak yang mengalami tindakan tersebut. Berawal dari rasa ketidakpuasan menyebar ke arah percekcokkan antara kedua pihak yang bersangkutan. Merasa bahwa pihak mereka telah diabaikan dan dicurangi, memicu bangkitnya sikap ingin membalas dendam terhadap pihak yang telah menunjukkan sikap tidak adil terhadap mereka. Hal ini kemudian bermuara pada tindakan perang antara kedua pihak yang berujung pada rusaknya perdamaian. Persoalan konkretnya ialah dapat kita lihat lewat peristiwa perang yang terjadi antara Rusia melawan Ukraina. Merasa bahwa negaranya telah dikhianati dan diperlakukan tidak adil oleh pemimpin Ukraina membuat Putin yang adalah pemimpin Rusia mengumumkan perang terhadap Ukraina, yang sampai saat ini masih terjadi dan menimbulkan banyak ketidaknyamanan baik bagi kedua negara juga bagi negara-negara lain. Contoh seperti ini kiranya membuka pemahaman dan kesadaran kita bahwa ketidakadilan memang merusak persatuan dan kesatuan yang bukan hanya tertuju kepada suatu komunitas atau instansi tertentu, melainkan melibatkan wilayah yang lebih luas yakni negara.

Berhadapan dengan persoalan menyangkut ketidakadilan, Gereja tentu memiliki pandangan dalam melihat bagaimana tindakan ini sebagai suatu hal yang seharusnya tidak perlu dipraktikkan. Bertolak dari pernyataan Injil Lukas, Gereja sesungguhnya ingin menghimbau agar keadilan dapat kita realisasikan dalam hidup kita dan kita harus mampu untuk menghindarkan diri dari tindakan ketidakadilan yang mengakibatkan banyak hal negatif bagi hidup kita. Gereja hendak membuka pemahaman dan kesadaran kita bahwa keadilan merupakan batu pijakan menuju kebijaksanaan dalam diri kita masing-masing. Artinya bahwa ketika kita secara bijaksana mampu menjalankan setiap tugas yang dipercayakan kepada kita secara baik dan penuh tanggung jawab tanpa harus mengabaikan tugas yang lain, maka di situlah kita telah mampu menghayati dan menghidupi esensi dari keadilan itu sendiri. Dengan demikian, Gereja ingin menyadarkan kita bahwa ketika sikap tidak adil dihayati dan dihidupi dalam hidup kita, maka sesungguhnya kita telah membunuh dan menguburkan sikap bijaksana yang pada dasarnya telah dipupuk dan ditanam dalam diri kita masing-masing. Oleh karena itu, Gereja mengajak kita untuk selalu melihat dampak buruk yang ditimbulkan dari sikap ketidakadilan dan menyadarkan kita untuk tidak menghidupi sikap itu demi menjaga kesatuan dan persatuan dalam hidup kita bersama.


Baca juga: Courageous: Kisah Keberanian Para Ayah Hebat



Pius Ngey, salah satu penghuni Unit Efrata-Gere. Penulis berasal dari Bajawa dan sedang menyelesaikan studi filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero. 



Komentar

  1. bagus sekali tulisan dan sangat bermanfaat bagi langkah pastoral kedepannya. terimakasih teman teman semua.


    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...