Secara langsung
judul di atas hendak mengajak kita untuk melihat apa arti dari keadilan yang
sejati. Injil Lukas melalui pernyataan di atas mau membuka mata dan pikiran
kita untuk secara sederhana melihat dan memahami bagaimana keadilan sejati itu
seharusnya diperhatikan dan dijalankan dalam hidup kita tanpa harus menyebabkan
adanya suatu dampak atau akibat yang tidak semestinya terjadi. Ketika kita
mampu melaksanakan apa yang menjadi kewajiban dan tugas kita dengan penuh
tanggung jawab tanpa harus cuek terhadap hal yang lain, maka di situ
kita telah menghayati dan menghidupi esensi keadilan. Namun, akan menjadi
sebuah akibat yang melahirkan adanya sikap ketidakadilan ketika kita hanya memprioritaskan
atau mengerjakan hal yang satu, dan lebih memilih untuk meniadakan hal yang
lain yang juga memiliki esensi potensial bagi kelangsungan hidup kita.
Pertanyaan fundamental bagi kita ialah apakah keadilan dan ketidakadilan
merupakan sebuah pilihan yang sejatinya menuntut kita untuk terlebih dahulu
melihat sejauh mana kedua sikap itu memberi hasil yang berguna bagi kita? Ataukah
kedua sikap itu merupakan tindakan yang murni lahir dari diri kita tanpa
melewati sebuah proses berpikir tentang akibat atau dampak yang akan ditimbulkan?
Secara pribadi saya melihat bahwa keadilan dan ketidakadilan merupakan dua
sikap yang sejatinya dilahirkan karena adanya sikap yang murni lahir dari dalam
diri kita dan mengarah pada sebuah tujuan yang hendak diwujudkan.
Berhadapan
dengan realitas ketidakadilan yang terjadi dalam hidup kita, Lukas hendak
menghantar kita pada sebuah kesadaran bahwa konsep yang kita bangun tentang
mendahulukan yang satu dan meniadakan yang lain, sesungguhnya merupakan latar
belakang utama terbentuknya sikap ketidakadilan dalam diri kita. Adanya sikap
ketidakadilan sesungguhnya mengakibatkan banyak dampak destruktif bagi
perkembangan dan kemajuan hidup kita. Kita harus menyadari bahwa ketidakadilan
adalah jalan utama menuju penderitaan; penderitaan yang bukan hanya menyerang
pada bagian fisik kita, melainkan pada jiwa spiritual kita. Jika kita tidak
adil terhadap sesama kita yang kekurangan misalnya, secara tidak langsung kita
telah menambah penderitaan dan memperlebar luka yang bukan hanya ada pada
bagian fisik mereka, tetapi juga pada jiwa spiritual mereka. Tindakan konkret
kita seperti menyia-nyiakan makanan dan membuang pakaian-pakaian yang
sebenarnya masih baik dan bisa didonasikan kepada mereka merupakan tindakan
yang sekiranya sangat tidak menunjukkan keadilan terhadap mereka.
Selain
penderitaan, tindakan ketidakadilan bisa menghantar kita pada keadaan rusaknya
perdamaian dalam kehidupan bersama. Bagaimana hal itu dapat terjadi? Kita dapat
melihat dan menjadi sadar bahwa ketidakadilan memicu rasa ketidakpuasan dari
pihak yang mengalami tindakan tersebut. Berawal dari rasa ketidakpuasan
menyebar ke arah percekcokkan antara kedua pihak yang bersangkutan. Merasa
bahwa pihak mereka telah diabaikan dan dicurangi, memicu bangkitnya sikap ingin
membalas dendam terhadap pihak yang telah menunjukkan sikap tidak adil terhadap
mereka. Hal ini kemudian bermuara pada tindakan perang antara kedua pihak yang
berujung pada rusaknya perdamaian. Persoalan konkretnya ialah dapat kita lihat
lewat peristiwa perang yang terjadi antara Rusia melawan Ukraina. Merasa bahwa
negaranya telah dikhianati dan diperlakukan tidak adil oleh pemimpin Ukraina
membuat Putin yang adalah pemimpin Rusia mengumumkan perang terhadap Ukraina,
yang sampai saat ini masih terjadi dan menimbulkan banyak ketidaknyamanan baik
bagi kedua negara juga bagi negara-negara lain. Contoh seperti ini kiranya
membuka pemahaman dan kesadaran kita bahwa ketidakadilan memang merusak
persatuan dan kesatuan yang bukan hanya tertuju kepada suatu komunitas atau
instansi tertentu, melainkan melibatkan wilayah yang lebih luas yakni negara.
Berhadapan
dengan persoalan menyangkut ketidakadilan, Gereja tentu memiliki pandangan
dalam melihat bagaimana tindakan ini sebagai suatu hal yang seharusnya tidak perlu
dipraktikkan. Bertolak dari pernyataan Injil Lukas, Gereja sesungguhnya ingin
menghimbau agar keadilan dapat kita realisasikan dalam hidup kita dan kita
harus mampu untuk menghindarkan diri dari tindakan ketidakadilan yang mengakibatkan
banyak hal negatif bagi hidup kita. Gereja hendak membuka pemahaman dan kesadaran
kita bahwa keadilan merupakan batu pijakan menuju kebijaksanaan dalam diri kita
masing-masing. Artinya bahwa ketika kita secara bijaksana mampu menjalankan
setiap tugas yang dipercayakan kepada kita secara baik dan penuh tanggung jawab
tanpa harus mengabaikan tugas yang lain, maka di situlah kita telah mampu
menghayati dan menghidupi esensi dari keadilan itu sendiri. Dengan demikian,
Gereja ingin menyadarkan kita bahwa ketika sikap tidak adil dihayati dan
dihidupi dalam hidup kita, maka sesungguhnya kita telah membunuh dan
menguburkan sikap bijaksana yang pada dasarnya telah dipupuk dan ditanam dalam
diri kita masing-masing. Oleh karena itu, Gereja mengajak kita untuk selalu
melihat dampak buruk yang ditimbulkan dari sikap ketidakadilan dan menyadarkan
kita untuk tidak menghidupi sikap itu demi menjaga kesatuan dan persatuan dalam
hidup kita bersama.
Baca juga: Courageous: Kisah Keberanian Para Ayah Hebat

bagus sekali tulisan dan sangat bermanfaat bagi langkah pastoral kedepannya. terimakasih teman teman semua.
BalasHapus