Langsung ke konten utama

Superbia in Praelio | Valen Ukat

 


Sama saudara yang terkasih dalam Kristus Tuhan

Pada November 1865, seorang pendeta bernama Arthur Connell diangkat menjadi Kepala Gereja St.Mark's di West Gorton, sebuah distrik di Timur ManchesterInggris. Kita ingat bahwa pada masa-masa itu revolusi industri di Inggris baru saja menunjukkan dampak negatifnya berupa penguasaan barang-barang produksi secara individual dan perampasan tanah oleh sebagian orang kaya yang kemudian menciptakan kesenjangan ekonomi dan sosial yang sangat besar di kalangan masyarakat Inggris waktu itu (Karl Marx yang waktu itu sedang sedang lalu lalang di Inggris sebagai jurnalis dan penulis dengan nama samaran "Monsieur Ramboz" mencatat semua fenonema ini dalam bukunya, Das Kapital, buku I).

Karena situasi ekonomi yang tidak memungkinkan tersebut, tingkat kekerasan dan pengangguran menjadi sangat tinggi di Inggris waktu itu. Anak-anak muda yang lahir dari keluarga yang kehilangan tanah tidak dapat bekerja di kebun-kebun mereka sedangkan mereka juga tidak bisa menawarkan jasa mereka kepada para pemilik tanah waktu itu karena penggunaan mesin diesel waktu itu telah merambah sektor pertanian dan telah mengambil alih kerja para buruh tani.

Prihatin akan situasi ini, Anna Connell, Putri dari Pdt. Arthur Connel, si kepala Gereja St. Mark’s yang baru, berinisiatif dan memutuskan untuk membentuk sebuah asosiasi yang mendorong para pemuda paroki untuk berolahraga.  Dia percaya bahwa olahraga dapat menyatukan dan mengurangi kejahatan di Manchester Timur waktu itu. Maka, pada tahun 1868 terbentuklah Tim Kriket Gereja St. Mark's. Pada tahun 1875 tim kriket ini mulai menambahkan permainan sepak bola yang pada waktu itu mulai populer ke dalam asosiasi olahraga para anak muda dari Gereja St. Mark’s. Kemudian, pada tahun 1880, dibentuklah suatu klub sepakbola yang terlepas dari klub kriket yang diberi nama St. Marks (West Gordon) di bawah bimbingan William Beastow dan Anna Connell. Pertandingan pertama klub ini tercatat terjadi pada 13 November 1880, melawan tim Gereja dari Macclesfield. Tim St. Mark's yang waktu itu mengenakan kemeja hitam dengan celana pendek putih kalah 1-2 dalam petandingan tersebut.

Pada tahun 1887, klub ini pindah ke markas yang baru di Hyde RoadArdwick. Nama klub pun berubah menjadi Ardwick A.F.C. untuk menyesuaikan diri dengan letak markas yang baru. Ardwick A.F.C mulai ikut berkompetisi di Divisi 2 Football League pada tahun 1892. Setahun kemudian, musim 1893-1894, masalah keuangan membelit klub dan setelah diorganisasi ulang akhirnya mereka berganti nama lagi menjadi Manchester City Football Club.

Debut Manchester City di dunia sepak bola Inggris tidak berjalan dengan mulus. Pada awal tahun 1980-an City mengalami masa penuh gejolak penurunan yang berpuncak pada degradasi ke tingkat ketiga sistem liga sepak bola Inggris pada tahun 1998 untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka. Pada saat era Liga Premier Inggris pertama kali dibentuk tahun 1992, City adalah salah satu pencetus liga premier untuk pertama kali. Namun, prestasi klub ini tidak kunjung membaik, bahkan City harus terdegradasi kembali ke tingkat kedua hingga 2 kali, sementara di ajang Piala FA sejak bergulirnya Liga Premier Inggris, prestasi terbaik City hanya sampai pada perempat-final.

Menghadapi situasi yang tidak menguntungkan, squad Citizens selalu berpegang pada semboyan mereka: Superbia in Praelio (kebanggan di pertempuran). Pertandingan di lapangan adalah pertempuran. Apapun hasilnya, kebanggaan harus mendahului semua perasaan. Lapangan mungkin tidak selalu menyediakan kemenangan, tetapi kebanggaan selalu membarengi setiap orang yang berani menantang pertempuran (pertandingan) di lapangan.

Terbukti, semangat ini membentuk Manchester City menjadi salah satu raksasa Premier League saat ini yang tidak bisa dianggap remeh. Tercatat, Manchester City telah memenang Premier League sebanyak 6 kali, Piala FA 6 kali, Piala Liga Inggris 7 kali, dan Piala Winners Eropa 1 kali dan untuk saat ini, di pekan ke-24 Liga Inggris, Manchester City masih kokoh bertengger di puncak klasemen dengan mengantongi 57 poin.


Baca juga: Menimba Inspirasi dan Pesan Yesus untuk Misi Dewasa Ini Seturut Teladan Yosef Freinademetz (Lukas 10:1-12) | Mikel Male


Sama saudara yang terkasih dalam Kristus Tuhan

Semboyan Superbia in Praelio (kebanggaan di pertempuran) bukanlah semboyan yang asal-asalan. Yesus, dalam perumpamaannya tentang benih yang tumbuh dan biji sesawi menjelaskan kepada kita mengapa kita perlu bangga dalam menjalani hidup (yang dalam arti lain= pertarungan). Yesus selalu mengajarkan bahwa Kerjaan Allah adalah kerajaan kasih. Oleh karena itu, perumpamaan pertumbuhan benih dan biji sesawi yang digunakan Yesus untuk menjelaskan perkara Kerajaan Allah tidak lain tidak bukan adalah penggambaran mengenai karya kasih Allah itu sendiri.

Karya kasih Allah bekerja dalam hidup manusia seperti pertumbuhan benih yang tidak seorang pun dapat mengintervensinya. Karya kasih Allah mengalir senantiasa kepada manusia seperti benih yang bertumbuh dengan sendirinya tanpa harus diketahui atau dianalisis terlebih dahulu. Kasih itu nyata mengalir dengan sendirinya hingga pada saatnya orang sadar “apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba”. Kasih Allah memang tidak kita ketahui datangnya sejak kapan, cara kerjanya seperti apa atau penjelasan logisnya seperti apa, tetapi kita tahu bahwa kita menikmatinya.

Penggambaran lain: karya kasih Allah seperti biji sesawi. Biji sesawi ini kecil sekali, mungkin tidak disadari bila jatuh ke tanah, tidak dianggap mungkin, tetapi hasilnya nyata: ia akan berubah menjadi pohon yang rindang yang memberi rumah bagi berbagai jenis burung, memberi tempat naungan bagi manusia. Sekali lagi, cara kerja kasih Allah tidak kita sadari, tetapi nyata bagi kita. Seperti biji sesawi yang mungkin kita tidak pernah sadar dia jatuh ke tanah karena saking kecilnya, tetapi kita nikmati naungan yang diberinya.

Satu kesimpulan ini kita peroleh dari kedua perumpamaan ini: Allah tidak pernah menjelaskan secara detail bagaimana kasih-Nya Ia limpahkan kepada kita (Allah tidak pernah sombong), tetapi kasih-Nya itu kita nikmati dengan cuma-cuma secara nyata.

Oleh karena itu, selalulah berbangga ketika menjalani hidup. Jatuh bangun bukan alasan bagi kita untuk lupa bahwa tanpa kita sadari Kasih Allah selalu Ia limpahkan kepada kita. Hidup adalah pertempuran. Apapun keadaanya, kebanggaan harus mendahului semua perasaan. Hidup mungkin tidak selalu menyediakan kemenangan, tetapi kebanggaan selalu membarengi setiap orang yang berani menantang pertempuran (hidup) tersebut. Kita berbangga sebab kita percaya, apapun keadaannya, kasih Allah selalu mengalir bagi kita. Karena kasih Allah itu, Seperti Manchester City yang kemudian mampu bangkit dan meraih puncak Liga Inggris, kita pun pasti akan memperoleh hal yang terbaik bagi kita.

Sama saudara yang terkasih dalam Kristus Tuhan

Teladan terbaik bagi kita, calon-calon misionaris ini, soal berbangga dalam menjalani hidup (berbangga dalam pertarungan) karena mengalirnya kasih Allah bagi kita tidak lain tidak bukan adalah St. Yosef Freinademetz. Kita ingat bahwa perjalanan panggilannya menjadi seorang misionaris bukanlah perjalanan yang gampang dan mulus-mulus saja. Sejak awal, semua tidak berjalan dengan lancar-lancar saja. Dalam catatan Vatikan, ketika beliau sampai di Shantung Selatan (populasi 12 juta jiwa dengan hanya 158 orang Kristen) pada tahun 1881, beliau langsung menghadapi berbagai macam penderitaan seperti: medan perjalanan yang jauh dan sulit, serangan oleh bandit, dan kesulitan untuk membangun suatu komonitas Kristen. Parahnya lagi, ketika suatu komunitas Kristen telah mulai beliau kembangkan, beliau langsung disuruh oleh uskup setempat untuk meninggalkannya dan memulai komunitas baru. Beliau juga diterpa oleh tuberkulosis yang membuatnya kesulitan untuk bermisi. Pada akhirnya juga beliau meninggal akibat tifus setelah melayani masyarakat yang terkena penyakit ini.

Terlihat betapa banyaknya cobaan yang dialami oleh St. Yosef Freinademetz, tetapi beliau tetap bangkit dengan mantap dan meninggalkan bagi kita semboyan misionaris yang hampir mirip dengan semboyan Manchester City: Salib adalah makanan sehari-hari seorang misionaris. Beliau percaya bahwa apapun bentuk pertarungan yang beliau hadapi dalam kehidupannya sebagai misionaris, cinta Tuhan selalu mengalir dengan begitu deras bagi dirinya. Beliau bangga dalam pertarungan hidup menjadi misionaris. Karena itu, meskipun salib selalu dialami oleh seorang misionaris, seharusnya dia tetap berdiri dan berkata bangga: inilah pertarunganku.

Bagi kita, teladan ini mungkin ekstrem, tetapi bukan berarti tidak mungkin untuk dihidupi dengan lebih sederhana. Kita sadari bahwa hidup kita sendiri adalah sebuah pertarungan yang kita sendiri tidak tahu kapan kita menang atau kapan kita kalah. Namun, itu hanyalah hasil. Apapun hasilnya, kita seharusnya bangun dan dengan bangga berkata: ini hidup saya, saya berbangga untuk itu sebab kasih Tuhan selalu melimpah bagi saya melalui kehadiran siapa dan apa saja di sekitar saya.

Kita sadari bahwa seringkali kita jatuh lalu sulit bangkit lagi. Itu bukan kutukan! Selama kita bisa, kita pasti bangun. Jika hari ini saya tidak taat aturan, saya akan bangun lagi esok, menaati lagi peraturan-peraturan yang ada sebab saya percaya bahwa Tuhan menyayangi saya, kasih-Nya berlimpah, Dia tidak mungkin tetap membiarkan saya dalam lumpur kubangan yang sama. Hari ini saya jatuh, esok saya pasti bangkit!

Mari, jaga selalu api semangat kita dan bersama para punggawa Manchester City kita berseru: Superbia in Praelio!


    Baca juga: Menjadi Terang bagi yang Lain ( Menyelami Hidup Yesef Freinademetz dalam Terang Markus 4:21-25) | Benja Kofi


Catatan: renungan ini dibuat untuk keperluan ibadat triduum (hari ketiga) menyongsong pesta St. Yosef Freinademetz.


Valen Ukat, mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero yang saat ini tinggal di Unit Efrata-Gere, Ledalero. Penulis berasal dari Timor. Sedang tekun menyelesaikan skripsi, mencintai Karl Marx dan Manchester City sedalam-dalamnya. 



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...