Menimba Inspirasi dan Pesan Yesus untuk Misi Dewasa Ini Seturut Teladan Yosef Freinademetz (Lukas 10:1-12) | Mikel Male
Saudara-saudara
yang terkasih
Penginjil
Lukas dalam bacaan yang ditawarkan kepada kita melukiskan kisah Yesus
mengutus tujuh puluh murid. Ada beberapa pesan yang tersirat yang coba
dituangkan Lukas dalam tulisannya. Pertama, tidak boleh membawa pundi-pundi,
bekal, dan kasut. Pernyataan ini mau
menegaskan bahwa untuk menjadi seorang misionaris, orang tidak boleh terikat
dengan harta dan juga kenyamanan status jabatan yang telah diperoleh sebelumnya
sebab itu semua merupakan hambatan yang membuat seseorang tidak fokus
menjalankan tugas perutusannya. Kedua, mengutus ke tengah-tengah serigala. Misi
Kristus tidak mudah. Orang akan dihadapkan kepada segala macam cobaan, dibenci,
ditindas, dan boleh jadi dibunuh. Semua itu merupakan konsekuensi mutlak yang mesti diterima ketika
menjadi seorang murid Kristus. Pertanyaannya, sudah siapkah kita?
Saudara-saudara
yang terkasih
Pada
hari pertama triduum St. Yosef Freinademetz ini saya mencoba mengajak kita
untuk melihat arti menjadi misionaris dewasa ini. Dunia kita saat ini, dalam
hal-hal tertentu semakin mempermudah manusia untuk mendapatkan apa yang
diinginkan hanya dalam sekali klik. Kemudahan-kemudahan seperti ini membuat
manusia berusaha seminimal mungkin menggunakan “jasa-jasa tertentu” untuk
melayani kebutuhannya. Jika semakin dipermudah seperti ini apakah tenaga-tenaga
misionaris seperti kita-kita ini masih dibutuhkan? Jawaban atas pertanyaan ini
bergantung pada bagaimana kita memahami frasa misionaris. Jika misionaris
diartikan hanya sebagai orang yang diutus untuk mewartakan Sabda Tuhan dalam
arti yang sedangkal-dangkalnya maka
jawabannya jelas orang tidak akan lagi membutuhkan seorang misionaris di zaman
ini. Mengapa demikian? Perkaranya, jika misionaris dipahami hanya sebatas
mewartakan Sabda Tuhan dalam arti supaya
orang mengenal-Nya sebagaimana yang dipercaya oleh orang-orang Kristen, maka itu
merupakan suatu kekeliruan. Keliru karena untuk mendapatkan semua itu orang bisa mengaksesnya melalui google, youtube, dan aplikasi-aplikasi religi lainnya. Gampang saja.
Oleh
karena itu, misionaris mesti dipahami secara lebih kompleks, dalam, dan komprehensif.
Yang saya maksud dengan kompleks, dalam, dan komprehensif berarti tidak hanya
sebatas memperkenalkan Tuhan kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan seperti
apa yang kita imani. Prinsip memperkenalkan Tuhan kepada orang-orang yang belum
mengenal Tuhan seperti ini sudah lewat, sudah dilakukan oleh genarasi-generasi
pendahulu kita, termasuk di dalamnya St. Yosef Freinademetz.
Menurut
St. Yosef Freinademetz, panggilan menjadi misionaris tidak lain merupakan suatu
undangan untuk pergi bersama Dia ke padang gurun mencari domba-domba yang
hilang. Situasi saat ini menampilkan realitas bahwa kita bukan lagi mencari
domba dalam kekosongan, artinya kita harus mulai dari awal. Maknanya tidak
seperti itu lagi. Situasi kita dewasa ini sebenarnya telah dipermudah serempak
sulit. Kita dipermudah karena hanya melanjutkan misi yang telah dilakukan oleh
generasi pendahulu dengan sedikit improvisasi di dalamnya. Sulitnya adalah
bagaimana kita mepertahankan agar usaha yang telah diperjuangkan oleh para
misionaris terdahulu itu tidak hilang. Saya katakan sulit karena beberapa
alasan berikut. Pertama, kita mengajak orang-orang yang telah menjadi Katolik
untuk semakin mengenal dan mendekatkan diri dengan Kristus, apalagi berhadapan
dengan orang-orang yang apatis. Ini berbeda dengan situasi ketika berhadapan
dengan orang yang belum tahu. Ketika diajak akan timbul rasa penasaran dan kemudian
ingin mencoba apabila ia merasa menarik. Kedua, keadaan dunia yang makin
kompleks, dalam kasus-kasus tertentu,
orang lebih mementingkan karier dan pekerjaan ketimbang hal-hal rohani
yang menurut sebagian orang merupakan urusan dan tanggung jawab pribadi.
Semakin maju dunia, ketimpangan sosial ekonomi semakin tajam, penderitaan tidak
pernah berkesudahan, dan kita seturut
nasehat Injil dituntut untuk melawan dunia yang tidak adil seperti itu. Menjadi
misionaris saat ini adalah bagaimana memengaruhi orang untuk terus menerus
berada bersama dalam satu kawanan dan menghindari ketersesatan melalui
pelayanan dan kesaksian-kesaksian kita.
Baca juga: Membangun Iman di Era Internet | Sebuah Tinjauan Reflektif | Oleh Vinsensius Laka* |
Saudara-saudara
yang terkasih
Sebagai
anggota misionaris SVD kita mesti pertama-tama tahu dan sadar akan satu hal
ini: Tuhan seperti apa yang ingin diwujudkan oleh serikat ini. Kita tidak
sekedar hanya mewartakan Kitab Suci, tetapi juga mesti menghidupi nilai-nilai
yang ada di dalamnya seperti, berpihak pada orang kecil dan miskin, menyerukan
keadilan, serta menciptakan situasi yang damai dan tenang dalam masyarakat. Itu
yang dibutuhkan dunia saat ini dari para misionaris.
Tuntutan misi tersebut mesti kita hidupi dari
sekarang sebab itu merupakan kunci utama pewartaan kita. Kita mesti memberi
apresiasi kepada sama saudara kita yang sudah mulai menyuarakan keprihatinan
terhadap situasi-situasi sosial di sekitar melalui tulisan di koran-koran lokal
maupun nasional, membagi sedikit dari yang mereka punya kepada tetangga-tetangga,
dan selalu berpartisipasi dalam menyuarakan
keadilan. Beberapa hal yang sidah disebutkan itu baik. Namun, ada juga yang
masih punya waktu untuk membangun kebencian-kebencian tertentu terhadap yang
lain atau menjelek-jelekkan yang lain lantaran tidak suka ataupun alasan
lainnya. Bagaimana itu bisa terjadi padahal serikat kita ini menjunjung tinggi
perdamaian itu sendiri? Bagaimana kita mau memperjuangkan keadilan dan
perdamaian di luar jika di antara kita sendiri keadilan yang sama masih belum
mampu diwujudakan?
Berhadapan
dengan tantangan-tantangan dunia dewasa ini dan kesulitan-kesulitan yang talah
disebutkan sebelumnya, apa yang mesti kita buat? Berkaca pada St. Yosef
Freinademetz, adalah baik jika kita meletakkan titik fokus misi kita pada
beberapa hal berikut. Pertama, kita menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada
penyelenggaraan Allah Tritunggal Mahakudus, buka hati untuk mendengarkan apa
yang Tuhan mau untuk kita perbuat. Intinya bahwa jika kita menyerahkan diri
kepada penyelengaraan Tuhan, Ia akan memampukan kita semua untuk mengatasi masalah-masalah
yang merintangi kehidupan kita.
Kedua, totalitas. Apapun pekerjaan, apapun status
kita, apapun misi yang kita jalankan, semuanya itu mesti dikerjakan dengan semangat yang penuh dengan totalitas.
Kesulitan apapun dalam tugas kita jika dilakukan dengan totalitas niscaya
keberuntungan dan keberhasilan akan memihak kepada kita.
Ketiga, berdoa. Misi di China adalah mustahil
dilalui jika St. Yosef tidak menguatkan diri dengan doa-doa dan mendekatkan
diri secara terus-menerus dengan Tuhan. Ia tidak mungkin melewati penindasan
dan penganiayaan yang dialaminya dan orang-orang Katolik di China pada saat
itu. Begitu juga dengan kita. Dalam hidup sehari-hari, kita tidak boleh melepaskan
diri dari Tuhan. Selain doa bersama kita juga mesti memiliki waktu untuk doa pribadi,
mohon kekuatan dari Tuhan untuk menjalani hidup di mana saja kita berada.
Saudara-saudara
yang terkasih
St.
Yosef Freinademetz dikenal sebagai misionaris pertama Serikat Sabda Allah (SVD) yang diutus oleh Arnoldus
Janssen untuk pergi dan menjalankan misi di China dan tidak pernah pulang ke
kampung halamannya hingga akhir hayatanya. Ia pernah berujar “hingga di Surga
pun saya tetap mau menjadi orang China”. Teladan hidup yang memberi diri secara
total sebagaimana yang diperlihatkan oleh St. Yosef Freinademetz adalah baik
untuk kita semua hanya jika digunakan pada waktu yang tepat. Perlu diingat,
kita semua adalah calon misionaris. Kita boleh bermisi ke mana-mana dan secara
total memberi diri terhadap tugas-tugas kita. Namun ingat, jangan lupa kembali
ke rumah, sebab ketika kita tidak ingin pulang dari tempat kita bermisi, kita
sebenarnya telah berencana untuk
membunuh panggilan kita sendiri sebagai seorang misionaris.
Catatan: renungan ini dibuat untuk keperluan ibadat triduum (hari pertama) menyongsong pesta St. Yosef Freinademetz.
Komentar
Posting Komentar