Langsung ke konten utama

Menjadi Terang bagi yang Lain ( Menyelami Hidup Yesef Freinademetz dalam Terang Markus 4:21-25) | Benja Kofi

 


Saudara-saudara yang terkasih

Setiap orang dipanggil untuk menjadi pembawa terang. Terang adalah lambang kebenaran di tengah kegelapan, terang menyingkap kegelapan. Seperti pelita di tengah kegelapan, demikian pula kehadiran setiap orang di tengah dunia, mesti membawa kebaikan dan sukacita. Untuk dapat menjadi terang seseorang harus melewati sebuah proses panjang dan proses itu berjalan sepanjang hayat. Menjadi terang tidak datang dengan sendirinya. Pertama-tama dimulai dengan sikap membuka diri. Membuka diri memungkinkan setiap orang untuk merasa bersalah terhadap yang lain, merasakan kehadiran orang lain. Orang lain dipahami sebagai kehadiran Dia yang Transenden, yakni Allah yang melampaui ruang dan waktu. Dengan membuka diri kita menjadi siap ‘menanggung’ suatu kedatangan. Setiap orang dalam kedatangannya memberi dan memperkaya satu sama lain. Kedatangan orang lain memberi kepekaan akan kemanusiaan, membuat kita dapat merasakan perasaan mencintai dan dicintai, atapun perasaan membenci dan dibenci. Puncak dari sebuah aktus membuka diri adalah dengan memberi diri. Memberi diri membuat kita beralih dari cinta yang egoistik kepada cinta yang universal, dari cinta eros kepada cinta yang agape. Dengan memberi diri kita menjadi terang bagi orang lain.

Saudara-saudara yang terkasih

Pemberian diri untuk menjadi terang bagi orang lain tergambar dalam teladan hidup St. Yosef Franademetz. Ketika membaca beberapa tulisan berkaitan dengan kisah hidup St. Yosef Freinademetz, saya diliputi perasaan kagum yang menjadi-jadi. St. Yosef Frainademetz, misionaris sulung Serikat Sabda Allah adalah gambaran seorang misionaris sejati, pergi ke negeri asing, membawa terang ke tempat di mana Allah belum dikenal. St. Yosef Freinademetz menangalkan status imam diosesan kemudian bergabung dengan Serikat Sabda Allah demi cita-citanya membaktikan diri bagi banyak orang di tanah misi. St. Yosef Freinademetz membaktikan seluruh hidupnya bagi misi di China, bagi orang-orang yang dilayaninya. Ia tidak pernah kembali untuk melihat tanah kelahirannya. Ia mengenakan pakaian orang China, dapat didefenisikan sebagi orang China di antara orang-orang China. St. Yosef Freinademetz juga sangat fasih dalam berbahasa Thianghoa. Bahkan di kemudian hari ia berkata “sekarang saya lebih senang menjadi orang China dari pada orang Tyrol, dan tetap ingan menjadi orang China bahkan di Surga”.


Baca juga: Menimba Inspirasi dan Pesan Yesus untuk Misi Dewasa Ini Seturut Teladan Yosef Freinademetz (Lukas 10:1-12) | Mikel Male


Saudara-saudara yang terkasih

Sebagai umat beriman Kristiani pada umumnya maupun secara khusus sebagai calon misionaris, kita berkewajiban menjadi terang bagi orang lain. Menjadi terang dalam konteks ini berarti kita membawa sukacita keselamatan Kristus dalam Salib. “Terang salib Kristus tidak boleh kita letakkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan di taruh di atas kaki dian”. Maksudnya agar cahaya itu dapat menerangi sudut-sudut ruangan yang gelap. Semua orang dapat menikmati terang, atau terbebas dari kegelapan.

Salib adalah lambang penderitaan yang memerdekakan. St. Yosef Freinademetz memahami agama Katolik sebagai agama salib, sebuah salib besar yang ia bawa kepada orang-orang yang belum mengenal Allah dan juga Salib sebagai kekuatan, harapan, dan suka cita bagi dirinya sendiri. Gambaran Yesus yang tersalib adalah gambaran yang menginspirasi St. Yosef Freinademetz dalam mengkristenkan orang-orang China. Terbukti ketika berada di China St. Yosef Freinademetz berhasil mengkristenkan banyak orang China. Baginya orang-orang Katolik adalah orang-orang yang mengikuti Tuhan yang tersalib. Tangan Tuhan yang terentang di atas salib merangkul semua manusia, melampaui batas-batas bangsa, suku, ras ataupun perbedaan-perbedaan lainnya.  Semua orang harus bernaung di bawah salib dan menimba kekuatan di sana.

Saudara-saudara yang terkasih

Wajah adalah locus transendensi Yang Lain. Pengetahuan tentang Tuhan tidak terpisah dari persoalan tentang yang lain. Hal ini sejalan dengan refleksi filosofis Emannuel Levinas. Dalam refeleksinya ia berujar demikian: “Yang Lain adalah lokus kebenaran metafisis, dan  tidak dapat dipikirkan tanpa relasi dengan Tuhan ... Yang lain bukan inkarnasi Allah, tetapi Allah dikenal lewat wajahnya (wajah yang lain), ... Yang Lain adalah manifestasi dari mahatinggi, yang melaluinya Tuhan dinyatakan.”  Manusia dapat memahami Allah melalui kehadiran Yang Lain. Manusia diberi arti dan memberi arti satu sama lain. Berkat Yang Lain kita mampu mengalami berbagai situasi, seperti  jatuh cinta, pengkhianatan, kerinduan, kebahagiaan atau pun penderitaan. St. Yosef Freinademetz pergi ke tanah China membawa Salib Kristus yang menyelamatkan. Di sana juga ia menemukan “wajah Allah” dalam diri orang-orang China. Ia mencintai orang-orang China secara total. Ia pernah ditangkap dan disiksa secara kejam oleh kaum revolusioner karena mempertahankan umatnya. Walaupun demikian, penderitaan itu tidak mengendurkan semangatnya. Ia tetap setia meneguhkan iman umatnya dan terus mewartakan Injil. Baginya “Salib (penderitaan) adalah makanan sehari-hari seorang misionaris.” Tantangan, hadangan, dan kesulitan bagi St. Yosef Freinademetz adalah berkat dari Allah. Ia tidak pernah gentar atau pun takut berhadapan dengan Salib penderitaan. Salib (kesulitan) diterimanya dengan sukacita dan kegembiraan.  

Saudara-saudara yang terkasih

            Sebagai calon biarawan misionaris Serikat Sabda Allah, kita patut meneladani sikap-sikap yang dimiliki St. Yosef Frainademetz. Dalam usaha menjawabi panggilan ini, kita sering dilanda berbagi kecemasan, kesulitan, maupun keterbatasan-keterbatasan lainnya. Penyerahan diri kepada kasih kehendak Allah menjadi salah satu solusi untuk tetap bertahan di tengah pergumulan ini. Kita mesti senantiasa tunduk di bawah terang Salib dan menimba kekuatan pada-Nya. Terang Salib Kristus adalah tanda kemenangan kita. Kita adalah orang-orang yang dimenangkan oleh Salib Kritus. Kemenangan yang kita peroleh itu  mesti kita tampakkan dengan menjadi terang bagi orang lain. Seperti terang pelita di atas kaki dian, hendaknya kita menjadi terang yang mampu menerangi orang lain.


            Baca juga: Analisis Kompetensi Interkultural Yesus Dalam Injil Markus 7:24-30 dan Relevansinya Bagi Dialog Toleransi | Telaah Biblis | Aris Kapu


Catatan: renungan ini dibuat untuk keperluan ibadat triduum (hari kedua) menyongsong pesta St. Yosef Freinademetz.


Benja Kofi adalah salah satu penghuni Unit Efrata-Gere, Ledalero yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi FIlsafat Katolik Ledalero. Penulis adalah frater asal Atambua-Timor, jatuh cinta sedalam-dalamnya dengan FC Barcelona. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...