Langsung ke konten utama

Membaca Krisis dan Bencana Lingkungan Hidup Melalui Etika Lingkungan Hidup Sonny Keraf | Ondik Darman

 


Realitas seputar kerusakan lingkungan hidup dewasa ini telah menjadi wacana global karena dialami semua negara di dunia. Krisis dan bencana tersebut telah merambat ke seluruh belahan negara, entah itu negara maju maupun negara berkembang. Intensitas, durasi, bentuk, dan skala dari kerusakan lingkungan hidup pada level tertentu barangkali berbeda antara negara yang satu dengan negara yang lain. Kendatipun demikian, hal yang pasti ialah tidak ada negara yang benar-benar bebas dari krisis dan bencana tersebut. Krisis dan bencana tersebut dialami oleh semua negara dan sungguh-sungguh menunjukkan kehancuran lingkungan hidup secara global. Berhadapan dengan realitas ini, tentunya diperlukan tindakan preventif dari masyarakat secara mengglobal pula. Apabila tidak ada tindakan preventif, maka krisis dan bencana lingkungan hidup akan semakin parah dan pada waktu tertentu secara perlahan-lahan bisa menghancurkan bumi ini.

 

Etika Lingkungan Hidup Menurut Sonny Keraf

Pengertian tentang etika lingkungan dalam pandangan Sonny Keraf secara komprehensif dibahas dalam bukunya yang berjudul Etika Lingkungan Hidup. Dalam buku tersebut, ia mengulas mengenai permasalahan lingkungan hidup, dimulai dari teori-teori etika terdahulu, yang kemudian dengan teori-teori tersebut ia menarik beberapa kesimpulan dan mencoba menawarkan cara pandang atau paradigma baru sekaligus perilaku baru terhadap lingkungan hidup atau alam, yang bisa dianggap sebagai langkah preventif atau solusi praktis di tengah realitas krisis dan bencana lingkungan hidup dewasa ini.

Sonny Keraf menempatkan seluruh pemikirannya pada teori etika biosentrisme dan ekosentrisme, ia memahami alam semesta atau lingkungan hidup sebagai sebuah Oikos (berasal dari bahasa Yunani) yang artinya adalah habitat tempat tinggal atau rumah tempat tinggal. Namun, Oikos di sini tidak hanya dipahami sebagai lingkungan sekitar di mana manusia hidup saja, dia bukan sekedar rumah tempat tinggal manusia. Oikos dipahami sebagai keseluruhan alam semesta dan seluruh interaksi saling pengaruh yang terjalin di dalamnya di antara makhluk hidup dengan makhluk hidup lainnya dan dengan keseluruhan ekosistem atau habitat. Jadi, kalau Oikos adalah rumah, itu adalah rumah bagi semua makhluk hidup (bukan hanya manusia) yang sekaligus menggambarkan interaksi dan keadaan seluruhnya yang berlangsung di dalamnya. Oikos menggambarkan tempat tinggal, rumah, habitat tempat yang memungkinkan kehidupan tumbuh dan berkembang. Singkatnya, lingkungan hidup tidak hanya berkaitan dengan lingkungan fisik, tetapi juga dengan kehidupan yang terjalin dan berkembang di dalamnya.

Dalam buku yang sama, ia menegaskan bahwa etika lingkungan hidup dipahami sebagai sebuah disiplin ilmu yang berbicara mengenai norma dan kaidah moral yang mengatur perilaku manusia dalam berhubungan dengan alam serta nilai dan prinsip moral yang menjiwai perilaku manusia dalam berhubungan dengan alam tersebut. Etika lingkungan hidup tidak hanya dipahami dalam pengertian moral yang sama dengan pengertian moralitas sebagaimana yang telah dijelaskan. Etika lingkungan hidup lebih dipahami sebagai sebuah kritik atas etika yang selama ini dianut oleh manusia, yang dibatasi pada komunitas sosial manusia. Etika lingkungan hidup menuntut agar etika dan moralitas tersebut diberlakukan juga bagi komunitas biotik atau komunitas ekologis. Etika lingkungan hidup juga dipahami sebagai refleksi kritis atas norma-norma dan prinsip atau nilai moral yang selama ini dikenal dalam komunitas manusia untuk diterapkan secara lebih luas dalam komunitas biotik atau komunitas ekologis.

Di sisi lain, Sonny Keraf menekankan intensi etika lingkungan hidup sebagai refleksi kritis tentang apa yang harus dilakukan manusia dalam menghadapi pilihan-pilihan moral yang terkait dengan isu lingkungan hidup. Termasuk, apa yang harus diputuskan manusia dalam membuat pilihan moral dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang berdampak pada lingkungan hidup atau apa yang harus diputuskan pemerintah dalam kebijakan ekonomi dan politiknya yang berdampak pada lingkungan hidup. Hal ini berarti bahwa etika lingkungan hidup tidak hanya berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam, tetapi juga berbicara mengenai relasi di antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam dan antara manusia dengan makhluk hidup lain atau dengan alam secara keseluruhan. Termasuk politik dan ekonomi yang mempunyai dampak langsung atau tidak langsung terhadap alam.


Baca juga: Catatan Singkat tentang Memaknai Hidup (Review Buku Man's Search for Meaning Karya Viktor Frankl) | Ondik Darman

 

Akar Berbagai Krisis dan Bencana Lingkungan Hidup

Kerusakan lingkungan hidup yang ada sebagian di antaranya bisa dikategorikan sebagai fenomena alam karena memang bencana tersebut adalah murni peristiwa alam. Misalnya, gempa bumi, tsunami, gunung meletus, dan fenomena alam lainnya. Namun, sebagian besar lainnya ialah bencana lingkungan hidup yang muncul bukan karena dipengaruhi oleh fenomena alam murni, melainkan lebih karena pola hidup manusia (secara khusus manusia modern) dengan segala inovasi teknologi, pendidikan, ekonomi, industry, dan dimensi kemajuan lainnya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi turut memberi pengaruh tersendiri bagi lahirnya krisis dan bencana pada lingkungan hidup. Selain itu, corak pemikiran manusia modern yang keliru terhadap alam pun menjadi penyebab yang paling dominan dari munculnya berbagai krisis dan bencana pada lingkungan hidup dewasa ini.

Manusia gagal memperlakukan lingkungan hidup secara solider sebagai sahabat dan hanya menimbangkan dari konteks objek semata. Lingkungan hidup dipandang sebagai sarana, tambang kekayaan, sumber komoditas, sumber kekayaan yang dieksploitasi demi menjamin kebutuhan dan keinginan manusia. Lingkungan hidup dikelola secara serampangan dalam berbagai kegiatan proyek pembangunan. Barangkali kita harus rendah hati mengakui bahwa krisis ekologi yang menimpa alam semesta saat ini sejatinya disebabkan oleh adanya ketidakteraturan di dalam sistem kehidupan yang berlangsung. Ada sesuatu yang eror atau salah dari corak pemikiran yang kita bangun tentang diri sendiri, lingkungan hidup maupun alam semesta dalam skala yang luas. Kita begitu sombong dengan konsep subyektivitas yang salah dan nyaman dengan pola perilaku yang destruktif terhadap alam semesta dan semua entitas di dalamnya. Manusia hanya memahami dan memandang alam semesta sebagai objek yang hanya dibutuhkan sebagai pemenuhan kebutuhan dan untuk diambil manfaatnya saja. Tepat, apa yang dikatakan Sonny Keraf bahwa kekeliruan dalam membangun paradigma berpikir dan berperilaku terhadap alam semesta dan lingkungan hidup telah menyebabkan semakin masifnya krisis dan bencana pada lingkungan hidup dewasa ini.  

Lalu apa sebenarnya yang melatarbelakangi suburnya corak pemikiran dan perilaku manusia yang keliru terhadap dirinya, lingkungan hidup, dan alam semesta secara keseluruhan? Sonny Keraf menjawab bahwa etika antroposentrisme dari Filsafat Barat, yang bermula dari Aristoteles hingga corak pemikiran beberapa filsuf modern menjadi faktor dominan yang telah membentuk seluruh alur pemikiran dan rotasi perilaku manusia terhadap alam. Etika antroposentrisme telah membentuk manusia menjadi pribadi yang sombong dengan menilai diri sendiri lebih tinggi dan terhormat dibandingkan dengan alam dan makhluk ciptaan lain.

Beberapa filsuf modern seperti Thomas Aquinas yang berpendapat bahwa manusia sebagai satu-satunya makhluk hidup yang mampu menggunakan dan memahami bahasa, khususnya bahasa simbol untuk berkomunikasi. Manusia mampu menguasai dan menggerakkan aktivitasnya sendiri secara sadar dan bebas karena ia berakal budi yang mendekati keilahian Tuhan sekaligus mengambil bagian dalam keilahian. Lebih lanjut, Rene Descartes menganggap bahwa alam sebagai mesin raksasa yang bergerak secara otomatis dan manusia mempunyai tempat istimewa di antara semua makhluk hidup. Immanuel Kant di sisi lain menegaskan hanya manusia yang diperbolehkan secara moral untuk menggunakan makhluk lainnya untuk mencapai suatu tatanan dunia rasional. Sedangkan makhluk bukan manusia dan semua entitas alamiah lainnya tidak memiliki akal budi, mereka tidak berhak untuk diperlakukan secara moral. Filsuf lain seperti Francis Bacon juga turut mengajarkan bahwa manusia pada nilai antropomorfisme, yakni manusia adalah penguasa dan harus menaklukkan alam dengan ilmu dan teknologi yang dimilikinya.

Mereka menilai manusia sebagai satu-satunya makhluk bebas dan rasional, sedangkan alam sebagai objek pemuas kebutuhan dan keinginan manusia. Manusia adalah subjek dan alam adalah objek; tempat segala kenafsuan, kerakusan, keserakahan maupun kesombongan teraktualisasi tanpa terkendali. Jadi, kesalahan fundamental-filosofis dalam pemahaman atau cara pandang kita mengenai diri kita sendiri, tentang alam, dan tentang tempat kita dalam keseluruhan ekosistem merupakan penyebab paling fundamental dari krisis dan bencana lingkungan hidup dewasa ini.

Bertolak dari kenyataan semacam ini, Sonny Keraf secara tegas mengambil kesimpulan bahwa sikap dan perilaku manusia menjadi faktor dominan munculnya berbagai krisis dan bencana pada lingkungan hidup. Ia mulai menempatkan seluruh pemikirannya pada teori etika biosentrisme dan ekosentrisme di mana alam semesta atau lingkungan hidup disadari sebagai sebuah Oikos (berasal dari bahasa Yunani) yang artinya adalah habitat tempat tinggal atau rumah tempat tinggal sekaligus sebagai keseluruhan alam semesta dan seluruh interaksi saling pengaruh yang terjalin di dalamnya di antara makhluk hidup dengan makhluk hidup lainnya dan dengan keseluruhan ekosistem atau habitat. Dalam konteks ini, Keraf menekankan pentingnya penilaian moral terhadap alam dan lingkungan tempat di mana semua manusia itu melangsungkan kehidupannya. Penilaian moral dengan sendirinya mendorong manusia untuk beritikad dan bersolider dengan lingkungan.


Baca juga: Menimbang Peran Agama dalam Ruang Publik Menurut Jurgen Habermas | Ondik Darman

 

Prinsip-Prinsip Lingkungan Hidup

            Hal pertama yang dilakukan manusia adalah melakukan perubahan cara pandang atau berusaha menanggalkan seluruh konsep pemikiran yang salah dalam etika antroposentrisme dan menuju etika biosentrisme dan ekosentrisme. Dengan menempatkan seluruh kritiknya terhadap etika filsafat barat-modern dan konsepnya tentang tindakan terhadap lingkungan hidup pada etika biosentrisme dan ekosentrisme, maka Sonny Keraf merumuskan beberapa prinsip moral dasar dalam berhubungan dengan lingkungan hidup. Pertama, respect for nature atau sikap hormat terhadap alam. Alam perlu dihormati dan manusia mempunyai kewajiban moral untuk menghargai alam dengan seluruh entitas di dalamnya. Semua entitas itu memiliki nilai intrinsik dalam dirinya masing-masing. Manusia sebagai pelaku moral mempunyai kewajiban moral untuk menghormati kehidupan, baik pada manusia maupun pada makhluk hidup lain dan alam semesta secara keseluruhan. Alam mempunyai hak untuk dihormati, bukan karena manusia bergantung pada alam, melainkan juga manusia adalah bagian integral atau kesatuan alam itu sendiri.

            Kedua, moral responsibility for nature atau prinsip tanggung jawab terhadap alam. Prinsip ini menuntut manusia untuk menjaga dan memelihara alam ini dengan benar dan sadar bahwa ada nilai intrinsik dari alam itu sendiri dalam dirinya. Sebagaimana alam telah menuntaskan kewajibannya terhadap kehidupan kita dengan menyediakan berbagai aset yang menjadi kebutuhan kita, maka kita juga dituntut untuk memenuhi hak alam yakni dihormati dan dikelola secara bertanggung jawab. Dengan demikian, apa yang menjadi hak alam itu merupakan bentuk kewajiban dari posisi kita terhadap alam. Ketiga, cosmic solidarity atau solidaritas kosmis. Manusia mempunyai kedudukan yang sederajat dan setara dengan alam dan semua makhluk hidup lainnya. Manusia harus mampu merasakan apa yang dirasakan oleh alam atau penderitaan yang dialami oleh sesama dan makhluk hidup lainnya. Misalnya, kita turut merasakan keprihatinan dengan situasi lingkungan hidup yang semakin masif dengan berbagai krisis dan bencana saat ini dengan tidak mengeksploitasi alam secara destruktif. Kita harus pro dengan alam dan menentukan kebijakan yang bisa menyelamatkan alam ini.

            Keempat, caring for nature atau kepedulian terhadap alam. Prinsip ini bisa dibilang sebagai prinsip moral satu arah menuju the others atau “yang lain” tanpa mengharapkan imbalan atau balasan. Mengutamakan kepentingan alam dan kepentingan individu maupun komunitas sosial manusia ditanggalkan di hadapan prinsip ini. Kepedulian kita terhadap alam memampukan kita menjadi manusia ekologis yang baik. Kelima, prinsip no harm. Kita mempunyai kewajiban moral dan tanggung jawab terhadap alam, paling tidak kita tidak mau merugikan keberadaan alam dengan segala isinya. Kita berusaha untuk tidak menyakiti binatang, tidak merusak tumbuhan-tumbuhan, tidak menebang pohon atau tidak membakar hutan, tidak melakukan pengeboman ikan di laut dan sebagainya merupakan kualitas nyata dari prinsip no harm tersebut.

            Keenam, prinsip hidup sederhana dan selaras dengan alam. Arne Naes seorang filsuf Norwegia (ahli lingkungan hidup) pernah berkata demikian; “simple it means, but rich in ends an values”: “High quality of life yes! High standard of living! And not having but being”. Nilai, kualitas, cara hidup yang baik dan bukan kekayaan, sarana standar material adalah tuntutan dari prinsip ini. Karena itu, rakus, nafsu atau ketamakan mengumpulkan harta sebanyak-banyak dengan cara yang tidak bermoral atau ketiadaan etiket tidak menjadi perhatian dari prinsip ini, tetapi mutu kehidupan yang lebih baik. Kita harus menghentikan segala bentuk materialisme, konsumerisme, bahkan anggapan terhadap alam sebagai instrumen untuk memperoleh profit atau keuntungan harus dihentikan.

Ketujuh, prinsip keadilan. Prinsip ini menekankan bagaimana manusia harus berperilaku satu terhadap yang lain dalam kaitannya dengan alam semesta dan bagaimana sistem sosial harus diatur agar berdampak positif pada kelestarian lingkungan hidup. Misalnya, politik ekologi tentang bagaimana pemerintah dituntut membuka peluang dan akses yang sama bagi semua kelompok dan anggota masyarakat dalam ikut menentukan kebijakan publik terutama berkaitan dengan lingkungan hidup dan dalam memanfaatkan alam bagi kepentingan vital manusia.

Kedelapan, prinsip demokrasi. Prinsip ini berkenaan dengan hakikat alam yang beraneka ragam dan pluralitas. Karena itu, setiap kecenderungan reduksionistis dan antikeragaman serta antipluralitas, bertentangan dengan alam dan antikehidupan. Saya berpikir bahwa prinsip ini sangat tepat dalam konteks lingkungan hidup terutama dalam menentukan baik-buruk atau tercemar tidaknya lingkungan hidup dari setiap kebijakan kita terhadap lingkungan hidup. Kesembilan, prinsip integritas moral. Prinsip ini fokus pada pemimpin (nasional sampai daerah) agar mampu mengintegrasikan kebijakan publik terutama kebijakan terhadap lingkungan yang sesuai dengan prinsip-prinsip dasar etika dan moralitas. Pemerintah tidak diharapkan menggunakan kekuasaannya untuk mengeksploitasi lingkungan hidup (memberi izin terhadap kegiatan pertambangan atau membiarkan pertambangan ilegal).

Terlepas dari beberapa prinsip di atas, masih banyak lagi langkah preventif yang hendak ditekankan Sonny Keraf demi meminimalisasi dan menghilangkan berbagai krisis dan bencana pada lingkungan hidup. Teman-teman bisa membaca dalam ketiga bukunya yang berjudul; Krisis dan Bencana Lingkungan Hidup Global. Yogyakarta: Kanisius, 2010, Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: Kompas, 2010, dan buku Sonny Keraf bersama Fritjof Capra yang berjudul Filsafat Lingkungan Hidup: Alam Sebagai Sebuah Sistem Kehidupan. Yogyakarta: Kanisius, 2014.


Etika Lingkungan Hidup Sonny Keraf akhirnya muncul sebagai bentuk respon akan kegelisahan dan keprihatinannya pada peradaban modern yang membenarkan praktik instrumentalisasi dan eksploitasi alam tanpa batas. Di sini, Keraf mengingatkan kita bahwa dengan merusakkan alam ciptaan, manusia sebenarnya sedang menghancurkan peradaban dirinya sendiri. Corak perspektif dan tindakan manusia yang keliru ternyata telah menjadi momok bagi terbentuknya berbagai krisis dan bencana pada lingkungan hidup. Persoalan semacam ini pada tapal tertentu akan melahirkan situasi dilematis sekaligus ketakutan yang teramat mendalam akan situasi dan kondisi masa depan manusia dan keberadaan lingkungan hidup itu sendiri. Oleh karena itu, Etika Lingkungan Hidup Sonny Keraf terbentuk sebagai konsep dasar tentang tindakan preventif atas krisis dan bencana lingkungan hidup.


Baca juga: MENGUNGKAP PERAN GANDA FILSAFAT DI TENGAH BENCANA KEMANUSIAAN (Sebuah Tinjauan Pragmatis Filosofis Menurut Richard Rorty) | Oleh Defri Ngo



Ondik Darman, salah satu penghuni Unit Efrata-Gere, Ledalero. Penulis adalah mahasiswa tingkat IV di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero. 




Komentar

  1. Mantap ew kawan...
    Saya bisa jadikan ini SBG sumber ew..🙏

    BalasHapus
  2. Tulisan yang menarik dan aktual. Saya pikir sudah seharusnya etika lingkungan hidup diimplementasikan ke dalam ilmu-ilmu terapan lainnya, terutama dalam pengembangan teknologi. Teknologi selalu menuntut inovasi dan ekspansi. Dan dunia dewasa ini tidak akan bertahan tanpa inovasi-inovasi teknologi, kecuali kita mau memutar waktu. Oleh karena itu demi kebaikan bersama, etika lingkungan hidup ini sangat mendesak untuk diimplementasikan dalam bidang teknologi. Salam🙏

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...