Catatan Singkat tentang Memaknai Hidup (Review Buku Man's Search for Meaning Karya Viktor Frankl) | Ondik Darman
“Aku hanya hendak
mengatakan bahwa dunia itu penuh dengan hal-hal indah, tetapi juga hal-hal yang
tak kurang tidak indahnya. Dunia ini sangat miskin, miskin saat yang indah,
miskin pewahyuan yang indah seperti di atas. Tetapi, mungkin justru itulah yang
membuat hidup mempunyai daya tarik sangat kuat”. Ini adalah ungkapan Nietzsche,
seorang filsuf Jerman yang ahli dalam filologi dan tokoh pertama dari
eksistensialisme modern yang ateistis. Ungkapan Nietzsche ini mewartakan
kembali kepada kita bahwa kita tidak hanya harus menanggung apa yang tidak
dapat diubah, kita bahkan harus mencintainya. Tidak menyerah pada nasib, tetapi
menanggungnya, adalah suatu sikap hidup yang luhur. Namun, lebih luhur lagi,
bila kita tidak hanya mau menanggung, melainkan juga mencintainya. He who has a why to live for can bear with
almost any how, tegas Nietzsche.
Hidup ini dinamis. Ada
kalanya di atas, ada kalanya di bawah. Ada kalanya terasa membahagiakan, tetapi
bukan tidak mungkin mengalami sesuatu yang membuat kita menderita. Segala
sesuatu memiliki jangka waktunya tersendiri. Dan manusia tidak boleh menyerah
dan tidak harus kalah dengan keadaan, tegas Viktor Frankl dalam bukunya Man’s Search for Meaning. Tulisan
singkat ini hendak mengajak kita untuk sedikit mengheningkan cipta, selanjutnya
masuk ke kedalaman hati guna memberi sedikit catatan singkat atau semacam refleksi
pada momentum di bawah atau pengalaman-pengalaman penderitaan kita. Viktor
Frankl melalui buku tersebut membantu kita dalam melukiskan situasi bagaimana kita
berhadapan dengan penderitaan yang menyapa hidup kita.
Setelah menghabiskan
banyak waktu merenung bersama buku tersebut, saya menilai Viktor Frankl
bercerita mengenai pengalamannya merasakan dan menyaksikan penderitaan di kamp
konsentrasi. Ia merasakan dan menyaksikan sendiri peristiwa ambang batas di
mana manusia berjuang untuk mempertahankan hidupnya meskipun harapan untuk
hidup itu hanya sebuah potensi kecil. Momentum itu memperlihatkan kekejian atas
kemanusiaan seseorang sekaligus menggambarkan lunturnya nilai penghargaan atas
harkat dan martabat manusia. Sungguh pada masa itu perikemanusiaan telah dilenyapkan
oleh kebrutalan pribadi-pribadi tertentu yang tumpul pikiran dan praktik hidup
yang keliru.
Pengalaman penderitaan
itu akhirnya mendorong Viktor Frankl untuk duc
in altum dalam menganalisis kepribadian manusia secara lebih intens. Ia
berusaha menemukan kembali esensi terdalam manusia yang telang hilang oleh
kekejian maupun absurditas sikap dan tindakan manusia yang bertentangan dengan
kemanusiaan. Ia menilai bahwa pencarian esensi maupun makna hidup merupakan
sebuah kebutuhan dalam hidup manusia. Karena itu, ia menegaskan bahwa selama manusia
dapat menemukan makna hidupnya, ia mampu untuk terus mempertahankan
eksistensinya. Lalu di manakah manusia menemukan kembali esensi dan makna hidupnya?
Viktor menjawabnya secara sederhana bahwa peristiwa atau pengalaman hidupnya,
entah itu pengalaman kemerdekaan maupun pengalaman penderitaan merupakan locus
dari setiap pertanyaan terkait esensi dan makna hidup.
Baca juga: Menimbang Peran Agama dalam Ruang Publik Menurut Jurgen Habermas | Ondik Darman
Perjuangan
Menemukan Makna Hidup
Pengalaman penderitaan
di kamp konsentrasi membantu Viktor Frankl menemukan bahwa manusia adalah pribadi
yang mampu menemukan makna atau arti dari setiap pengalaman yang dialaminya. Penemuan
akan makna hidup inilah yang akhirnya menguatkan manusia untuk bertahan dalam
hidup, terutama ketika berhadapan dengan pengalaman-pengalaman ambang batas
atau pengalaman penderitaan. Kamp konsentrasi menjadi locus baginya dalam
menemukan alasannya untuk terus memperjuangkan hidupnya. Namun, ada hal yang
menarik baginya selama di kamp konsentrasi, yaitu mencintai cerita humor.
Karena itu, di tengah hantaman penderitaan yang mereka alami, Viktor Frankl masih
sempat mendengarkan maupun menceritakan kisah lucu kepada teman-temannya dengan
intensi sebagai hiburan dan dukungan terhadap satu sama lain. Mengapa ia mencintai
rasa humor? Humor was another of the
soul’s weapons in the fight for self-preservation. Rasa humor adalah salah
satu senjata jiwa untuk mempertahankan hidup dalam segala situasi entah
kemerdekaan maupun penderitaan sekalipun, demikian tulis Viktor Frankl dalam
salah satu bagian di buku Man’s Search
for Meaning.
Viktor Frankl
menegaskan bahwa perhatian utama kita dalam hidup ini tidak semata-mata untuk
mencari kebahagiaan ataupun menghindari penderitaan, melainkan mencari makna
dalam hidup yang tengah digeluti. Sepemikiran dengan Viktor Frankl, Nietzsche
juga menegaskan bahwa rasa sakit dan penyakit (pengalaman penderitaan) tidak
untuk diminati dan dinikmati, tidak untuk diiayi secara naif, tetapi tidak pula
untuk ditolak dan dihindari. Sakit adalah kesempatan, kans, untuk dihadapi dan
ditanyai dengan seluruh keingintahuan. Memasuki tanpa prasangka pengalaman ini
dengan kewaspadaan (iya sekaligus tidak), justru akhirnya membuat seseorang
memiliki kesadaran lebih tajam mengenai kedalaman: pertanyaan-pertanyaan
mengenai segala sesuatu makin keras, makin tajam, makin mbeling, sekaligus
makin tenang. Nietzsche hendak memberi konsep yang sama secara intens kepada
kita bahwa pencarian makna hidup di setiap pengalaman hidup bukan hanya untuk
menemukan pengertian tentang sesuatu, melainkan tentang kehidupan sendiri.
Terlepas dari
pentingnya rasa humor dan sedikit konsep dari Nietzsche, Viktor Frankl juga
menemukan beberapa alasan lain yang membuat manusia layak untuk memperjuangkan
hidupnya, yakni cinta dan kepedulian pada orang yang dicintai, keindahan alam
di sekitar, bahkan rahmat-rahmat hidup yang sederhana sekalipun. Elemen-elemen
inilah yang menjadi penikmat dalam proses pencaharian tentang makna hidup. Selanjutnya
bagaimana dengan orang yang putus asa atas penderitaan lalu berusaha mengakhiri
hidupnya? Berhadapan dengan kenyataan semacam itu, Viktor Frankl menilai adanya
ketidakmauan dan ketidakmampuan orang tersebut dalam menemukan makna hidup di setiap
pengalaman hidupnya. Hal mendasar yang mendorong semakin kuatnya orang putus
asa adalah kehilangan harapan. Ia menulisnya demikian: The thought of suicide was entertained by nearly everyone, if only for
a brief time. It was born of the hopelessness of the situation.
Viktor Frankl mengafirmasi
bahwa setiap manusia memiliki kehendak dan kebebasan dalam hidupnya. Kita
memiliki kehendak dan kebebasan untuk memilih maupun menentukan konsep, sikap
maupun tindakan dalam setiap situasi hidup kita masing-masing. Acapkali situasi
penderitaan yang ada di luar diri kita tidak menjadi penentu absolut. Oleh
karena itu di tangan kehendak dan kebebasan kita sendirilah, makna akan hidup
dapat diraih, bahkan direnggut. Sekali lagi penegasan Viktor Frankkl ialah kita
tidak boleh menyerah dan tidak harus kalah dengan keadaan hidup ini! Apapun itu.
Secara spesifikasi, ia menulisnya demikian: Everything
can be taken from a man but one thing: the last of the human freedoms-to choose
one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way. Kita
adalah pribadi yang istimewa yang mampu menemukan makna hidup. Kita semestinya
terus berjuang mencari dan menemukan kemanusiaan kita.
Pengalaman hidup di
kamp konsentrasi memberi pemahaman baru bagi Viktor Frankl bahwa kebebasan kita
untuk menentukan hidup dapat membuat kita bertahan dalam penderitaan yang
dialami. Penderitaan itu sendiri tidak mampu merenggut kebebasan kita untuk
menentukan hidup kita. Kita justru dapat mengambil makna hidup yang berarti
bagi diri kita sendiri dengan menjalani penderitaan. Makna hidup inilah yang
berperan banyak dalam diri kita untuk mengatasi setiap penderitaan yang
dialaminya. Dengan demikian, penderitaan merupakan bagian dari perkembangan
hidup kita untuk mencapai taraf kehidupan yang kompleksitas maknanya. Viktor
Frankl berasumsi bahwa tidak ada pertumbuhan tanpa penderitaan. Di titik inilah,
ia mengambil perjamuan bersama Nietzsche terkait bagaimana kita harus memahami
pengalaman-pengalaman hidup secara khusus pengalaman penderitaan. “Terhadap apa
pun yang tertuliskan, aku hanya menyukai apa-apa yang ditulis dengan darah.
Menulislah dengan darah, dan dengan begitu kau akan belajar bahwa darah adalah
roh”. Kata Nietzsche.
Konsep
Logotherapy dan Penderitaan yang terus Menyapa
Hal yang lebih penting
dari pengalaman di kamp konsentrasi dalam perkembangan hidup Viktor adalah ia
mulai mengembangkan teorinya tentang logotherapy
secara khusus berkenaan dengan usaha pencaharian makna hidup. Konsep itu
menjadikan makna hidup sebagai motivasi dasar yang mendorong kita untuk tetap hidup.
Dengan ungkapan lain, kemauan kita untuk senantiasa memaknai kehidupan yang
tengah dihidupi merupakan bagian integral dari perkembangan hidup kita. Salah
satu isi dari konsep tersebut yang semestinya diperhatikan secara baik adalah
perhatian utama kita dalam hidup bukanlah untuk mencari kesenangan ataupun
menghindari penderitaan, melainkan sebuah proses pencaharian esensi dan makna
hidup. Prinsip kesenangan bukanlah prinsip dasar hidup manusia.
Belajar dari Frankl,
apa yang membuat kuat adalah kemampuan manusia sendiri untuk memberi makna.
Kemampuan inilah yang perlu terus-menerus dilatih dalam praktik hidup harian. Logotherapy mengarahkan kita kepada
puncak kesadaran bahwa sesungguhnya kita harus
bertanggungjawab atas hidup kita masing-masing. Mengapa harus tanggung
jawab? Dengan tanggung jawab kita mampu mewujudkan atau mengaktualisasikan
hidup secara benar dan bijaksana. Aktualisasi diri selalu berkenaan dengan
bagaimana kita rendah hati dan terbuka menerima kehadiran sesama sekaligus
belajar untuk mulai memberikan diri bagi sesama tanpa harus memetakan mereka
dalam latar belakang tertentu. Di saat kita mulai mengaktualisasikan diri
secara tepat, maka saat itu pula kita mulai mengalami transendensi eksistensi
dari pencarian makna menuju kepada penerimaan dan pemberian diri yang total.
Makna
yang Memberi Daya Hidup
Viktor mengatakan bahwa
makna hidup setiap orang tidaklah sama, tetapi memiliki keunikannya
masing-masing, sebab situasi hidup setiap orang berbeda. Semakin banyak kita
mengalami pengalaman-pengalaman dalam hidup, maka penemuan makna hidup selalu
kaya dan terus bertambah karena setiap pengalaman akan mengakibatkan pembenahan
atau pembaruan makna di baliknya. Dengan ungkapan lain, semakin kita menerima
dan menjalani pengalaman hidup secara beragam, maka makna hidup pun semakin
beragam dan menjadi kaya. Keberagaman dan kekayaan makna hidup itulah yang
menjadi daya bagi kita untuk menjalani hidup. Ketika pencarian makna hidup kita
berjalan dengan baik, maka kita tidak hanya dimampukan untuk bergembira dalam
hidup, melainkan juga siap untuk menghadapi setiap situasi kehidupan ini,
apapun situasinya. Tidak hanya berhenti sampai di situ, makna hidup akhirnya
juga memampukan kita untuk memberikan diri kita bagi the others atau yang lain.
Menurut saya, secara
umum buku Man’s Search for Meaning
merupakan sebuah buku filosofis yang ditulis dengan bahasa yang sederhana. Buku
ini mengajak kita untuk menyadari eksistensi kita sebagai pengada hidup dan
penikmat hidup, sebuah terminologi
neutrum untuk kita. Kita memiliki kebebasan untuk tidak ditentukan oleh
situasi, tetapi kitalah yang menentukan identitas kita dalam segala situasi. Ia
tidak kalah ketika sedang berada dalam momentum penderitaan. Kita bersama
Viktor Frankl juga diajak oleh Nietzsche agar tidak tergilas oleh kerasnya
hidup. Belajar dari konsep Viktor dan sedikit curhatan hati Nietzsche, apa yang
membuat kuat adalah kemampuan kita sendiri untuk memberi makna. Kemampuan
inilah yang perlu terus-menerus dilatih dalam praktik hidup kita sehari-hari di
tengah sesama. Sesederhana apapun pengalaman yang kita dapatkan dalam hidup ini
sudah pasti dan harus disadari bahwa semuanya memiliki makna, entah itu secara
manifes maupun laten atau yang tersembunyi sekalipun.
Keep up the great work brother. Thank You For Inspiring Me.
BalasHapus