Langsung ke konten utama

Mimpi Malam Natal | Cerpen Naldy Roo



Aku tak pernah bertemu dengannya. Namun, sore itu ia membuat diriku bertanya-tanya dalam hati atas apa yang ia katakan padaku. Aku sedikit berpikir dalam hati, mungkin ia orang gila yang tidak tahu apa-apa tentang Tuhan. Apalagi usianya yang sudah tua membuatnya berbicara tak karuan. Namun, aku selalu dihantui oleh kata-katanya. Seakan-akan ia menghipnotisku.

***

Tetesan hujan terakhir terlihat jatuh membasahi daun-daun yang ada tepat di depan kamarku. Aku meraih jaketku dan memutuskan untuk pergi menuju warung kopi Pak Somat. Bekas air hujan masih terlihat di jalanan dan anak-anak menari-nari sambil mengejar larung yang selalu hadir setelah hujan pergi. Aku hanya tersenyum melihat anak-anak itu dan berpikir, mungkin dulu aku juga seperti mereka. 

Baca juga: Cerita Desa Kami | Oleh Valentino*

Aku terus melangkah menuju warung Pak Somat, sambil sesekali menikmati alunan musik natal yang mulai berkumandang dari setiap sudut rumah. Alunan musik natal itu mengingatkanku kalau hari natal sudah dekat dan sekarang aku sudah berada di pengujung tahun yaitu Desember. Sepertinya Desember selalu menyimpan sejuta kenangan. Ada hujan. Ada alunan lagu natal. Anak-anak yang beramai-ramai bermain kembang api, meski harus merengek dan memintai uang kepada orangtuanya. Ada kado natal. Ada kue natal. Ada Sinterklas yang selalu membagi-bagikan hadiah. Dan yang selalu menemaniku saat Desember ialah rasa rindu. Rindu suasana natal bersama keluarga. 

Aku masih terus berjalan dan akhirnya mendapati Pak Somat yang selalu setia menjaga warung kopinya dan berharap mendapat rejeki dari para pengunjungnya. Saat ia melihatku, terpancar senyum dari wajahnya. Aku tahu, senyum itu pertanda kalau hari ini warungnya kedatangan banyak pengunjung. Namun lebih dari itu, Pak Somat selalu mengajakku untuk bercerita dan ia selalu membagikan pengalaman hidupnya. Ketika Pak Somat sudah mulai bercerita aku hanya tersenyum dan menjadi pendengar setianya.

Aku menyapa Pak Somat lalu duduk di pojok warung, tempat yang selalu setia menanti kedatanganku. Aku memesan segelas kopi dan sebungkus rokok. Pak Somat segera menghantar pesananku dan duduk menemaniku menikmati kopi sambil bercerita tentang rencana bulan Desember. Ia menanyakanku, kenapa tidak berlibur dan natal bersama keluarga di kampung. Aku hanya menjawab dengan senyum, meski dalam hati aku selalu merindukan suasana natal bersama keluarga di kampung. Di tengah obrolan kami, tiba-tiba datanglah seorang bapak tua yang terlihat sangat lelah. Ia melihat ke arah kami dan segera memesan segelas air putih. Dalam hati aku berpikir, mungkin ia menempuh perjalanan yang jauh dan sangat kelelahan. Tidak lama kemudian Pak Somat datang dan memberikan segelas air putih kepada Bapak Tua itu. Dengan cepat Bapak Tua itu menghabiskan air dalam gelas itu. Ia telihat sangat haus dan dengan cepat Pak Somat mengambil segelas lagi. Kali ini ia tidak langsung menghabiskannya. Perlahan-lahan ia meneguk airnya, sambil sesekali menatap ke arahku. Aku pun berusaha menyembunyikan rasa ingin tahuku tentang Bapak Tua itu dan membalas tatapannya dengan sedikit senyum yang terkesan sangat kaku. Tidak lama ia pun mulai berbicara dan memperkenalkan dirinya. Ternyata namanya Bapak Yusuf. Ia menceritakan kalau ia telah menempuh perjalanan yang sangat jauh dengan berjalan kaki demi menemui anaknya yang sudah lama tinggal di kota itu dan ingin merayakan natal bersama dengan anaknya. Mungkin untuk yang terakhir kali, katanya. Kata-kata Bapak Yusuf itu membuatku terharu dan membuatku teringat dengan kedua orangtuaku yang telah lama kutinggalkan demi mencari nasib yang lebih baik di kota ini. Kami pun mulai akrab dan bercerita sambil sesekali tertawa. Hingga pada akhirnya Bapak Yusuf ingin pamit dan meneruskan perjalanan untuk mencari anaknya. Sebelum pergi Bapak Yusuf sempat memberikan pertanyaan kepadaku. 

Baca juga: Tunu | Defri Ngo

“Anak muda, menurutmu natal itu apa?” 

Aku sedikit kaget dan terheran-heran dengan pertanyaannya. Dalam hati aku berpikir, jika memang Bapak Yusuf orang katolik tentu ia tahu apa itu natal. Namun, aku juga berpikir mungkin Bapak Yusuf memang tidak tahu apa itu natal, maklum usianya sudah tua. Namun, untuk apa ia datang dan ingin merayakan natal bersama dengan anaknya? Sebagai orang yang berpendidkan aku tidak ingin mengecewakan Bapak Yusuf dan aku pun menjawab pertanyaan Bapak Yusuf itu. 

“Natal itu kelahiran sang Juruselamat, saat ketika orang-orang bergembira akan kedatangan-Nya. Bapak Yusuf lihat saja. Orang-orang di kota ini sudah mulai mempersiapkan hari natal dengan memasang lampu-lampu natal, memainkan lagu-lagu natal, anak-anak beramai-ramai bermain kembang api dan masih banyak yang akan Bapak Yusuf temukan di kota ini nanti.” 

Aku memberikan penjelasan kepada Bapak Yusuf dengan penuh percaya diri dan terlihat anggukan dari Pak Somat mendengar jawabanku. Bapak Yusuf menatapku dan tersenyum. Aku pun yakin bahwa jawabanku telah menjawabi pertanyaannya. Namun, ia terlihat tertawa. 

“Anak muda, apakah kau yakin dengan jawabanmu?” 

Aku pun menganggukkan kepala dan merasa jawabanku tidak salah. Lalu aku pun balik bertanya kepada Bapak Yusuf. 

“Apakah Bapak Yusuf tau apa itu natal?” 

“Anak muda natal itu adalah penghakiman terhadap Allah karena Ia telah menciptakan manusia. Namun, manusia itu berulah dan berbuat dosa sehingga para penghuni surga geram dan merasa terganggu. Maka, mereka menghadap Allah dan meminta pertanggungjawaban Allah karena Dia yang telah menciptakan manusia. Maka Allah pun divonis oleh para penghuni surga dan menyuruh-Nya untuk turun ke dunia agar manusia tidak lagi berbuat dosa. Itulah natal yang sesungguhnya anak muda. Allah lahir dalam diri Yesus agar Ia bertanggung jawab atas ciptaan-Nya”.

Setelah mengatakan itu Bapak Yusuf pun pergi dan meninggalkan kami. Aku dan Pak Somat pun saling menatap dan terheran-heran dengan perkataan Bapak Yusuf. Pikiranku mulai tak karuan dan dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. Aku menjadi bingung dengan perkataan Bapak Yusuf, antara percaya dan tidak percaya. Aku pun mulai berpikir bahwa Bapak Yusuf itu orang gila dan tidak tahu apa-apa tentang Allah. Aku pun berusaha agar tidak terpengaruh dengan penjelasan Bapak Yusuf tadi. Aku segera menghabiskan kopiku dan pamit dengan Pak Somat. Dalam perjalanan pulang, kata-kata Bapak Yusuf tadi  terus menghantuiku. Aku selalu memikirkan apa yang dikatakannya, dan terus  berpikir dalam hati, tidak mungkin natal adalah penghakiman terhadap Allah.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan ibu dan membangunkanku. Aku pun tersadar dari mimpiku dan berguman, ternyata hanya mimpi. Namun, aku selalu memikirkan apa yang dikatakan oleh Bapak Yusuf itu. Di tengah kebingunganku itu, terdengar suara mama kembali memanggil namaku. Dari jauh terdengar sayup-sayup lonceng gereja pertanda sebentar lagi perayaan natal akan dimulai. Aku segera beranjak untuk mempersiapkan diri.*

Baca juga: Doa dan Kertas-Kertas Lusuh | (ketika rindu perlu dibungkus) | Cerpen Paskal Kedang


Naldy Roo, Barcelonista sejati asal Manggarai-Reo. Sekarang menetap di Unit Efrata-Gere, Ledalero dan sedang berkutat dengan dunia filsafat. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...