Sumber ilustrasi:https://www.kindpng.com/imgv/iRbxToT_muslim-girl-png-gambar-siluet-wanita-berhijab-transparent/
Tak ada hujan bulan Juli di Kupang. Setiap siang pada bulan ini terasa panjang. Matahari bertengger garang di atas langit kota karang. Sedang aku berjalan menuju gerbang taman doa yang lengang.
Keringat mengucur membasahi masker
hitamku, juga tanganku yang menggengam amplop coklat ini. Aku baru saja
kehilangan pekerjaanku sebagai petugas kebersihan di sebuah hotel. Semua ini
bermula sejak virus korona melanda.
Kini, aku bertandang ke taman doa di
jantung kota karang ini, tempatnya serupa oase hening di tengah padang yang
bising.
“Halo, kaka.
Mari beli kontas ini, terbuat dari kayu cendana asli,” ujar seorang gadis
berkerudung putih menyambut kedatangnku. Ia pun berlangkah kecil ke lapak rotan
miliknya, di samping pintu gerbang. Di atas meja persegi itu tersedia kue, air
mineral, lilin dan aneka kontas warna-warni. Ada juga beberapa buku cetak bagi
pelajar tingkat MTs.
“Halo, adik. Kakak pesan satu e.” kataku. Senyumannya yang renyah
merekah, sekejap mengusir rasa lelah dan gerahku.
Aku pun memesan sebotol air mineral dan
dua potong kue cucur. Aku pun membuka obrolan kecil bersamanya. Ia berkisah
bahwa belum lama ini berjualan di sini.
“Uang hasil jualan ini demi
menunjang sekolah saya, kaka”
“Hebat e adik, sudah berusaha mandiri sejak dini”
“Iya, kaka. Supaya saya bisa membeli tambahan pulsa untuk kelas online” imbuhnya.
Aku mengucapkan terima kasih atas
keramahannya. Aku meminta diri untuk pergi berdoa di Gua Maria.
Kulangkahkan kakiku menyusuri barisan anak
tangga yang menanjak dan berujung pada sebuah gua buatan yang dindingnya
dijejali sulur-sulur beringin. Di dalamnya bernaung Ibunda Maria. Pancaran sepasang
matanya adalah mata air yang mengaliri kegersangan batinku. Aku ingin mereguk
sejuk dan sunyi doa di sini.
***
Baca juga;Cerita Desa Kami | Oleh Valentino*
“Halo, selamat sore, dik” sapaku
pada si gadis berkerudung.
“Selamat sore juga, kaka” jawabnya dengan wajah bergayut
mendung, tak secerah minggu lalu, “kak, mari beli koran ini” tambahnya.
“Wah, sekarang jual koran juga e, adik”
“Yah, begitulah kak. Ini sebenarnya tugas
Abang Iqbal. Dia yang biasanya menjual koran. Tapi, sayang. Kemarin Abang diserempet
mobil di depan gedung Sasando itu, hingga kakinya patah. Sekarang dia mesti
dirawat di Rumah Sakit. Jadinya, beta yang
harus ambil alih tugas Abang Iqbal” jelasnya.
“Ya, astaga! Semoga kakakmu lekas pulis
kembali” kataku meneguhkan.
Aku pun teringat pada kakak
sulungku, Paul.
Kuceritakan padanya sosok kakakku ini. Ia
putus SMA. Bersama teman-teman sekampung, ia pergi merantau ke negri Jiran.
Hampir tujuh tahun ia mengadu nasib di sana. Sudah lama sekali tak kudengar
lagi kabarnya. Terakhir yang kutahu mereka kabur ke hutan belantara karena
dikejar oleh para petugas keamanan, akibat tak memiliki dokumen resmi.
“Aduh, kaka
e, buat beta ingat Bapak juga. Dulu ia merantau di sana. Nasib naas juga
menimpanya, ia tewas dipagut ular sewaktu bekerja di kebun kelapa sawit,”
sejenak ia tertunduk diam, lanjutnya “tahun lalu jasad Bapak tiba di Kupang, sekujur
tubuhnya biru lebam penuh dipenuhi jahitan.” Kulihat butir hujan yang menetes
dari langit mendung wajahnya.
Aku tertegun. Serasa ada sekepal tinju
yang menghujam dadaku. Ingin kucoba menghiburnya, tapi beberapa pengunjung
menyambangi lapak kecil ini untuk membeli beberapa jualannya. Betapa ia dengan
tegar, menenangkan gejolak duka dalam batinnya, lalu memekarkan sekuntum senyum
menyambut para pembeli tersebut.
Aku pun beranjak ke seberang taman, ke
bawah pohon angsono yang daun-daunya hampir tanggal seluruh. Kubaca koran
tersebut. Halaman depan hari ini memberitakan kasus positif korona yang kian
naik, dan jumlah pekerja yang di-PHK kian hari kian menukik.
Gawai
di saku celanaku bergetar tanda pesan masuk. Pada layarnya tertera nama Mamaku.
Ama,
lekaslah pulang. Sakit Bapakmu kambuh. Ia tak sanggup lagi melaut, ema juga
sudah hampir renta mengola ladang kita, pesan singkat mama
Aku terkesiap membacanya. Mataku berkaca.
Pikiranku terbang melayang ke kampung
halamanku. Sebuah desa kecil di ujung selatan Pulau Lomblen. Tempat orang-orang
bernyali dengan bara semangat yang bernyala memburu ikan paus secara
tradisional.
Aku ingin berlangkah ke Gua Maria. Tapi
pikiranku ditubruk banyak perkara, serasa hilang arah. Aku putuskan untuk
pulang ke kosku. Tak ingin kupanjatkan doa lagi.
***
Baca juga;Tunu | Defri Ngo
Namun, tiga hari berselang aku berlabuh
kembali di taman doa ini. Gadis kecil berkerudung putih itu masih ada, setia
bekerja di lapaknya.
“Salam jumpa, adik. Nampaknya laris
jualannya hari ini e”
“Halo, kaka. Alhamdulillah, kaka. Karena hari ini akhir pekan
makanya banyak warga kota yang datang ke sini”
“Bagus, semangat selalu e adik.
Kalau kabar Abangmu?
“Alhamdulillah, kaka. Besok Abang Iqbal sudah bisa pulang ke rumah” ungkapnya
dengan binar mata seperti telaga disiram cahaya fajar.
“Alleluia, senang mendengarnya,
adik. Baiklah, kaka pesan koran hari
ini e.”
“Kaka
harus baca berita tentang Dicky Senda, pemuda inspiratif dari Mollo” katanya
seraya memberiku koran tersebut.
Aku langsung mencari artikel yang ia
maksudkan. Pada halaman itu tertoreh sebaris judul, Mewujudkan Mimpi dari Mollo. Kutatap lekat foto Dicky Senda yang
tersenyum lebar dengan latar lembah berkabut yang terbentang luas nan hijau. Aku
membaca kalimat demi kalimat artikel tersebut. Merasakan benih semangat yang
perlahan berkecambah dalam diriku.
Mataku tertancap pada ujaran Dicky Senda,
“Mimpi paling baik memang harus dimulai di rumah sendiri.” Aku sontak
kegirangan. Ah, telah kutemukan tekad hidupku yang baru.
Gadis berkerudung putih itu menangkap
gejolak kegembiraanku. Cahayaku yang hampir redup, kembali berpijar.
“Terima kasih e, adik” ucapku dengan jabatan erat penuh semangat. Lalu, aku memesan
juga sebungkus lilin dan bergegas menuju Gua Maria.
Ah,
Bunda Maria, putramu sudah menemukan jalan pulang, lantunku
dalam hati. Aku nyalakan tiga batang lilin yang bercahaya di bawah tatapan
Bunda Maria. Aku berdoa memohon kelancaran bagi perjuanganku untuk membangun
mimpi baruku di kampung kelahiranku. Angin sore yang sepoi-sepoi meruapkan
aroma cendana pada butir-butir kontasku.
Lamat-lamat kudengar bunyi sirene dari
sebuah mobil pick up. Ketika aku
berbalik kusaksikan sekelompok pria berseragam dengan sepatu boneng menyita
meja dan barang jualan gadis berkerudung itu.
Semua orang di sekitar hanya menatap
nanar. Aku bergegas lari untuk membantu adik itu. Tapi sekelompok pria itu
menarik paksa dirinya. Tangisnya
pecah di antara pedagang lainnya di atas bak mobil itu. Aku berusaha
mendekatinya, untuk menenangkannya aku pun menerobos para lelaki berseragam itu.
Bukk... tengkukku digebuk pentungan. Aku
terjerembab. Jatuh di tanah.
Baca juga;Puisi-puisi Rommy Sogen
Yos Bataona


Komentar
Posting Komentar