Langsung ke konten utama

Tunu | Defri Ngo



 
(Defri Ngo)*


Anton Nahak memang sosok pembunuh berdarah dingin. Senja kala, ketika matahari sudah jatuh di bukit Fulan Fehan, ia keluar dari rumahnya. Sebatang belati disimpan dengan rapi pada bagian belakang celana. Ia membungkus belati tersebut dengan sepotong tais yang dijahit oleh istri tercinta. Sebelum keluar dari rumah, Anton Nahak sempat mengumpulkan istri dan anak-anaknya.

“Kalau nanti ada yang mencari Ama, katakan kepada mereka kalau Ama sedang ke puncak Fehan,” ungkap Anton Nahak menyembunyikan sesuatu.

Ama mau buat apa di Fehan?” Istrinya balik bertanya. Wajahnya tampak menegang. Dua orang anaknya hanya membisu. Suasana rumah tampak tidak baik-baik saja.

“Jangan cemas, Ina. Esok pagi, saat matahari terbit, Ama sudah kembali ke rumah.” Anton Nahak berusaha memberi kekuatan. Setelah berucap demikian, ia mengusap kepala istri dan anak-anaknya. Raut kesedihan tampak menggantung di wajah mereka. Perpisahan itu tampak singkat, tetapi menyimpan rasa piluh yang mendalam.

Matahari di bukit Fulan Fehan sungguh-sungguh menghilang. Dalam gelap malam, Anton Nahak menyusuri jalan setapak menuju arah Selatan. Ia akan mendatangi Markus Halek, sosok yang telah merebut tanah di perkebunannya. Rencana untuk membunuh Markus Halek memang telah lama dipikirkan Anton Nahak. Setelah persoalan perebutan tanah di kebunnya, Anton Nahak menganggap Markus Halek sebagai musuh yang harus dibinaskan. 

Di depan rumah Markus Halek, ia kembali memeriksa belati yang dililitnya dengan sepotong tais. Suasana sekitar tampak hening. Hanya suara jangkrik yang mendengkur berbalasan. Pembunuhan yang dilakukan Anton Nahak berlangsung sangat rapi. Ia mendobrak pintu rumah Markus Halek. Dengan satu gerakan tangkas, Anton Nahak menggorok leher Markus Halek yang kaget mendapati kehadirannya. Istri dan anak-anak berteriak histeris dan berlari meninggalkan rumah. Belum puas melihat sosok Markus Halek yang telah terbaring lemas, Anton Nahak memotong bagian-bagian tubuhnya dan mengiris telinga, mulut serta kelamin. 

Sebagai tambahan, ia menusuk perut Markus Halek dan mengambil semua isi di dalam perut itu. Darah yang mengalir diusapnya pada permukaan wajah. Anton Nahak melakukan aksinya dengan tenang layaknya penjahat yang telah membunuh banyak orang. Ia membuka baju dan membungkus bagian-bagian tubuh yang telah dipotongnya. 

Dengan segera, Anton Nahak berlari meninggalkan rumah Markus Halek menuju puncak Fehan. Rencana pembunuhan itu berhasil. Di puncak Fehan, Anton Nahak menancapkan kepala dan bagian tubuh Markus Halek pada batang pohon kesambi. Isi perutnya digantung menyerupai lampu natal. Berjejer dan mengalirkan tetes-tetes darah penghabisan. Ia menatap tubuh miris itu dan mendesah puas layaknya singa yang baru selesai menghabiskan seekor banteng raksasa. Baru pada saat matahari kembali terbit, ia turun dari puncak Fehan dan berjalan menuju rumahnya.
_____

Telah lewat tiga hari setelah tragedi pembunuhan di rumah Markus Halek, suasana desa Lasiolat dirundung bencana. Angin bertiup kencang. Hujan turun tiada henti. Sapi, kambing dan ayam yang dipelihara masyarakat mati mengenaskan. Hasil panen gagal total. Sebagian masyarakat mulai mencari sebab di balik bencana tersebut. Mereka mendatangi Gab Seran selaku ketua adat di desa Lasiolat. Dari Gab Seran, mereka akhirnya beroleh jawaban bahwa salah seorang masyarakat telah melakukan kejahatan besar. Para leluhur yang telah meninggal marah dan melimpahkan bencana atas desa mereka.

“Salah seorang dari masyarakat di desa kita telah melakukan suatu kejahatan besar,” ungkap Gab Seran sambil membetulkan tais mane yang dipakainya.

“Telah terjadi pembunuhan dan leluhur kita sedang melimpahkan kemarahannya,” lanjut Gab Seran. Tatapannya berwibawa. Tuturnya tegas. Walau sudah berusia lanjut, Gab Seran sangat dijunjung dalam kehidupan masyarakat di desa Lasiolat.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan, Tuan?” tanya salah seorang warga.

“Hal terpenting adalah keterbukaan dari pihak yang telah melakukan kesalahan. Dia harus mengakuinya secara jujur dan bersiap memohon pertobatan.”

“Puncak dari semuanya, kita harus segera melakukan tunu. Pribadi yang telah berbuat kesalahan dan sukunya harus mempersembahkan kurban sebagai bukti permohonan maaf kepada para leluhur.” Gab Seran menambahkan. Hadirin yang berkumpul menunduk diam.

“Tidak hanya itu, sebagai bagian dari satu masyarakat, kita tentu diharapkan untuk sama-sama hadir dan menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan sesama warga.” Pertemuan selesai dan mereka pulang dalam sungut-sungut dan kekecewaan besar. Informasi yang diperoleh dari Gab Seran selaku ketua adat lekas menyebar ke pelosok desa Lasiolat. Pun akhirnya sampai ke telinga Anton Nahak. Ia mendengarnya dan menjadi takut. Sejak semula, hanya satu hal yang ditakutinya dalam hidup, yaitu kemarahan dari para leluhur. Ia menganggap kemarahan para leluhur sebagai malapetaka besar yang akan berlangsung selamanya dalam hidup.

“Jangan takut kepada sesama manusia. Takutilah leluhurmu. Merekalah yang menentukan kemanakah kepalamu akan dicampakan.” Demikian pesan ayahnya sebelum meninggal dunia. Ia merekam pesan tersebut sebagai nasihat yang harus dipatuhi dalam keseharian hidup.

Diam-diam, Anton Nahak menghadap Gab Seran dan menceritakan segala peristiwa yang telah terjadi. Ia memohon ampun atas kesalahannya dan berjanji tidak melakukannya untuk kedua kali.

“Kita semua pasti pernah berdosa.” Gab Seran membuka pembicaraannya. Ia kemudian melanjutkan, “Kamu hanya perlu bertobat dari kesalahan yang telah kamu lakukan.”

“Apa yang harus saya buat, tuan?”

“Kamu harus segera melakukan tunu dan menyampaikan permohonan maaf kepada para leluhur. Kesalahan ini harus dipulihkan.”

Setelah perjumpaan bersama Gab Seran, rencana pelaksanaan tunu akhirnya dilangsungkan. Mula-mula, semua anggota keluarga dan suku berkumpul melakukan musyawarah. Mereka membicarakan berbagai persiapan penting sebelum melakukan tunu. Tempat, waktu dan korban persembahan pun akhirnya ditentukan. Anton Nahak bersama seluruh anggota sukunya bertanggung jawab menanggung tiga ekor babi dan seekor ayam berwarna putih sebagai korban penyilih dosa. Sedangkan suku-suku lain mempunyai tanggung jawab sosial untuk membawa bahan persembahan seperti beras, uang, tais dan hanek matan. 

Di bawah sebatang pohon kesambi di bukit Fehan, tunu akhirnya dilangsungkan. Beginilah cara mereka memulainya: Anton Nahak bersama masyarakat membersihkan foho sebagai tempat persembahan korban. Ketua adat menyembelih ayam dan babi, lalu meletakannya di atas foho. Darah dari hewan korban disiram mengelilingi foho. Lalu, dalam bahasa Tetun, ketua adat mulai memanggil arwah leluhur yang telah meninggal dan mengajak mereka untuk hadir bersama dalam ritual tersebut. Tanda-tanda alam mulai tampak. Angin berhembus kencang. Burung bersiul panjang seperti meratap. Semua peserta diam sambil merasakan situasi mistis di sekitar. Selang beberapa menit, Gab Seran kembali berbicara.

“Leluhur kita telah datang dan hadir di sini. Mereka telah menerima korban yang telah kita persembahkan.”

Anton Nahak menunduk sedih. Semua masyarakat yang hadir ikut terharu. Mereka saling berpelukan satu sama lain. Kaum perempuan mempersiapkan makanan pada hanek matan yang telah disusun berdasarkan urutan tertentu. Setiap urutan dalam hanek matan menentukan tingkat penghargaan masyarakat atas sosok-sosok yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan mereka. Sosok paling tinggi dalam kehidupan masyarakat Lasiolat adalah nai manas waik nai luli waik sebagai Wujud yang diimani. Tunu ditutup dengan sebuah berkat dari ketua adat selaku perpanjangan tangan dari roh leluhur. Ia mengolesi dahi semua peserta dengan ludah bekas siri pinang yang dikunyahnya.

“Pergi dan jangan berbuat dosa lagi, saudaraku,” ucapnya kepada Anton Nahak dan semua peserta. Dari kedua ceruk mata Anton Nahak, menguar sebuah tangis kesedihan. Ia menyesali kesalahannya dan berjanji tidak berbuat kesalahan yang sama. Sebelum kembali ke rumah masing-masing, Anton Nahak bersama anggota sukunya membersihkan foho dan memagarinya.*

Maumere, 2020.
Keterangan istilah      
Tunu                : Ritual bersama untuk memohon ampun kepada leluhur
            Tais                 : Kain adat dalam kebudayaan Tetun
            Ama                : Sebutan untuk seorang pria (ayah)
            Ina                  : Sebutan untuk seorang wanita (ibu)
            Tais Mane       : Tais untuk lelaki
            Tetun               : Salah satu suku di Timor, NTT
Hanek Matan  : Tempat meletakan sesajian
Foho                : Batu ceper yang digunakan untuk meletakan hewan korban
            Nai manas waik Nnai luli waik : Sebutan untuk Tuhan sebagai Wujud Tertinggi.

*) Defri Ngo, tinggal di Maumere. Jendela Sunyi (2016) adalah buku pertamanya.

 Baca juga: 




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...