Langsung ke konten utama

Menerobos Krisis Iman dan Identitas Di Tengah Pandemi Covid-19 Dalam Terang Kabar Gembira | Sebuah Refleksi | Dus Puka

                                        Dus Puka, SVD



Manusia pada hakikatnya adalah makhluk peziarah. Dalam konteks ini, manusia senantiasa berziarah mengarungi dunianya mencari jawaban atas sebuah pertanyaan, “untuk apa dan siapa ia berada di dunia?” Dalam hal inilah manusia senantiasa berusaha dengan berbagai cara untuk mencari dan menemukan jati dirinya di dunia yang luas dan penuh dengan berbagai ekspresi yang sangat menggiurkan. Ketika manusia mulai menapaki hidupnya di dunia yang luas dan penuh dengan berbagai tawaran ini, maka dapat dipastikan bahwasannya manusia akan menemukan banyak tikungan atau tantangan yang dapat menjerumuskannya pada kehilangan akan jati dirinya.

 

Tidak dapat dimungkiri lagi bahwasannya salah satu tantangan yang sedang dialami manusia dewasa ini adalah pandemi covid-19. Sadar atau tidak realitas dunia yang ditandai dengan pandemi covid-19 ini perlahan membawa dunia beserta isinya (termasuk manusia) pada kehilangan akan jati diri dan imannya. 


Oleh karenanya di bawah judul, “Menerobos Krisis Iman dan Identitas di Tengah Pandemi Covid-19 Dalam Terang Kabar Gembira”, saya mengajak kita untuk sejenak menarik diri dari keramaian dengan berbagai tawaran dunia dan kemudian menepi sebentar dengan masuk ke dalam diri sembari bertanya, “apakah yang harus saya lakukan sebagai orang yang terpanggil atau sebagai agen pastoral di tengah pandemi covid-19 yang mana bermuara pada krisis iman dan identitas?”. Tentu hal ini menghantar kita pada suatu refleksi yang mendalam yang kemudian bermuara pada suatu tindakan yang baik dan berguna untuk pengembangan iman dan identitas manusia.


Baca Juga: Puisi-Puisi | Evans Kaha | Di bawah Nisan Ini Puisiku Duduk MenangisPuisi-Puisi |                        Evans Kaha | Di bawah Nisan Ini Puisiku Duduk Menangis


Judul refleksi yang ditawarkan di atas sejatinya menggambarkan sikap kekuatiran akan segelintir orang akan realitas dunia saat ini. “Bagaimana dengan kita? Apakah kita pun sadar dan merasa kuatir dengan dunia dewasa ini, yang secara perlahan kehilangan akan iman dan identiasnya? Ataukah enggan untuk melihat realitas dewasa ini dengan segala peristiwanya?” Pada hakikatnya Tuhan menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya sendiri bukan tanpa suatu tujuan melainkan dengan suatu tujuan yaitu hidup kudus, dalam arti bahwa manusia dalam ziarah hidupnya senantiasa berpikir, berkata dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan.

 

Selain itu, Tuhan pun mengaruniakan kepada manusia akal budi, hati nurani dan kehendak bebas dengan tujuan agar manusia dapat mengimplementasikan ketiga karunia tersebut atas semua tantangan atau permasalahan yang dihadapi. Akan tetapi, tidak dapat dimungkiri bahwasannya setiap manusia memiliki kisah hidup yang berbeda-beda dan tentu saja hal itu tidak mudah, semudah membalikan telapak tangan kita, yang mana hal tersebut seringkali menjerumuskan manusia pada kesalahan dalam berkata, berpikir dan bertindak. Kesalahan-kesalahan inilah yang dapat menggoyahkan iman kita kepada Tuhan. 


Meskipun kita seringkali melakukan kesalahan dengan tidak setia dan melawan kehendak-Nya, Tuhan tetap setia mendampingi dan memberkati kita, “Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Ia tidak dapat mengingkari diri-Nya” (bdk. 2Tim. 2:13). Lebih daripada itu, Tuhan pun selalu memberikan kepada kita penghiburan dan kekuatan dalam setiap tantangan atau masalah yang kita hadapi, “Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu” (bdk. 2Taw.15:7).


Baca Juga: DINAMIKA RADIKALISME, EMOSIONALITAS MASSA DAN ETIKA                    KOMUNIKASI | Fr. DEFRY NGO, SVD


Sejatinya dari judul refleksi tersebut ada tiga hal penting yang patut kita refleksikan bersama, yaitu Iman, Identitas dan Kabar Gembira (Sabda Tuhan), yang mana ketiga hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari masing-masing pribadi kita yang mengatasnamakan orang-orang yang beriman kepada Kristus.

 

Pertama, Iman. Iman merupakan perwujudan atau tanggapan manusia atas pewahyuan diri Allah. Dengan demikian jelas bahwasannya iman bukan saja soal teori yang berasal dari kedalaman hati, melainkan juga merupakan aksiologi atau tindakan nyata seseorang yang beriman kepada Kristus, “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (bdk. Yak. 2:26). Hal ini menegaskan bahwasannya iman merupakan keselarasan antara apa yang diimani atau dipahami dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

 

Keselarasan dari keduanya tentu saja akan menghantar seseorang kepada suatu tujuan yaitu penemuan jati diri yang sesungguhnya, penemuan akan identitasnya sebagai orang yang beriman kepada Kristus. Namun ketika iman dihadapkan dengan dunia dewasa ini yang mana ditandai dengan pandemi covid-19, eksistensi iman perlahan kehilangan perannya karena seluruh keputusan manusia kini dilandasi atas ratio belaka, sehingga bermuara pada krisis iman itu sendiri. Bukan saja gereja-gereja melainkan seluruh rumah ibadah ditutup lantaran sikap kekuatiran manusia akan penyebaran virus corona. Berhadapan dengan situasi yang demikian, muncul sebuah pertanyaan, “dimanakah eksistensi Tuhan yang adalah sumber kesembuhan?”

 

Kedua, identitas. Manusia pada hakikatnya diciptakan dan diberi karunia oleh Tuhan, yaitu kehendak bebas. Oleh karenanya manusia bebas memilih dan melakukan apa saja sesuai dengan keinginannnya dan dalam konteks ini bebas melakukan apa saja sesuai dengan hati nurani dan akal budi yang pasti kebebasan tersebut berguna bagi kehidupannya, sesama dan alam ciptaan Tuhan. Namun kebebasan tersebut seakan sirnah dari kehidupan masing-masing pribadi kita lantaran pandemi covid-19 yang kemudian melahirkan salah satu program pemerintah yang menerapkan physical distancing atau jaga jarak satu dengan yang lainnya.

 

Sebagai orang-orang yang beriman kepada Kristus, tentu saja hal ini merupakan satu kemunduran dalam membangun kehidupan bersama, semisal saling membantu dan melayani layaknya Yesus dalam ziarah kehidupannya yang senantiasa membantu dengan menyembuhkan banyak orang yang sakit. Sabda Yesus, “biarkanlah orang mati menguburkan orang mati”, kini menjadi relevan dalam ziarah kehidupan kita. Dengan situasi saat ini, masih pantaskah kita menyandang status sebagai agen-agen pastoral ketika melihat sesama kita menderita?

 

Hal yang ketiga Kabar Gembira. Saya sangat yakin dan percaya bahwasannya kita semua sungguh mengetahui secara pasti apa yang dimaksudkan dengan Kabar Gembira. Kabar Gembira yang sebelumnya menjadi pedoman dan penuntun dalam ziarah kehidupan kita, kini tergantikan dengan peran teknologi yang mana tidak hanya merasuk dalam kehidupan remaja dan orang dewasa tetapi juga anak-anak lantaran semua pembelajaran dilakukan secara online.

 

Berhadapan dengan situasi dewasa ini yang ditandai dengan krisis iman dan identitas, saya mengajak kita semua untuk kembali menyadari peran kita sebagai agen-agen pastoral yaitu mewartakan Kabar Gembira kepada semua orang. Kehadiran kita sebagai agen pastoral merupakan perpanjangan tangan Tuhan kepada umat-Nya. 


Hal-hal yang dapat saya tawarkan pada akhir refleksi ini, membangun kehidupan doa baik pribadi dan bersama, setia membaca dan merenungkan Sabda Tuhan yang adalah sumber penghiburan dan kekuatan kita “Sebab tidak mengenal Alkitab berarti tidak mengenal Kristus” (St. Hieronimus), menggunakan alat-alat teknologi dengan bijaksana guna membantu mengembangkan iman umat, tetap menjalin hubungan yang akrab dan harmonis dengan sesama dan alam ciptaan, dan tetap serta setia menjadi contoh dalam mematuhi segala program yang dikeluarkan oleh pemerintah dan Gereja.

 

Baca Juga: Dunia dan Politik Otentik Hannah Arendt | Fr. Roby Poco, SVD


Tentu semua hal tersebut merupakan Kabar Gembira Allah agar kita bukan saja terhindar dari penyakit melainkan juga semakin mengakrabkan pribadi kita baik dengan sesama, alam ciptaan, dan Tuhan sendiri. Dengan membangun kesadaran dan melakukan berbagai cara tersebut saya sangat yakin bahwa Gereja tidak akan “mati” tetapi tetap hidup dalam ziarah kehidupan orang-orang beriman. Kita senantisa dalam doa berharap agar dengan bantuan Tuhan, masa pandemi ini segera berakhir, sehingga dengan optimis kita dapat menatap kebaruan langit dan bumi, melalui sikap dan tindakan kita yang baru pula. 

 

Di hadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman, dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin”.


Komentar

  1. Terima kasih telah hidangkan seonggok permenungan diri yang edukatif skligus inspiratif. Iman membentuk identitas kita, yg kemudian terintegrasi dlm pewartaan hidup (kabar gembira). Salut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah bersedia membaca tulisan sederhana ini. Syalom..

      Hapus
  2. Tulisan sederhana yang penuh makna,,,,, 🙏

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...