Langsung ke konten utama

Surat Doa Kepada Perempuan Penghuni Surga | Cerpen Steven Jadur


 

“Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa……..” Lirik lagu ini mengusik album lama dalam pikiranku yang bernama kenangan. Pancaran sinar senja yang hampir tenggelam tadi sore membuat sayap-sayap rinduku patah oleh air mata, ketika mendengar lirik lagu itu di salah satu rumah tepat di ujung kampungku. Debu-debu yang mendebur dan menari bersama angin di sepanjang jalan tidak pernah berubah, persis seperti ketika aku kecil dulu. Aku berjalan untuk melihat kondisi kampungku yang dulu terkenal sangat elok karena keaslian alamnya. Pohon-pohon jati di sepanjang jalan masih terlihat seperti dulu dan daun-daunnya tergeletak memberi keindahan di sepanjang jalan. Aku melewati setiap rumah yang masih sama seperti dulu, meskipun ada sedikit perubahan, tetapi itu lebih memperindah. Anak-anak kecil teerlihat begitu ramai bermain di sepanjang jalan, mengingatkan aku dulu pada posisi mereka. Semuanya persis seperti dulu. Ketika sampai di ujung kampung, lantunan lagu kasih ibu seolah-olah menjadi jeritan paling sedih ketika menyentuh telingaku dan memberi rasa sakit pada hati ini. Aku membalikkan badan dan mengarahkan pandangan ke arah matahari yang hampir tenggelam. Aku memekik dalam sunyi. Aku memandang langit seolah-olah menggugatnya, tempat kediaman ibuku. Mungkin penghuni surga mendengar pekikanku, apalagi ibu. Yang kutahu ibu selalu setia mendengarkanku. Matahari sepenuhnya tenggelam, mungkin itu pertanda jawaban dari surga. Aku pulang ke rumah yang berada di tengah kampung dan membawa secerca rindu tentang ibu.

Ibu meninggalkan ayah, kedua kakakku, dan aku. Pada waktu ibu meninggal, aku beusia tujuh tahun, umur di mana aku sedikit memahami apa arti hidup. Rasanya sangat perih. Sedih menjadi bagian dari keluarga selama 18 tahun ini. Ayah menjadi single parent dan kakak perempuan sulungku terpaksa mengambil alih peran ibu dalam rumah. Kami harus berjuang untuk mandiri dan selalu menghadirkan senyuman ibu dalam setiap kebersamaan kami di dalam rumah. Bersama ayah, ibu selalu memperlihatkan arti cinta dan perjuangan kepada kami. Satu hal yang tidak pernah terlepas dari ibu adalah selalu tersenyum, bahkan ketika ia menghembuskan nafas terakhirnya, ia menyisahkan senyum sebagai pesan yang terakhir tanda cintanya yang kekal. Mungkin sekarang ia sedang tersenyum dari langit ketujuh, tempat kediamannya yang kekal. Ibu sangat menyayangi kami bertiga dan tidak pernah ia marah atau memukul kami ketika berbuat salah. Ia seperti jelmaan malaikat penghuni surga. Ia adalah tempat aku mengaduh; tempat aku berteduh di kala hujan; ia menjadi yang pertama memeluk aku ketika purnama tidak memberi cahaya pada rumah kami; ia adalah penyejuk di kala matahari membakar ubun-ubunku. Barangkali karena aku adalah anak bungsu. Aku seolah-olah tidak pernah keluar dari rahim yang sama ketika akau dibentuk oleh tangan juru doa. Ibu melakuka apa saja demi melihat kami bahagia, salah satunya rela terluka. Apa yang ibu ingiankan dari kami? Mengapa kami menjadi istimewa di mata ibu?

Namun, Tuhan lebih mencintai ibu. Kanker otak yang diderita ibu tidak bisa dielakkan lagi. Pada waktu itu, ibu hanya sakit selama satu minggu dan Tuhan memanggilnya pulang. Kini ia telah sirnah dari hadapanku, tersisa hanya bayangan tentang kenangan bersamanya. Kepergiannya terkadang membuat aku merana. Bukankah sakit ditinggalkan oleh sosok yang sangat dicintai? Dan sekarang aku sudah berjalan selama 18 tahun tanpa sosok seorang ibu. Dalam setiap rinduku tentang ibu, aku selalu ingat pesan terakhirnya kepada kami. “Nak, jadilah yang terbaik.” Kata-kata inilah yang menjadi inspirasi dan kekuatan bagiku untuk melangkah, berusaha memberi yang terbaik kepada ibu. Ia pasti melihat perjuanganku dari surga dan mungkin juga sedang tersenyum.

Malam ini, rindu tentang ibu semakin subur dalam hatiku, di kala keluarga besar berkumpul di rumah kami untuk melakukan acara wuat wai. Sosok ibu tidak kulihat lagi; aku tidak bisa mendengar suaranya ataupun melihat senyumnya yang sangat menawan. Aku sekali lagi memekik dalam diam, walaupun tidak menumpahkan air mata dan mungkin juga ayah merasakannya karena aku menatapnya begitu dalam, entahlah! Kebahagiaan ini tidak sesungguhnya mengubah rasa sedih di dalam hatiku. Di dalam hatiku, aku selalu memanggil ibu di keramaian dapur dan mataku selalu memperhatikan orang yang hadir, barangkali ibu juga hadir. Ujung-ujungnya rindu semakin runcing di dalam hatiku. Acara wuat wai berlalu begitu saja dan rindu masih saja membentang semakin lebar. Besok aku harus berangkat meninggalkan kampung halamanku yang elok dan menjadi kenangan besama ibu untuk pergi ke negeri seberang sana yang tidak kukenal, Jerman.

Aku masuk ke dalam kamarku dengan sejuta rindu tentang ibu. Aku tidak bisa memejamkan mata yang sedang dilerai oleh ceruk air mata yang membentuk aliran sungai melewati pipiku. Semua orang nyeyak di tempat pembaringan masing-masing, sedangkan ayah, aku mendengarkan ia sedang menyalakan lilin di ruang tamu hendak berdoa, mungkin rindu ini setara dengan yang dirasakannya atau bahkan lebih. Tetapi aku tidak keluar dari kamar karena aku berharap ibu hadir dalam keheningan malam ini memalui berkas cahaya rembulan yang tembus melewati kaca jendela kamarku. Keheningan seolah-olah tuli karena tidak bisa memberikan jawaban kepadaku, bahkan ia malah mengirimkan suara jangkrik yang semakin mendebur, membuat rinduku semakin piatu. Aku memandang foto ibu yang tergantung di dinding kamarku lalu mengambilnya dan meletakkannya di atas meja, tepat di samping gambar Yesus yang tersalib. Aku menyalakan lilin, duduk di depan foto ibu, dan bersimbah pada rindu yang menggebu-gebu. Seluruh jiwaku tak mampu kubendung untuk memanjatkan kata-kata rindu dan doa kepada Tuhan untuk ibu.

“Ma, salam rindu kusampaikan kepadamu dan maaf jika rinduku membuatmu cemas di sana. Masih ingatkah mama akan kehangatan bersama gelas-gelas kopi dan ubi kayu di kala senja dulu? Masih ingatkah mama akan cerita bersama ikan-ikan kering yang digantung di atas tungku api di dapur rumah kita? Dan masih banyak lagi hal yang selalu membuat aku rindu denganmu mama. Sudah begitu lama rinduku ingin mengetuk pintu surga untuk bertemu mama, tetapi justru kelemahankulah yang membuat aku gundah. Mengapa mama begitu cepat meninggalkan kami? Tuhan, mengapa Kau panggil mama di kala kami sempoyongan belajar bahasa cinta dan merangkak memperjuangkan masa depan? Maafkan aku Tuhan karena begitu lancang dari keberdosaanku menggugat segala rencanaMu. Bersama waktu yang terus bergulir seiring sajak-sajak rindu di dalam relung hati, kami tetap memijakkan tali jemari kami pada perjuangan. Mama, kita harus bersyukur bahwa Tuhan sangat adil mencintaimu, ayah, aku dan kakak. Terimakasih untuk suamimu yang sudah mengajarkan aku banyak hal tentang arti hidup yang sesungguhnya. Terimakasih juga untuk kedua puterimu yang dengan setia menjelmamu dalam setiap cinta mereka. Aku bersyukur bahwa paras indahmu selalu hadir dalam diri mereka. Aku yakin mama pasti sedang tersenyum dengan keberhasilan kami hingga saat ini. Mama, aku rindu, semoga pelukku sampai padamu yang kusertakan dengan kecupan yang sudah lama tak kulakukan .

Sekarang aku, anak bungsu mama, telah melangkah jauh dalam jalan pilihanku dan aku memperoleh keistimewaan terinspirasi dari setiap senyumanmu, terlebih khusus pesan terakhir yang kau sampaikan padaku. Tuhan selalu berjalan di sampingku. Besok, aku akan berangkat menuju Jerman. Itulah sebabnya malam ini diadakan acara wuat wai di rumah kita, sebagai bentuk doa dan dukungan dari keluarga besar untuk perjalananku dan perjuanganku selama di sana nantinya. Mama harus tahu bahwa anakmu ini dipercayakan oleh kampus untuk melanjutkan kuliah filsafat di Jerman. Aku termasuk slah satu dari dua orang yang diutus oleh kampus. Aku tidak tahu apa kriteria yang mereka gunakan untuk hal ini, sehingga aku bisa terpilih dari sekian banyak orang yang ada di kampus. Mungkin karena sulaman doa-doamu di hadapan Tuhan yang baik. Terimakasih untuk itu mama. Aku bangga dengan pencapaianku hingga sekarang ini. Kepergian mama adalah sebuah keindahan yang kekal karena aku selau merasa dekat dengan Tuhan yang kita sembah. Mama, aku sangat rindu padamu. Maaf bila aku selalu menyertakan tangis pada setiap rinduku, meskipun dulu mama selalu mengajarkan aku untuk tidak menangis di kala menghadapi kesulitan. Ah, betapa rindu ini tidak tertahankan lagi. Mama, aku mohon doa dan dukungan dari mama untuk perjalananku besok dan kuliahku nanti di Jerman. Aku rindu melihat senyum dan mendengar suaramu. Mama, aku sangat mencintaimu.”

Lilin yang kunyalakan tadi pelan-pelan menjadi sayup dan malam semakin suntuk untuk berlari menjemput fajar. Aku tersipu dalam diam. “Sekarang anak mama sudah besar. Aku bangga dengan anak kesayangan mama ini. Sini, mama peluk. Hati-hati ya anak mama, sampai di sana jadilah yang terbaik. Peluk, cium dan senyuman mama akan selalu ada bersamamu.”  Aku tersadarkan ketika ayah mengetuk pintu kamarku. Ternyata itu semua hanya peristiwa dalam alam bawah sadarku sebagai hasil dari rindu yang paling piatu terhadap salah seorang perempuan penghuni surga, ibuku. Mama, aku mencintaimu.

 

Keterangan:

Wuat wai adalah salah satu acara dalam adat orang Manggarai, berupa doa dan dukungan dari anggota keluarga besar untuk seseorang yang hendak pergi jauh, entah merantau, sekolah ataupun hal lainnya.    


Steven Jadur, tinggal di Unit Efrata-Gere, Ledalero. Penulis berasal dari Lembor, Mnggarai Barat dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...