“Kasih
ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa……..” Lirik lagu ini mengusik album
lama dalam pikiranku yang bernama kenangan. Pancaran sinar senja yang hampir
tenggelam tadi sore membuat sayap-sayap rinduku patah oleh air mata, ketika
mendengar lirik lagu itu di salah satu rumah tepat di ujung kampungku.
Debu-debu yang mendebur dan menari bersama angin di sepanjang jalan tidak
pernah berubah, persis seperti ketika aku kecil dulu. Aku berjalan untuk
melihat kondisi kampungku yang dulu terkenal sangat elok karena keaslian
alamnya. Pohon-pohon jati di sepanjang jalan masih terlihat seperti dulu dan
daun-daunnya tergeletak memberi keindahan di sepanjang jalan. Aku melewati setiap
rumah yang masih sama seperti dulu, meskipun ada sedikit perubahan, tetapi itu
lebih memperindah. Anak-anak kecil teerlihat begitu ramai bermain di sepanjang
jalan, mengingatkan aku dulu pada posisi mereka. Semuanya persis seperti dulu.
Ketika sampai di ujung kampung, lantunan lagu kasih ibu seolah-olah menjadi
jeritan paling sedih ketika menyentuh telingaku dan memberi rasa sakit pada
hati ini. Aku membalikkan badan dan mengarahkan pandangan ke arah matahari yang
hampir tenggelam. Aku memekik dalam sunyi. Aku memandang langit seolah-olah
menggugatnya, tempat kediaman ibuku. Mungkin penghuni surga mendengar
pekikanku, apalagi ibu. Yang kutahu ibu selalu setia mendengarkanku. Matahari
sepenuhnya tenggelam, mungkin itu pertanda jawaban dari surga. Aku pulang ke
rumah yang berada di tengah kampung dan membawa secerca rindu tentang ibu.
Ibu
meninggalkan ayah, kedua kakakku, dan aku. Pada waktu ibu meninggal, aku beusia
tujuh tahun, umur di mana aku sedikit memahami apa arti hidup. Rasanya sangat
perih. Sedih menjadi bagian dari keluarga selama 18 tahun ini. Ayah menjadi
single parent dan kakak perempuan sulungku terpaksa mengambil alih peran ibu
dalam rumah. Kami harus berjuang untuk mandiri dan selalu menghadirkan senyuman
ibu dalam setiap kebersamaan kami di dalam rumah. Bersama ayah, ibu selalu
memperlihatkan arti cinta dan perjuangan kepada kami. Satu hal yang tidak
pernah terlepas dari ibu adalah selalu tersenyum, bahkan ketika ia
menghembuskan nafas terakhirnya, ia menyisahkan senyum sebagai pesan yang
terakhir tanda cintanya yang kekal. Mungkin sekarang ia sedang tersenyum dari
langit ketujuh, tempat kediamannya yang kekal. Ibu sangat menyayangi kami
bertiga dan tidak pernah ia marah atau memukul kami ketika berbuat salah. Ia
seperti jelmaan malaikat penghuni surga. Ia adalah tempat aku mengaduh; tempat
aku berteduh di kala hujan; ia menjadi yang pertama memeluk aku ketika purnama
tidak memberi cahaya pada rumah kami; ia adalah penyejuk di kala matahari
membakar ubun-ubunku. Barangkali karena aku adalah anak bungsu. Aku seolah-olah
tidak pernah keluar dari rahim yang sama ketika akau dibentuk oleh tangan juru
doa. Ibu melakuka apa saja demi melihat kami bahagia, salah satunya rela
terluka. Apa yang ibu ingiankan dari kami? Mengapa kami menjadi istimewa di
mata ibu?
Namun,
Tuhan lebih mencintai ibu. Kanker otak yang diderita ibu tidak bisa dielakkan
lagi. Pada waktu itu, ibu hanya sakit selama satu minggu dan Tuhan memanggilnya
pulang. Kini ia telah sirnah dari hadapanku, tersisa hanya bayangan tentang
kenangan bersamanya. Kepergiannya terkadang membuat aku merana. Bukankah sakit
ditinggalkan oleh sosok yang sangat dicintai? Dan sekarang aku sudah berjalan
selama 18 tahun tanpa sosok seorang ibu. Dalam setiap rinduku tentang ibu, aku
selalu ingat pesan terakhirnya kepada kami. “Nak, jadilah yang terbaik.”
Kata-kata inilah yang menjadi inspirasi dan kekuatan bagiku untuk melangkah,
berusaha memberi yang terbaik kepada ibu. Ia pasti melihat perjuanganku dari
surga dan mungkin juga sedang tersenyum.
Malam
ini, rindu tentang ibu semakin subur dalam hatiku, di kala keluarga besar
berkumpul di rumah kami untuk melakukan acara wuat wai. Sosok ibu tidak
kulihat lagi; aku tidak bisa mendengar suaranya ataupun melihat senyumnya yang
sangat menawan. Aku sekali lagi memekik dalam diam, walaupun tidak menumpahkan
air mata dan mungkin juga ayah merasakannya karena aku menatapnya begitu dalam,
entahlah! Kebahagiaan ini tidak sesungguhnya mengubah rasa sedih di dalam
hatiku. Di dalam hatiku, aku selalu memanggil ibu di keramaian dapur dan mataku
selalu memperhatikan orang yang hadir, barangkali ibu juga hadir.
Ujung-ujungnya rindu semakin runcing di dalam hatiku. Acara wuat wai
berlalu begitu saja dan rindu masih saja membentang semakin lebar. Besok aku
harus berangkat meninggalkan kampung halamanku yang elok dan menjadi kenangan
besama ibu untuk pergi ke negeri seberang sana yang tidak kukenal, Jerman.
Aku
masuk ke dalam kamarku dengan sejuta rindu tentang ibu. Aku tidak bisa
memejamkan mata yang sedang dilerai oleh ceruk air mata yang membentuk aliran
sungai melewati pipiku. Semua orang nyeyak di tempat pembaringan masing-masing,
sedangkan ayah, aku mendengarkan ia sedang menyalakan lilin di ruang tamu
hendak berdoa, mungkin rindu ini setara dengan yang dirasakannya atau bahkan lebih.
Tetapi aku tidak keluar dari kamar karena aku berharap ibu hadir dalam
keheningan malam ini memalui berkas cahaya rembulan yang tembus melewati kaca
jendela kamarku. Keheningan seolah-olah tuli karena tidak bisa memberikan
jawaban kepadaku, bahkan ia malah mengirimkan suara jangkrik yang semakin
mendebur, membuat rinduku semakin piatu. Aku memandang foto ibu yang tergantung
di dinding kamarku lalu mengambilnya dan meletakkannya di atas meja, tepat di
samping gambar Yesus yang tersalib. Aku menyalakan lilin, duduk di depan foto
ibu, dan bersimbah pada rindu yang menggebu-gebu. Seluruh jiwaku tak mampu
kubendung untuk memanjatkan kata-kata rindu dan doa kepada Tuhan untuk ibu.
“Ma,
salam rindu kusampaikan kepadamu dan maaf jika rinduku membuatmu cemas di sana.
Masih ingatkah mama akan kehangatan bersama gelas-gelas kopi dan ubi kayu di
kala senja dulu? Masih ingatkah mama akan cerita bersama ikan-ikan kering yang
digantung di atas tungku api di dapur rumah kita? Dan masih banyak lagi hal
yang selalu membuat aku rindu denganmu mama. Sudah begitu lama rinduku ingin
mengetuk pintu surga untuk bertemu mama, tetapi justru kelemahankulah yang
membuat aku gundah. Mengapa mama begitu cepat meninggalkan kami? Tuhan, mengapa
Kau panggil mama di kala kami sempoyongan belajar bahasa cinta dan merangkak
memperjuangkan masa depan? Maafkan aku Tuhan karena begitu lancang dari
keberdosaanku menggugat segala rencanaMu. Bersama waktu yang terus bergulir
seiring sajak-sajak rindu di dalam relung hati, kami tetap memijakkan tali
jemari kami pada perjuangan. Mama, kita harus bersyukur bahwa Tuhan sangat adil
mencintaimu, ayah, aku dan kakak. Terimakasih untuk suamimu yang sudah
mengajarkan aku banyak hal tentang arti hidup yang sesungguhnya. Terimakasih
juga untuk kedua puterimu yang dengan setia menjelmamu dalam setiap cinta
mereka. Aku bersyukur bahwa paras indahmu selalu hadir dalam diri mereka. Aku
yakin mama pasti sedang tersenyum dengan keberhasilan kami hingga saat ini.
Mama, aku rindu, semoga pelukku sampai padamu yang kusertakan dengan kecupan
yang sudah lama tak kulakukan .
Sekarang
aku, anak bungsu mama, telah melangkah jauh dalam jalan pilihanku dan aku
memperoleh keistimewaan terinspirasi dari setiap senyumanmu, terlebih khusus
pesan terakhir yang kau sampaikan padaku. Tuhan selalu berjalan di sampingku.
Besok, aku akan berangkat menuju Jerman. Itulah sebabnya malam ini diadakan
acara wuat wai di rumah kita, sebagai bentuk doa dan dukungan dari
keluarga besar untuk perjalananku dan perjuanganku selama di sana nantinya.
Mama harus tahu bahwa anakmu ini dipercayakan oleh kampus untuk melanjutkan
kuliah filsafat di Jerman. Aku termasuk slah satu dari dua orang yang diutus
oleh kampus. Aku tidak tahu apa kriteria yang mereka gunakan untuk hal ini,
sehingga aku bisa terpilih dari sekian banyak orang yang ada di kampus. Mungkin
karena sulaman doa-doamu di hadapan Tuhan yang baik. Terimakasih untuk itu
mama. Aku bangga dengan pencapaianku hingga sekarang ini. Kepergian mama adalah
sebuah keindahan yang kekal karena aku selau merasa dekat dengan Tuhan yang
kita sembah. Mama, aku sangat rindu padamu. Maaf bila aku selalu menyertakan
tangis pada setiap rinduku, meskipun dulu mama selalu mengajarkan aku untuk
tidak menangis di kala menghadapi kesulitan. Ah, betapa rindu ini tidak
tertahankan lagi. Mama, aku mohon doa dan dukungan dari mama untuk perjalananku
besok dan kuliahku nanti di Jerman. Aku rindu melihat senyum dan mendengar
suaramu. Mama, aku sangat mencintaimu.”
Lilin
yang kunyalakan tadi pelan-pelan menjadi sayup dan malam semakin suntuk untuk
berlari menjemput fajar. Aku tersipu dalam diam. “Sekarang anak mama sudah
besar. Aku bangga dengan anak kesayangan mama ini. Sini, mama peluk. Hati-hati
ya anak mama, sampai di sana jadilah yang terbaik. Peluk, cium dan senyuman
mama akan selalu ada bersamamu.” Aku
tersadarkan ketika ayah mengetuk pintu kamarku. Ternyata itu semua hanya
peristiwa dalam alam bawah sadarku sebagai hasil dari rindu yang paling piatu
terhadap salah seorang perempuan penghuni surga, ibuku. Mama, aku mencintaimu.
Keterangan:
Wuat
wai
adalah salah satu acara dalam adat orang Manggarai, berupa doa dan dukungan
dari anggota keluarga besar untuk seseorang yang hendak pergi jauh, entah
merantau, sekolah ataupun hal lainnya.
Steven Jadur, tinggal di Unit Efrata-Gere, Ledalero. Penulis berasal dari Lembor, Mnggarai Barat dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero.


Kompor gas.tetap berkarya kela
BalasHapus