Memaknai Peristiwa Paskah
Tepat
sesudah tiga hari berada dalam kubur, Yesus bangkit. Orang Kristen pada umumnya
percaya bahwa kebangkitan Yesus dari alam maut merupakan sebuah tanda nyata
bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa atas kehidupan dan kematian. Bagi
orang Kristen peristiwa ini disebut sebagai peristiwa Paskah. Peristiwa Paskah
yang baru saja kita rayakan sebetulnya merupakan sebuah perayaan iman. Dalam
suratnya kepada jemaat di Korintus, Rasul Paulus mengatakan bahwa “Tetapi
andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan
sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1 Kor 15: 14). Hal ini ingin menegaskan
kepada kita sebagai orang yang beriman kepada Kristus, bahwa kebangkitan
Kristus dari alam maut merupakan puncak dari seluruh kepercayaan kita. Sebab
kebangkitan Kristus turut memperbarui seluruh aspek kehidupan kita dan terutama
pengharapan kita akan Kristus sebagai penyelamat. Kemudian selanjutnya Paulus
menegaskan lagi bahwa “Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja
sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya” (1 Kor 15: 25).
Rasul Paulus ingin meyakinkan kita bahwa kebangkitan Kristus membawa pembebasan
bagi semua orang beriman.
Setelah
Yesus bangkit, Ia tidak menghilang begitu saja, tetapi tetap berada bersama
kita dan itu ditunjukkanNya melalui berbagai peristiwa penampakan diriNya
kepada para murid, mulai dari penampakanNya kepada Maria Magdalena (Maria dari
Magdala; Mrk 16:9 dan Yoh 20:11-18), kepada perempuan-perempuan lain yang ke
kubur (Mat 28:8-10), kepada dua murid yang berjalan ke Emaus (Mrk 16:12-13; Luk
24:13-35), kepada Simon Petrus (Kefas), kepada sepuluh murid (tanpa Tomas),
kepada sebelas murid (termasuk Tomas), kepada sejumlah murid di tepi danau
Tiberias, kepada sejumlah murid di Galilea, kepada lima ratus orang sekaligus
(1 Kor 15:6), kepada Yakobus dan semua rasul (1 Kor 15:7), kepada sejumlah
murid pada waktu Yesus akan terangkat ke Surga di dekat Betania, Bukit Zaitun
(Mrk 16:19-20; Luk 24:50-53; Kis 1:4-12), dan yang terakhir kepada Saulus yang
kemudian menjadi Paulus dalam perjalanan menuju Damaskus (Kis 9:1-6. 22:1-10.
26:12-8, 1 Kor 15:8). Semua peristiwa penampakan ini merupakan bukti bahwa
Yesus telah sungguh-sungguh bangkit dari alam maut dan kemudian tetap
senantiasa berada bersama para muridNya.
Kebangkitan; Momen Transformasi
Diri
Pada
dasarnya, Yesus sejak awal mula Ia berkarya sudah mengetahui bahwa Ia akan
menderita, wafat, dan bangkit pada hari ketiga. Sebab untuk itulah Yesus datang
ke dunia, membebaskan manusia dari perbudakan dosa dan menjadikan manusia baru
yang merdeka. Melalui penderitaan dan wafatNya Yesus ingin menunjukkan bahwa
diriNya sungguh taat kepada Bapa-Nya dan sekaligus Ia solider dengan manusia
yang berdosa. Dan melalui kebangkitanNya dari alam maut, Yesus turut memulihkan
kehidupan manusia dari yang lama menjadi manusia yang baru dan merdeka.
Pemulihan ini memungkinkan kita untuk menjadi garam dan terang bagi dunia yang
penuh dengan kegelapan dosa.
Kebangkitan
Kristus dari alam maut turut memulihkan kita dan sekaligus membawa kita kepada
sebuah transformasi diri dari yang lama menjadi yang baru. Transformasi diri
yang total tampak dalam pertobatan diri. Peristiwa Paskah juga
sekurang-kurangnya mampu membawa kita untuk semakin dekat dengan Allah
sekaligus tanggap terhadap realitas di sekitar kita. Semakin dekat dengan Allah
dapat ditunjukkan dalam dan melalui cara hidup kita yang baik terutama dalam
seluruh ziarah rohani kita, dari sebelumnya malas berdoa kemudian menjadi rajin
dan tekun untuk berdoa baik secara bersama maupun pribadi. Selanjutnya, tanggap
terhadap realitas dapat kita tunjukkan melalui kepekaan kita terhadap kehidupan
bersama dan menjadi sangat peduli terhadap sesama yang miskin dan menderita.
Bentuk kepedulian kita terhadap sesama yang miskin dan menderita menjadi
semacam perbuatan yang mulia dan sesuai dengan perintah Tuhan sendiri.
Momen
Paskah yang telah kita rayakan dapat bermakna apabila kita sungguh menghayati
sengsara dan wafat Yesus di kayu salib dan kemudian kita tunjukkan dalam
keseharian hidup kita yang berbeda dari kebiasaan sebelumnya. Kendatipun
demikian masih banyak kekurangan yang kita miliki, kita sebagai orang yang beriman
kepada Kristus mesti benar-benar percaya dan yakin bahwa semangat kebangkitan
Kristus akan selalu menjiwai setiap perjuangan hidup kita untuk hari-hari
selanjutnya.
Baca juga: Paskah dan Toleransi (Sebuah Upaya untuk Merawat Kerukunan Antarumat Beragama) | Arsen Djago

Komentar
Posting Komentar