Langsung ke konten utama

Kebangkitan: Momen Transformasi Diri | Andy Denatalis

 

Memaknai Peristiwa Paskah 

Tepat sesudah tiga hari berada dalam kubur, Yesus bangkit. Orang Kristen pada umumnya percaya bahwa kebangkitan Yesus dari alam maut merupakan sebuah tanda nyata bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa atas kehidupan dan kematian. Bagi orang Kristen peristiwa ini disebut sebagai peristiwa Paskah. Peristiwa Paskah yang baru saja kita rayakan sebetulnya merupakan sebuah perayaan iman. Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Rasul Paulus mengatakan bahwa “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1 Kor 15: 14). Hal ini ingin menegaskan kepada kita sebagai orang yang beriman kepada Kristus, bahwa kebangkitan Kristus dari alam maut merupakan puncak dari seluruh kepercayaan kita. Sebab kebangkitan Kristus turut memperbarui seluruh aspek kehidupan kita dan terutama pengharapan kita akan Kristus sebagai penyelamat. Kemudian selanjutnya Paulus menegaskan lagi bahwa “Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya” (1 Kor 15: 25). Rasul Paulus ingin meyakinkan kita bahwa kebangkitan Kristus membawa pembebasan bagi semua orang beriman.

Setelah Yesus bangkit, Ia tidak menghilang begitu saja, tetapi tetap berada bersama kita dan itu ditunjukkanNya melalui berbagai peristiwa penampakan diriNya kepada para murid, mulai dari penampakanNya kepada Maria Magdalena (Maria dari Magdala; Mrk 16:9 dan Yoh 20:11-18), kepada perempuan-perempuan lain yang ke kubur (Mat 28:8-10), kepada dua murid yang berjalan ke Emaus (Mrk 16:12-13; Luk 24:13-35), kepada Simon Petrus (Kefas), kepada sepuluh murid (tanpa Tomas), kepada sebelas murid (termasuk Tomas), kepada sejumlah murid di tepi danau Tiberias, kepada sejumlah murid di Galilea, kepada lima ratus orang sekaligus (1 Kor 15:6), kepada Yakobus dan semua rasul (1 Kor 15:7), kepada sejumlah murid pada waktu Yesus akan terangkat ke Surga di dekat Betania, Bukit Zaitun (Mrk 16:19-20; Luk 24:50-53; Kis 1:4-12), dan yang terakhir kepada Saulus yang kemudian menjadi Paulus dalam perjalanan menuju Damaskus (Kis 9:1-6. 22:1-10. 26:12-8, 1 Kor 15:8). Semua peristiwa penampakan ini merupakan bukti bahwa Yesus telah sungguh-sungguh bangkit dari alam maut dan kemudian tetap senantiasa berada bersama para muridNya.


Kebangkitan; Momen Transformasi Diri

Pada dasarnya, Yesus sejak awal mula Ia berkarya sudah mengetahui bahwa Ia akan menderita, wafat, dan bangkit pada hari ketiga. Sebab untuk itulah Yesus datang ke dunia, membebaskan manusia dari perbudakan dosa dan menjadikan manusia baru yang merdeka. Melalui penderitaan dan wafatNya Yesus ingin menunjukkan bahwa diriNya sungguh taat kepada Bapa-Nya dan sekaligus Ia solider dengan manusia yang berdosa. Dan melalui kebangkitanNya dari alam maut, Yesus turut memulihkan kehidupan manusia dari yang lama menjadi manusia yang baru dan merdeka. Pemulihan ini memungkinkan kita untuk menjadi garam dan terang bagi dunia yang penuh dengan kegelapan dosa.

Kebangkitan Kristus dari alam maut turut memulihkan kita dan sekaligus membawa kita kepada sebuah transformasi diri dari yang lama menjadi yang baru. Transformasi diri yang total tampak dalam pertobatan diri. Peristiwa Paskah juga sekurang-kurangnya mampu membawa kita untuk semakin dekat dengan Allah sekaligus tanggap terhadap realitas di sekitar kita. Semakin dekat dengan Allah dapat ditunjukkan dalam dan melalui cara hidup kita yang baik terutama dalam seluruh ziarah rohani kita, dari sebelumnya malas berdoa kemudian menjadi rajin dan tekun untuk berdoa baik secara bersama maupun pribadi. Selanjutnya, tanggap terhadap realitas dapat kita tunjukkan melalui kepekaan kita terhadap kehidupan bersama dan menjadi sangat peduli terhadap sesama yang miskin dan menderita. Bentuk kepedulian kita terhadap sesama yang miskin dan menderita menjadi semacam perbuatan yang mulia dan sesuai dengan perintah Tuhan sendiri.

Momen Paskah yang telah kita rayakan dapat bermakna apabila kita sungguh menghayati sengsara dan wafat Yesus di kayu salib dan kemudian kita tunjukkan dalam keseharian hidup kita yang berbeda dari kebiasaan sebelumnya. Kendatipun demikian masih banyak kekurangan yang kita miliki, kita sebagai orang yang beriman kepada Kristus mesti benar-benar percaya dan yakin bahwa semangat kebangkitan Kristus akan selalu menjiwai setiap perjuangan hidup kita untuk hari-hari selanjutnya.


Baca juga: Paskah dan Toleransi (Sebuah Upaya untuk Merawat Kerukunan Antarumat Beragama) | Arsen Djago



Andy Denatalis, saat ini tinggal di Unit Efrata-Gere, Ledalero dan sedang menempuh pendidikan sarjana di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero. Penulis berasal dari Manggarai. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...