Kepulan Senja
Teruntuk
senja yang berangsur purnama
Gelapmu
adalah sepi bagiku
Dinginmu
jadi selimut jiwaku
Dan
malamku jadi malam tanpa nafas Adam
Pada
senja yang berangsur purnama
Nafasmu
bagaikan sepucuk surat cinta masa lalu
Aromamu
bak kepulan asap dari sebatang rokok
Dan
ucapmu senada melodi rindu pada dentingan piano romansa
Senja,
kini merangkak pada pembaringannya
Purnamapun
bergerak pada pangkuannya
Tapi kamu
biarkan matamu menutupi hatiku
Sedang
aku mati pada hati yang menggantung
Baca
juga: Puisi-puisi Paskal Kedang
Teruntuk Perjumpaan
Masih
perlukah aku sadar
Jika
berdiri hanya membuatku jatuh
Duduk
buatku lemah
Dan
tegarku buatku sakit?
Atau
haruskah aku bertanya
Ada
namakah dalam diammu?
Atau,
setidaknya tanya yang juga kutanyakan
Adakah
diriku dalam sepimu?
Terus
menerus kusembunyi
Namun
waktu tidak bisa diam
Mencemoohku
dengan sinis
Mengapa
kau biarkan perjumpaan?
Tinta
Minta
saja catatan kaki dari Dia
Agar
diamku bukanlah kosong
Pikirku
bukanlah angan
Tanyaku
bukanlah hampa
Dan kalau
saja mungkin
Buramanku
jadi ukiran
Kertasku
jadi resah hati
Dan
coretanku benarlah tinta sang penulis rindu
(Efrata, 19 Februari 2022)
Baca
juga: Puisi-puisi Rommy Sogen
Keren la tem
BalasHapus