Langsung ke konten utama

Revolusi Digital dan Krisis Kemanusiaan: Membaca Budi Hardiman dalam Buku "Aku Klik maka Aku Ada" | Naldy Roo

 


 

“Saat ini seolah tidak ada yang lebih

pasti dari pada itu. Dengan kepastian dalam layar itu,

homo sapiens berubah menjadi homo digitalis”.

 

Pendahuluan

Kita hidup dan tinggal di sebuah lingkaran revolusi digital. Lingkaran yang memperlihatkan menipisnya perbedaan aktivitas umat manusia antara dunia maya di gawai dan dunia nyata di kehidupan nyata. Setiap orang berusaha sedemikian rupa dan menarik menjalin relasi atau membangun koneksi aktivitas dalam dunia maya dan mengabaikan relasi maupun aktivitas di dunia nyata, entah secara individual maupun kolektif. Oleh karena itu, perkembangan teknologi yang semakin pesat telah membawa berbagai dampak dan pengaruh terhadap ritme kehidupan umat manusia. Di satu sisi, perkembangan revolusi digital mampu memperlancar berbagai aktivitas manusia di berbagai bidang kehidupan seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial, kebudayaan, dan bidang-bidang lainnya. Namun, terlepas dari berbagai aspek positif di atas, tawaran-tawaran yang telah dihadirkan oleh perkembangan revolusi tersebut juga merusaki aspek kemanusiaan dalam diri umat manusia. Kepedulian terhadap kehadiran sesama menjadi lemah karena setiap orang sibuk dengan dunianya sendiri. Dengan kata lain bahwa identitas sosial dalam diri manusia revolusi digital perlahan-lahan memudar. Produk-produk dari perkembangan teknologi seakan-akan menjadi satu kesatuan dengan dirinya sehingga harus dimiliki. Sedangkan kehadiran sesama akan diterima sejauh dia berguna dan memberikan kesenangan tersendiri sebagaimana yang disajikan oleh produk-produk revolusi digital.

Apa dampak dari revolusi digital bagi hidup manusia secara keseluruhan? Inilah pertanyaan dasar dari Budi Hardiman di dalam bukunya yang berjudul Aku Klik Maka Aku Ada: Manusia dalam Revolusi Digital. Buku yang sangat edukatif dan filosofis tersebut diterbitkan oleh penerbit Kanisius Yogyakarta pada 2021. Budi Hardiman menghantar pembaca kepada sebuah refleksi yang intens akan kegelisahan di masa revolusi digital dan menyediakan panduan hidup. Melanjutkan petanyaan dasar Hardiman, saya menuntun kita juga kepada pertanyaan yang serupa: bagaimana kemanusiaan kita (manusia modern) di zaman ini? Sebelum kita lebih intens mencari dan menemukan identitas kemanusiaan kita di hadapan dua pertanyaan di atas, mari kita mengenal identitas penulis buku terlebih dahulu.

 

Biografi Budi Hadirman

Budi Hardiman merupakan seorang penulis yang dilahirkan pada tanggal 31 Juli 1962 di kota Semarang, Jawa Tengah. Ia menyelesaiakn studi filsafatnya pada Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara, Jakarta. Ia melanjutkan studi teologinya di Universitas Sanata Dharma. Pada 1997 dia memperoleh gelar magisternya di Hochschule Fur Philosophie Munchen Jerman dan pada tahun 2001 dia memperoleh gelar doktornya di universitas yang sama. Ia sangat aktif dalam menulis dan buku ini merupakan bukunya yang ke-15. Sekarang ia aktif mengajar di program sarjana dan pascasarjana pada Universitas Pelita Harapan.


Pembahasan

            Persoalan dasar yang diangkat oleh Budi Hardiman dalam bukunya Aku Klik maka Aku Ada: Manusia dalam Revolusi Digital adalah persoalan identitas manusia yang dikikis oleh sikap-sikap destruktif manusia itu sendiri di masa revolusi digital saat ini. Manusia dituntut pada sebuah pertanyaan reflektif: siapakah saya yang menghabiskan sebagian besar waktu dalam hidupku untuk berziarah di berbagai gawai elektronik dunia digital? Siapakah saya di hadapan sesama? Atau siapakah sesama di hadapan saya? Dan pertanyaan besar dari ziarah kemanusiaan tersebut adalah siapakah saya di dalam lingkaran masa revolusi digital? Dalam menjawabi beberapa pertanyaan di atas, penulis mengarahkan kita pada beberapa point penting yang ditelaah secara komprehensif oleh Budi Haardiman dalam bukunya tersebut.


     Baca juga: DINAMIKA RADIKALISME, EMOSIONALITAS MASSA DAN ETIKA KOMUNIKASI | Fr. DEFRY NGO, SVD


Dunia Konvensional Menuju Dunia Digital dan Homo Sapiens Menuju Homo Digitalis

Perkembangan teknologi yang sangat pesat telah membawa pengaruh yang sangat pesat dalam kehidupan masyarakat. Perubahan itu ada yang bersifat konstruktif, tetapi terlepas dari kenyataan tersebut setiap kemajuan yang dihasilkan dari perkembangan teknologi juga bersifat destruktif atau merusak identitas manusia. Kegiatan manusia yang dahulunya secara offline berangsur-angsur hilang dan dipindahkan menjadi online di mana semaunya dikontrol dalam satu konsep digitalisasi. Dunia yang dulunya selalu mengandalkan tenaga manusia diganti dengan dunia yang penuh dengan teknologi, yang dulunya konvensional sekarang menjadi dunia yang digital.

Perubahan dunia konvensional ke dunia digital praksisnya dipengaruhi oleh perubahan manusia juga. Manusia yang mulanya homo sapiens sekarang menjadi homo digitalis yang selalu eksis dalam dunia online. Interaksi antarmanusia tidak lagi membutuhkan tatap muka. Aristoteles menyebut manusia pada era pra-digital dengan nama zoo logon echon yang berarti makhluk pemakai bahasa di mana relasi antara manusia hadir secara ragawi. Namun, di era digital manusia tidak lagi membutuhkan jarak dalam berelasi. Manusia dapat hadir jarak jauh atau telepresent. Manusia menjadi bagian dari komponen sistem media komunikasi. Manusia memang memakai media, tetapi ia sendiri adalah media komunikasi. Manusia menjadi manusia yang dikendalikan oleh media dan sekaligus berfungsi sebagai media. Manusia menjelma menjadi homo digitalis yang bukan lagi I think sebagaimana yang dikatakan Descartes, melainkan I browser. Siapa aku akan semakin identik dengan aku-online, sementara aku-offline akan makin surut. Pada akhirnya dictum tentang manusia aku berpikir diganti dengan aku klik, maka aku ada.

Budi Hardiman mencoba melihat dan merenungkan problematika ini dengan kembali pada pemikiran dan analisis para filsuf terkait hakikat keberadaan manusia di era digital. Keberadaan homo sapiens saat ini menjadi sangat penting untuk ditinjau kembali dengan pendekatan ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Di sini Budi Hardiman mencoba untuk menggunakan pendekatan filsafat dengan mengajukan pertanyaan khusus yaitu siapakah manusia di era digital? Lebih lanjut Budi Hardiman mengatakan bahwa “selamat tinggal kepada komunikasi konvensional dan selamat datang di revolusi digital” di mana manusia akan berinteraksi lewat online, menghujat secara online, mencaci maki secara online dan bahkan menyebarkan hoax secara online. Orang tidak lagi harus berkontak secara fisik untuk saling berperang dan berinteraksi.

 

Fenomenologi dan Revolusi Digital

Perkembangan teknologi yang semakin hari semakin pesat menimbulkan fenomena yang membuat manusia berubah. Fenomena yang rawan terjadi pada masyarakat digital sekarang ini adalah lahir dan terbentuknya pola pikir, pandangan maupun perspektif tentang subjektivitas diri yang tidak sehat. Menilai diri sendiri sebagai subyek yang mampu hidup mandiri dan tidak membutuhkan kehadiran orang lain dalam hidupnya. Nilai-nilai edukatif, sosial, budi pekerti yang telah ditanamkan dalam diri sejak dini mulai hilang dan tidak teraktualisasi dalam waktu yang lama. Manusia digital sulit merenungkan betapa pentingnya kehadiran the others atau yang lain, bahkan realitas yang paling menggelisahkan adalah keengganan untuk merefleksikan keberadaan diri sendiri dalam hidup ini. Manusia begitu asyik dengan up to date pada produk-produk perkembangan teknologi dan lupa pada hal yang menjadi esensi dari keberadaannya di dunia ini.

Pola pikir yang keliru memberi konsekuensi lanjutan yang keliru pula pada tingkah laku manusia itu sendiri. Keengganan untuk berpikir atau hilang kualitas I think telah mempermiskin kualitas cara berpikir manusia terkait sebuah wacana publik. Misalnya,  manusia lebih tertarik pada berita-berita hoax, entah menjadi penyebar berita ataupun menjadi korban dari berita-berita demikian. Fitur-fitur instant yang disajikan oleh perkembangan teknologi di era revolusi digital sungguh mengelisahkan karena manusia tidak memiliki suatu disiplin pola pikir dan perilaku yang tepat dalam menghadapinya. Konsep subjektivitas diri yang tidak sehat dan kemalasan dalam berpikir merupakan masalah dasar yang membentuk kompleksitas masalah-masalah lain dalam kehidupan umat manusia dewasa ini. Jadi, pola pikir yang keliru akan membentuk prilaku yang keliru pula.

Manusia yang mulanya homo sapiens berubah menjadi homo digitalis yang telah mengubah pola pikir dan eksistensinya sebagai manusia. Manusia lebih tertarik dengan keberadaannya dalam dunia online daripada dunia nyata yang melibatkan interaksi secara fisik dengan sesama. Konsekuensi lanjutannya ialah secara berangsur-angsur alat yang kita gunakan selama ini seperti handphone dan produk revolusi digital lainnya mampu melihat kita, memakai kita, dan bahkan dapat menginterpretasikan eksistensi kita sebagai manusia. Sebagai contoh, ketika kita tidak online maka orang-orang yang ada di sekitar kita tidak akan mengetahui dan mengenal kita. Sebaliknya kita akan dianggap eksis ketika kita online dan mampu berinteraksi secara online. Di sini kita melihat betapa besarnya pengaruh revolusi digital terhadap eksistensi manusia dewasa ini.

Melihat realitas ini Budi Hardiman mencoba menggunakan pemikiran Heidegger dalam karyanya yang berjudul “ Sein und Zeit” yaitu ada dan waktu, di mana manusia menjadi titik tolak dari pemahaman tentang ada. Lebih lanjut Budi Hardiman menegaskan bahwa di era digital yang penuh dengan teknologi-teknologi canggih ini sangat sulit bagi kita untuk mengenal dan mengetahui manusia itu seperti apa. Keberadaan manusia yang semulanya Dasein berubah menjadi Digi-sein. Manusia tidak lagi berbicara tentang kesadaran. Ia lebih nyaman berada dalam dunia onlinenya yang penuh dengan tawaran-tawaran yang menarik. Manusia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk online daripada offline. Akibatnya manusia sulit membedakan antara orisinalitas dan fiktif. Manusia tidak lagi memperhatikan kehadiran fisik dalam bertindak, tetapi bagaimana ia bertindak di belakang layar saat ia online dan mendapatkan semua informasi yang dibutuhkan dengan sekali klik.

Budi Hardiman mencoba membuka realitas yang terjadi di era digital dewasa ini, termasuk kebenaran yang tidak lagi autentik, penyebaran hoax di media online, sikap fanatisme yang menyebabkan peperangan online serta kebebasan yang tidak lagi memperhatikan eksistensi manusia yang sesungguhnya. Budi Hardiman mengatakan bahwa, tanpa kita sadari kita telah menjadi budak dari teknologi. Kita tidak hanya memakai teknologi, tetapi kita juga dipakai oleh teknologi. Segala sesuatu yang kita butuhkan sekarang hanya membutuhkan klik maka semuanya ada. Aku online, maka aku akan eksis dan aku klik maka aku ada.


Baca juga: Menerobos Krisis Iman dan Identitas Di Tengah Pandemi Covid-19 Dalam Terang Kabar Gembira | Sebuah Refleksi | Dus Puka 


Hilangnya Jati Diri Manusia

Budi Hardiman menyebut teknologi sebagai mode of being sebab pada kenyataanya tekonologi yang diciptakan oleh manusia sejatinya menguasai manusia itu sendiri. Manusia menjadi kehilangan jati dirinya. Ia tidak lagi autentik dalam kehidupan sehari-hari karena keberadaanya dapat dilihat dan diamati melalui media sosial. Seluruh kehidupan manusia telah dituntun ke dalam kehidupan online karena di sana orang akan mengenalnya lebih dekat ketimbang ia ada secara nyata dalam kehidupan offline. Manusia lebih terbuka dalam kehidupan online dibandingkan kehidupan offline. Sejatinya, Budi Hardiman mengatakan bahwa alat teknologi yang kita gunakan saat ini berubah menjadi diri kita yang sebenarnya. Teknologi menjadi nyawa kedua kita yang harus tetap hidup agar kita dianggap eksis dan ada. Jika teknologi tidak ada, kehidupan manusia sebagai homo digitalis akan menjadi hampa. Sebaliknya, teknologi akan membantu manusia untuk menemukan jati dirinya dengan ia ber-online, sebab jika ia tidak online, ia tidak akan eksis dan dianggap tidak ada. Dengan demikian, “Aku Klik, maka Aku” akan menggantikan posisi aku berpikir maka aku ada.

 

Penutup

Revolusi industri digital telah menampilkan berbagai variasi realitas dalam kehidupan umat manusia (khususnya manusia modern zaman ini) mulai dari tendensi epistemis, pergeseran paradigma, tingkah laku, munculnya identitas baru sebagai homo digitalis (ditandai ambiguitas posisi; ketidakmampuan untuk memaknai produk-produk revolusi digital sehingga sulit membedakan orisinalitas, kebenaran, komunikatif, dan informatif), fanatisme dalam kehidupan bersama (terkait cara berpikir, cara bersikap, cara berelasi/berinteraksi, subjektivitas diri) sampai pada kehilangan aspek-aspek afektif dan humanistik dalam diri manusia modern saat ini. Namun, terlepas dari berbagai tendensi dan kemerosotan di atas, patut disyukuri bahwa kemajuan revolusi industri digital telah memberi banyak pengaruh positif dalam perkembangan peradaban manusia dewasa ini.

Produk-produk dari perkembangan revolusi digital mesti diimbangi dengan konsep, paradigma, dan perspektif yang benar, tepat, kritis, selektif dari manusia modern. Kualitas pola pikir manusia yang baik dan benar akan membentuk tingkah laku dan seluruh orientasi kehidupannya secara kreatif, inovatif, kritis, selektif, dan mencintai kebenaran. Hanya dengan pola pikir yang epistemis dan tingkah laku yang inovatif, manusia modern mampu merespon secara benar realitas kemajuan revolusi industri di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Produk-produk revolusi digital mesti dimengerti secara benar sebagai mediasi dalam mengembangkan aspek-aspek kemanusiaan kita dalam kehidupan besama dengan the others atau yang lain. Bagaimana dengan aspek kemanusiaan kita di tengah perkembangan revolusi digital saat ini? Apakah kita masih homo sapiens? Atau sudah bergeser menjadi homo digitalis?


Baca juga: Dead Poets Society: Sebuah Perjalanan Menuju Carpe Diem | Paskal Kedang 


Naldy Roo, Barcelonista sejati asal Manggarai-Reo. Sekarang menetap di Unit Efrata-Gere, Ledalero dan sedang berkutat dengan dunia filsafat. 

 

 


Komentar

  1. Aku baca maka aku tahu 😂 Mantap kesa👍

    BalasHapus
  2. Mntp eja.


    Ke-beradaan dasariah human being itu tu ditegaskan oleh aspek-aspek yg bgmn e😅

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...