“Hari minggu, hari Tuhan. Juga hari raya menunggu usai perayaan rindu di tiap hari rabu itu. Lalu siapa yang menunggu dan ditunggu? Barangkali Tuhan juga menunggu?” gumam Lita, sambil menyiapkan sarapan untuk suaminya, Gabi. Entahlah, namun hari-hari lain selain hari Minggu, Gabi selalu terjaga saat jago berkokok memanggil pagi dari pintu subuh lalu menyiapkan diri untuk pergi bekerja. Tak jarang juga Gabi terlebih dahulu berada di meja makan berukuran sedang itu, menunggu Lita menyiapkan makanan. Sedangkan Lita selalu setia menemaninya saat sarapan pagi dan sama-sama sarapan atau acap kali hanya sekedar mengobrol bersama.
Sebab semenjak keduanya menjadi suami-istri, meja makan di dekat dapur itu menjadi tempat, selain makanan, juga segala ide, cerita, dan asa-asa disajikan untuk dinikmati bersama. Sampai pada keduanya yang sering juga beradu mulut, di setiap sisi meja itu segla cerita disimpan. Bagi
Lita sendiri, waktu yang tepat untuk bias bercerita banyak hal dengan suaminya hanya pada hari Minggu dan pada saat makan, di meja makan yang sama itu.
“Siapa yang memimpin perayaan misa tadi?”
“Pastor paroki.”
“Banyak yang hadir kha?”
“Rata-rata umat dari semua KBG hadir karena dari ceruk mata mereka masing-masing semacam tergenang dahaga rindu selama pandemic ini untuk dating memenuhi undangan Tuhan dalam perayaan misa.”
“Hahhahahaha…. Tempat bertemu Tuhan tidak seharusnya di gerejakan?”
“Ia…bahwa semua orang juga meyakini hal demikian. Tetapi tempat ibadah kita ada di gereja di mana semua umat berkumpul mereyakan misa dan merasa kuat dalam doa.”
Baca juga Cerita Desa Kami | Oleh Valentino*
“Yang engkau bicarakan itu, bagaimana menunjukan dirimu sebagai seorang guru agama. Lagian teladan yang selama ini engkau tunjukan menjadi sebuah pewartaan yang baik. Hanya yang menjadi persoalan dalam diri saya sekarang bahwa bukan selama ini saya tidak mendengarkanmu atau sama sekali tidak merenungkan apa yang pernah engkau katakana sebelumnya melainkan jenis rindu yang engkau maksudkan itu belum tumbuh dalam hati apa lagi kepalaku.”
“Gabi…lalu kira-kira bagaimana? Apakah engkau sekarang menjadi tidak percaya lagi dengan apa yang engkau Imani mulai dari pertama ibumu mengajari mu melakukan tanda di jidat, hati dan kedua lenganmu yang memebentuk tanda salib itu?”
“Sampai akhirnya bahwa tubuh ku akan dipeluk tanah, saya tetap percaya bahwa Tuhan itu ada. Saya lahir atas kehendak-Nya dalam cinta tulus kedua orang tuaku. Dalam diamku juga saya tetap berdoa terutama mendoakan untuk kebaikan kita berdua, Lita….”
“Jadi kapan engkau bias kegereja lagi sayang? Kita tetap butuh doa sebab hidup ini menyimpan getir yang keras.”
Baca juga Puisi-Puisi | Evans Kaha | Di bawah Nisan Ini Puisiku Duduk Menangis
“Soal itu saya tidak bias berjanji dan saya juga tidak tahu mau menjelaskannya bagaimana. Cukup dalam mengayuh doa-doamu, jangan lupa rapal namaku juga.”
Begitulah Lita dan Gabi. Sepasang suami-istri muda. Bukan hanya baru kali itu, malahan semenjak mereka tinggal bersama sebagai suami-istri, Lita selalu berusaha membujuk Gabi untuk bias kegereja. Paling tidak pada hari Minggu.
Pernah suatu waktu di musim kemarau, sungai-suangai kehilangan ricik air. Hari itu hari Minggu pertama dalam bulan September tepat hari ulang tahun Gabi. Lita sungguh berniat mengajak suaminya itu pergi kegereja biar cukup di hari ulang tahunnya itu saja. Sebab di hari istimewa suaminya itu, Lita yakin bahwa suaminya pasti mau pergi ke gereja.
Sudah lama Lita tak merasakan genggaman hangat suaminya saat bergandengan pergi dan pulang dari gereja seperti waktu keduanya nikah. Tidak sekedar mengajak tetapi lebih tepatnya merayu agar Gabi bisa mau pergi ke gereja. Mengingat pastor parokilah yang memimpin
misa sesuai jadwal asistensinya. Tetapi ketika dibangun kan oleh istrinya untuk meniup lilin ulang tahun dengan meningalkan kecupan di kening sang suami lalu mengajaknya pergi ke gerja bersama, Gabi malah menjawab lirih: “saya tidak mau pergi ke gereja hanya karena hari ini adalah hari ualng tahunku. Bukannya itu lebih berdosa ketimbang saya tetap di rumah? Saya datang bertelut dengan ujud yang khusyuk juga tentu Tuhan tidak mendengarkannya. Jadi biar engkau saja yang mendoakan ku hari ini sayang”.
Lalu Gabi kembali
memberikan
kecupan
hangat buat Lita. Lita merasa resah mendengarnya. Atas cinta yang tulus kepada suaminya, Lita tetap pergi kegereja dengan suatu intense khusus untuk ulang tahun Gabi dan mendoakannya begitu tekun lagi khusyuk. Biar suatu hari nanti Gabi mau pergi kegereja bersamanya.
Gabi
memutuskan untuk tidak lagi ke gereja jauh sebelum mengenal Lita.Waktu itu dirinya masih menjalani pendidikan di SMA. Tidak sengaja Gabi menguping percakapan Ayahnya dan beberapa orang terkemuka di kampunya
itu. Di dalam
ruang tamu rumah mereka, diam-diam sepi menghantam isi kepala Gabi sejenak. Gabi berusaha untuk tidak percaya apa
yang ia dengar dari om Tonce yang sedang menuturkan cerita itu dengan begitu yakin.
Namun Ketika berdiskusi
dengan beberapa sahabat mengenai cerita yang ia dengar, malah
sahabat-sahabatnya
menertawakan Gabi karena
ternyata
ia baru mendengar cerita tersebut. Sedangkan semua orang di kampungnya tidak merasa asing lagi perihal kasus yang dilakukan pastor muda
dan teman perempuannya. Gabi tidak mengira akan kebenaran cerita itu yang benar-benar terjadi. Dia berusaha berpikir tetapi apa yang ia pikirkan itu melampaui pikirannya. Mosi percaya yang ia bangun selama ini terhadap para pastor atau kaum yang terpanggil itu seketika runtuh. Menurut Gabi, sebenarnya orang-orang demikian,
yang di tengah padang gurun iman ini harus membawa umat mendapatkan oase bukan sebaliknya menjauhkan bahkan menjatuhkan mereka dalam lubang lalu mati dengan imannya yang kering.
Selain
itu, apa yang diajarkan
kedua orang tuanya
sejak kecil serasa tak berguna. Berkali-kali pertanyaan
mucul dalam kepalanya, mengapa mesti pastor itu melakukan hal demikian. Itu sama saja mengibas bau busuk dari balik jubah putih. Atau serupa bukan hanya hujan sehari menghapus panas setahun melainkan hujan lebat sehari menjadikan banjir bandang dalam satu dekade. Setelah lama bergulat dan tidak bias menerima perbuatan pastor itu karena kesalahan demikian adalah fatal, sejak itu Gabi bersumpah untuk tidak pergi ke gereja lagi. “Lebih baik berdoa di rumah.” gumamnya. Padahal dari sosok ibunya ia belajar setia untuk selalu ke gereja dan sosok ayahnya yang inspiratif. Yang hidup
dengan suatu prinsip ‘lebih baik member dari pada menerima’.
“Semacam
derau air di tubuh
batu” jawab
Lita kepada pertanyaan seorang rekan gurunya satu minggu kemudian di beranda gereja perihal mengapa tidak mengajak suaminya ke gereja. Sedang di rumah Gabi masih
dengan dengkurnya.
tinggal di Unit Efrata-Gere

Gaby di kampung saya banyak sekali Fr...
BalasHapusTrimakasih utk cerpennya. reflektif sekali lah 🙏