Akhir-akhir ini, desa kami sedang sibuk-sibuknya.
Alasannya bukan karena kami kelaparan, bukan karena kami gagal panen, bukan
karena kami tertimpa bencana alam tapi karena desa kami sedang berada di ambang
pintu pesta demokrasi. Tahun ini adalah tahun habisnya masa jabatan kepala desa
kami yang lama jadi, wajarlah kalau desa kecil kami ini sibuk; kami sedang
bersiap-siap untuk memilih kepala desa yang baru. Maklumlah, kami juga
anak-anak demokrasi jadi kami selalu bergembira menyambut pesta ini.
Baca Juga; Puisi-Puisi | Evans Kaha | Di bawah Nisan Ini Puisiku Duduk Menangis
Kembali lagi kita ke ceritaku di awal tadi, akhir-akhir ini memang desa kami sedang sibuk-sibuknya. Seperti yang sudah kuceritakan di awal tadi juga, kesibukan ini karena sebentar lagi kami akan mengadakan pilkades; pesta demokrasi desa kami sudah di depan mata. Seingatku, sejak dulu kami selalu sibuk menjelang hal yang satu ini.
Kami selalu suka akan hal ini sebab ketika saatnya tiba, kami dapat mendengar alunan-alunan kampanye dari orkestra para calon kepala desa yang menjanjikan kami kebebasan untuk melepaskan harapan kami, berharap harapan itu bisa memanjat naik ke telinga para pembesar di ibu kota supaya setidaknya mereka bisa memutar bola mata mereka untuk melirik desa kami ini barang sejenak. Karena itulah kami selalu menyebunya pesta (catatan: bukan hanya pesta demokrasi tapi juga pesta imajinasi).
Sebenarnya, ada juga hal lain yang membuat kami menyukai masa-masa kampanye. Jujur saja, kami bisa menghemat beras kami di rumah karena nasi bungkus yang dibagikan waktu kampanye sudah cukup bagi kami untuk satu hahri makan. Bila saja sekarang ini kau mau berkeliling di desa kami, kau akan melihat periuk-periuk sedang tergantung bersih di dapur-dapur kami. Hal ini membuat kau dan aku tidak akan pernah bisa membedakan secara pasti mana pendukung calon yang satu dan mana pendukung calon yang lain. Bagaimana tidak? Setiap kali ada kampanye dari para calon, semua penduduk desa selalu hadir, memberi semangat, sahut-menyahut dengan calon yang berteriak-teriak, bersorak gembira dan berjingkrak-jingkrak.
Semua itu hanya tipuan belaka untuk menyenangkan hati calon yang sedang berkampanye. Kami selalu percaya: semakin calon merasa senang, semakin ia merasa berada di atas angin, nasi bungkus pun akan semakin banyak dibagikan. Makanya, di desa kami, tidak ada yang betul bersungguh-sungguh dalam mendukung para calon. Yang kami dukung adalah nasi bungkus. Kami juga punya metode cerdik nan licik untuk tetap mempertahankan pemasukan nasi bungkus kami. Kalau hari ini calon nomor urut satu kampanye, kami akan bersorak kuat ketika dia berorasi. Kalau esok calon nomor urut dua berkampanye, kami akan bersorak lebih kuat dari yang kemarin. Lalu kalau lusa calon nomor urut tiga berkampanye, kami akan bersorak lebih kuat lagi. Nah, ketika calon nomor urut satu mendengar sorakan yang lebih kuat dari sorakan saat ia berkampanye, ia akan merasa kalah dan tidak puas sehingga setelah semua calon berkampanye, ia akan membuat kampanye gelombang kedua. Tentu saja kami akan bersorak lebih kuat lagi dari yang sudah-sudah dan tentu saja hal itu akan membuat calon nomor urut dua dan tiga menjadi tidak puas.
Baca Juga; Puisi-puisi | Bryan Lagaor | Tentang puisi yang menolak sang penyair
Akhirnya, lingkaran setan kampanye berupahkan nasi bungkus pun tercipta dan periuk-periuk kami mulai berkarat di gantungan dapur-dapur kami. Ahahhaha… Kami sering tertawa terbahak-bahak karena hal ini. Yah, setidaknya para calon sudah memberi kami makan duluan sebelum salah satu dari mereka menjadi kepala desa dan yang lainnya jatuh miskin karena biaya kampanye yang sangat besar.
Ada hal lain lagi mengenai desa kami yang lupa kuceritakan. Hal itu adalah kenyataan bahwa beberapa tahun ini desa kami lebih didominasi oleh kaum muda. Perbandingan yang ada di dalam kepalaku mengenai yang tua dan muda di desa kami ini kira-kira satu banding tiga, suatu keadaan yang membuatku bertanya-tanya: apakah desa kami akan berubah nama nantinya menjadi desa Sukamuda. Tapi sungguh, keadaan ini cukup mempengaruhi pesta demokrasi desa kami kali ini.
Bagaimana tidak? Banyaknya kaum muda di desa kami ternyata juga mengubah tradisi desa kami ini. Kaum muda desa kami ternyata tidak tertarik sedikit pun dengan nasi bungkus yang dibagikan saat kampanye. Mereka hanya tertarik pada visi dan misi yang direncanakan oleh para calon untuk membagun desa kami. Aku kaget: apa sih yang ada di kepala kaum muda kami ini? Apa sih yang lebih penting dari makan sekarang? Untuk apa sih harus bersusah payah melihat visi dan misi para calon kepala desa? Toh, yang penting sekarang adalah makan; kita peras dulu para calon sebelum nanti mereka memeras kita saat mereka jadi kepala desa nantinya. Banyak orang tua desa kami yang sangat tidak setuju dengan sikap kaum muda desa kami itu. Tapi mau bagaimana lagi?
Kaum mudalah yang memegang kendali sekarang, jumlah mereka lebih banyak sehingga mau tidak mau para calon kepala desa pun harus memenuhi kemauan kaum muda desa kami. Kampanye-kampanye kali ini berbeda jauh dari kampanye-kampanye di pesta demokrasi desa kami yang lalu-lalu. Semua kampanye dari para calon kepala desa selalu menyenandungkan tembang manis berupa janji-janji yang menarik kaum muda. Kaum muda kali ini mejadi raja serta ratu yang disembah dengan janji-janji oleh para calon kepala desa. Yah, semua calon kan ingin menang dengan mendapat suara terbanyak. Kali ini, kau dan aku akan melihat dengan jelas mana pendukung calon yang satu dan mana pendukung calon yang lain.
Kemarin sore, tanpa sengaja aku bertemu Sony, ketua kaum muda desa kami. Aku sebenarnya sudah ingin bertemu dengannya sejak lama. Ingin kutanyakan kepadanya mengenai sikap kaum muda desa kami yang sangat membingungkan.
“Iya, memang. Sikap kalian sangat membingungkan. Kami hidup lebih dahulu dari kalian dan kami sudah mengikuti belasan kali pemilihan kepala desa kita. Selama ini, kami tidak pernah sibuk melihat visi misi mereka. Yang kami butuhkan adalah makan bukan visi misi pembangunan desa. Lalu sekarang, kalian tiba-tiba mengubah sistem itu. Kalian kaum muda lebih mementingkan visi dan misi pembangunan desa dibandingkan nasi bungkus yang bisa kita makan. Lihat, kampanye sekarang tidak lagi seperti dulu, tidak ada lagi nasi bungkus. Apa sih yang kalian pikirkan?” aku terbawa emosi.
Sony tersenyum.
“Kenapa senyum? Ayo jawab!”
Aku mulai jengkel. “Kau pikir mereka akan memenuhi janji mereka? Kau pikir mereka akan membangun desa kita? Mereka hanya akan mementingkan diri mereka sendiri tanpa memperhatikan kita, tanpa memperhatikan desa kita. Kita harus memeras mereka duluan sebelum nantinya mereka memeras kita,” kataku dengan nada tinggi.
“Yah…,” Sony menghela napas. “Karena itulah, pak, di era kami ini, di masa kami ini, biarlah kami menentukan pemimpin desa yang pantas, bermoral, yang bersungguh-sungguh, yang betul-betul mau membangun desa ini. Biarlah kami yang menentukan masa depan desa ini dengan memilih pemimpin yang berkualitas. Kami sudah bosan dengan situasi desa ini, kami sudah tidak tahan lagi. Biarlah kami yang bertanggungjawab untuk semua ini. Kami percaya, ini akan menjadi suatu perubahan yang baik bagi desa kita. Sudahlah, pak, percayalah kepada kami”.
Setelah itu, kami pun berpisah dengan membawa isi kepala kami masing-masing: aku dengan kepalaku yang dipenuhi dengan keburukan para pemimpin dan dia dengan kepalanya yang dipenuhi dengan harapan akan desa yang lebih maju, desa yang bukan hanya lahan garapan bagi para pemimpin, desa Sukamaju, desa yang suka untuk maju.
Semoga
berhasil….
*Vallentino
adalah pria yang lahir di pulau Rote-NTT. Ia mencintai musik dan sastra serta
berminat pada pemikiran para fisuf kuno. Sekarang ini ia tinggal di Ledalero, Flores-NTT
sambil mendalami pemikiran para filsuf kuno yang ia minati. Ia bisa dikontak
melalui akun emailnya, vallenesvede@gmail.com atau melalui WhatsApp
(081356458813).
Mantull sekali Ceritanya
BalasHapus