ANUGERAH SEBAGAI PARADOKS ILAHI (REFLEKSI ATAS TEKS LUK. 5:27-32)
Oleh: S. Leon
Renungan
ini sedikit berciri filosofis dan teologis, di bawah judul: Anugerah sebagai Paradoks Ilahi. Setelah
membaca dan merenungkan injil hari ini, saya melihat bahwa keseluruhan isi teks
berbicara tentang panggilan Lewi, pertobatannya dan perjamuan makan bersama dengan
Yesus. Kisah ini merupakan sebuah anugerah yang paradoks, di mana yang Ilahi
rela merendahkan dirinya untuk mengangkat mereka yang hina dan terpinggirkan.
Ada tiga poin penting yang saya refleksikan tentang anugerah sebagai paradoks
ilahi:
I.
Anugerah melampaui Hierarki Sosial dan Etika Konvensional
Pemanggilan
Lewi, seorang pemungut cukai, oleh Yesus (ay. 27) bukan sekadar tindakan kasih,
melainkan sebuah dekonstruksi radikal terhadap struktur sosial dan etika yang
berlaku pada zamannya. Dalam konteks filsafat moral, tindakan ini dapat dilihat
sebagai penolakan terhadap dualisme moral yang memisahkan manusia menjadi
"baik" dan "buruk", "suci" dan "dosa". Dengan
memanggil Lewi, Yesus mau menegaskan bahwa anugerah Ilahi melampaui
kategori-kategori manusiawi yang bersifat diskriminatif. Tindakan ini juga dapat
kita lihat dalam pikiran Emmanuel Levinas tentang konsep “Yang Lain” dalam
etika tanggung jawabnya, bahwa etika sejati terletak pada kemampuan untuk
merespons "Yang Lain" (the Other) tanpa prasangka atau syarat. Yesus,
dengan merendahkan diri-Nya dan bergaul dengan pemungut cukai, menunjukkan
etika yang bersifat inklusif dan transformatif. Ia tidak hanya mengakui
keberadaan mereka yang terpinggirkan, tetapi juga mengundang mereka ke dalam
relasi yang intim dan bermakna. Ini adalah sebuah paradoks: Sang Ilahi justru
merendahkan diri-Nya untuk mengangkat martabat manusia yang dianggap rendah
oleh masyarakat.
Secara
teologis, pemanggilan Lewi mencerminkan universalitas anugerah ilahi. Gereja
mengajarkan bahwa keselamatan adalah pemberian cuma-cuma dari Allah, yang
diberikan kepada semua orang, tanpa memandang dosa atau status sosial mereka.
Konsili Vatikan II, dalam Lumen Gentium, menegaskan bahwa Gereja adalah
"sakramen keselamatan universal" (LG 48). Di sini, Yesus, dengan
memanggil Lewi, mau menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang berada di luar
jangkauan kasih Allah. Kalau di luar jangkauan FB Pro, bisa.
Tindakan
Yesus ini juga mengingatkan kita pada spiritualitas kerendahan hati yang
diajarkan oleh St. Fransiskus dari Assisi dan para kudus lainnya. Yesus, yang
adalah Allah sendiri, merendahkan diri-Nya untuk bergaul dengan orang-orang
berdosa, menunjukkan bahwa kekudusan sejati terletak pada kasih yang
merendahkan diri dan melayani. Kisah panggilan Lewi mengingatkan kita yang
sedang memasuki masa prapaskah, bahwa masa ini adalah waktu untuk merenungkan
kerendahan hati Allah yang merendahkan diri-Nya untuk menyelamatkan manusia.
Ini adalah undangan bagi kita untuk meninggalkan prasangka dan membuka hati
bagi mereka yang terpinggirkan, sebagaimana Yesus melakukannya.
II.
Anugerah sebagai Kuasa Transformasi Eksistensial
Respons
Lewi yang langsung meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus (ay. 28)
adalah sebuah contoh konkret dari kuasa anugerah yang mentransformasi kesadaran
dan eksistensi manusia. Dalam perspektif filsafat eksistensialis, seperti yang
diuraikan oleh Søren Kierkegaard, momen pertobatan Lewi dapat dilihat sebagai leap of faith atau "lompatan
iman". Lewi, yang sebelumnya terikat pada sistem material dan sosial yang
korup, tiba-tiba mengalami perubahan radikal dalam dirinya. Ini bukan sekadar
perubahan perilaku, melainkan perubahan ontologis—perubahan dalam cara berada (being) di dunia.
Anugerah,
dalam hal ini, berfungsi sebagai kekuatan yang membebaskan manusia dari
determinasi sosial, ekonomi, dan moral. Heidegger mungkin akan menyebutnya
sebagai openness to possibilities atau
"pembukaan diri terhadap kemungkinan-kemungkinan baru". Lewi, yang
sebelumnya terjebak dalam rutinitas dan identitas sebagai pemungut cukai,
menemukan makna baru dalam mengikut Yesus. Ini menunjukkan bahwa anugerah Ilahi
bukan sekadar pemberian, melainkan kekuatan yang mengubah seluruh orientasi
hidup seseorang.
Dari
kacamata teologi, pertobatan Lewi adalah buah dari rahmat ilahi yang bekerja
dalam hatinya. Katekismus Gereja Katolik (KGK) menjelaskan bahwa pertobatan
melibatkan "perubahan hati yang mendalam" (KGK 1431), yang
dimungkinkan oleh rahmat Allah. Jadi, masa Prapaskah adalah waktu khusus untuk
mengalami pertobatan ini, sebagaimana ditegaskan dalam seruan Yesus:
"Bertobatlah dan percayalah kepada Injil" (Markus 1:15).
III. Anugerah sebagai Solidaritas dengan yang
Terpinggirkan
Yesus
tidak hanya memanggil Lewi, tetapi juga bergaul dengan pemungut cukai dan orang
berdosa lainnya (ay. 30-32). Tindakan ini dapat dipahami sebagai solidaritas
radikal dengan yang terpinggirkan, sebuah tema yang juga muncul dalam pemikiran
filsuf seperti Jacques Derrida dan Slavoj Žižek. Derrida, misalnya, berbicara
tentang "kewajiban tanpa syarat" (unconditional obligation) terhadap
yang lain, sementara Žižek menekankan pentingnya "cinta politik" yang
melampaui batas-batas identitas.
Yesus,
dengan menjadi "tabib bagi orang sakit" (ay. 31), menegaskan bahwa
anugerah Ilahi bukanlah hak istimewa bagi yang suci, melainkan kesempatan bagi
yang sakit dan berdosa untuk disembuhkan. Ini adalah sebuah inversi nilai-nilai
bahwa yang dianggap najis dan terpinggirkan justru menjadi fokus dari karya
keselamatan. Tindakan ini adalah sebuah kritik terhadap logika eksklusi yang
mendominasi banyak sistem etika dan agama.
Keajaiban
anugerah ini terletak pada kesediaan Yesus untuk "dilumuri dosa" demi
menyelamatkan yang berdosa. Ini mengingatkan kita pada konsep kenosis dalam
teologi Kristen, di mana Sang Ilahi mengosongkan diri-Nya (Filipi 2:7) untuk
menjadi solidar dengan manusia. Ini adalah sebuah paradoks yang mendalam: yang
Ilahi justru menemukan ekspresi tertingginya dalam kerendahan hati dan
solidaritas dengan yang paling hina.
Dalam
teologi Katolik, tindakan ini adalah gambaran dari solidaritas Kristus dengan
manusia yang berdosa, yang mencapai puncaknya dalam misteri Paskah; sengsara,
wafat, dan kebangkitan-Nya. Yesus, sebagai "Tabib jiwa", datang untuk
menyembuhkan manusia dari penyakit dosa dan memulihkan relasi mereka dengan
Allah.
Ini
mengingatkan kita pada ajaran St. Thomas Aquinas, yang menjelaskan bahwa rahmat
penebusan (redemptive grace) diberikan melalui pengorbanan Kristus di salib.
Dengan makan bersama orang berdosa, Yesus menunjukkan bahwa kasih Allah tidak
menghindari dosa, melainkan masuk ke dalamnya untuk menyembuhkan dan
memulihkan. Ini adalah inti dari misteri Inkarnasi: Allah menjadi manusia untuk
menyelamatkan manusia dari dosa.
Dalam
Sacrosanctum Concilium, Konsili
Vatikan II menegaskan bahwa liturgi dan sakramen-sakramen Gereja adalah sarana
di mana rahmat Kristus terus bekerja dalam dunia (SC 7). Dengan demikian,
kehadiran Yesus di antara orang berdosa adalah gambaran awal dari karya
keselamatan yang terus berlanjut dalam Gereja.
Dalam
konteks Prapaskah, perjamuan Yesus dengan orang berdosa mengingatkan kita bahwa
kita semua adalah orang berdosa yang membutuhkan penyembuhan dari Kristus. Ini
adalah waktu untuk merenungkan kerendahan hati dan kasih Allah, yang rela mati
di salib untuk menyelamatkan kita.
Secara
keseluruhan injil hari ini mengajak kita untuk melihat anugerah bukan sebagai
konsep abstrak, melainkan sebagai kekuatan transformatif yang meruntuhkan
batas-batas sosial, moral, dan eksistensial. Yesus, melalui tindakan-Nya,
menunjukkan bahwa anugerah adalah sebuah paradoks, di mana Ia merendahkan yang
Ilahi untuk mengangkat yang manusiawi, menghancurkan yang lama untuk
menciptakan yang baru, dan mengundang yang terpinggirkan dan berdosa ke dalam
pusat kasih Ilahi. Anugerah ilahi adalah jantung dari misteri keselamatan.
Yesus, melalui pemanggilan Lewi dan solidaritas-Nya dengan orang berdosa,
menunjukkan bahwa kasih Allah melampaui batas-batas manusiawi dan mengubah
hidup manusia secara radikal. Ini adalah kabar baik yang menyukakan hati,
sebagaimana dinyatakan dalam Evangelii Gaudium oleh Paus Fransiskus:
"Injil adalah kabar baik yang mengubah hidup kita dan memenuhi kita dengan
sukacita" (EG 1).
Dalam
masa Prapaskah ini, sambil berdoa, berpuasa dan beramal, marilah kita
merenungkan kerendahan hati dan kasih Allah, yang rela merendahkan diri-Nya
untuk menyelamatkan kita. Sebagaimana Lewi dipanggil dan bertobat, kita pun
diajak untuk mengalami transformasi yang sama, menuju kekudusan dan persiapan
menyambut misteri Paskah: kematian dan kebangkitan Kristus, sumber keselamatan
kita. Soli Deo Gloria—segala kemuliaan hanya bagi Allah.

Komentar
Posting Komentar