Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Ois Narang

 






Doa Malam Toce

diam-diam aku mendatangiMu

berbaring terentang dalam sebuah teduh

menyimpan segala saga yang bertalut dosa

barangkali aku berlaku lolos seperti seorang polos tetapi bodoh

yang suka secara diam-diam mebungkus karsa dan meninggalkan sukma membusuk

aku mengidungkan elegi pada sayup-sayup basah mataku

membiarkan senandung pasrah membumbung seperti asap dupa di atas altar

tetapi terkadang sepasang mata menyimpan simpulan ganda

kiri menyulutkan bayanganmu dan kanan menceritakan kehebatanku

mungkin aku merasa yang terbuang setelah burung-burung kembali ke sangkarnya

saat senja usai berkelana dengan waktu dan tersisa aku yang kesal menghitung puingan diriku  

ramalan kemalangan berjatuhan seperti hujan dalam benak, membanjirkan gundah dalam ketenangan

getir yang berlama-lama telah berubah menjadi dahaga kerinduan

seperti hostia kudus menjelma keselamatan

Ledalero, 13 Mei 2023





Toce Merenugkan Kitab Suci

Sebelum makan Toce bercengkrama dengan kitab suci

Dia berlayar di tengah sagara perjanjian

Mungkin kisah cinta Adam dan Hawa lebih pada sebuah rujukan arti kawin

Sodom dan Gomora ditarik paksa dari bumi karena perjanjian terlanjur amis di atas mezbah

Apabila Toce menutup kitab suci 

Dia menemukan anekdot antara meratapi tragedi bertautkan komedi

Di sela-sela surat kabar mingguan

Bahkan berkisah tentang prahara rasa seperti kalut terselip dalam gelap

Meminta pura-pura sebagai pilihan dalam bingung

Toce merasa heran namun terbiasa

Sejak saat itu dia membaca surat kabar seadanya dan terus merenungkan kitab suci

Toce mencintai laki-laki dan perempuan menurut kitab suci






Toce ingin mati

 

Kematian Toce hanya akan menambah Petrus berkepala pening

Jurnal hidupnya berupa lembaran kusam sepertinya dia berkayal dan lupa menulis peristiwa kemarin.

Tentu saja kamarnya berabal nuansa mistis, ngotot berselancar di khayalan

Saking kagum sambil berhala kepada omong kosong.

Mengingikan mati layak sebuah cita-cita yang membuat Petrus menggelengkan kepala

mengingat daftar para pandir yang mau mati bertumpuk layak lembaran papan lapuk

Mungkin mereka tidak lagi mampu bernapas karena ampas mewarnai jejak

Seperti para pengarang berjibaku memantik padam ragu

 

Apakah Toce memutuskan mati atau ingin mati

Baginya ‘kugenggam masa depan bagaikan kematian’

Dia terobsesi pada kisah manipulatif yang meragukan kematian

Sudah sejak kemarin dia menyembah takut sebagai berhala

Dan menindas adalah ketamakan dari penghujung ketakutan

 

Dia kesal dan menulis kiat kematian tapi ujung pena kecewa karena dipaksa menulis mati

Mengadu tentang mati berarti merepotkan tetangga

Dia mau diam-diam di dalam kamar dengan layar peranti yang bernyala beradu pesan dengan Petrus

“Kematian juga pilihan, Petrus!” Toce lupa kalau dua hari lalu dia gagal berpuasa dan Petrus menawarkan puasa lagi untuk kali kedua

 

Toce malah ngotot mau mengahiri hidup,

Dia sudah memesan peti secara online dan mengabarkan Petrus secara daring tapi tiba-tiba mamanya menelpon dari kampung

“Anakku, mama merindukanmu, jangan matikan dulu teleponmu”

 

 

Ledalero, 30/09/22




 Ois Narang, tinggal di Unit Efrata-Gere, Ledalero. Penulis berasal dari Amarasi, Kupang dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. 








Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...