Langsung ke konten utama

Secarik Doa dalam Gubuk Tua | Cerpen Steven Jadur

 


Malam tidak lagi tinggal diam. Purnama pun harus mengasingkan diri di balik layar, supaya tercipta binar pagi yang begitu istimewa. Pada mulanya biasa saja. Kali ini elegi yang paling menyayat hati tercipta dari laki-laki tua di sudut kota, bersama sajak air mata yang buram kata-kata. Sepertinya dia mendambakan anak-anaknya tercipta seperti deretan rasi-rasi bintang yang menghiasi cakrawala. Laki-laki tua itu berkumis tebal, rambut beruban dan sebentar lagi akan botak seperti sedia kala, dan paling menyayat hati adalah badannya tidak mumpuni lagi untuk menjadi tulang punggung keluarga kecilnya. Realitanya seperti itu. Sudah sekian banyak emperan toko yang menjadi ladangnya demi mendapatkan rupiah yang sulit di dekapnya. Dan paling menyedihkan lagi adalah dia harus menepis panas terik untuk mendapat jatuhan beras di pinggir jalan dan mengharapkan ada banyak orang memberi dari kelimpahan mereka. Begitu setiap harinya, meski merangkul peluh yang tidak terkira banyaknya. Kepulangannya pada gubuk tua tempat tinggalnya, lebih besar peluh dan keringat yang bercucuran dibanding hasil kerjanya hari itu. Tepat di depan pintu, air mata selalu menjadi saksi bisu, sebagai tanda pengungkapan melebihi kata-kata yang paling menyedihkan. Mungkin setiap harinya, mereka hanya dikenyangkan sepenuhnya oleh peluh dan luka dalam realita. Tetapi ada satu yang indah, mereka selalu tenggelam dalam doa, agar doa menjadi benang merah yang akan menyambung nafas yang masih dihela di atas setiap peluh.

Dendam di balik jeruji dan lantunan mantra para malaikat maut, sekarang bergeming. Gelap yang suram-suram dan keheningan yang dihiasi suara jangkrik menjadi ruang di mana pak tua sudah tidak berdaya lagi, dia terkena stroke. Semuanya bersimbah diam dan bermandikan air mata. Apakah ini adalah kutukan dosa? Pada peluh yang kesekian kalinya ini, pak tua sempatkan untuk berdoa dalam hati “Ya Tuhan, jika aku begini, biarkan anak-anakku lebih indah dari permata dan delima dan lebih elok dari rasi-rasi bintang, untuk kemudian mampu melukiskan wajahmu pada penderitaanku dan menerima berkantong-kantong senyum dari kesempurnaan-Mu.” Semuanya, berawal dari subuh itu.

Nyatanya, itu semua adalah narasi tentang peluh yang mengajarkan aku tentang kesetiaan dalam doa. Semenjak pak tua itu beralih menuju alam baka, aku dikagetkan dengan suatu peristiwa, di mana seorang pengusaha besar di kota itu menyekolahkan aku sampai menuai kesuksesan yang tak terkira banyaknya. Rupanya, pengusaha itu selalu melibatkan diri pada setiap peristiwa pak tua di emperan toko, jalanan, dan di setiap trotoar, hanya sebagai saksi mata dan sekarang mengabadikan pak tua itu dalam kebaikkan hatinya. Sekarang, aku sudah menjadi pengusaha tersohor di kota itu. Satu hal yang ku pahami dari kesuksesan ini, adalah kantong senyum pertama dari kesempurnaan milik Tuhan. Saya merasa sudah lebih indah dari permata dan delima dan bahkan lebih elok dari rasi-rasi bintang yang menghiasi cakrawala. Pada saat aku terjebak dalam sepi di beranda rumahku malam ini, ku lihat kantong kedua, binar senyum pak tua dari cahaya rembulan, dan terpusat pada keindahan rasi-rasi bintang. “Pak, secarik doa dalam gubuk tua itu tercipta dari kesempurnaan Tuhan dan sekarang kita terjebak pula dalam kesempurnaan itu”. Hening. Amin.



Steven Jadur, tinggal di Unit Efrata-Gere, Ledalero. Penulis berasal dari Lembor, Mnggarai Barat dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...