Malam tidak lagi tinggal diam.
Purnama pun harus mengasingkan diri di balik layar, supaya tercipta binar pagi
yang begitu istimewa. Pada mulanya biasa saja. Kali ini elegi yang paling
menyayat hati tercipta dari laki-laki tua di sudut kota, bersama sajak air mata
yang buram kata-kata. Sepertinya dia mendambakan anak-anaknya tercipta seperti
deretan rasi-rasi bintang yang menghiasi cakrawala. Laki-laki tua itu berkumis
tebal, rambut beruban dan sebentar lagi akan botak seperti sedia kala, dan
paling menyayat hati adalah badannya tidak mumpuni lagi untuk menjadi tulang
punggung keluarga kecilnya. Realitanya seperti itu. Sudah sekian banyak emperan
toko yang menjadi ladangnya demi mendapatkan rupiah yang sulit di dekapnya. Dan
paling menyedihkan lagi adalah dia harus menepis panas terik untuk mendapat
jatuhan beras di pinggir jalan dan mengharapkan ada banyak orang memberi dari
kelimpahan mereka. Begitu setiap harinya, meski merangkul peluh yang tidak
terkira banyaknya. Kepulangannya pada gubuk tua tempat tinggalnya, lebih besar
peluh dan keringat yang bercucuran dibanding hasil kerjanya hari itu. Tepat di
depan pintu, air mata selalu menjadi saksi bisu, sebagai tanda pengungkapan
melebihi kata-kata yang paling menyedihkan. Mungkin setiap harinya, mereka
hanya dikenyangkan sepenuhnya oleh peluh dan luka dalam realita. Tetapi ada
satu yang indah, mereka selalu tenggelam dalam doa, agar doa menjadi benang
merah yang akan menyambung nafas yang masih dihela di atas setiap peluh.
Dendam di balik jeruji dan lantunan
mantra para malaikat maut, sekarang bergeming. Gelap yang suram-suram dan
keheningan yang dihiasi suara jangkrik menjadi ruang di mana pak tua sudah
tidak berdaya lagi, dia terkena stroke. Semuanya bersimbah diam dan bermandikan
air mata. Apakah ini adalah kutukan dosa? Pada peluh yang kesekian kalinya ini,
pak tua sempatkan untuk berdoa dalam hati “Ya
Tuhan, jika aku begini, biarkan anak-anakku lebih indah dari permata dan delima
dan lebih elok dari rasi-rasi bintang, untuk kemudian mampu melukiskan wajahmu
pada penderitaanku dan menerima berkantong-kantong senyum dari kesempurnaan-Mu.”
Semuanya, berawal dari subuh itu.
Nyatanya, itu semua adalah narasi
tentang peluh yang mengajarkan aku tentang kesetiaan dalam doa. Semenjak pak
tua itu beralih menuju alam baka, aku dikagetkan dengan suatu peristiwa, di mana
seorang pengusaha besar di kota itu menyekolahkan aku sampai menuai kesuksesan
yang tak terkira banyaknya. Rupanya, pengusaha itu selalu melibatkan diri pada
setiap peristiwa pak tua di emperan toko, jalanan, dan di setiap trotoar, hanya
sebagai saksi mata dan sekarang mengabadikan pak tua itu dalam kebaikkan
hatinya. Sekarang, aku sudah menjadi pengusaha tersohor di kota itu. Satu hal
yang ku pahami dari kesuksesan ini, adalah kantong senyum pertama dari
kesempurnaan milik Tuhan. Saya merasa sudah lebih indah dari permata dan delima
dan bahkan lebih elok dari rasi-rasi bintang yang menghiasi cakrawala. Pada
saat aku terjebak dalam sepi di beranda rumahku malam ini, ku lihat kantong
kedua, binar senyum pak tua dari cahaya rembulan, dan terpusat pada keindahan
rasi-rasi bintang. “Pak, secarik doa
dalam gubuk tua itu tercipta dari kesempurnaan Tuhan dan sekarang kita terjebak
pula dalam kesempurnaan itu”. Hening. Amin.
Steven Jadur, tinggal di Unit Efrata-Gere, Ledalero. Penulis berasal dari Lembor, Mnggarai Barat dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero.


Komentar
Posting Komentar