Langsung ke konten utama

Purnama Cahaya Kencana | Cerpen Ois Narang

 



Malam berangsur tua dan bulan semakin sempurna bertengger di angkasa, cahayanya laksana kencana dalam gulita seakan dari langit sedang membanjirkan selaksa emas. Tak ada seorang yang dijumpai di jalanan bahkan tak seekor makhluk peliharaan pun berkeliaran barangkali hanya jangkrik yang berani berbisik dalam sunyi seperti itu.

Beredar sebuah wasiat kisah dari para penetuah tentang malam dengan purnama bercahayakan kencana adalah malam kedatangan para ruh. Ruh-ruh itu berkeliaran dalam geriap cahaya lantas menerkam siapa saja yang berani menonjolkan batang hidungnya di bawah sinar kencana purnama. Wasiat kisah ini sudah menyatuh dalam pikiran masyarakat. Sekalipun ternak babi di kandang meronta dengan erangan suara tajam tidak satu orang pun nekat untuk menengok. Mereka akan membiarkan hingga babi itu menutup mulutnya sendiri. Di pagi hari kekecewaan menjemput mereka ketika mendatangi kandang penuh dengan muncrat darah di dinding tembok atau kayu penghalang. Barangkali ruh-ruh telah mengantam ternak-ternak mereka saat purnama sedang gagahnya, pikir warga setempat. Pak Robi, orang yang paling banyak menyesal karena paling banyak ternak babi yang mati di kandang dan bahkan hilang. Dia frustasi dan tidak mau memilihara babi lagi. Lima belas ekor dia jual, satu ekor untuk kumpul keluarga, dan empat ekor lainnya dia bagikan kepada tentangga-tetangga secara gratis. Di Desa nama pak Robi pun harum seperti rebis babi di panggangan api. Pak Robi tidak harus merasa kecewa lagi, keharuman namanya seperti membawa untung pada statusnya di masyarakat.

Peristiwa ini mencemaskan warga kampung. Ada yang beranggapan kampung mereka di kutuk, ada pula yang beranggapan bahwa ruh-ruh itu di pelihara oleh orang-orang sekitar untuk memusnahkan usaha-usaha warga. Mereka mengaduh kepada Oer Kass, yang dianggap bijak dan pernah hidup dalam sejarah kampung. Lelaki tua ini adalah tetuah kampung yang pernah mewarisi cerita tentang ruh-ruh itu.

            “Kasse, saya rugi ayam dan babi di kandang, ada yang hilang dan ada yang mati. Kita salah apa sehingga dapat derita seperti ini. Jangan-jangan leluhur murka dengan masyarakat kampung.” Keluh Reo dengan tatapan sedih ke Oer Kass. Tidak hanya Reo, sudah banyak warga kampung yang mengeluh dan bertanya-tanya tentang asal-usul ruh-ruh ini kepada Oer Kass.

“Oer Kass… apa ruh-ruh itu jahat ataukah mereka memberikan kita tanda untuk mengenang mereka. Kalau mereka mau untuk dikenang kita baut ritual pengenangan saja” tanya dan saran tanta Siska dua hari lalu saat bertemu dengan Oer Kass di kebun pinang.

Oer Kass menampung semua keluhan warga, setiap keluhan yang ia terima menambah garis kerutan di dahinya. Wajah keriputnya semakin menua sejalan dengan warna rambutnya. Matanya cekung ke dalam dan tatapannya tidak lagi setajam pemburu musang di malam gelap. Janggut putihnya menggatung membentuk kerucut dan tak jarang bercak merah sirih pinang yang dimakan tersangkut di sana. Dia sudah bongkok dan sesekali dia menjadi objek ketakutan anak-anak di bawah enam tahun.

Semua warga mengenal Oer Kass dengan baik. Orang tua ini sangat berpengalaman dalam urusan ritual-ritual kampung. Namun kali ini Oer Kass merasakan hal yang berbeda saat berhadapan dengan ruh-ruh itu. Ruh-ruh itu begitu agresif dan sulit diajak kompromi. Sudah seperti makan garam bagi Oer Kass ketika berhadapan dengan ruh-ruh seperti itu tetapi kali ini dia perlu mengakui bahwa dia sedang berhadapan dengan ruh yang lebih kuat dari sebelumnya.

***

Suatu Malam dalam penglihatannya yang samar-samar di remangnya malam seperti sebuah dejavu, sorotan matanya tertujuh pada sebuah pohon beringin kecil di seberang jalan di depan rumahnya. Darah merah kental membeku tumpah dari batang pohon itu. Darah itu menganak sungai seperti larva panas yang di muntahkan gunung berapi bergerak menuju ke Oer Kass. Darah itu bergerak layak aliran sungai dan terdengar geriap suara arus deras mengucur dari batang pohon itu. Oer Kass terperangah menatap kosong, sulit baginya untuk menggerakkan tangan atau pun kakinya. Tarikan napasnya tersendat matanya sembab melihat darah kental itu mengalir deras seperti mau merenggut nyawanya, darah itu mengeluarkan suara jeritan tajam sambil memanggil namanya. Dia hanya bisa mengatubkan mata bersamaan air mata yang menetes lembut di sela-sela kerutan, mungkin dia akan segera mati secara tragis. Bayangan pikirannya dipaksa berada di depan pintu kematian. Namun tiba-tiba ketika ia membuka matanya untuk melihat lagi tidak ada yang ia dapati disana, tidak ada darah yang mengalir seram ke arahnya, tidak ada darah yang tumpah dari batang beringin itu lagi, semua yang dilihatnya kembali normal. Denyut nadinya bergerak teratur dan tarikan napasnya dialami secara mulus. Malam itu Oer Kass tidak bisa tidur pikirannya dihantui dengan kejadian penglihtannya, dia seperti pernah mengalami hal yang sama namun dia lupa kapan terakhir kali kejadian serupa itu terjadi.

***

“Kasse… mungkin kita perlu persembahkan seekor babi atau hasil panen apa pun itu secara layak supaya ruh-ruh itu tidak lagi meneror kita” kata pak Robi, juragan peternak babi dan Kepala Desa di kampung. Oer Kass hanya terdiam dia seperti sedang mempertimbangkan sesuatu, dia menatap ke tanah dan membuat pak Robi semakin bingung, ada apa dengan Oer Kass.

Perasaan Oer kass terasa berat mendengar apa yang ditawarkan pak Robi. Namun sebetulnya bukan itu yang menjadi persoalannya sebab sekalipun persembahan itu dilakukan tidak akan menghilangkan kehausan para ruh untuk terus meneror warga kampung justru akan terjadi sebaliknya.

Di malam hari saat Oer Kass berada di rumahnya sendirian bayang-bayang tentang darah kental yang membeku itu berpendar di benaknya, kepalanya mulai pening pikirannya dipenuhi dengan peristiwa tragis muncul secara bergantian seperti sebuah slide peristiwa kematian, secara samar-samar dalam bayangan pikirannya, dia melihat dirinya sedang melakukan ritual pengenangan dengan korban babi jantan besar di atas perapian, saat dirinya merapalkan mantra tiba-tiba sebilah tombak menembus jantungnya dari arah belakang, seorang pria dengan wajah samar-samar menekan tombak itu hingga menembusi tulang dadanya dan tubuhnya di lemparkan di atas perapian hingga dia lenyap di makan api secara liar.

Sontak Oer Kass terjaga dan kaget dari halusinasinya ia terpelanting ke belakang dari kursi sambil terbatuk-batuk. Keringat sebesar biji jagung mengalir dari pelipis dan tarikan napas yang tersendat-sendat. Matanya kunang-kunang hingga terlihat gelap di sekitarnya.

***

“Kejar… kejar…!!” teriak Oer Kass setelah peluru senapan anginnya bersarang di tubuh seekor musang besar tetapi musang itu masih bisa berlari. Dua ekor anjing pemburu yang di bawah Oer Kass menyusul dengan cepat setelah mendengar teriakannya sedangkan Oer Kass dan ke tiga temannya membuntuti dari belakang anjing agar tidak kehilngan arah.

            “Mau sampai mana kau musang kaparat, darahmu akan habis juga dan kau akan segera mati” seru Oer Kass sambil mengejar. Mereka berempat mengejar dengan harapan besar akan membawa pulang hasil buruan. Dua ekor anjing pemburu gesit mengejar musang itu sambil menggonggong. Oer Kass dan teman-temannya mengikuti sumber gongongan. Sesekali mereka terhalang reranting pepohonan yang melambat laju lari mereka tetapi tidak memupus harapan mereka. Di langit awan hitam mulai muncul, senja sedikit lagi berakhir dan perlahan gelap membatasi pandangan mata. Mereka menyalakan senter tanpa mengurangi laju kecepatan. Mereka semakin masuk ke dalam hutan. Gelap semakin pekat. Anjing-anjing pemburu berada jauh di depan mereka.Langkah kaki mereka terhenti seketika, saat gonggongan anjing tak terdengar lagi. Mereka kehilangan arah. Oer Kass memanggil-manggil anjing-anjingnya tapi nihil. Situasi hutan semakin dingin, angin bertiup mematahkan ranting-ranting kering dan cahaya purnama merambat di sela-sela daun menembusi hutan. Lima belas meter di depan mereka, lampu senter seorang teman Oer Kass mengenai seekor anjing tergelatak di tanah “Itu pasti anjingmu!!!” tunjuk Re’e sambil bejalan medakat. Anjing itu sudah mati lehernya terlihat bekas gigitan, mata kirinya terpeloncong keluar. Tak jauh dari anjing pertama tadi anjing kedua mengalami hal yang serupa. Oer Kass dan teman-temannya terpaku bingung sambil memegang kepala. “Apakah ini gigitan musang?” tanya Re’e bingung.

“Memangnya musang sejahat ini?” balas Yotan tak percaya.

“Siapa tahu?” tandas Kore kesal.

Oer Kass merasakan ada hal yang aneh, bulu kunduknya berdiri. Tiba-tiba sebuah ranting pohon patah dan menghentakkan mereka, bersamaan dengan itu muncul seekor musang besar dua kali anjing pemburu Oer Kass. Musang itu yang ditembaki mereka. Matanya merah saat mengenai cahaya senter, tatapan haus musang menantang Oer Kass dan kawan-kawannya. Musang itu mengeluarkan suara desis aneh yang tidak biasa, giginya tajam bergeriki dan menakutkan. “Makhluk apa ini?!!” teriak Re’e gemetaran.  Oer Kass dan kawan-kawannya memompa senapan sebelum musang itu menyerang.

Pertumpahan darah pun tidak terhindarkan lagi. Re’e melepaskan tembakannya, bunyi senapan bergema di antara pepohonan. Kepala Kore meneteskan darah. Oer Kass dan Yotan menoleh, tempak kepala Kore bolong pada pelipisnya. Kore terjatuh. Mata Re’e memerah semerah mata Musang, dia menarik parang dari sarungnya di sisi kiri hendak menebas Yotan yang berdiri kaku melihat Kore tumbang. Namun Yotan cepat menyadari keberadaan Re’e dan gesit menghindar dari sapuan parang Re’e tetapi tebasan kedua tepat menghantam rusuk kiri Yotan. Yotan merebah sekarat di tanah dan mati. Oer Kass melihat panik tangannya lemas memegang senapan, kakinya gemetaran tak kuat menopang tubuhnya. Re’e mendekatinya dengan mata parang yang menyisahkan darah Yotan. “Sadar…Re’e… sadar… kau gila, sadar bangsat, kau membunuh sahabatmu” teriak Oer Kass gemetaran. “Jangan lagi engkau datang dengan senapanmu, kami muak dengan kalakuan kalian dan akan tiba saatnya kami balas menyerang kalian, ingatlah purnama kencana menjadi tandanya” Ucap Re’e dengan tatapan tajam lalu dia menikam tubuhnya sendiri berkali-kali. Darah dari tubuhnya mengalir deras hingga Re’e pun mati. Oer Kass menatap kematian teman-temannya. Dia menangis takut, bibirnya gemetaran. Dia berlari meninggalkan hutan tanpa menoleh ke belakang. Satu hal yang tidak diketahui Oer Kass bahwa mereka telah digiring ke dalam hutan terlarang.

***

Tiga hari kemudian setelah Oer Kass mengalami mimpi buruknya, Pak Robi selaku Kepala Desa dan juragan ternak babi menghampiri Oer Kass di rumhanya. “Kasse, ada warga yang mengeluh lagi selain ternak, juga hasil kebun mereka rusak di serang hama. Mereka mengaitkan hal itu dengan teror ruh-ruh yang sempat Kasse ceritakan, bahkan ada warga yang frustrasi menuduh Kasse sebagai dalang dari keresahan ini. Meraka katakan hal ini karena mereka tahu bahwa hanya Kasse seorang yang dapat membangun komunikasi dengan ruh-ruh gaib. Sebagai seorang kepala desa saya hanya ingin menyampaikan keresahan warga secara baik dan terang-terangan”.

Sementara mereka berbincang di dalam rumah suara teriakan terdengar dari luar. Warga memadati halaman rumah Oer Kass. Mereka memanggil-manggil Oer Kass “Keluar Kasse…keluar kau, kami mau menuntut”. Oer Kass keluar dan berdiri di depan pintu “ada apa ini?” tanya Oer Kass meski ia sudah tau alasannya. “Kami tau kampung kita diteror karena kau yang mempersilakan ruh-ruh itu untuk merusakkan usaha kami”. Sambung seorang warga lagi “Atau mungkin kampung kita dikutuk karena kau dalangnya?” warga lain pun tidak mau kalah melepar keresahan kepada Oer Kass “betul…. kaulah dalangnya”. Halaman rumah Oer Kass menjadi panggung keributan namun dengan cepat pak Robi segera menyudahi kemarahan warga, “Kita berikan kesempatan kepada Kasse untuk berbicara supaya semuanya jelas. Jangan asal melempar keresahan kalian yang tidak menentu” ucap pak Robi menenangkan situasi dan memberikan kesempatan kepada Oer Kass. Oer Kass terdiam sejenak. Ia menyadari segala kejadian yang akhir-akhir ini dia alami. Ia masuk ke dalam rumahnya mengambil sirih pinang dan tongkatnya. Ia berjalan keluar sambil manatap kumpulan warga di hadapannya. Semua melihatnya bingung dan penasaran. “saya akan mengatasi keresahan kalian tetapi dengan persyaratan jangan kalian ke hutan di bagian utara kampung kita, jangan berburu atau mengambil sesuatu di sana jika kalian menginginkan usaha-usaha kalian berhasil. Ini perjanjian”. Setelah mengatakan demikian Oer Kass pergi melewati kerumunan warga. Kemana ia pergi warga desa tidak mengetahuinya. Sejak saat itu Oer Kass tidak pernah Kembali ke kampung dan mereka terus mengingat perjanjiannya itu.

 


 Ois Narang, tinggal di Unit Efrata-Gere, Ledalero. Penulis berasal dari Amarasi, Kupang dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”

  “Hujan Gol di Wairpelit: Efrata FC Mengamuk, Smile FC Tersungkur 6–3!”      Pertandingan penuh tensi tersaji dalam ajang internal Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Senin sore, 30 Maret 2026 di Lapangan Wairpelit. Di bawah langit yang mulai meredup dan sorakan penonton yang menggema, Efrata FC tampil luar biasa dengan menundukkan Smile FC dengan skor meyakinkan 6–3 dalam laga yang sarat emosi dan determinasi.      Sejak menit awal, Efrata FC langsung menunjukkan intensitas tinggi. Aliran bola cepat, pressing ketat, dan kerja sama yang solid membuat Smile FC tertekan. Waldus menjelma menjadi mimpi buruk bagi lini belakang lawan dengan torehan tiga golnya yang lahir dari ketajaman insting dan ketenangan dalam penyelesaian akhir. Setiap golnya disambut gemuruh penonton yang semakin membakar semangat tim.      Tak hanya Waldus, Ois dan John juga tampil gemilang. Keduanya menambah pundi-pundi gol sekaligus memastikan dominasi Efrata t...

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya

Refleksi Tentang Rumah Efrata dan Pengalaman yang Menyertainya "Rumah" sebuah istilah kompleks yang sarat makna. "Rumah" dalam bahasa Inggris merujuk pada dua kemungkinan yang bergantung pada konteks pemakaian kata tersebut, yakni ' House ' diartikan sebagai sebuah bangunan (fisik) tempat orang dapat berteduh dan ' Home ' lebih merujuk pada situasi, suasana yang mana seseorang merasa betah dan nyaman dalam satu family (keluarga), itulah mengapa orang katakan  home sweet home , suasana rumah yang penuh kasih dan sayang, tempat orang-orang berjumpa dalam cinta. Karena itu, katakan saja 'Efrata is our home'.  Rumah Efrata sebuah tempat yang bukan sekadar bangunan fisik melainkan juga berjiwa. Jiwa sebuah rumah datang dari atmosfer yang dibangun oleh para penghuninya, jiwa memberikan warna pada tubuh fisik sebuah rumah. Misalnya, sebuah rumah dengan halaman bunga kering, orang bisa memperoleh gambaran diri para penghuninya. Sebaliknya, halaman r...

Umpan, Serang, dan Gol!

Efrata-News, 30 Agustus 2020. Motivasi ini merupakan tekad bulat dan basis utama dari sosok kapten tim Meja 3,   Fr. Tino Herin, yang menjadi pahlawan kemenangan membekuk tim Meja 2 dengan skor tipis 4-3. Raihan poin penuh dibawa pulang lewat kemenangan dramatis yang dicetak sang kapten sendiri. Fr. Tino Herin menjadi mimpi buruk yang mengubur harapan Meja 2. Mentalnya yang kuat kembali dibentuk, usai pekan lalu dilibas 12 gol oleh tim Meja 4. (Meja 2 vs Meja 3) Sang kapten mengatakan bahwa, mereka layak menang karena telah bekerja keras dan membentuk spirit “kesetanan” dalam tim, berupa “umpan, serang, dan gol”. Fr. Tino Herin menularkan gelora semangat kepada rekan setimnya untuk wajib menang. Alhasil, spirit tersebut terwujud. Tim Meja 3 pun terhindar dari kekalahan beruntun. Lain halnya dengan Fr. Tino Herin, kapten Meja 2 Fr. Dus Puka tertunduk lesu usai upaya berbagi angka menjadi pupus, lantaran kecolongan di menit-menit akhir pertandingan. Namun, Fr. D...