Malam
berangsur tua dan bulan semakin sempurna bertengger di angkasa, cahayanya
laksana kencana dalam gulita seakan dari langit sedang membanjirkan selaksa
emas. Tak ada seorang yang dijumpai di jalanan bahkan tak seekor makhluk peliharaan
pun berkeliaran barangkali hanya jangkrik yang berani berbisik dalam sunyi seperti
itu.
Beredar
sebuah wasiat kisah dari para penetuah tentang malam dengan purnama
bercahayakan kencana adalah malam kedatangan para ruh. Ruh-ruh itu berkeliaran
dalam geriap cahaya lantas menerkam siapa saja yang berani menonjolkan batang
hidungnya di bawah sinar kencana purnama. Wasiat kisah ini sudah menyatuh dalam
pikiran masyarakat. Sekalipun ternak babi di kandang meronta dengan erangan
suara tajam tidak satu orang pun nekat untuk menengok. Mereka akan membiarkan
hingga babi itu menutup mulutnya sendiri. Di pagi hari kekecewaan menjemput
mereka ketika mendatangi kandang penuh dengan muncrat darah di dinding tembok
atau kayu penghalang. Barangkali ruh-ruh telah mengantam ternak-ternak mereka
saat purnama sedang gagahnya, pikir warga setempat. Pak Robi, orang yang paling
banyak menyesal karena paling banyak ternak babi yang mati di kandang dan
bahkan hilang. Dia frustasi dan tidak mau memilihara babi lagi. Lima belas ekor
dia jual, satu ekor untuk kumpul keluarga, dan empat ekor lainnya dia bagikan
kepada tentangga-tetangga secara gratis. Di Desa nama pak Robi pun harum
seperti rebis babi di panggangan api. Pak Robi tidak harus merasa kecewa lagi,
keharuman namanya seperti membawa untung pada statusnya di masyarakat.
Peristiwa
ini mencemaskan warga kampung. Ada yang beranggapan kampung mereka di kutuk,
ada pula yang beranggapan bahwa ruh-ruh itu di pelihara oleh orang-orang
sekitar untuk memusnahkan usaha-usaha warga. Mereka mengaduh kepada Oer Kass, yang
dianggap bijak dan pernah hidup dalam sejarah kampung. Lelaki tua ini adalah
tetuah kampung yang pernah mewarisi cerita tentang ruh-ruh itu.
“Kasse,
saya rugi ayam dan babi di kandang, ada yang hilang dan ada yang mati. Kita
salah apa sehingga dapat derita seperti ini. Jangan-jangan leluhur murka dengan
masyarakat kampung.” Keluh Reo dengan tatapan sedih ke Oer Kass. Tidak hanya
Reo, sudah banyak warga kampung yang mengeluh dan bertanya-tanya tentang
asal-usul ruh-ruh ini kepada Oer Kass.
“Oer
Kass… apa ruh-ruh itu jahat ataukah mereka memberikan kita tanda untuk
mengenang mereka. Kalau mereka mau untuk dikenang kita baut ritual pengenangan
saja” tanya dan saran tanta Siska dua hari lalu saat bertemu dengan Oer Kass di
kebun pinang.
Oer
Kass menampung semua keluhan warga, setiap keluhan yang ia terima menambah
garis kerutan di dahinya. Wajah keriputnya semakin menua sejalan dengan warna
rambutnya. Matanya cekung ke dalam dan tatapannya tidak lagi setajam pemburu
musang di malam gelap. Janggut putihnya menggatung membentuk kerucut dan tak
jarang bercak merah sirih pinang yang dimakan tersangkut di sana. Dia sudah
bongkok dan sesekali dia menjadi objek ketakutan anak-anak di bawah enam tahun.
Semua
warga mengenal Oer Kass dengan baik. Orang tua ini sangat berpengalaman dalam
urusan ritual-ritual kampung. Namun kali ini Oer Kass merasakan hal yang
berbeda saat berhadapan dengan ruh-ruh itu. Ruh-ruh itu begitu agresif dan sulit
diajak kompromi. Sudah seperti makan garam bagi Oer Kass ketika berhadapan
dengan ruh-ruh seperti itu tetapi kali ini dia perlu mengakui bahwa dia sedang
berhadapan dengan ruh yang lebih kuat dari sebelumnya.
***
Suatu
Malam dalam penglihatannya yang samar-samar di remangnya malam seperti sebuah
dejavu, sorotan matanya tertujuh pada sebuah pohon beringin kecil di seberang
jalan di depan rumahnya. Darah merah kental membeku tumpah dari batang pohon
itu. Darah itu menganak sungai seperti larva panas yang di muntahkan gunung
berapi bergerak menuju ke Oer Kass. Darah itu bergerak layak aliran sungai dan terdengar
geriap suara arus deras mengucur dari batang pohon itu. Oer Kass terperangah
menatap kosong, sulit baginya untuk menggerakkan tangan atau pun kakinya. Tarikan
napasnya tersendat matanya sembab melihat darah kental itu mengalir deras
seperti mau merenggut nyawanya, darah itu mengeluarkan suara jeritan tajam
sambil memanggil namanya. Dia hanya bisa mengatubkan mata bersamaan air mata
yang menetes lembut di sela-sela kerutan, mungkin dia akan segera mati secara
tragis. Bayangan pikirannya dipaksa berada di depan pintu kematian. Namun
tiba-tiba ketika ia membuka matanya untuk melihat lagi tidak ada yang ia dapati
disana, tidak ada darah yang mengalir seram ke arahnya, tidak ada darah yang
tumpah dari batang beringin itu lagi, semua yang dilihatnya kembali normal.
Denyut nadinya bergerak teratur dan tarikan napasnya dialami secara mulus.
Malam itu Oer Kass tidak bisa tidur pikirannya dihantui dengan kejadian
penglihtannya, dia seperti pernah mengalami hal yang sama namun dia lupa kapan
terakhir kali kejadian serupa itu terjadi.
***
“Kasse…
mungkin kita perlu persembahkan seekor babi atau hasil panen apa pun itu secara
layak supaya ruh-ruh itu tidak lagi meneror kita” kata pak Robi, juragan peternak
babi dan Kepala Desa di kampung. Oer Kass hanya terdiam dia seperti sedang
mempertimbangkan sesuatu, dia menatap ke tanah dan membuat pak Robi semakin
bingung, ada apa dengan Oer Kass.
Perasaan
Oer kass terasa berat mendengar apa yang ditawarkan pak Robi. Namun sebetulnya
bukan itu yang menjadi persoalannya sebab sekalipun persembahan itu dilakukan
tidak akan menghilangkan kehausan para ruh untuk terus meneror warga kampung
justru akan terjadi sebaliknya.
Di
malam hari saat Oer Kass berada di rumahnya sendirian bayang-bayang tentang
darah kental yang membeku itu berpendar di benaknya, kepalanya mulai pening
pikirannya dipenuhi dengan peristiwa tragis muncul secara bergantian seperti
sebuah slide peristiwa kematian, secara samar-samar dalam bayangan pikirannya,
dia melihat dirinya sedang melakukan ritual pengenangan dengan korban babi
jantan besar di atas perapian, saat dirinya merapalkan mantra tiba-tiba sebilah
tombak menembus jantungnya dari arah belakang, seorang pria dengan wajah
samar-samar menekan tombak itu hingga menembusi tulang dadanya dan tubuhnya di
lemparkan di atas perapian hingga dia lenyap di makan api secara liar.
Sontak
Oer Kass terjaga dan kaget dari halusinasinya ia terpelanting ke belakang dari
kursi sambil terbatuk-batuk. Keringat sebesar biji jagung mengalir dari pelipis
dan tarikan napas yang tersendat-sendat. Matanya kunang-kunang hingga terlihat
gelap di sekitarnya.
***
“Kejar…
kejar…!!” teriak Oer Kass setelah peluru senapan anginnya bersarang di tubuh
seekor musang besar tetapi musang itu masih bisa berlari. Dua ekor anjing
pemburu yang di bawah Oer Kass menyusul dengan cepat setelah mendengar
teriakannya sedangkan Oer Kass dan ke tiga temannya membuntuti dari belakang
anjing agar tidak kehilngan arah.
“Mau
sampai mana kau musang kaparat, darahmu akan habis juga dan kau akan segera
mati” seru Oer Kass sambil mengejar. Mereka berempat mengejar dengan harapan
besar akan membawa pulang hasil buruan. Dua ekor anjing pemburu gesit mengejar
musang itu sambil menggonggong. Oer Kass dan teman-temannya mengikuti sumber
gongongan. Sesekali mereka terhalang reranting pepohonan yang melambat laju
lari mereka tetapi tidak memupus harapan mereka. Di langit awan hitam mulai
muncul, senja sedikit lagi berakhir dan perlahan gelap membatasi pandangan
mata. Mereka menyalakan senter tanpa mengurangi laju kecepatan. Mereka semakin
masuk ke dalam hutan. Gelap semakin pekat. Anjing-anjing pemburu berada jauh di
depan mereka.Langkah kaki mereka terhenti seketika, saat gonggongan anjing tak
terdengar lagi. Mereka kehilangan arah. Oer Kass memanggil-manggil
anjing-anjingnya tapi nihil. Situasi hutan semakin dingin, angin bertiup
mematahkan ranting-ranting kering dan cahaya purnama merambat di sela-sela daun
menembusi hutan. Lima belas meter di depan mereka, lampu senter seorang teman
Oer Kass mengenai seekor anjing tergelatak di tanah “Itu pasti anjingmu!!!”
tunjuk Re’e sambil bejalan medakat. Anjing itu sudah mati lehernya terlihat
bekas gigitan, mata kirinya terpeloncong keluar. Tak jauh dari anjing pertama
tadi anjing kedua mengalami hal yang serupa. Oer Kass dan teman-temannya
terpaku bingung sambil memegang kepala. “Apakah ini gigitan musang?” tanya Re’e
bingung.
“Memangnya
musang sejahat ini?” balas Yotan tak percaya.
“Siapa
tahu?” tandas Kore kesal.
Oer
Kass merasakan ada hal yang aneh, bulu kunduknya berdiri. Tiba-tiba sebuah
ranting pohon patah dan menghentakkan mereka, bersamaan dengan itu muncul
seekor musang besar dua kali anjing pemburu Oer Kass. Musang itu yang ditembaki
mereka. Matanya merah saat mengenai cahaya senter, tatapan haus musang menantang
Oer Kass dan kawan-kawannya. Musang itu mengeluarkan suara desis aneh yang
tidak biasa, giginya tajam bergeriki dan menakutkan. “Makhluk apa ini?!!” teriak
Re’e gemetaran. Oer Kass dan
kawan-kawannya memompa senapan sebelum musang itu menyerang.
Pertumpahan
darah pun tidak terhindarkan lagi. Re’e melepaskan tembakannya, bunyi senapan
bergema di antara pepohonan. Kepala Kore meneteskan darah. Oer Kass dan Yotan
menoleh, tempak kepala Kore bolong pada pelipisnya. Kore terjatuh. Mata Re’e
memerah semerah mata Musang, dia menarik parang dari sarungnya di sisi kiri
hendak menebas Yotan yang berdiri kaku melihat Kore tumbang. Namun Yotan cepat
menyadari keberadaan Re’e dan gesit menghindar dari sapuan parang Re’e tetapi
tebasan kedua tepat menghantam rusuk kiri Yotan. Yotan merebah sekarat di tanah
dan mati. Oer Kass melihat panik tangannya lemas memegang senapan, kakinya
gemetaran tak kuat menopang tubuhnya. Re’e mendekatinya dengan mata parang yang
menyisahkan darah Yotan. “Sadar…Re’e… sadar… kau gila, sadar bangsat, kau
membunuh sahabatmu” teriak Oer Kass gemetaran. “Jangan lagi engkau datang
dengan senapanmu, kami muak dengan kalakuan kalian dan akan tiba saatnya kami
balas menyerang kalian, ingatlah purnama kencana menjadi tandanya” Ucap Re’e
dengan tatapan tajam lalu dia menikam tubuhnya sendiri berkali-kali. Darah dari
tubuhnya mengalir deras hingga Re’e pun mati. Oer Kass menatap kematian
teman-temannya. Dia menangis takut, bibirnya gemetaran. Dia berlari
meninggalkan hutan tanpa menoleh ke belakang. Satu hal yang tidak diketahui Oer
Kass bahwa mereka telah digiring ke dalam hutan terlarang.
***
Tiga
hari kemudian setelah Oer Kass mengalami mimpi buruknya, Pak Robi selaku Kepala
Desa dan juragan ternak babi menghampiri Oer Kass di rumhanya. “Kasse, ada
warga yang mengeluh lagi selain ternak, juga hasil kebun mereka rusak di serang
hama. Mereka mengaitkan hal itu dengan teror ruh-ruh yang sempat Kasse
ceritakan, bahkan ada warga yang frustrasi menuduh Kasse sebagai dalang dari
keresahan ini. Meraka katakan hal ini karena mereka tahu bahwa hanya Kasse
seorang yang dapat membangun komunikasi dengan ruh-ruh gaib. Sebagai seorang
kepala desa saya hanya ingin menyampaikan keresahan warga secara baik dan
terang-terangan”.
Sementara
mereka berbincang di dalam rumah suara teriakan terdengar dari luar. Warga
memadati halaman rumah Oer Kass. Mereka memanggil-manggil Oer Kass “Keluar
Kasse…keluar kau, kami mau menuntut”. Oer Kass keluar dan berdiri di depan
pintu “ada apa ini?” tanya Oer Kass meski ia sudah tau alasannya. “Kami tau
kampung kita diteror karena kau yang mempersilakan ruh-ruh itu untuk merusakkan
usaha kami”. Sambung seorang warga lagi “Atau mungkin kampung kita dikutuk
karena kau dalangnya?” warga lain pun tidak mau kalah melepar keresahan kepada
Oer Kass “betul…. kaulah dalangnya”. Halaman rumah Oer Kass menjadi panggung
keributan namun dengan cepat pak Robi segera menyudahi kemarahan warga, “Kita
berikan kesempatan kepada Kasse untuk berbicara supaya semuanya jelas. Jangan
asal melempar keresahan kalian yang tidak menentu” ucap pak Robi menenangkan
situasi dan memberikan kesempatan kepada Oer Kass. Oer Kass terdiam sejenak. Ia
menyadari segala kejadian yang akhir-akhir ini dia alami. Ia masuk ke dalam rumahnya
mengambil sirih pinang dan tongkatnya. Ia berjalan keluar sambil manatap
kumpulan warga di hadapannya. Semua melihatnya bingung dan penasaran. “saya
akan mengatasi keresahan kalian tetapi dengan persyaratan jangan kalian ke
hutan di bagian utara kampung kita, jangan berburu atau mengambil sesuatu di
sana jika kalian menginginkan usaha-usaha kalian berhasil. Ini perjanjian”.
Setelah mengatakan demikian Oer Kass pergi melewati kerumunan warga. Kemana ia
pergi warga desa tidak mengetahuinya. Sejak saat itu Oer Kass tidak pernah
Kembali ke kampung dan mereka terus mengingat perjanjiannya itu.
Ois Narang,
tinggal di Unit Efrata-Gere, Ledalero. Penulis berasal dari Amarasi, Kupang dan
saat ini sedang menempuh pendidikan di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif
Ledalero.


Komentar
Posting Komentar